
Hari ini Kirana Ayah dan Ibu nya berencana untuk menjenguk nenek nya di rumah sakit, Kondisi Ny. Brata semakin memburuk karena penyakit yang diderita nya semakin parah dan juga usia nya yang sudah tak lagi muda.
Kemarin om Farhan datang berkunjung untuk memberitahukan tentang kondisi ibu mereka kepada kakak nya, memang setelah Ayah Kirana keluar dari rumah sakit ia belum sempat untuk mengunjungi ibunya di rumah sakit.
Setelah sampai di rumah sakit, disana sudah ada om Farhan dan tante Ratna yang berdiri di samping ibu mereka, Mereka mendekati ranjang nenek yang terlihat terbaring lemah dengan bermacam alat medis melekat di tubuh nya. Tama tidak bisa ikut pergi dengan mereka hari ini, Namun ia berjanji akan menyusul setelah beberapa urusan nya selesai.
"Ibu, bagaimana keadaan ibu hari ini ? Maafkan aku tidak pernah mengunjungi ibu setelah beberapa tahun belakangan ini." Ujar Dewa duduk di samping ranjang ibunya, dengan menggenggam tangan keriput nya yang terpasang infus itu.
"Ibu, hari ini Sarah dan anakku Kirana datang untuk mengunjungi ibu, Lihat lah dia sangat cantik bukan, sama seperti ibu nya, dan mata nya sangat mirip denganku bu, dan sebentar lagi aku juga akan menjadi seorang kakek. Ternyata sudah lama sekali ya waktu terasa berputar begitu cepat nya." Air mata tampak berlinang di kelopak mata Dewa, ia sangat haru melihat ibu nya yang terbaring lemah di atas tempat tidur.
Walaupun dengan segala hal yang telah terjadi di kehidupan nya, Dewa tidak pernah sedikit pun membenci ibunya.
Kirana yang berdiri di sebelah ayahnya hanya mengusap punggung ayah nya dengan lembut, disana juga tampak Sarah yang mengusap air matanya, ia ikut hanyut dalam suasana haru ini. Walaupun ini baru kali pertamanya Sarah bertemu dengan ibu mertua nya itu, tapi rasanya tetap saja ia merasa sedih, seakan dia merasakan bahwa ibu mertua nya itu seperti ibu kandungnya sendiri.
"Hallo ibu, apa kabar. Aku harap ibu bisa cepat kembali pulih dan bisa berkumpul dengan kita semua disini, dan ibu bisa melihat cicit mu ini lahir." Ujar Sarah dengan suara getir, sambil memeluk kirana dan mengusap perut nya.
"Halah, dasar perempuan bermuka dua, aaa aku malas sekali berada disini. " Gumam Ratna dengan membolak balik kan bola mata nya, ia merasa sangat pengap dan muak berada di ruangan itu, apalagi melihat suasana yang haru itu.
"Nenek, aku Kirana cucu nenek. Nenek cepatlah sembuh, agar aku bisa berbincang banyak hal kepada nenek." Kirana ikut memegang tangan nenek nya.
Tidak lama kemudian pintu kamar itu terbuka dan seseorang disana masuk ke dalam ruangan, Tama barusaja datang dan menyempatkan menjenguk nenek kirana di sela sela waktu nya yang sibuk.
Setelah beberapa lama semua orang keluar dari ruangan itu, dokter menjelaskan kondisi Ny. Brata bagaimana kepada seluruh keluarga nya, sangat sedikit kemungkinan untuk Ny. Brata bisa bertahan, karena memang kondisi tubuh nya yang juga sudah renta, dia hanya bertahan karena beberapa alat medis yang di pasang di tubuh nya.
***
Setelah dari rumah sakit, Tama dan Kirana pulang dengan satu mobil, sedangkan Ayah Ibunya berada di mobil lain yang membawa mereka tadi saat ke rumah sakit.
__ADS_1
"Sayang, apa kamu sudah makan? apa kita mampir dulu sebentar untuk makan ?". Tanya Tama melirik ke arah Kirana yang duduk di samping nya sambil mengusap usap perut Kirana yang sudah membesar.
" Tidak sayang, aku hanya ingin cepat sampai dirumah dan merebahkan diriku di atas kasur, pinggangku terasa sakit sekali." Ujar Kirana sambil ikut mengusap usap perut nya.
"Hey baby, apa kamu sudah mulai membesar sehingha ibumu mulai berat membawamu kemana mana." Ujar Tama seolah sedang berbicara kepada anak yang ada di dalam perut Kirana.
Kirana hanya tersenyum senyum melihat tingkah konyol suami nya itu.
Mereka sampai dirumah, Dengan hati hati Tama membantu Kirana turun dari mobil dan memapah nya pelang masuk ke dalam rumah.
Sebenarnya Kirana tidak selemah itu, dia masih sanggub untuk berjalan sendiri tanpa harus di papah, tapi entah kenapa suami nya itu terlihay sedikit berlebihan memperlakukan dirinya.
"Ahh, akhirnya aku bisa merenggangkan pinggangku." Ujar Kirana dengan helaan nafas panjang setelah ia membaringkan tubuh nya di atas kasur empuk itu.
" Sayang apa kau membutuhkan sesuatu, aku akan meminta pelayan untuk mengambil atau membuatkan nya." Tama ikut duduk di samping Kirana sambil membelai lembut kepala Kirana.
Tama hanya tersenyum melihat tingkah manja istri nya itu.
"Apa kau nanti sanggub untuk datang ke pernikahan nya Samira nanti ? Apa kamu tidak usah datang saja sayang." Tama bertanya dengan nada sedikir khawatir dengan kondisi Kirana nanti.
"Aaa tidak, aku akan datang sayang, aku kuat kok dibanding perkiraanmu itu, lagipula ini adalah hari yang aku tunggu tunggu selama ini , menghadiri pernikahan temanku." Ujar Kirana menjelaskan.
"Tapi bagaimana nanti kau merasa sakit saat disana ?".
"Kan ada kamu sayang." Ujar Kirana dengan senyum manis nya.
"Tentu saja sayang selalu ada aku, aku sudah belajar untuk menjadi suami siaga dari internet." Tama merasa sangat bangga sekali mengatakan nya.
__ADS_1
"Benarkah ? Wahh suamiku memang yang terbaik."
"Tentu dong, aku tidak akan biarkan istri dan anakku kenapa napa." Tama mengecup kening Kirana dengan lembut dan hangat.
Seorang pelayan mengetuk pintu kamar mereka, sehingga keduanya merasa kaget setelah adegan romantis romantis tadi.
"Ya ada apa ?". Teriak Tama dari dalam kamar.
"Maaf tuan, itu Nyonya Ratih dan Tuan Danu datang berkunjung, dan sedang menunggu di bawah." Ujar pelayan di balik pintu kamar.
"Baiklah, sebentar lagi aku akan turun." Ujar Tama.
" Baik tuan."
"Pasti Mama selalu mendesak Papa untuk datang menjengukmu setiap hari." Ujar Tama menebak dengan tabiat ibunya itu.
"Haha tentu saja sayang, nak ayo kota temui nenek dibawah, seperti nya mereka sudah rindu kepadamu." Kirana mengusap usap perut nya lalu bangkit dari tempat tidur di bantu oleh Tama.
Di bawah terlihat Orangtua Tama sedang berbincang bincang dengan kedua orangtua Kirana di ruang tamu.
"Hallo cucu nenek, apa kabarmu hari ini sayang ?". Ujar Mama Ratih menghampiri Kirana yang barusaja datang bersama Tama.
"Aku baik nek." Seolah Kirana menyampaikan perasaan anaknya.
"Wahh hebat sekali cucu nenek," Mama Ratih mengusap usap perut Kirana dengan lembut, terlihat tendangan tendangan kecil di perut Kirana sehingga membuat Kirana sedikit mengernyit dan bahagia melihat respon anak nya.
Semua yang ada disana merasa sangat bahagia, dan sudah tidak sabar lagi untuk bertemu dengan Tama Junior.
__ADS_1
....