
“ Kau mau apa kemari? ”Pangeran Zhao terlihat lebih antusias saat melihat ku datang mendekat ke arahnya.
“ Apa boleh aku duduk di sini? ”Tanya ku menunjuk bangku yang ia duduki.
“ Apa kau tidak lihat bangku yang sedang kau tunjuk. Sedang aku tempati! Emang kau mau apa? ” Tanya nya heran.
“ Tidak ada,” ujar ku berubah pikiran.
Bagaimana aku bisa duduk jika bahan-bahan yang aku butuhkan tidak ada. Sontak sja aku berubah pikiran dan menoleh menoleh ke sana kemari, menggeledah kamar. Pangeran Zhao hanya sesekali melirik ke arah ku. Hingga saatnya ia memperhentikan pekerjaannya saat aku menggeledah lemari depan nya.
“ Kau mencari apa! ”Ujar pangeran Zhao sedikit membentak karena berisik dengan suaranya.
“ Rumput kaihua, apakah kau mempunyai nya? ” Tanya ku melirik ke arah nya.
“ Untuk apa kau meminta rumput kaihua. Ada disana,” ujar pangeran Zhao menunjuk lemari tempat di sebelah ku.
“ Disini? ” Tanya ku menatap ke arahnya. Ia mengangguk.
“ Ya, ” balas nya.
Aku membuka lemari itu, benar saja. Rumput yang berwarna ungu mirip dengan bunga lavender yang ada di lemari itu.
Berbeda tipis dengan rumput Kaihua ini, jika bunga lavender panjang, ini berbentuk lingkaran dan aroma nya manis.
Aku meraih 2-3 rumput kaihua. Mendekat ke arahnya, menyeret meja yang terlihat jauh lebih kecil dari meja miliknya.
Aku berdiri kembali, menatap sekitar. Hingga aku bertemu dengan benda untuk menumbuk rumput kaihua.
“ Kau mau meracik obat? ” Tanyanya yang sedari tadi hanya mengamati kegiatan ku.
“ Ya,” ujar ku singkat sembari membawa benda itu ke meja ku.
Aku berpikir sejenak seperti ada yang kurang. Hingga aku kembali menatap ke sekitar, menatap beberapa botol yang kosong dekat dari jarak ku.
“ Boleh aku memgambil ini? ”Ucap ku menatap ke arahnya.
“ Hem, ” ujar nya.
__ADS_1
“ Jangan macam-macam, memang kau tau bagaimana meraciknya? ” tanya nya. Tapi tidak ku dengar, entah kenapa aku seolah fokus kepada racikan didepan ku dan menepis ucapannya.
Aku kembali duduk di lantai. Karena sejujurnya aku juga terbiasa duduk di lantai.
Masa bodo dengan tatapannya yang heran, ia mendekat.
Mengamati kegiatan ku yang sedang menghaluskan biji-biji rumput kaihua yang menurut ku penting itu.
“ Aku tidak menyangka, kau juga bisa meracik obat. ” ujarnya dengan tatapan tak percaya.
“ Bukan hanya itu, jika aku boleh sombong sedikit. Aku adalah seorang tabib rahasia, ” ujar ku.
“ Benarkah, latar belakang yang sungguh luar biasa! ” pujinya.
“ Terima kasih, ” ujar ku singkat.
“ Kau belajar meracik obat dari siapa? ” tanya nya ikut duduk di depan ku.
Sekilas aku menghentikan kegiatan ku.
Menatap ke arahnya, aku takut menjawab dan kemudian tersenyum tuk mempercayai dirinya.
“ Benarkah, ” ujar nya terkagum.
“ Iya, ” ujar ku
Aku menatap ke sekitar, lalu menatap ke arah pangeran Zhao yang bertanya kepada ku lewat sorot matanya.
“ Kau mempunyai Stevia? ” tanya ku.
“ Stevia? kau membutuhkannya, ” ujar nya berdiri.
Kemudian ia kembali mendekat ke arah meja nya. Mengambil 5-6 butir tanaman Stevia. Tanaman Stevia sendiri adalah tanaman yang bisa di gunakan untuk pengganti gula. Setahu ku, tanaman Stevia ini juga di gunakan di Amerika serikat sebagai pemanis obat. Di gunakan ribuan tahun di sana. Sebagai tanaman alternatif saja katanya.
Lalu kembali pada sisi pangeran Zhao.
Yang menyerahkan tanaman Stevia ke arah ku.
__ADS_1
Aku menambahkan 3-5 tetes air.
Kemudian, mengambil tanaman Stevia lalu menumbuknya.
“ Kau ingin membuat apa? ” tanya nya.
“ Ini adalah obat yang aku butuhkan, menghilangkan sakit di beberapa organ ku. Walaupun tak sepenuhnya sembuh, tapi.. hanya bisa menjanggalnya. ” ujar ku menjelaskan.
“ Aku kira kau tidak tahu obat yang kau butuhkan. Aku bisa membuatkan nya untuk mu, hampir selesai. Hanya ada satu yang kurang, ” ujar nya menatap ke arah meja nya.
“ Aku tahu apa yang kau butuhkan, ” ujar ku menatapnya. Karena aku sedari tadi diam-diam memperhatikan gerak-geriknya. Sudah beberapa hari aku tinggal di istana. Tidak mungkin aku tidak tau apa yang dia tulis waktu aku menginjakkan kaki kemari dan melihatnya duduk di kursi kerjanya.
******
“ Aku tak percaya kau bisa mendapatkannya Li Zhe, ” ujar nya menatap daun berbentuk oval. Hanya saja ada satu bagian yang lubang, berbentuk V. Berwarna hijau muda cerah.
“ Aku memiliki beberapa set di kediaman ku. ” ujar ku.
“ Kau menemukan daun gotu kola ini dimana? ini hanya ada di Tiongkok! ” ujarnya ketika menerima daun itu. Seolah meraba apa yang ia butuhkan ada didepannya.
“ Seorang tabib mudah mendapatkannya, kenapa kau sangat keheranan! Kau bisa mendapatkannya apa bila kau membuka beberapa cabang perobatan di daerah istana. ” ujar ku. Ya, karena aku yakin pasti banyak cabang toko yang ingin bekerja sama dan membagi penghasilan dengan mereka.
“ Aku tidak mungkin membuka sebuah toko. ” ujarnya dengan pelan.
“ Kenapa? Dari pada setiap sudut istana kau gunakan untuk obat mu. Lebih baik kau simpan di toko mu itu, aku bisa membantu mu. ” ujar ku.
“ Tidak Li Zhe, ini belum waktunya. ” ujarnya.
“ Ya sudah, aku hanya menyarankan nya saja yang mulia pangeran. ” ujar ku kembali rebahan di kasur.
“ Tidur lah, jika makan siang tiba. Aku akan membangunkan mu. ” ujar nya.
“ Iya, terima kasih. ” ujar ku.
Aku kembali menutup mata ku, mengingat kemarin malam aku menyimpan obat herbal ku ke dalam sebuah botol. Dan aku selipkan di ranjang ini. Memindahkan posisi ku ke arah samping.
Botol berwarna putih di dominasi cat berwarna merah muda.
__ADS_1
“ Ibu tiri, aku menemukannya. ” gumam ku.