
Sudah 1 bulan Sejak pertemuan Kirana dengan ibu dan ayahnya. hari ini rasanya badan Kirana terasa sangat tidak enak sejak tadi pagi ia merasa demam dan perutnya terasa mual. melihat istrinya yang sedang sakit Tama memutuskan kan untuk tidak berangkat ke kantor hari ini.
Tama sudah memanggilkan seorang dokter untuk memeriksa keadaan Kirana, wajahnya terlihat gelisah karena tidak biasanya Kirana sakit seperti ini. setelah dokter keluar dari dalam kamar Tama langsung menghampiri dan menanyakan keadaan Kirana.
Dokter dengan wajah yang tersenyum menjelaskan kepada Tama bahwa sebentar lagi ia akan menjadi seorang ayah. Tama sangat senang mendengar berita itu ia seakan tidak percaya dengan apa yang ia dengar barusan. Dokter sudah menjelaskan kepada Tama bahwa untuk beberapa saat Kirana tidak boleh bekerja yang terlalu berat karena kandungannya belum terlalu kuat dan masih rentan.
Tama menemui Kirana yang sedang berbaring di atas tempat tidurnya, dan melihatnya dengan tersenyum gembira. Ia tidak dapat menyembunyikan perasaannya yang sangat senang karena sebentar lagi ia akan menjadi seorang Ayah. Tama mengecup kening Kirana dengan mesra.
keduanya sangat merasa senang dan bahagia setelah mendengar berita kehamilannya Kirana memberitahukan hal itu kepada Ibu Sarah dan mama Ratih, Tentu saja berita itu sangatlah hal yang paling membahagiakan yang mereka dengar akhirnya sebentar lagi mereka mendapatkan seorang cucu.
Semenjak kehamilan Kirana Tama menjadi lebih posesif kepada-nya, segala hal yang dilakukan selalu dilarang oleh Tama.
***
Kandungan Kirana kini sudah menginjak 6 bulan, perut nya dari hari kehari semakin membesar, semenjak bertemu dengan ibu nya, Tama dan Kirana memilih tinggal dirumah nya sendiri bersama dengan ibu Sarah, karena tudak mungkin baginya jika tinggal masih seatap dengan mertua nya jika ibu nya ikut tinggal bersama nya.
Keadaan Ayah Kirana juga semakin membaik semenjak mereka bertemu, kini malah Ibu Sarah yang merawat nya dirumah, Kebahagian Kirana kini terasa betul betul lengkap, apalagi dengan kehadiran nya di tengah tengah keluarga kecil mereka.
"Kirana apa kau sibuk hari ini ?". Tanya Rendy ketika ia menelfon Kirana.
"Tidak, memang nya kenapa? ". Tanya Kirana.
"Aku akan kerumah mu sebentar lagi bersama Samira."
"Ahh tentu saja, sudah lama sekali kalian tidak datang mengunjungiku." Kirana tampak mengerucutkan bibir nya.
"Iya maaf maaf akhir akhir ini aku terlalu sibuk mengurusi urusan kantor, yasudah kalau begitu aku mau menjemput Samira dulu. Bye ". Ujar Rendy sambil menutup telfon nya.
Kirana turun dari kamar nya, mencari ibunya. Biasanya jam segini ibu sedang berjalan jalan bersama Ayah ke taman. Dan benar saja Ibu Sarah tampak sedang duduk di bangku taman bersama Dewa suami nya.
__ADS_1
"Ayah, Ibu kalian sedang apa. " Kirana ikut duduk di samping Ibu nya dengan mengusap usap perut nya.
" Ada apa sayang kau mencari cari ibu, kamu membutuhkan sesuatu ?". Ujar Ibu Sarah sambil menguspa kepala putrinya.
"Tidak bu, aku hanya memberitahu, nanti Rendy dan Samira akan datang kesini."
"Ayah, bagaimana perasaan Ayah saat ini ?". Kirana menatap Ayah nya dengan yang sedanf duduk di samping ibu nya.
" Sangat baik, tentu saja Ayah merasa sangat baik karena akhirnya Ayah bisa berkumpul dengan istri dan anak Ayah, Ayah merasa kembali hidup setelah sekian lama merasa mati." Ujar Dewa Brata dengan sedikit serak merasa bersyukur akhir nya mereka semua bisa berkumpul kembali.
Kirana berdiri dan berpindah duduk di samping Ayah nya, lalu memeluk nya dengan hangat, begitupun Ayah Kirana kembali memeluk anak dan istri nya.
Seorang pelayan datang menghampiri mereka memberi tahu bahwa ada tamu yang datang.
"Ah itu mungkin Rendy dan Samira sudah datang bu, ayo kita ke dalam." Kirana membantu Ayah nya yang akan berdiri lalu memapah nya dengan pelan. Memang sejak berada di rumah sakit Jiwa tubuh Ayah Kirana sedikit kaku jika baru akaj berjalan, karena memang selama ini dia hanya berbaring di atas ranjang, jarang menggerakkan tubuh nya.
Terlihat Rendy dan Samira duduk di ruang tamu, dan menyapa kedua orang tua Kirana ketika mereka melihat Kirana datang dengan Ayah dan ibu nya.
"Hallo nak Rendy nak Samira, sudah lama sekali tidak mampir kesini." Ujar Ibu Sarah dengan ramah.
"Iya tante, akhir akhir ini Rendy sedikit sibuk di kantor."
"Om Dewa bagaimana dengan keadaan om apa sudah mulai membaik ?". Tanya Rendy pada om Dewa.
" Tentu saja om selalu baik jika berada disamping orang orang yang sangat om cintai." Ujar Ayah Kirana.
Setelah berbincang bincang cukup lama, Samira mengeluarkan sesuatu dari dalam tas nya dan memberikan nya pada Kirana.
" Apa ini Sam ?" Tanya Kirana sambil mengambil sebuah kartu undangan dari tangan Samira.
__ADS_1
"kau baca saja Kiran."
"Benarkah ? Sungguh kalian akan menikah ?". Kirana terlihat terkejut dan berbinar binar melihat undangan pernikahan dari kedua sahabat nya itu.
" Tentu saja Kiran, aku akan segera menikah dengan Samira." Ujar Rendy dengan bangga nya.
"Ah aku sangat bahagia sekali mendengar nya, akhirnya setelah sekian lama, kalian berdua akan benar benar menjadi pasangan sejati." Ujar Kirana yang memang sangat bahagia mendengar berita itu.
***
Malam Hari nya,
Kirana sedang tidur di samping Tama yang terlihat sedang mengotak atik laptop di hadapan nya.
" Sayang, apa kau tahu Samira dan Rendy akan menikah." Tanya nya dengan merebahkan kepala nya pada bahu Tama.
"Hhmm," Sambil tetap mengetik keyboard laptop nya.
"Benarkah, lalu kenapa tidak memberitahu ku terlebih dahulu." Sungut Kirana manja pada Tama.
"Sayang, bagaimana bisa aku memberitahumu jika mereka bersikeras agar mereka saja nanti yang akan memberitahu mu." Tama mengalihkan pandangan nya pada istri cantik di sebelah nya, karena tidak tahan dengan tingkah manja Kirana lalu mengecup kening nya dengan mesra.
"Cihh, kenapa harus begitu." Sungut Kirana manja.
"Sayang, sudah lama sekali rasanya." Ujar Tama sambil mengangkat dagu Kirana hingga bibir nya berada dekat dengan bibir Tama, tak menunggu lama Tama langsung mengecup bibir itu dengan lembut namun hangat.
Kirana ikut hanyut dalam ciuman di bibir nya itu, sejak hamil mereka memang jarang melakukan nya. Dokter bilang tidak boleh terlalu banyak terkena hentakan pada janin Kirana, kecuali nanti jika sudah kandungan nya mulai membesar, Bahkan Dokter pun menyarankan untung sering "Melakukan" itu jika usia kehamilan Kirana sudah mulai tua.
Malam ini mereka habiskan untuk melepaskan segala hasrat yang terpendam beberapa waktu ini. Walau begitu Tama dengan sangat hati hati melakukan nya, karena dia juga tidak ingin anak yang ada dalam kandungan istri nya kenapa napa. Malam menjadi sangat panjang bagi keduanya.
__ADS_1
....