
Punggung Bao sempat di ketuk beberapa kali oleh pria sebaya di sampingnya. Bao sontak membalikkan badan menatap pria itu.
“ Maaf apa aku bisa mengobrol dengan mu sebentar? ” tanya nya.
Bao mengangguk. “ Bisa.. ” Bao tersenyum ramah kepada salah satu tamu undangan kerajaan Fang
“ Ayah, apa aku boleh berbicara dengan dia? ” tanya Bao melirik pria di belakangnya dengan lirikan mata
“ Boleh, bicara saja. ” ucap Zhao nampak tak memedulikan.
Bao mengangguk dan berbalik badan menghadap pria itu.
“ sebenarnya, aku anak dari permaisuri Wang. Kenalkan, aku pangeran Gyo anak ke 11 permaisuri. ” ucap pangeran Gyo memperkenalkan dirinya terlebih dahulu.
“ Oh maaf pangeran, hamba tidak tahu. Perkenalkan hamba pangeran Xiao Bao dari kerajaan Chang. ” ucap Bao.
“ Xiao Bao? Jadi kau putra dari kaisar Zhao? ” tanyanya.
Bao mengangguk menanggapi.
“ Maaf jika aku boleh bicara, apakah kaisar mengenal penari kami? maksudnya, penari kerajaan Fang? ” tanya pangeran Gyo.
Bao tersenyum tipis. Ia sedikit menunduk sembari mencerna ucapan pangeran Gyo.
“ Tidak, tadi ayah ku hanya salah tingkah saja karena perempuan menari di atas pecahan kaca itu tidak baik. Jadi ia sedikit syok melihatnya. ” ucap pangeran Bao dengan hati-hati.
“ Ohh begitu, baiklah. Oh ya, bersulang.. ” Pangeran Gyo dan pangeran Bao menyatukan gelas mereka dan meminum arak yang telah di sediakan sedari penari Zhi melakukan kegiatannya di lapangan.
Ibu, apakah itu kau? Batin Bao sembari meletakkan gelas di atas meja.
Dooongggg!!
“ Mohon perhatiannya tamu-tamu yang terhormat karena acara yang kedua akan dimulai 10 menit lagi. Tolong siapkan diri kalian melihat acara yang kedua. ” ucap Kasim memperingati.
“ Yaaa... ”
Kasim itu menunduk hormat kepada tamu kerajaan Fang kemudian melangkah mundur dan pergi kembali ke asalnya.
“ Ayah, apa kau tidak salah. Penari itu ibu? ” tanya Bao berbisik kepada Zhao.
“ Perhatikan nada bicara mu itu! Orang bisa saja mendengarnya. ” Zhao terlihat menatap marah ke arah mata Bao.
“ Maaf ayah, aku hanya bertanya. ” ucap Bao menunduk.
Devan dan Yuan saling menatap dari depan mereka. Jarak antara Devan - Yuan dengan Bao - Zhao hampir jauh jadi mereka tidak sampai mendengar percakapan mereka. Dan mereka hanya bisa menatap iba ke arah Bao tanpa tau masalahnya yang jelas.
__ADS_1
***
“ Nona Zhi, acara yang kedua akan dimulai 10 menit lagi. ” ucap Dayang Ju.
Zhi menoleh dan mengangguk. Dirinya sedang memakai anting yang baru di meja rias.
“ Biar saya bantu pakaikan. ” ucap Dayang Ju ketika Zhi hendak memakai kalung emas berwarna biru itu.
“ Bibi, kau tau aku sangat suka mengenai kalung ini. Tapi kau tidak merasa heran atau penasaran kenapa setiap kali acara aku memakai kalung ini? ” tanya Zhi menatap Dayang Ju yang ia anggap seperti kakaknya sendiri di cermin.
“ Haish.. kau tidak perlu memikirkan hal itu. Aku penasaran atau tidak itu bukan urusan mu, yang penting kau nyaman aku sudah lega. ” ucap Dayang Ju mengambil gelang kaki emas.
Zhi memutar badannya menghadap dayang Ju.
“ Maafkan aku untuk sementara ini aku tidak bisa memberitahu mu. ” ucap Zhi menatap ke arah dayang Ju.
“ Tidak perlu cemas, pakai cadar mu. Aku akan mengambil panah. ” ucap Dayang Ju.
Zhi mengangguk, dirinya kembali menatap cermin dan mengambil cadar yang telah di siapkan di meja rias.
Setelah selesai, dirinya menatap pantulan wajahnya dari cermin.
Sudah 12 tahun, akhirnya aku melihatnya. Batin Zhi mengingat wajah panik Zhao ketika dirinya melakukan aksi tarian terakhir di acara pertama tersebut.
“ Nona, anda di pinta untuk segera bersiap menuju lapangan. Acaranya 5 menit lagi dimulai. ”
“ Baik. ” Ia melangkah mundur dan pergi meninggalkan Zhi di kamar.
“ Bibi.. ”
“ ada apa? apa ada yang kurang? tadi aku mendengar acaranya akan dimulai 5 menit lagi. ” ucap Dayang Ju menghampiri Zhi.
“ Tidak ada, syukurlah kau sudah datang. Ayo. ” ucap Zhi.
Dayang Ju mengangguk dan keluar mengikuti Zhi dari belakang.
Dooonggg
Lagi - lagi suara itu terdengar. Dan peringatan untuk persiapan melihat acara yang kedua telah disampaikan kepada tamu undangan.
“ Baiklah, silahkan menikmati acara pertunjukkannya. ” ucap Kaisar tersenyum lebar menatap tamu - tamunya.
Zhi berjalan dengan elegan, Hanfu kuning yang sangat menyilaukan mata bagi yang menatap ke arahnya. ditambah tombak yang dipegangnya membuat mereka penasaran apa yang akan diperbuat oleh penari itu lagi.
Ada satu papan lingkaran di hadapannya. Ia melihat papan itu dengan cermat dan menatap ke arah sebelah. Dimana ada satu bak yang diisi 3 tombak besar di sampingnya.
__ADS_1
“ Dayang Ju.. ”
“ Iya? apakah anda sudah siap? ” tanya nya.
Zhi mengangguk. Kemudian dayang Ju memberikan kain hitam kepada Zhi.
“ Bisa kalian lihat dan cek sendiri, kain hitam yang telah diberikan secara gratis oleh kerajaan Fang adalah milik saya. Bisa kalian lihat, kain hitam itu tidak transparan dan sangat tebal kain nya. ”
“ Saya. Penari Zhi akan menunjukkan salah satu dari ke Lima bakat kepada kalian hari ini secara langsung. Yaitu menancapkan Tombak ke papan yang ada disana. ” ucap Zhi dengan lantang menunjuk papan lingkaran yang jauh dari keberadaannya.
“ Woahh.... aku tidak yakin dirinya bisa mencapai papan itu. Lihat saja, apakah dirinya berhasil atau tidak. ” ucap salah satu tamu yang tak sengaja didengar oleh Bao.
Ibu.. kepada siapa kau menunjukkan bakat mu ini? apa kepada ayah? Batin Bao menatap Zhi.
“ Pertama-tama aku akan menunjukkan kepada kalian, Bahwa aku akan melempar tombak ini pas kepada sasaran titik tengah itu tanpa kain. ” ucap Zhi
Zhi mengambil tombak itu dan langsung melempar pada hitungan jari Dayang Ju yang terakhir.
DUGH!
Semua orang langsung membelalakkan matanya ketika tombak itu mencapai targetnya dengan tepat. Banyak dari mereka memuji kepintaran Zhi.
“ Dan yang kedua, aku akan mulai menutup mata ku dengan kain ini. Dayang Ju.. Bisakah kau membantu ku? ” tanya Zhi.
“ Baik. ” Dayang Ju langsung berdiri di belakang Zhi dan memakaikan Kain hitam itu ke mata Zhi.
“ Wah.. aku ragu. Dia benar-benar mau menantang dirinya sendiri dengan kain hitam itu. ” ucap tamu tersebut.
“ Hah iya.. jika aku di posisi dia walau aku mendapatkan penghargaan aku tidak akan mempermalukan diriku sendiri di hadapan tamu undangan kerajaan Fang. ” ucap nya kepada temannya.
Dayang Ju pun mengangkat tangannya, menunjukkan ketiga jarinya yang berdiri tegak kepada semua tamu. Dan mulai menekuk satu persatu jari nya hingga..
“ Mulai! ” tegas Dayang Ju kepada Zhi.
Zhi pun langsung melempar tombak nya dengan sekuat tenaga melalui Feeling nya.
DUGH!
Bao memalingkan mukanya ketika tombak itu tak mencapai target nya.
“ Apa hasilnya? ” tanya Zhao kepada Bao. Ia sedari tadi tidak mau menatap Zhi karena enggan melihat istri sah nya itu melakukan aksi tersebut.
Bao menggelengkan kepalanya yang langsung membuat Zhao menggertakkan giginya.
“ Sudah tua masih saja macam - macam. ” Gumam Zhao.
__ADS_1
“ Ayah.. ” Bao menggelengkan kepalanya.