
Makan malam sudah selesai.
Sarah mengambil ponsel nya di dalam tas, dan mengetikkan ke sesuatu lalu mengirim nya pada Suchi. Sarah mungkin memberitahu bahwa ia malam ini menginap di rumah Tama.
Seorang pelayan mengantarkan dan menunjuk kan kamar yang akan di tempati oleh Sarah malam ini. Baru saja Sarah duduk di atas kasur, tiba tiba suara ketukan pintu terdengar.
"Bu Sarah, apa boleh Kiran masuk ?" Terdengar suara Kirana dari balik pintu.
" Iya nak, tentu saja." Bu Sarah bergegas berdiri dan membukakan pintu untuk Kirana.
Kirana masuk ke dalam kamar dengan membawa lipatan baju dalam tangan nya.
"Bu, ini baju ganti untuk tidur. Tadi mama Ratih menitipkan nya pada Kirana untuk diberikan pada ibu." Ujar Kirana sambil memberikan baju itu.
"Ahh terimakasih nak, ibu jadi merepotkan."
"Tidak kok bu, ibu tidak usah sungkan. Malah Kirana senang kalau ibu disini dan membantu ibu. Seperti nya dulu ibu pernah juga membantu Tama." Kirana mencoba mengulik dan mencari tahu tentang masa lalu Tama yang tidak ia ketahui.
"Ahh tidak kok, ibu tidak melakukan apa apa untuk nak Tama. Ibu hanya mendengar dan memberikan sedikit motivasi untuk nak Tama pada saat itu." Bu Sarah menerawang sambil mengingat ingat kembali masa itu.
__ADS_1
"Hhmm, Sebenarnya Kiran tidak tahu tentang masalah itu. Hanya saja tadi mama Ratih bilang kalau ibu banyak membantu Tama. Dulu juga Tama pernah bilang saat Kiran dan Tama pergi ke tempat ibu. Bahwa beberapa tahun yang lalu Tama sering ke tempat ibu dan menghabiskan waktu disana. Kalau boleh tahu sebenarnya apa yang terjadi bu pada saat itu. Soal nya Tama tidak menceritakan masa lalu nya pada Kiran." Kirana mulai menjelaskan dan menyungutkan bibir nya tanda bahwa ia sangat kesal karena tidal mengetahui apa yang terjadi.
Bu Sarah hanya tersenyum melihat tingkah Kirana, lalu ia menggenggam tangan Kirana dan mengajak nya duduk di pinggir kasur sambil tetap menggenggam hangat tangan Kirana dan tak melepaskan nya.
"Awal nya ibu tidak terlalu tahu pasti apa yang terjadi pada nak Tama saat itu. Ibu hanya melihat seorang pemuda datang ke kedai ibu dengan tampang yang sangat lesu dan tak bergairah. Ia datang sendirian dan terduduk sangat lama menatap jauh dalam kegelapan." Bu Sarah mulai bercerita sambil mengingat kembali saat itu yang masih terlihat jelas di mata nya bagaiman raut wajah Tama pada saat itu.
***
Sorot lampu mobil Tama memecah malam dan gerimis saat itu. Ia memutar setir mobil dan membelokkan nya tak tahu kemana arah tujuan. Hingga ia melihat sebuah kedai kopi pinggir jalan di sebuah pinggir kota. Tama menghentikan mobil dan memarkirkan nya di depan kedai itu.
Ia memesan kopi dan cemilan yang tertera di daftar menu kedai itu. lalu duduk di sebuah lesehan dengan jendela mengarah jauh ke kebun teh yang terlihat remang remang oleh lampu jalan. Seorang wanita paruh baya mengantarkan pesanan yang di pesan nya.
Bu Sarah mendekati Tama perlahan lalu menanyai nya pelan dan hati hati. Ia tidak mau pelanggan nya itu merasa terusik.
"Maaf tuan, bukan nya saya lancang. Seperti nya tuan ada masalah ya ?". Tanya bu Sarah pelan.
Pertanyaan itu membangunkan lamunan Tama dan mengalihkan pandangan nya pada arah suara yang bertanya itu. Lalu ia melihat ke sekeliling nya sudah tidak ada lagi orang lain selain dirinya dan pemilik warung.
"Ahh bu, maafkan saya. Seperti nya ibu sudah mau tutup ya. " Ujar Tama merasa tidak enak dan mengambil kunci mobil hendak pergi darisana.
__ADS_1
"Ahh tidak apa tuan. Kalau tuan masih mau disini tidak apa apa. Sepertinya ada sesuatu yang sedang tuan pikirkan."
Tama menundukkan kepala nya. terlihat jelas bahwa ia merasa sangat gusar dan sedih.
"Seperti nya saya telah menjadi seorang pembunuh bu." Jawab nya dengan nada berat dan penuh penyesalan.
Bu Sarah sangat terkejut mendengar hal itu. Namun dengan sangat hati hati bu Sarah bertanya dan mendengar penjelasan dari Tama.
"Memang nya siapa ?". Tanya nya pelan.
"Dia Sahabat saya bu, Teman yang selalu ada untuk saya, tapi saat dia membutuhkan saya. Saya malah tidak ada, semua nya salah saya, mungkin kalau saja waktu itu saya langsung mengangkat telfon nya dia masih hidup sekarang." Tama mulai bercerita dengan air mata mengalir di pipi nya. Ia terlihat sangat terpukul.
" Memang nya apa yang terjadi bu. ?" Tanya Kirana yang mulai antusias mendengar cerita bu Sarah.
Bu sarah hanya tersenyum dan melanjutkan cerita nya. " Tama mulai menceritakan semua nya, padahal itu baru kali pertama ibu bertemu dengan nya. Namun entah kenapa dia mau bercerita." Saut bu Sarah.
"Kent, adalah Tama saya dari kecil. kami selalu bersama sama dalam keadaan apapun dan kondisi apapun. Tama pikir saya mengetahui segala hal tentang kent. Karena begitu pun sebalik nya Kent mengetahui segala nya tentang Tama. Namun ternyata tidak begitu, Kent menyembunyikan suatu rahasia dari Tama. Suatu hari seperti biasa Tama pergi ke sebuah tempat clubbing, biasanya ia selalu bersama Kent. Namun hari itu Kent bilang tidak bisa ikut karena ada alasan suatu urusan. Tama sedang duduk di sebuah meja dengan seorang perempuan cantik di samping nya dan menemani nya minum. Mungkin karena alunan musik yang sangat kencang Tama tidak menyadari bahwa saat itu ponsel nya bergetar dan berbunyi. Sebuah panggilan masuk dari Kent, Tama menyadari nya setelah jam 4 pagi dini hari, sepulang nya ia dari tempat clubbing. Ia lalu menghubungi Kent kembali namun tidak ada jawaban. Tama pergi ke apartement Kent yang tidak berada jauh dari tempat nya saat ini. Tama masuk ke dalam apartment yang memang ia mempunyai kunci cadangan apartment itu. Namun setelah ia masuk ia tak melihat kent di dalam kamar, lalu ia pergi mencari kent ke seluruh ruangan. Dan dengan kaget nya melihat kent tergeletak tak sadarkan diri di lantai dapur. Tama mendekat dan berusaha membangunkan Kent, namun sia sia saja kent tidak kunjung bangun. Tama mulai panik dan menghubungi ambulance dan pihak apartment. Namun setelah dibawa kerumah sakit Kent sudah tidak bernyawa lagi. Ia diperkirakan meninggal sekitar pukul 01.00 dini hari. Dokter menjelaskan bahwa Kent meninggal akibat sakit yang di derita nya saat ini yaitu Kanker hati . Mungkin saat itu Kent menelfon Tama untuk meminta bantuan karena mendadak sakit. Dokter juga berkata kalau saja Kent di bawa ke rumah sakit pada saat itu mungkin nyawa nya bisa di selamatkan. Namun apa boleh dikata, mungkin itu sudah takdir."
Sejak saat itu Tama selalu manyalahkan dirinya atas kepergiam Kent, Mungkin Kent merasa sangat kesakitan pada saat itu. Dan Tama juga menyesalkan bahwa ia selama ini ia tidak mengetahui penyakit yang di derita oleh kent. Hingga saat ini tidak ada satu orang pun yang berani menyebutkan nama kent di depan Tama karena itu akan membangkitkan kembali ingatan dan penyesalan Tama kembali.
__ADS_1
....