
Zhao memutuskan untuk pergi dari ruangan Bao. Ia membuat suatu kediaman khusus untuk membuat Bao nyaman di istana Chang. Setelah membersihkan tangannya dari darah ia langsung pergi ke kamarnya.
Ketika sampai disana sudah hening, adik tirinya tadi sudah pergi rupanya. Hanya tinggal keheningan yang menyapa dirinya saat pertama kali masuk ke dalam kamar.
“ Welcome to house yang penuh dengan keheningan. ”
Kata-kata itulah yang pantas di ucapkan untuk kondisi Zhao sekarang. didalam hatinya masih tersirat harapan kalau Zhi ditemukan dan mengisi kembali kehidupannya. Namun rasa benci dikarenakan Zhi yang kabur meninggalkan petaka besar untuk istana jauh lebih besar membuat Zhao berpikir keras untuk melupakan sosok wanita pembangkang itu di kehidupannya.
Zhao segera mengganti pakaiannya dengan pakaian baru yang berada di dalam lemarinya. Memakai riasan di rambutnya dengan rapi sembari menatap cermin. Sedikit merubah penampilannya untuk menghilangkan beberapa kenangan yang mengusik kehidupan kesehariannya.
Li datang. “ Tuan, semua tabib sudah hadir di aula. Menunggu kehadiran anda untuk review obat yang mereka buat. ” ucap Li dengan nafas tersengal-sengal.
Zhao berdahem kemudian menatap wajah nya di cermin. Setelah dirasa rapi dirinya kemudian bangkit dan berdiri didepan bawahan nya.
Li terkejut dikala mendongakkan kepala nya menatap Zhao.
“ Astaga tuan.. ”
“ apa? ” tanya Zhao dingin menatap wajah Li. Seolah tak suka dengan reaksi yang ada pada wajah tersebut.
“ Tidak tuan. ” ucap Li memalingkan mukanya.
Zhao mendengus dan meninggalkan Li seorang diri dikamar.
“ Tuan kenapa aku tidak suka sikap mu yang dingin ini sih. Nona!!! ” Geram Li mengumpat kemudian menenangkan diri dan mengikuti Zhao dari belakang.
...***...
Para tabib fokus pada racikan didepannya. Racikan obat sesuai perintah dari Li membuat mereka kebingungan. Jika di jumlahkan semua tabib berjumlah lebih dari 50 orang di kota ini. Bahkan aula terasa pengap diakibatkan banyaknya orang di dalam aula.
Tapi untuk apa semua pesaing mereka di undang didalam istana? mereka terheran-heran namun masih tetap menjalankan tugasnya.
Zhao berjalan ditengah-tengah mereka sembari sesekali melirik tabib yang sekira nya tak asing dimatanya ketika melewatinya. Aroma obat-obatan sudah menyeruak di seluruh penjuru aula.
__ADS_1
Semua menunduk hormat kepada pimpinan mereka yang baru. Kemudian mereka segera bangkit ketika Zhao duduk di kursi kebesarannya
“ Apa kalian sudah selesai membuatnya? ” tanya Zhao kepada mereka.
“ Sudah yang mulia. ” jawab mereka serempak.
Zhao mengangguk saja menanggapi, kemudian dirinya menatap satu persatu tabib disana. Kemudian menoleh ke arah Li yang berdiri di depannya tak jauh dari singgasana, Li juga menatap mereka.
Pandangan Zhao kemudian menatap tabib-tabib itu kembali.
“ Kedatangan kalian disini tidak cuma-cuma. Aku mengutus semua tabib yang berad disini menjadi beberapa bagian untuk di kelompokkan. Mana yang pantas di eksekusi, dan mana yang dibebaskan. Tentu saja semua bersyarat, dan syarat nya hanya satu. Jika kalian memuaskan Indra penciuman ku dengan obat yang kalian bawa hari ini. Kalian tidak akan di eksekusi. ” ucap Zhao yang membuat semua tabib bertanya-tanya mengapa Zhao memikirkan hal seperti ini?
“ Ada yang bertanya? ” tanya Zhao menatap mereka.
“ Saya yang mulia! ” Seorang tabib langsung maju di tengah-tengah menghadap Zhao.
Ia menundukkan badan dengan kedua tangan dirapatkan didepan menghadap kaisar.
“ Bicaralah. ” ujar Zhao.
Semua orang melebarkan mata akan mendengar suara yang nyaring itu. Entah itu firasat baik atau buruk membuat bulu kuduk mereka berdiri dan kaki mereka siap pergi dari aula.
“ Kau meminta hukuman apa? ” tanya Zhao dengan menahan tawa.
“ Apa saja selain di hukum eksekusi yang mulia,saya memiliki istri yang baru saja melahirkan. Saya tidak tega meninggalkannya disaat umur pernikahan kita sebesar biji jagung. ” ucapnya.
Zhao mendatarkan wajahnya. Senyumannya kini memudar dikala tabib itu menceritakan keluarganya. Semua orang yang melihat itu sudah hampir menebak apa yang akan dilakukan Zhao.
“ Petaka, tabib itu mungkin akan di keluarkan dari istana ini dengan tidak sopan. Beraninya dia menceritakan keluarganya kepada sosok kaisar. ” Tabib 1.
“ iya, kasihan sekali dia. Bodohnya, ” Tabib 2.
“ Bukannya di setujui malah di lempar nanti, hahaha. ” Tabib 3.
__ADS_1
“ Siapa yang tidak setuju dihukum eksekusi? ” tanya Zhao pelan.
“ Yang tidak setuju silahkan berdiri di depan yang mulia! ” Imbuh Li dengan suara keras.
Namun menurut pendengaran para tabib, mereka hanya mendengar suara Li daripada suara Zhao yang seperti gumaman saja.
Sontak para tabib membeku, kemudian satu diantara mereka ada yang maju dan terduduk dihadapan kaisar.
Tak sampai 10 menit, 30 tabib sudah berbaris di hadapan kaisar. Zhao tak melirik mereka sama sekali, ia melamun tanpa kedip ke arah pintu. Situasi hatinya kian tidak membaik.
“ ada yang mau maju lagi? ” tanya Li.
Semua tabib yang berbaris di kanan kiri langsung menggelengkan kepalanya cepat.
“ Yang mulia, semua tabib yang tidak setuju sudah dikumpulkan. ” ucap Li dengan hormat sebagaimana mestinya bersikap.
Zhao berdahem pelan dan menatap mereka satu persatu. Rata-rata adalah kakek tua yang berdiri didepannya. Ternyata gelar tabib hanyalah profesi mereka saja, tak peduli usia jika mereka masih bisa mengobati mereka akan diberikan gelar tabib.
“ untuk hari ini ada pengelompokan, secara tidak langsung kalian semua menciptakan dua kelompok untuk bersaing. Padahal jika kalian berhasil menyelesaikan tantangan eksekusi dariku, kalian akan mendapatkan hadiah besar. Tapi mendengar nama eksekusi tanpa tahu permainannya, kalian sudah menyerah? tidak seru sekali. ” Zhao menggelengkan kepalanya dengan pelan.
“ Tapi tidak apa-apa, aku sudah membuat rencana baru. Kalian tidak boleh pulang hari ini, masih ada hal yang harus kalian kerjakan besok. ” Ucap Zhao.
“ Li, Carikan tempat bagi yang tidak setuju di eksekusi. Dan setuju di eksekusi. ” ucap Zhao.
“ baik tuan. ” ucap Li.
Zhao berdiri dan tabib segera berdiri untuk menghormatinya. Tapi salah satu tabib berkata yang membuat langkah Zhao terhenti.
“ Semua orang memiliki kehidupan masing-masing yang berbeda. Saya disini mewakilkan tabib yang tidak setuju di eksekusi. Umur saya yang tinggal beberapa tahun lagi bisa diambil tuhan kapan saja, tapi saya masih ingin hidup. Itulah alasan mengapa saya tidak ingin mati karena di eksekusi. Karena setahu saya eksekusi adalah kematian dengan cara memenggal kepala dari badan. Saya tidak ingin masa tua saya sia-sia karena kebodohan mu, kau manusia dan aku manu--”
Dua prajurit langsung menebas kepala nya disaat itu juga. Menurut mereka pembicaraan tabib satu ini sudah tidak menghargai perintah Zhao yang membuat mereka terpaksa membunuh Tabib itu.
Zhao berbalik badan dan menatap jasad yang sudah tergeletak di lantai.
__ADS_1
“ Haruskah aku merubah semua peraturan di kota ini agar kalian mengerti maksud eksekusi dariku? ” ucap Zhao.