
Aku keliling istana itu, terlihat indah. aku melihat sebuah danau yang jernih, namun tidak. Ini terlihat aneh, kenapa danau nya berwarna hijau? Anehnya itu terlihat jelas ikan-ikan mengenang berlalu bebas kesana-kemari. Bukan kah berarti itu jernih?
Aku berjalan menampakkan kaki ke kayu berwarna coklat itu. Yang ku rasa itu adalah sebuah jembatan. Berhenti di tengah-tengahnya, ku raih gagang jembatan itu dan menatap danau itu dengan senang.
Sejuk suasana, namun terlihat suram Ketika aku melihat cewek jutek dengan beberapa pelayan di belakangnya mendekati ku. Ia memandangi ku dengan sinis.
“ Dasar cewek jelek, kenapa kau kemari? Tak sepantas nya kau menikah dengan kakak ku! ” ujarnya.
Aku berdesis mendengar ucapannya.
“ Maaf nona, apakah kau iri? Aku sangat beruntung bisa menikah dengan nya, yang ku rasa ia sangat tampan, elegan dan rupawan. Kenapa? Apakah kau iri dengan ku? ” ucap ku.
Jangan di tanya kenapa aku bersikap kasar, aku tak tahan oleh kritikan. Membuat ku ingin menyambar ucapannya dengan mulut pedas ku.
“ Berani nya kau berbicara seperti itu kepada nona muda kami! Pengawal, tangkap dia, dan jeburkan dia ke kolam itu! ”
Wanita tua yang ku rasa adalah pelayan setia nona muda itu memerintah dengan songongnya. Aku menarik tangan salah satu pengawal dengan cekatan lalu menjeburkannya ke kolam. Kemudian pengawal satu nya lagi aku dorong hingga mengenai beberapa pengawal lainnya dan kemudian terjatuh di tanah.
“ CK, berani nya kau! ”
Pelayan tua itu berjalan dengan cepat ke arah ku, namun aku kalahkan dengan tendangan ku membuat ia terjungkai ke belakang beberapa langkahan.
Di lanjutkan dengan nona muda itu yang geram, lalu melangkahkan kaki nya ke arah ku.
Seett
Bugh
BYURRR
“ Hahaha ” tawa ku menggema ketika ia terjatuh ke kolam.
“ Selamatkan nona muda, jangan biarkan dia tenggelam! ” pelayan itu berteriak dengan panik.
Tanpa aku sadari, ia berjalan ke arah ku kemudian mendorong ku.
“ AAAAAAAAA ” teriak ku sekuat tenaga.
Tap..Tap..Tap
Seseorang menyentuh pinggang ku dan kami berdua berputar diatas air kemudian dirinya berjalan diatas air dengan membawa ku ke perbatasan kembali. aku menatap pria yang menolong ku itu membawa ku ke kembali ke jembatan. Dengan sopan nya ia menurunkan aku, kami berdua saling menatap satu sama lain hingga pandangan kami tertuju kepada nona muda itu yang basah kuyub akibat ulah ku.
“ Kakak, dia mendorong ku! Dia benci kepada ku, aku hanya ingin menyambutnya tapi ia malah mendorong ku! ” ucap nya dengan sebal berjalan menghampiri kami.
__ADS_1
“ Aku.. ”
“ Sudah lah jangan ribut, tidak seharusnya pelayan mu mendorong kakak ipar mu hingga hampir jatuh ke kolam. Jika tidak ada aku, apa mungkin kau menyelamatkannya? ”
Beralih kepada wanita itu, aku melirik pria itu yang tak tahu nama nya. Tersenyum smirk ke arah nona muda itu.
“ Kakak, aku tidak tahu jika Yen akan mendorong nya, ”
Aku mengangguk, namanya Yen. Awas kau Yen, ku tandai wajah mu. Menggerutu pelan menatap wanita tua itu dengan tajam dan sinis.
“ Sudah lah, sudah impas bukan? Kau terjatuh dan di tolong oleh penjaga mu. Dan istri ku terjatuh di tolong oleh ku, ” ucap nya lalu berbalik badan.
“ Kakak! Akh, awas kau wanita jelek! ” teriak nya.
Aku tersenyum di balik cadar ku, lalu berjalan melewatinya dengan anggun mengikuti pria itu.
.....
Ia berhenti, membuat ku hampir menabrak punggungnya. Aku mengelus hidung ku yang gatal, lalu menatap pria itu yang berjalan dan duduk di depan meja dengan beberapa botol antik di depannya.
“ Kau suka obat? ” Tanya ku duduk di depannya. Tersenyum ke arahnya, ya walaupun ia tak melihatnya.
“ Ehm.. ” Daheman ku menghilangkan rasa canggung.
Ia tetap menulis dengan pelan dan perlahan-lahan supaya menghasilkan hasil yang bagus.
“ Kau tahu, aku berterima kasih karena semuanya. Aku telah menyulitkan mu beberapa hari ini, di hari pertama kita berbicara.. ”
“ Diam dan keluar lah, kau menganggu ku. ” ujar nya.
“ CK, aku tidak peduli. Aku tidak akan melanjutkan kalimat ku tadi, tapi izinkan aku untuk melihat sekitar. ” ujar ku dengan harap.
“ Terserah, lihat-lihat saja. Jangan jauh-jauh, ” ujar nya.
“ Baiklah, ” ujar ku dengan tersenyum kecil.
Aku berdiri, menatap sekitar dan aku berjalan ke arah tempat dimana banyak botol yang berdiri tegak di sebuah lemari.
“ Kau tidak takut aku memecahkan dan merusak botol obatan mu? ” ujar ku meliriknya.
Ia tersenyum tipis. Terkekeh pelan.
“ Istri yang baik tidak akan menyulitkan suaminya kan? ”
__ADS_1
Cih. berani sekali dia pede menyebutkan bahwa dia suami ku.
Berjalan ke arah salah satu rak, dan membaca tulisan yang di tempel disana.
“ Kau tahu, aku juga memiliki teman. Ia juga suka dengan obat-obatan, ” ujar ku bercerita.
Ia hanya diam, responnya sama sekali tak berubah. Hanya datar dan sibuk menulis. entah menulis apa, mungkin obat baru lagi.
“ Tapi aku tidak tahu, kemampuannya dan diri mu jauh lebih hebat mana. Karena itu Aku berharap, kalian bisa berteman dan membuat obat dengan kemampuan kalian! ” ujar ku.
“ Itu tidak ada hubungannya dengan ku Li Zhe, aku tidak ingin berteman dengan siapapun! ” ucap nya menjawab.
“ Bukan itu, maksud ku— ”
Aku langsung menghentikan ucapan ku ketika menatapnya di depan ku persis. Apa dia bisa teleportasi? Mendongakkan kepala ku dan menatap manik mata nya yang tajam menatap ke arah ku.
Sial, aku hanya sebatas bahu. Memalingkan muka ke samping dengan pipi memerah.
“ Maksud apa? Kau berbicara sesuatu? ” tanya nya.
Setiap kali aku bertemu dengan mu, kenapa otak ku jauh tak terkendali! Li Zhe kau harus menghindar dari suami Muuu.
“ M-Maksud ku, A-Aku.. Aku.. ”
“ Bicara lah yang jelas! Kau ingin berbicara apa? ” tanya nya dengan membentak.
Ia menyipitkan matanya dan dahi mengerut menatap ku lekat.
“ Ah tidak, aku tak ingin berbicara sesuatu. Jaga jarak mu, ” ucap ku mendorongnya lalu melangkah ke arah pintu.
“ Li Zhe, jika kau ingin di hormati. Hormati lah dulu kepada seseorang, dengan begitu ia akan menghormati mu. ” ucap nya.
“ Kau berbicara apa? Soal tadi aku tak bersalah. Ia dulu yang mencari gara-gara! ” ucap ku.
“ Kau jangan menggubris ucapan seseorang yang tak kau suka. Kau mengerti? ” Ucap nya.
“ Aku tahu, kita baru menikah. Aku istri mu, kau tidak mempercayai ku dan lebih memercayai adik mu? ” tanya ku.
“ Bukan seperti itu, aku tak— ”
“ Baiklah karena usia pernikahan kita terlalu muda. Aku harap kita tak mencampuri urusan masing-masing, Tuan. ” Ucap ku lalu berjalan meninggalkan ruangan kerjanya.
“ Gadis itu kenapa keras kepala sekali, ” ucap nya menggelengkan kepala nya.
__ADS_1