Menikahi Pria Candu

Menikahi Pria Candu
BERSENANG - SENANG


__ADS_3

Akhir pekan pun tiba...


Li Zhe dengan Devan pergi keluar dari istana setelah 3 hari kepergian suami Li Zhe. Setelah mendapatkan izin dari ratu, Li Zhe dan Devan berdua keluar dari istana dengan jaket tebal di badan Li Zhe.


Devan diberi amanat oleh ratu untuk menjaga Li Zhe kapan pun dan dimana pun. Baik ada Zhao atau pun tidak. Saat ini Li Zhe melajukan kudanya dengan cepat membelah keramaian pasar dan menuju hutan dimana dirinya terluka.


Sebelum sempat bertengkar dengan naga di sungai. Dirinya melihat rerumputan yang dapat digunakan untuk produk pemutihan tubuh maupun wajah. Tak disangka waktu itu Li Zhe malah melihat danau yang jernih dan indah. Terlebih lagi ada air mancur yang menambah kesan keindahan itu.


Seketika saja Li Zhe sadar ketika Devan mencegah nya dari depan. Wajahnya mengerut amarah menatapnya.


"Kau mau ke hutan kan, kakak ipar?" tanya Devan.


Li Zhe meneguk Saliva nya. "I-iya."


"Kakak ipar, kenapa kau tidak menunggu kakak Zhao saja? Aku tidak bisa bertanggungjawab untuk menjaga mu." Marah Devan.


"Tidak, Devan. Jika kakak mu yang mengantar ku, mungkin aku tidak bisa kesana." ujar ku.


"Lalu kau sama saja mencari mati dengan ratu, nona! kau membohongi ia untuk kepentingan mu?" ucap Devan.


"Devan, bukan seperti itu." ucap ku.


"Sudahlah nona, akhir pekan ini dipenuhi kesibukan semua orang. Kapan-kapan saja jika kau ingin ke hutan, sekarang ayo kembali. Bisa saja kakak ku sudah sampai di istana." ucap Devan.


"Tidak, Dev! jika kau ingin kembali ke istana silahkan, aku ke hutan seorang diri saja!" ucap ku kemudian melajukan kuda ku melewatinya. Sontak saja Devan berteriak dan mengikuti ku dengan kecepatan tinggi di belakang ku.


-


Sedang Zhao, dirinya berada di atas kuda dengan prajurit di belakang nya. Melewati jalan pasar untuk kembali ke istana. Namun pengawal bayangan langsung mencegah nya dengan berdiri didepannya. Zhao menyipitkan matanya menatap ia.


"Hamba memberi hormat untuk pangeran!" Ujarnya dengan menekuk satu kaki nya dan merapatkan tangannya dihadapan Zhao.


"Berdirilah. Ada apa?" tanya nya.


"Nona dan Devan-"


"Kita bicarakan saja di istana, kau menghalangi jalan kami!" ucap salah satu warga.


Zhao melirik, "Benar yang mulia, kita bicarakan saja di istana." ucap Li di belakang Zhao.


Zhao mengangguk. "Kita-"


"Nona dan Devan sekarang berada di hutan dengan kondisi bahaya, tuan! harap anda melihatnya," ucap nya dengan menunduk takut karena telah memotong ucapan Zhao


Zhao membulatkan matanya, Li menatap tajam ke arah pengawal bayangan itu.


"Li, kau bawa rombongan ke istana. Aku ke hutan dulu mencari istri ku," ucap Zhao membelokkan kudanya berlawanan dengan arah istana.

__ADS_1


"Tapi yang mulia, biarkan hamba ikut!" ucap Li.


Zhao menggeleng, "Bawa mereka ke istana." ucap Zhao kemudian diangguki lemah oleh Li.


Zhao pun langsung melajukan kudanya dengan cepat menyusul istrinya.


-


"Devan, lepaskan! kau bisa mati nanti?" ucap ku ketika dirinya menarik paksa tangan ku. Untuk turun dari kuda.


"Bagaimana aku bisa mati nona. Keselamatan mu lebih penting, jika aku mati karena mu itu tidak papa!" ucap Devan.


"Kau gila, Dev!" ucap ku tak percaya menatapnya


"Saya gila karena anda," ucap Devan tajam ke arah ku.


Aku menekuk wajah ku. Menunduk ke bawah, ada perasaan kesal dan marah. Tapi juga menyesal karena pergi tanpa SE izin Zhao.


Tiba tiba suara kuda yang berjalan ke arah kami membuat ku menatap ke arah dibalik pohon gede itu.


Zhao datang dengan wajah khawatir, seketika dirinya menarik tali kuda dan berhenti didepan kami.


"Kalian kemana saja! kenapa pergi ke tengah hutan," ucap Zhao turun dari kuda dengan ekspresi marah.


"Nona-"


Menangis.


"Kakak ipar, kau-"


"Zhao, aku hanya ingin memetik daun untuk pengobatan mu. Tapi Devan melarang ku, ia menarik tangan ku sampai merah, Zhao." Terisak buaya.


Devan hanya bisa menghela nafas kecil.


Zhao menarik ujung pakaian ku dan menatap lengan ku.


"Devan. Kenapa kau melukai kakak ipar mu?" tanya Zhao.


"Aku tidak sengaja kak, lagipula dari tadi kakak ipar memberontak untuk pulang." ucap Devan.


"Itu tidak benar! aku hanya..."


"Sekarang kita pulang ya?" ucap Zhao.


"Tidak mau!" Melepas tangannya dan menjauh.


Aku menatap Zhao dan Devan bergantian. "Jika kalian pulang ya pulang saja, jangan mengajakku." ucap ku.

__ADS_1


"Zhi!" Zhao menatap ke arah ku dengan dalam. ada Raut khawatir dan emosi didalamnya, aku diam. Tak bisa berkutik karena langsung Zhao menarik ku ke atas kudanya dan ia ikut naik ke atasnya.


"Devan, panggil pengawal bayangan dan bawa kuda ini ke istana!" titah Zhao sebelum pergi.


"Tapi Luka mu, Zhao?"


"Tidak perlu mengkhawatirkan luka ku, kau masih sakit!" ucap Zhao dengan dingin.


Aku diam. Menatap lurus ke depan, berulang kali aku batuk dan bersin. Zhao yang tau kenapa pun menghentikan kudanya dan berjalan pelan.


"Kenapa berhenti?" tanya ku menggosok hidung.


Ku rasakan tangannya melingkar di pinggang ku. Kepalanya berada di bahu sebelah kanan ku. Pandangannya menatap lurus ke depan. Jika aku menoleh pasti akan dipertemukan dengan menyatunya bibir kita berdua nanti.


"Kau tidak tau bagaimana panik nya aku tadi Zhi." ucap nya dengan pelan. Ada Raut kesedihan di nada bicaranya.


"Belum sampai istana, pengawal ku melapor kejadian ini kepada ku apa jadinya kalian jika aku tidak ada tadi? apa kau akan terus masuk ke dalam untuk mengambil obat Zhi?" tanya Nya.


Aku diam. Aku hanya menghela nafas pelan, menyesal membuat Zhao khawatir.


"Kau tidak perlu melakukan itu, cukup dirumah dan istirahat lah." ucap Zhao di akhiri dengan kecupan singkat di leher.


Aku hanya menggerakkan kepala ku geli. Devan menarik tali kuda dan menoleh kepada kami.


"Kenapa berhenti disini? kalian mau kemana lagi?" tanya Devan


"Tidak perlu tau, kalian kembali lah ke istana. Jika bertemu dengan ratu, katakan aku sedang menculik istri ku untuk jalan-jalan." ucap Zhao.


Devan mengangguk. Kemudian dirinya pergi dengan pengawal bayangan yang ada di belakangnya.


"Kuda ku.."


"Sementara ini biarkan dia di ambil alih oleh orang lain, Zhi." ucap Zhao kemudian turun.


Aku merentangkan tangan ku dan dirinya menarik ku turun dari kuda.


"Kau baik-baik saja, HM?" tanya Zhao.


Aku mengangguk. "Tapi kita mau kemana?" tanya ku dengan takut.


Zhao menyinggung senyum. "Bersenang-senang."


Deg


**


Li Zhe melupakan tujuan utamanya berada di hutan yakni mengunjungi desa disana. Yang bebrapa hari lalu Devan mengatakannya kepadanya.

__ADS_1


__ADS_2