Menikahi Pewaris Tunggal

Menikahi Pewaris Tunggal
Terpaksa


__ADS_3

Tama turun dari kamar nya menuju dapur hendak mengambil minum. Namun dia mendengar suara gaduh dari Ruang tengah keluarga nya. Dengan penasaran Tama berjalan menjinjit mengintip dari balik dinding.


"Kenapa wanita itu masih belum pulang.?" tanya Tama dalam hati. Tama masih keheranan bagaimana bisa mama nya kenal dan akrab dengan Kirana.


Setelah mengintip sebentar, Tama kembali menaiki anak tangga menuju kamar nya. Dan memilih tidak perduli dengan obrolan mama, Samira dan Kirana.


Tak lama kemudian pintu kamar Tama di ketuk. "tok...tok...tok..".


"Sayang apa kamu sudah tidur.?" Suara lembut wanita di belakang pintu kamar nya itu.


"Belum mah." Jawab Tama singkat yang masih menatap Layar laptop di depan nya itu.


"Masuk saja ma, pintu nya tidak di kunci." Lanjut Tama


"Kau sedang apa nak.?" Tante Ratih masuk ke dalam kamar Tama setelah membuka lintu nya tadi. Dan berjalan menghampiri anak nya itu.


"Tama sedang mengerjakan pekerjaan kantor yang belum selesai ma." Jawab Tama melirik Ibunya itu, dan menutup layar laptop nya.


Tama berdiri dan memeluk ibunya itu "Selamat ulangtahun mamaku yang cantik." bisik Tama di telinga ibunya lembut dan mengecup pipi ibunya.


"Terimakasih anak mama yang tampan."


"Maafkan aku ma, aku belum sempat membelikan Kado untuk mama, karena tadi terlalu banyak pekerjaan di kantor."

__ADS_1


"Tidak apa apa sayang, lagian mama hanya menginginkan satu kado dari kamu." ujar Mama Ratih melirik anak nya sambil tersenyum.


"Kado apa yang sangat mama inginkan itu dariku ?" saut Tama penasaran.


Tante Ratih menarik tangan Tama untuk duduk di sofa panjang dalam kamar itu.


"Sayang, mama ingin kamu segera menikah." Dengan nada yang mulai serius.


"Ma, kan Tama sudah bilang. Tama masih belum siap untuk menikah. Lagian mama kenapa begitu gigih nya sih menyuruh Tama menikah." Saut Tama yang sudah mulai malas membahas soal menikah.


"Nak, mama ini sudah mulai tua, sudah sepantasnya juga mama untuk mempunyai cucu, Mama takut nanti tidak sempat lagi melihat kamu menikah dan mempunyai anak." Mama Ratih mulai memasang wajah sedih nya.


"Mama bicara apa sih, mama itu masih muda, masih sehat. jangan bicara yang tidak tidak."


Setelah sekian lama perdebatan itu, Ratih berusaha semaksimal mungkin untuk membujuk Tama agar dia mau menuruti keinginannya itu.


"Memang nya siapa perempuan yang akan menjadi istriku itu.?" Tanya Tama.


"Kirana."


"Apa !" Tama sangat terkejut ketika mendengar nama itu, perempuan yang tidak ia kenal bagaimana sifat dan latar belakang nya.


"Ma, aku tidak mau menikah apalagi sama perempuan itu !"

__ADS_1


"Memang nya Kirana kenapa ?, Dia itu gadis yang baik dan tulus yang tidak akan pernah kamu temukan diantara wanita wanita yang kamu kenal selama ini nak."


"Mama tau darimana, dia baik dan Tulus. Dia sama saja seperti perempuan perempuan yang lain nya." Tama mulai terlihat kesal.


"Pokok nya Tama tidak mau menikah titik !"


"Baiklah kalau itu mau kamu, lebih baik mama mati saja. Untuk apa mama hidup kalau anak mama satu satu nya sudah tidak perduli lagi dan sayang kepada mama !" Ujar Ratih dengan meneteskan Airmata nya dan raut wajah yang kecewa.


"Ma, mama bicara apasih, jangan bicara yang tidak tidak, aku sayang dan perduli pada mama." ujar Tama mulai khawatir mendengar kata kata ibunya, selama ini mama nya tidak pernah bersikap seperti itu apalagi mengancam begitu.


"Baiklah ma, Tama akan mengikuti semua keinginan mama. Tapi tolong jangan lakukan hal yang tidak tidak, Mama tau Tama sangat sayang kepada mama." Tama mengalah dan menuruti keinginan ibunya, ia memeluk erat ibunya seakan tidak mau ditinggal kan. Tama sangat sangat khawatir dengan perkataan ibunya tadi.


"Benarkah kamu mau.?" lirih Ratih menatap anak nya.


"Iya ma iya," Tama membenamkan wajah nya di punggung ibunya.


"Terimakasih sayang, " Ratih mencium kepala anak nya itu.


Setelah ibu nya keluar dari kamar, Tama menghempaskan tubuh nya ke atas kasur. Menatap langit langit kamar nya.


"Menikah.?" gumam tama,


"Membayangkan nya saja aku tidak pernah, apalagi dengan perempuan yang tidak aku kenal dan tidak aku suka. arrghh... bisa gila aku. " ucapa Tama bicara sendiri sambil mengacak acak rambut nya dan berguling kesana kemari.

__ADS_1


.....


__ADS_2