
Karena takut bahwa Devan tukang tidur ikut tertidur di samping ku. Akhirnya kita mulai berjalan dengan perlahan di hutan depan. Menatap satu persatu pepohonan dengan menginjak-injak daun yang berguguran di bawah. Devan terus memerhatikan jalan ku lewat belakang. Sedangkan aku terus mengamati jalan di depan. Sesekali aku memanggil nama Yuan dan Li yang hilang.
“ Hah ... hah .. hah ....”
“ Kakak lelah? ” tanya Devan.
“ Sedikit. ” jawab ku dengan tersenyum.
Aku meraba perut ku yang mulai sakit alias merasakan efeknya. Terasa teraduk-aduk menjadi satu, seolah adonan membuat ku terasa ingin mual.
“ Kak! ” ucap Devan ketika menatap ku memuntahkan isi makanan.
“ Kakak baik-baik aja? ” Memijat leher ku pelan. Aku mengangguk tapi aku langsung bersandar karena tidak kuat.
“ Kakak, kita kembali saja ya? aku akan mencarinya nanti. ” ucap Devan.
“ Aku tidak bisa percaya kamu Devan. Jika kalian hilang, aku tidak akan pulang sampai menemukan kalian. ” ucap ku nanar.
“ Iya tapi gak gini juga, kita lanjut perjalanannya besok. Hari sudah mulai gelap, takut kita akan di serang hewan buas. ” ucap Devan.
__ADS_1
“ iya ..” Ucapku memandang ke arah langit.
“ Ya sudah ayo, kita cari perumahan dekat sini. ” ucap Devan pada ku.
Ia menuntun ku dengan telaten, memberikan kesempatan jalan pada ku dengan perlahan-lahan. Ia masih sibuk mengurus jejak kami. Semoga jejak kami membawa berkah bukan membawa sial. Ingat ingat saja jalan ini Yuan dan Li pasti ketemu.
Kita sudah berhenti di depan perumahan, dengan sopan kami mengetuk pintu agar cepat di bukakan. Namun 5 menit berlalu aku tidak sabaran dan membuka pintu itu. Menatap sekumpulan tulang-tulang hewan dan kepala manusia yang di hias-hias.
“ Ahhh!!! ” Terkejut menatap tulang tulang itu.
” Kak, berhati-hati lah. ” kata Devan sembari meneliti tulang tulang itu
“ Iya. Tapi ini tulang apa? besar sekali.. ” ujar ku terkagum menatap sekumpulan tulang tulang dan serangga yang berada disana mengelilingi tulang-tulang itu.
Sedangkan di istana..
Semua kawasan mencengkram karena amarah pangeran Zhao yang kehilangan istrinya. Bagaimana tidak, istrinya yang sedang sakit malah menghilang dengan lelaki lain. Bahkan suaminya masih menghadiri rapat tanpa seizinnya Zhi pergi tanpa pengawal.
“ Kenapa istri ku kurang ajar seperti itu? ” gumam pangeran Zhao dengan amarah.
__ADS_1
“ Anak ku ..” Ibu ratu mendekati pangeran Zhao yang hanya duduk di kasur begitu mendengar kabar bahwa Zhi kabur dari istana.
“ Mungkin istri mu tersesat, dia tidak kembali. Li tadi menyampaikan pesannya pada seseorang dan mengantarkan nya pada ku. Ada kabar baik, Li memberitahu dia berada di hutan Husain. ” ucap Ibu ratu.
Pangeran Zhao langsung menegakkan badannya, matanya melotot menatap ke depan dengan tajam.
“ Ibu ratu, itu kawasan berbahaya! ” ucap Pangeran.
“ Iya dia tahu, bersama dengan Devan, menantu dan pelayannya. mereka berempat terpencar menjadi dua kelompok, pergilah selamatkan istrimu dan yang lainnya. ” ucap ibu ratu
“ Baik, hamba izin pergi ibu ratu. ” ucap Pangeran Zhao.
“ Pangeran. ” panggil ibu ratu.
“ Bisakah kau membawa menantu ku dengan selamat? ” tanya nya penuh harap kepada Zhao. Tatapannya nanar dan terlihat memohon.
Pangeran Zhao menghentikan langkahnya, “ Baik, hamba usahakan ratu. ” ucap Zhao.
Ibu ratu tersenyum, kemudian menatap pangeran Zhao yang tengah memerintah orang untuk bersiap pada dini hari. Karena waktu subuh mereka akan berangkat tanpa menguras waktu lagi. Ibu ratu sudah kembali ke kamarnya. Pangeran Zhao hanya bisa diam dengan merenung memikirkan kondisi istrinya. akhir-akhir ini dia sering sakit apa dia tidak bisa berpikir sedikit tentang kondisinya? rasanya ia ingin mencekik leher gadis itu saja supaya tetap di kamar. Cih, menyusahkan.
__ADS_1
***
maaf gak up lama, jangan lupakan like dan komennya(≧▽≦)