
Tassstt!!
Suara dari pecut kuda yang seharusnya untuk kuda, namun aku gunakan untuk menyerang naga berwarna hijau itu. Terdapat permata di tengah antara alisnya. Permata berwarna merah yang aku incar.
“ Menjauh lah dari ku!!...hah...” Mengobarkan api ke arah ku.
“ Kakak! ” Teriak Devan.
aku melotot dan berpindah posisi ke atas kepala nya dan memegangi nya dengan kedua tangan ku membuat badannya meronta dan oleng kesana kemari.
“ Jangan, kakak mu menyuruh mu untuk diam disini supaya nyawa kau selamat. Jangan melupakan ucapannya. ” ujar Li
“ Kau ini, aku di minta untuk menjaga kakak ku. Tapi kenapa kau malah mencegah ku, jika ia kenapa-napa bagaimana? ” ujar Devan emosi.
“ Sudah, sudah! Kalian tidak akan pernah berhenti kecuali nona menghentikan kalian. Sekarang fokus ke pertarungan nona, jangan berisik! ” ujar Yuan.
Devan dan Li saling mendengus, lalu kembali melanjutkan menonton adegan pertengkaran aku dengan naga itu.
“ Kenapa harus? ” tanya ku.
Aku terus berusaha meloncat ke punggungnya, namun selalu gagal karena pandangannya terlalu tajam menurut ku. Aku menatap sekeliling seolah-olah sedang mencari jebakan untuk dark green itu.
“ Ku rasa ia mau mengalihkan perhatian Naga itu, ayo!” ujar Devan menarik tangan Yuan untuk membantu ku.
Li mendengus kesal seraya mengumpat karena perbuatan Devan yang tidak bisa tinggal diam. Ia pun memutuskan untuk mengikuti Devan dari pada harus menunggu berdiri di belakang semak-semak.
Mulut ku komat-kamit seraya mengucapkan mantra kepada pecut kuda yang tidak biasa itu. Ku pegang erat-erat pecut kuda yang berwarna emas dengan ujung motif berwarna biru. Lalu mencambuk naga itu membuat nya berteriak keras.
“ Aaaaarrrrghhhhhh ...!!! ” Teriaknya membuat burung-burung berhamburan.
Tak seberapa lama naga itu kembali menjegurkan dirinya ke kolam hingga air itu mengenai diri ku. Aku maju ke depan berusaha menyerang nya kembali namun suara Devan dan Li mencegah ku.
Bruk!
“ kakak ipar!”
“ Nona!” Teriak Yuan dan Li secara bersamaan.
Devan melirik sekilas seraya menyadari ucapan mereka yang bersama-sama. Tanpa menunggu lama lagi, mereka langsung berlari ke arah ku yang sedang terbaring lemas di atas tanah berwarna hijau itu.
...
__ADS_1
“ Em...” ujar ku pelan.
Aku membuka mata perlahan-lahan, atas yang berwarna abu-abu itu mengingatkanku terhadap sebuah lorong yang di sebut Gua itu. Aku terbangun, namun belum sempat terduduk sempurna aku langsung mengeluh sakit.
“ Aw...” Rintih ku namun beberapa saat kemudian aku langsung mengigit bibir ku menahan sakit di punggung ku yang amat nyeri seolah ada yang menanggal punggung ku.
Tap...Tap...Tap
Belum ku rasakan takut, suara besar itu seketika membuat ku terkejut.
“ Kakak!! ” Teriak Devan menjatuhkan kemasan yang ia bawa.
Ku rasakan tangannya yang kekar itu memegang kedua bahu ku dan menyeret ku hingga terduduk di sisi goa. Sembari mencari posisi nyaman, aku bertanya untuk Devan.
“ Bagaimana bisa aku ada disini, mana yang lain? ” tanyaku sembari melirik ke arahnya
“ Li dan Yuan berada di hutan untuk mencari makanan kak, aku tadi sedang mengambil air dari danau untuk kakak. Maafkan aku yang teledor membuat kakak sakit seperti ini. ” ujar Devan.
“ Devan, segera cari Yuan dan Li. Hutan itu tidak aman bagi mereka, jika sekali mereka lupa jalan yang ia lalui sebelum masuk lebih jauh. Mereka akan terjebak disana selamanya. ” ujar ku berusaha bangun hendak menyelamatkan mereka
“ apa? T-Tapi kak, kakak masih lemah kakak istirahat saja. ” ujar Devan kembali menarik ku untuk duduk.
Plak!
“ Kakak, wajah mu pucat.” ujar Devan dengan panik.
Aku menggelengkan kepala menjawabnya, aku tidak bisa berbicara lebih lama lagi. Aku harus mencari mereka sebelum mereka kenapa-napa di dalam hutan. Di bantu oleh Devan yang memegangi kedua bahu ku keluar dari Gua.
“ Aduh..” Rintih ku ketika aku tidak sengaja tersandung batu.
“ Kak!” ujarnya menopang tubuh ku yang hendak jatuh itu.
“ Devan.. kepala ku pusing,” Rintih ku
“ Kakak sebaiknya istirahat, ayo..” ujar Devan membantu ku untuk bersandar kembali di Goa. Ia membungkuk seraya membenarkan posisi duduk ku, aku meliriknya dengan lemah.
“ Kaka, apa yang bisa aku bantu untuk menyembuhkan mu!!” ujarnya hampir menangis.
“ Jangan cengeng ah,” ujar ku mengangkat kepala ku menatap ke arahnya.
“ Kakak, aku serius!” ujar Devan.
__ADS_1
Aku menggelengkan kepala ku, lalu meraba perut ku membuat nya memalingkan muka, aku terkekeh seraya tau apa yang ia pikirkan.
“ Aku memakai salinan pakaian ya! Jangan macam-macam kepada ku, oke?” ujar ku dengan tersenyum.
Devan mengangguk namun tidak mengubah kepalanya. Aku menatap botol kecil yang sengaja aku bawa dari paviliun. Membuka nya dan mengambil 2 pil tersebut. Mengunyahnya dan menelannya.
Ku rasakan rasa asam dan manis menjadi satu. Ya karena aku tidak suka pahit, semua obat-obatan yang aku buat atau racik memiliki beberapa rasa berbeda.
“ Kak, su— Emm..”
“ Kunyah, ayo!” ujar ku menyuruhnya.
“ Jangan di muntah kan!” ujarnya menatap tajam ke arahnya.
Dengan memonyongkan bibirnya ia mengunyah Pill tersebut dan menelannya.
“ Huekk, asam..” ujarnya menatap ke atas sembari melet-melet.
“ Iya tapi ada manisnya kan,” ujar ku terkekeh pelan.
“ 1% manis,” ujarnya aku hanya tersenyum.
“ Kita akan kembali ke hutan dalam 10 menit,” ujar ku sembari menutup mata.
“ Kak,” panggilnya.
Aku tidak bergeming dari tempat ku. “ Kakak! Kakak jangan tinggalkan aku kak.. hiks hiks.. kakak.”
“ Berisik kamp*et. ” ujar ku mengumpat tanpa membuka mata.
“ Kakak masih hidup, aku kira udah mati. ” ujarnya mengusap air matanya.
Tuk!
Aku mengetuk kepala pria yang ada di depan ku itu dengan batu. “ Diam, aku akan istirahat 10 menit saja. Jangan ganggu aku,” ujar ku.
Devan mengangguk sembari meringis. Ia pun langsung duduk di sebelah ku. Ikut menutup mata.
“ Jangan tertidur,” ujar ku sembari memperingati.
“ Iya..” Janjinya sih gitu. Perlahan ia mulai mendengkur.
__ADS_1
“ Sudah di bilang jangan tidur Devan!!” teriak ku geram.