Menikahi Pria Candu

Menikahi Pria Candu
SALAH PAHAM


__ADS_3

Hingga saat ini, aku berjalan menelusuri pasar dengan cadar ku. Aku merasa heran ke orang-orang, mereka saling berbisik sembari menatap ke arah ku. Apa mereka bergosip tentang ku?


“ Hai kakak ku tercintah, ” ujar seorang perempuan berjalan di depan ku. Ia berhenti di depan ku dengan senyuman remehnya.


“ Ada apa? apa kau rindu dengan ku adik ku sayang, ” cemoh ku menatap ke arahnya.


Ia geram, tapi karena di depan publik ia bersikap sopan di depan ku.


“ Maaf kakak ku tersayang, gara-gara aku kau telah menikah dengan pria yang tak mencintai mu.. ” ujar nya berpura-pura sedih.


“ Kau pasti di kasihani disana, ” ujarnya.


“ Hiks, kau benar. Seharusnya kau menjadi adik yang baik dan tidak memaksa ku untuk menikah dengannya. Kau kabur dengan pacar mu dan mengorbankan kakak mu, ” ujar ku dengan sedu.


Ia hanya berdiam diri, nafas nya bergemuruh membuat ku tersenyum kecil di balik cadar ku.


“ Dan, ibu ratu menyiksa ku dan memukuli aku. Aku rela terganti oleh mu, dan menikah dengan pria yang tak ku cintai. Aku ikhlas adik ku, hiks hiks. ” Tangis ku berpura-pura disana.


Bagaimana ia bisa sepintar ini! Batinnya


“ Kakak bisakah kita berbicara sebentar? ” Bisiknya.


“ Tak ada lagi yang kita bicarakan, Mei Mao. Hentikan drama ini atau aku yang mengakhiri nya? ” bisik ku membalas.


“ Hentikan saja kalah kau bisa, ” ujar nya berbisik.


Aku tersenyum smirk lalu mundur beberapa langkah.


“ Kau memberikan aku apa adik ku, ini.. kenapa kepala ku pusing sekali.. ” ujar ku memutar mutar kepala ku seolah-olah aku telah sakit kepala.


Ia menatapku dengan tajam, Bagaimana ia bisa memiliki ide sebijak ini! Batinnya tak percaya.


“ Akhh, kau.. kej-am.. padahal aku rela meng-orbankan diri kuh... untuk diri mu adik khuh.. ” ujar ku terduduk di aspal.


Aku tersenyum begitu banyak orang yang berbisik-bisik tentang ku dan dia. Bodo amat lah, urat malu ku putus wkwk.


“ Tidak, aku tidak memberikan apapun kepadanya! Aku..Aku hanya berbisik sesuatu dengannya, kalian percaya lah! Jangan percaya drama .. ” elaknya. Tapi sedetik kemudian...


Brugh!

__ADS_1


Aku langsung pingsan di sana, membuat orang-orang disana terkejut tanpa terkecuali Mei Mao yaitu adik tiriku yang songong dan sok hebat di istana. Akhirnya aku punya nyali!!!!


“ Jangan percaya, dia hanya drama. Jangan ada yang menolongnya, ” ujar nya.


1 menit..


2 menit...


5 menit..


7 menit...


“ Ada apa ini!! ”


******


Malam hari nya, ku rasakan tubuh ku bergetar seperti efek pada malam itu. Aku mengigil, dan kembali terkurung di mimpi ku. Di sebuah ruangan yang gelap dan aku hanya menunduk bersandar di balik pintu, aku terisak.


Hingga dari mana datang nya aku langsung kembali nyaman dan tanpa sadar pagi hari nya aku terbangun. Menatap sekitar, dan merasakan sesuatu yang berat di atas tubuh ku.


“ Em.. ” aku menggerakkan tubuh ku.


“ Aaaaaaa !!! ” Teriak ku mengerjainya.


Ia langsung membuka mata dan bangun dari atas tubuh ku. menatap sekitar hingga ia menatap ku yang langsung memejamkan matanya.


“ Ada apa? Siapa yang teriak tadi? ” Ujar nya.


Aku tertawa di dalam hati, rasakan itu! Berani-beraninya tidur di atas ku, cih. Eh tunggu dulu? Tidur...


OMG!? Ya Tuhan, aku langsung membuka mata ku dan membelalakkan mata begitu ia mendekat ke arah ku hingga merasakan hembusan nafas nya di area wajah ku.


“ Kau, pergi.. ” ujar ku mendorong nya.


Ia tersenyum kecil lalu duduk di samping kiri ku. Merapikan pakaiannya, melihat hal itu membuat ku semakin yakin. Ia melakukan sesuatu kemarin malam.


Aku menatap area tubuh ku, yang ternyata sudah terganti pakaian lain. Aku menatap tajam ke arahnya, merasakan aura hitam pekat ia langsung menoleh ke arah ku.


“ Apa? ” Tanyanya.

__ADS_1


“ Kau mengganti pakaian ku?! ” ujar ku penuh tekanan. Rahang ku kuat oleh nya.


“ Aku bisa melakukan hal itu semau ku, dari ujung rambut hingga ujung kaki. Kau hanya milik ku seorang, Tak ada yang boleh menyentuh mu. ” Ujarnya.


PLAK!


aku menamparnya, aku merasa harga diri ku memang benar-benar terjual oleh pria seperti pangeran Zhao. Aku terus memikirkan sebagaimana cara keluarga luck*ut itu menjual ku terhadap pangeran Zhao yang memiliki status suami ku yang tidak ada harga dirinya sama sekali.


Aku tahu, hati ku mengatakan mereka bersekongkol dengan Kai. Ya memang benar aku memesan obat terhadap Kai, obat itu adalah obat menghilangkan noda di wajah ku.


Ternyata itu salah, Kai juga mencampurkan sesuatu terhadap obat itu. Tentu saja aku bisa merasakannya, ini baru pertama kali aku mengalami nya. Sejak waktu itu aku memesan obat terhadap Kai, Ini yang paling buruk.


Rencana ku pada hari Minggu kemarin, aku ingin bertemu dan ingin meminta penjelasan terhadapnya juga. Tapi tidak, Mei Mao justru mencegah jalan ku. Membuat ku tiba-tiba merasa pusing dan jatuh terkulai lemas. Tak ku sangka, ternyata aku benar-benar pingsan ketika aku menutup mata ku.


Tak tahu siapa yang membawa ku di istana, yang jelas aku mendengar kalimat "Ada apa ini." sebelum aku benar-benar pingsan.


“ Walaupun aku istri mu, tolong. Hormati aku yang berusaha menutupi aib ku terhadap orang! Terutama diri mu, bukan kah sudah aku bilang? Kita harus jaga jarak, pangeran Zhao. Berapa biaya yang kau keluarkan untuk membayar diri ku, hah? Seberapa banyak?! ” Tanya ku dengan membentak menatap ke arahnya dengan tajam. Karena aku belum rela terlepas oleh masa pera*an ku. Membuat ku langsung emosi, dan mengingat semua kejadian yang di lakukan oleh keluarga ku aku merasa terjual.


“ Jadi kau merasa kau telah terjual oleh ku, begitu? ” Tanya nya.


“ Ya! Di mulai dari pertama aku meminum obat dan terbangun di kamar mu, merasakan semua ini aku terjual! Aku tak menginginkan pernikahan ini, aku tidak menginginkannya! ” bentak ku.


“ Lalu siapa yang menginginkannya? Seharusnya kau menolak pernikahan ini, ” ujar nya dengan pelan.


“ Pangeran Zhao, jika harga diri ku tinggi aku pasti bisa menolak pernikahan ini. Karena harga diri ku rendah, aku terpaksa menikah dengan mu. ” ujar ku dengan sinis dsn tersenyum getir.


“ Wanita rendahan? Sama seperti Pela*ur, ” ujarnya.


“ Pangeran Zhao, aku menghormati mu sebagai suami ku dan pangeran di istana ini. Hamba mohon, sebagai seorang wanita di sini bukan sebagai seorang istri. Jangan melakukan sesuatu tanpa izin orang lain terlebih dahulu! Terlebih aku, kita (Para cewek) memiliki harga diri masing-masing. Jadi aku memohon kepada mu, semoga hal ini tidak terulang kembali. ” ujar ku.


Ia hanya diam, membuat ku merasa sakit hati hingga turun dari sana. Tanpa menggunakan alas kaki, aku berlari keluar dari kamar dengan berkaca-kaca. Aku lupa menggunakan cadar, karena aku tidak tahu akan hal itu.


Berlari hingga aku merasa letih dan menangis di sana sembari berjongkok.


“ Serendah apapun aku, aku memiliki harga diri. ” gumam ku di sela-sela tangis ku.


Apa lagi aku mengingat kalimat terakhirnya sebelum aku pergi. Membuat diri ku benar-benar merasa di acuhkan tak ada yang menyayangi ku.


“ Seberapa banyak kau membayar, itu tak akan cukup dari semua yang 'Kami' lakukan. ” kataku terisak takut akan masa depan.

__ADS_1


__ADS_2