Menikahi Pria Candu

Menikahi Pria Candu
MENGORBANKAN NYAWAKU


__ADS_3

Subuh harinya. Dengan masih di gubuk yang sama, Aku langsung terbangun dari ranjang ketika mendengar suara derapan kuda yang mulai mendekat. Aku menoleh ke arah Devan yang tertidur di lantai.Aku segera turun dan membangunkan Devan, mengguncang tubuhnya dengan kuat hingga ia setengah sadar.


“ Ayo, kita segera pergi dari sini. Ada yang mendekat, Van! ” ucap ku dengan panik setengah khawatir.


“ kak.. UHUK UHUK. Ini masih subuh, siapa yang kesini? ”tanya Devan.


“ Van, kita tidak tahu siapa yang datang. Karena itu kita harus bersembunyi ” ucapku dengan sedikit memaksa.


“ baiklah kak.. ” ucap Devan kemudian bangkit. Ia menggandeng tangan ku untuk pergi dari sana.


Beberapa menit kemudian.


Zhao datang dan membuka gubuk itu. Ia menoleh ke arah kapten pengawalnya,kemudian mengangguk untuk beristirahat.


Sudah 3 jam ia menelusuri hutan. Ia hanya bertemu dengan Li dan juga Yu. Beberapa pengawalnya membantu mereka untuk pulang karena mereka terluka. Tak memungkinkan untuk ikut mencari keberadaan Devan dan juga aku.


“ Kita beristirahat saja disini. ” ucap Zhao dengan duduk di pojokan. Ia menghela nafas dengan memandang langit-langit gubuk itu. Ketika ia sedang beristirahat tiba-tiba suara dari kapten pengawalnya yang bernama Yoshida membangunkannya.


“ Tuan. Lapor! saya menemukan gelang kaki emas disini. ” ucap Yoshida dengan memberikan gelang kaki dengan bintang menghiasi.


“ Gelang kaki? ” ucap Zhao menerima gelang itu dan memperhatikannya sekilas.


“ Kemungkinan besar ada seseorang yang baru saja menginap, tuan. ”ucap Yoshida.


Zhao mengangguk. “ Siapapun itu. Seseorang yang lewat disini tangkap dan bawa ke hadapan ku, aku memberikan mu hanya waktu 1 jam. ” titah Zhao.


Yoshida mengangguk. Dengan segera ia pergi dan memerintahkan beberapa anak buahnya untuk mencari orang yang baru saja kabur dari sana.

__ADS_1


***


“ Kak ..” Devan membungkuk dengan batuk yang terus berulangkali. Bahkan dirinya juga sempat sampai memuntahkan isi makanan di dalam perutnya. Ia lemas saat ini, aku menatap cemas ke arah Devan.


“ Dev, apa kau baik-baik saja? ” tanya ku dengan lirih. Devan mengangguk dengan senyum tipis, tapi pandangannya masih kebawah dengan kabur.


Aku yang tengah memijat leher Devan pun terhenti dikala beberapa orang pasukan jahat mulai mendekati ku. Mata Devan juga tak kala terkejut, ia mendongak menatap mereka semua. Devan dan aku sama-sama menatap mereka dengan punggung di tempelkan memutar satu sama lain menatap para sekawanan orang-orang jahat itu.


“ Kalian! kalian siapa!? jangan mengganggu kami. ” ucap ku dengan melotot kesal menatap mereka yang memutari kami.


“ oh ayolah,kami ingin mengenal kalian. Lebih tepatnya kau, cantik. ” ucapnya dengan maju.


Namun Devan langsung merentangkan tangannya ketika pria itu mendekat. Mata Devan melotot menatap nya. Dengan nafas tersengal-sengal bahkan nafasnya diketahui sengit dan beberapa kali menahan batuk.


“ Apa-apaan kau ini? kau mau melawan ku, hah!? ” ucap. nya dengan emosi.


Sriinggg


Jlebbb


Aku dengan membuka mataku lebar lebar menatap Devan yang terkejut ke arah ku. Aku langsung menutup mulut rapat-rapat ketika pedang itu keluar dengan paksa.


“ Sial! ayo kita kabur. ” ucap mereka ketika mendengar suara grusuk-grusuk dari arah samping.


“ Kak..ehm.. ” Devan merasakan tangan ku yang terus mencengkram nya kuat supaya tidak jatuh. Devan menitikkan air matanya sembari memeluk ku. Dagunya yang ia taruh ke bahuku menampakkan jelas bagaimana darah itu terus saja menetes di rerumputan.


“ Tuan Devan! ”Teriakan dari arah samping membuat Devan tidak berniat menoleh. Ia tidak peduli siapa yang datang, namun pikirannya. Ajalnya akan menjemputnya sebentar lagi jika yang memanggilnya adalah orang jahat. Ia memeluk ku dengan sangat erat tanpa mau melepaskannya.

__ADS_1


Srak...srak..srak...


“ Tuan apa anda baik-baik saja? ” Ia melotot dikala menatap pakaian belakang ku yang sobek dengan luka panjang, disertai darah yang mulai merambat kebawah dengan kentalnya.


Aku langsung maju begitu pedang itu di hadang oleh Devan. Sebagai wanita dan ia adalah adik ipar ku, aku tidak takut mati demi seseorang. Dan kali ini adalah tugas ku menjaganya. Sudah cukup dirinya menolong ku tadi ketika di tengah hutan bertemu 2 ekor serigala.


“ Tuan, nona harus di selamatkan. Ayo kita pulang. ” ucap Yoshida dengan tanda seru.


Devan mengangguk lemah, ia melepaskan pelukannya dan mulai menuntunnya dengan perlahan ke gubuk. Kedatangannya itu membuat Zhao langsung bersemangat untuk keluar. Namun apalah daya dirinya yang sudah mencintai wanita yang sudah berstatus istrinya itu langsung emosi dan menarik ku dari genggaman Devan. Secara slow motion Devan menatap tangan ku yang terlepas dari genggaman tangannya. Dengan tak semangat hidup dirinya menatap luka punggung kakaknya terus.


“ Li!! Apa yang terjadi? ” tanyanya dengan melotot ke arah Devan.


“ Kami menemukan tuan Devan dengan nona Li Zhe berada ditengah hutan, tuan. Tuan Devan berusaha mencegah darah nona dengan memeluknya. Kemungkinan besar karena luka masih terlihat segar, mereka habis di serang. ” ucap Yoshida.


"Devan..." ucap Zhao menatap adiknya itu


“ Maafkan aku kak! aku tidak berniat mencelakai kakak ipar, tapi kakak ipar langsung menghadang pedang itu dengan tubuhnya dari depan. Aku tidak tahu. ” Tangisnya pecah dengan berlutut ke hadapan Zhao.


“ Devan berdirilah, Yoshida cepat panggil tabib kerajaan untuk datang kemari! Cepatlah. ” ucap Zhao kepada kapten pengawalnya.


“ Baik tuan! ” ucap Yoshida segera menulis surat untuk disampaikan ke tabib kerajaan.


“ Devan bangunlah, kau tidak mau melihat kakak mu matikan? Beristirahatlah di dalam. ” ucap Zhao dengan setengah menarik tangannya dan menariknya ke dalam. Sedangkan tangan Zhao perlahan merebahkan tubuh ku di kasur itu. dengan perlahan dan penuh kehati-hatian.


“ Kau beristirahat lah disini, aku akan berusaha menyelamatkan kakak mu. ” ucap Zhao dengan lembut.


Zhao pun mulai membuka tasnya dan mulai membuat obat. Dilihatnya kening Zhao yang sudah berkeringat dan menolak untuk diseka oleh yoshida. Ia hanya ingin fokus membuat obat untuk istri nya dengan upaya nya sendiri. Ia juga melihat Li Zhe yang sedang tertidur disana. Betapa lemahnya dia, tidak bisa melindungi satu perempuan yang ia sayangi ketika dalam bahaya.

__ADS_1


“ Aku berjanji, kejadian ini takkan ada lain kali lagi. Aku akan berusaha mencegah musuh untuk melukai kakak ipar ku atau istri ku kelak. ” Gumam Devan dengan menatap langit-langit kamar. Beberapa menit kemudian ia tertidur karena ia kelelahan. Zhao menoleh dan tersenyum kecil, kemudian ia kembali membuat obat untuk Li Zhe maupun Devan.


__ADS_2