
Selesai bercerita.
Kirana masih terpaku ileh cerita bu Sarah, wajah berubah menjadi sedih.
"Kasian sekali Tama, kalau aku diposisi nya pasti aku juga merasa sangat sedih dan tertekan sekali. Hufh jadi rindu Rendy." Ujar Kirana pelan tanpa sadar bicara sendiri.
"Iya nak, tapi masa itu sudah berlalu. Sekarang tinggal bagaimana kamu membuat Tama bahagia saja." Saut bu Sarah mengusap lembut punggung tangan Kirana yang masih di genggam nya.
Kirana menoleh ke arah bu Sarah dan tersenyum kecil. Tiba tiba pintu kamar di ketuk dari luar.
"Kirana ? Apa kamu di dalam ?". Terdengar suara Tama memanggil dari luar pintu.
Kirana segera beranjak dari duduk nya dan manyauti suami nya. " Iya sayang, tunggu sebentar aku akan keluar." Saut nya dan hendak berjalan ke arah pintu.
" Ahh nak Kirana, ini ibu punya kado untukmu. Maaf ibu telat memberikan kado atas pernikahanmu. Tapi ibu harap kamu selalu memakai nya, walaupun harga dan bentuk nya tidak seberapa." Ujar bu Sarah sambil menyodorkan sebuah kotak kecil pada Kirana.
"Ibu tidak usah repot repot. Dan lagi Kirana tidak memandang sesuatu dari nilai harga nya bu, melainkan dari ketulusan. Terimakasih banyak bu Sarah." Saut Kirana sambil menerima kotak kecil itu. Tiba tiba Kirana memeluk hangat bu Sarah.
Bu Sarah sangat kaget atas perlakuan Kirana. Namun jauh di lubuk hati nya yang paling dalam ia sangat merasa bahagia. Dan tanpa sadar pun airmata berlinang di pelupuk matanya.
"Yasudah bu, Kirana keluar dulu ya. Kalau ada sesuatu yang ibu butuhkan, panggil saja pelayan. Nanti mereka akan membantu ibu." Bu Sarah hanya mengangguk dan tersenyum. Kirana lalu berjalan ke depan pintu dan membuka nya.
Disana Tama sudah berdiri menunggu Kirana, "Sayang, kamu kenapa berdiri disini ?".
Kedua nya lalu berjalan menaiki tangga menuju kamar nya. Kirana tiba tiba saja memeluk Tama dari belakang dengan hangat nya.
"Sayang, kamu kenapa tumben sekali." Ujar Tama mengusap punggung tangan Kirana di pinggang nya.
"Tidak, aku hanya ingin memeluk mu saja." Kirana melepaskan pelukan nya, lalu berjalan ke atas kasur dan merebahkan dirinya disana. Kirana mengambil ponsel yang ada di atas meja samping tempat tidur nya.
Tama menyusul Kirana dan merebahkan diri disamping nya. Dengan rasa yang sedikit Kepo, Tama melirik ke arah ponsel Kirana.
"Kamu sedang mengirim pesan pada siapa?". Tanya nya penasaran.
"Rendy."
__ADS_1
"Siapa?!".
"Rendy sayang."
Tama lalu merebut ponsel yang ada di tangan Kirana.
"Sayang, sinikan ponsel ku." Rengek Kirana berusaha merebut ponsel di tangan Tama.
"Tidak, berani berani nya kamu menghubungi pria lain di depan ku ya !". Ujar Tama dengan nada yang sangat kesal.
"Sayang, Rendy itu sahabat ku dari kecil. Aku sudah lama tak bertemu dia. Biasanya hampir setiap hari aku selalu bersamanya. Kamu tidak usah cemburu."
"Hah, cemburu ? tidak aku tidak cemburu. Kalau kamu ingin bertemu di setiap hari yasudah temui saja sana." Tama semakin kesal dan melemparkan ponsel Kirana ke atas kasur. Tama memalingkan wajah nya dan menjarakkan tubuh nya.
"Sayang kamu seperti anak kecil." Ujar Kirana memeluk Tama dari belakang.
"Jika Rendy lebih penting daripada aku, pergi saja sana padanya."
"aaa, kenapa dia jadi ngambek begini sih." Gumam Kirana dalam hati
"Tidak, bukan begitu. Kamu lebih penting dari apapun." Bujuk Kirana.
***
Paginya,
Selesai sarapan, seperti biasa Tama dan papa Danu berangkat ke kantor. Dan bu Sarah juga pamit untuk pulang, walaupun Kirana dan mama Ratih sudah menahannya. Tapi bu Sarah kekeh untuk pulang.
Kirana hari ini juga sebenarnya harus pergi ke toko, karena memang sudah lama juga ia tidak berkunjung kesana. Sebelum berangkat pulang, Kirana menawarkan bu Sarah untuk pergi bersama. Kebetulan sekali toko dan rumah teman bu Sarah lumayan dekat. Jadi sekalian jalan saja.
Diperjalanan kedua nya bercerita panjang lebar. Dan tentu saja bagi bu Sarah itu adalah hal yang sangat menyenangkan baginya. Ia tidak menyangka kalau ia akan bicara begitu dekat nya dengan putri semata wayang nya itu. Ini adalah suatu anugerah besar baginya, seperti doa nya telah dikabulkan oleh Tuhan. Walaupun hanya satu hari saja ia ingin berbincang dan memeluk hangat putri nya.
Mobil pun berhenti di sebuah rumah dalam komplek perumahan dekat toko Kirana.
"Wahh, ternyata dekat sekali ya dengan toko Kiran. Ibu lain kali mampir saja ke toko." Ujar Kirana.
__ADS_1
"Ahh tentu saja nak, ibu nanti akan mampir kesana."
Setelah berpamit kirana pun pergi berangkat ke toko nya. Dan tak lama kemudian ia sampai di depan toko. Sebenarnya Kirana sudah memberi tahu Rendy untuk bertemu di toko hari ini.
Setelah renovasi, toko bunga Kirana terlihat lebih bagus dan luas dibanding yang lalu. Sudah ada beberapa orang yang membantu nya di toko sekarang. Jadi dia tidak perlu capek capek membereskan nya sendiri.
Kirana sedang duduk sambil membersihkan tanaman tanaman nya. Tiba tiba saja dari belakang seseorang mengagetkan nya.
"Rendy !". Teriak Kirana spontan menepuk bahu Rendy.
"Ouch. Sakit sekali. pukulanmu seperti kuli saja." Rendy mengaduh dan mengusap usap bahu nya kesakitan.
"Salahmu sendiri mengagetkan ku saja." Sungut Kirana tak perduli.
"Uuuhh, aku rindu sekali padamu. Semenjak menikah dengan Tama dia selalu me monopoli mu saja. " Protes Tama.
"Hahah tentu saja. Tama memang seperti itu. Tapi aku juga sangat merindukan mu."
Keduanya berbincang bincang panjang lebar hari itu.
***
Dirumah tante Suchi,
Sarah sedang duduk di ruang tamu, wajah nya begitu berseri seri dan tersenyum senyum kecil.
"Kelihatan nya kau sangat bahagia sekali." Tiba tiba Suchi datang dari arah dapur dengan membawakan dua cangkir teh manis.
"Bagaimana ? Kau sudah memberitahu Kirana ?".
Sarah melirik Suchi. "Tidak semudah itu Suchi, aku tidak tahu harus mulai darimana, tidak mungkin tiba tiba saja aku mengaku sebagai ibu nya."
"Benar juga, tapi mau sampai kapan lagi kau akan menyembunyikan nya. Semakin lama malah akan semakin sulit untuk mu bersama sama lagi dengan Kirana."
"Entahlah akupun tidak tahu. aku takut nanti akan mengganggu kebahagian nya saja. Sekarang Kirana hidup dengan bahagia, ia mendapatkan keluarga yang sangat menyanyangi nya dengan tulus. Dengan begitu saja aku sudah sangat bahagia karena nya."
__ADS_1
"Sarah, aku hanya tidak mau suatu hari kamu menyesal dan semuanya sudah terlambat. Aku juga ingin melihat mu bahagia." Suchi berusaha untuk membujuk Sarah dan meyakinkan nya.
....