
Mau tak mau aku mendekat ke arah nya, dengan langkah yang lesu aku duduk tak jauh dari tempatnya. Yang tengah duduk di atas kursi serta meracik obat, aku mulai tertarik untuk melihat tontonan gratis di depan ku.
“ Apa seperti ini juga Kai meracik obat untuk ku? ” Gumam ku yang masih terdengar olehnya.
“ Kau sakit? ” Tanya nya menghentikan aktifitas nya.
“ Eh, A-Aku.. t-tidak. aku tidak sakit, Kenapa? ” tanya ku.
“ Tidak apa-apa, mungkin aku hanya salah dengar. ” ujarnya
“ Oh ya, di mana-mana aku melihat botol - botol yang di penuhi obat-obatan. Apakah itu kau semua yang membuatnya? ” Tanya ku.
Ia hanya diam dan masih fokus ke kegiatannya.
“ Jawab pertanyaan ku, suami ku. Setidaknya kita berbasa-basi dulu. Aku bosan di kamar ini tanpa kegiatan. ” ucap ku mengeluh.
Ia menghentikan aktifitas nya, melirik ke arah ku sekilas.
“ Kau mau melakukan hal itu? ” Tanya nya.
Aku menoleh ke arah nya dengan mengerucutkan bibir.
“ Tidak mau! Bau nya menyengat. ” ucap ku.
Ia menghela nafas pelan, aku bisa melihat kegiatan itu walau hampir tak terlihat. Karena mata ku sangat jeli setelah memakan buah Piu.
Buah yang dapat meningkatkan daya lihat 90%, menguatkan Indra penciuman 70% serta daya dengar jarak jauh 57%. Hanya ada ketika musim dingin saja.
“ Hahh, sudah lah. Aku ingin tidur saja, ” ucap ku berdiri. Lalu berjalan ke arah ranjang, tunggu dulu. Mata ku melewati sesuatu. Aku melirik ke arah sebuah kurungan di atas meja. Kelinci putih dengan mata berwarna merah tajam membuat ku mengingat tentang kejadian itu.
“ Oh tuhan, apakah dia orang nya? ” Gumam ku.
Aku melirik ke arah pria itu dengan perlahan-lahan. Takut, menatap wajahnya yang tenang tapi auranya menjadi gelap seiring berjalannya waktu.
__ADS_1
Setelah ia melihat ku. ia pasti mengenal ku! Karena dimana-mana aku memakai cadar. Tuhan, apa yang harus aku lakukan? Batin ku.
Dengan penuh ketakutan aku berjalan ke arah ranjang. Pikir lah kembali, kenapa mendadak hati ku menjadi berdetak kencang setelah mengetahui fakta ini.
Dia pasti berpikir yang tidak-tidak mengenai ku. Waktu tengah malam itu sungguh tidak mungkin jika nama ku bagus di matanya. Karena kita bertemu di waktu yang kurang pas. Oh ayo lah Li Zhe, jangan terbelit-belit. Waktu itu kita bertemu di waktu yang salah, tengah malam..
Terlebih gadis seperti ku berjongkok di tengah jalan menghadang beberapa orang yang berlalu lalang. Tidak tidak, aku bukan tipe wanita yang seperti itu. Itu hanya kebetulan saja! kalian percaya pada ku kan, readers?
“ Akhh, jangan di pikirkan! Jangan di pikirkan, itu tidak mungkin. Ayo pejamkan mata mu dan tidur, ayo Li Zhe kau pasti bisa! ” ucapku pelan.
Lalu berbaring di ranjang, menatap langit-langit hingga mata ku terpejam sempurna. Beralih ke alam mimpi, dengan tema ja*ang bertemu dengan ku kembali.
Nama nya Li Zhe, akhirnya aku bisa mendengar nama nya. batin Zhao tersenyum dibalik tubuhnya yang membelakangi Li Zhe.
******
Setelah bersiap-siap dengan memakai gaun berwarna biru langit di pagi hari. Aku tinggal memoles sedikit bedak di wajah ku dan penghias bibir supaya lebih sempurna.
Aku kurang yakin, aku tidak puas dengan pujian diri ku sendiri. Akhirnya aku menoleh ke sana kemari hingga menemukan sosok pria itu yang tengah berjalan mendekat.
Ia menoleh lalu menatap ku dari kaki hingga bawah. Tak ada reaksi yang di tunjukkan nya. Tapi bukan Li Zhe nama nya jika tak memperhatikan hal-hal sekecil apapun itu. Lihat lah, telinga nya memerah walaupun hampir samar.
“ Ada apa? ” Tanya nya dengan datar
“ Ada apa? Ohh itu, ehm.. b-bagaimana penampilan ku? apakah aku sudah sempurna, aku takut ibu ratu tak menyukai ku.. ” ucap ku dengan pelan di kalimat akhir.
“ Tidak usah pedulikan penampilan, ibu ratu tak akan membicarakan hal itu kepada mu. Karena ia tahu sendiri penampilan mu, berangkat lah. Aku ada urusan, ” ujar nya hendak melangkah lagi namun..
“ Tapi ibu ratu memanggil kita berdua, ini pertemuan— ” ia memotong ucapan ku tanpa membalikkan badannya.
“ Aku tahu, ia tak akan mempermasalahkannya. Jadi kau tak perlu takut, aku akan datang jika waktu ku senggang. Pergi lah jangan membuat ibu ratu menunggu kehadiran mu, ” ucap nya melangkah kan kakinya pergi. dan menghilang dari balik pintu.
“ Hufft, bukan itu saja. Aku tak tahu tempat nya dasar bo*oh! ” umpat ku pelan.
__ADS_1
Tap..Tap..Tap
Sudah aku tebak, langkahan kaki itu sudah pernah aku dengar sebelumnya.
“ Kakak ipar!! Selamat pagi. Wahhh.. ” Terkagum.
“ Kakak cantik sekali, ayo! Aku sudah menyiapkan kereta nya untuk kakak, ” ujar nya menggandeng tangan ku dengan penuh antusias dengan tersenyum.
“ Ah iya Devan. Omong-omong, apakah kau akan mengantar ku? ” Tanya ku.
“ Tentu saja, sebagai seorang teman dan.. ” ia melirik ke arah ku dengan senyuman misterius nya.
“ Dan? ” Tanya ku.
“ Dan seorang adik ipar!, ah sudah lah. Sangat membosankan, ” ia melepas tangan ku lalu tersenyum menyeringai. Menggoyangkan kedua tangannya ke depan dan ke belakang seolah mengibaskan bajunya.
“ Kau adik kandung, pangeran?” tanya ku. Ia menoleh dan mengangguk. Kemudian menatap ke depan lagi masih berjalan menuju pintu utama.
“ Devan, apakah ibu ratu baik? ” Tanya ku dengan spontan. Membuat ku langsung menutup mulut ku.
Bo*oh! Kenapa kau mempertanyakannya, ucap ku di dalam hati.
“ Haha, dia mengerikan kak. Aku bahkan memiliki hubungan rentan dengannya, ” ujar nya terkekeh.
“ Benarkah? bisa kau tunjukan seberapa mengerikannya ibu ratu? ” Tanya ku.
Membuat ia langsung menghentikan langkahannya, dan aku mengikuti itu.
“ Oh maaf, aku telah lancang.. ” ujar ku bersalah ketika melihatnya langsung diam dan menatap ku lekat.
“ Bisa diam tidak!! Tidak baik menantu seperti mu bergosip di belakang ku! Dasar tak tahu malu! ” Ujarnya membentak membuat ku terkejut.
Aku menatap ke arah nya yang menatap ku dengan tajam. Tanpa sadar aku memalingkan muka lalu mengusap air mata yang merembes keluar dan mengibaskan tangan ku untuk menghilangkan wajah panas. Tak di sangka aku tiba-tiba di bentak. Dada ku bergemuruh dan air menetes dari pelupuk mata.
__ADS_1
“ M-Maaf, aku tak bermaksud seperti itu.. A-Aku, aku tak akan pernah bertanya lagi. ” ucap ku lalu melangkah berjalan mendahuluinya.
“ Oh tuhan, apakah kakak ipar menganggap serius acting ku? Ya Tuhan, bisa-bisa sih Zhao lucknut itu akan memenggal kepala ku, dia hanya memerintah ku untuk menjaga nya. Bukan membuatnya sedih, ya tuhan!! Kakak ipar, tunggu !!! ” Teriak nya berlari menyusul Li Zhe yang sudah jauh dari nya.