Menikahi Pria Candu

Menikahi Pria Candu
KEDATANGAN IBU RATU


__ADS_3

Tanpa mereka sadari, pelayan dan Li hanya saling pandang di luar pintu. Li menatap ke arah nampan yang telah berisi makanan tuan dan nona mudanya.


“ Sudah lah, mereka mungkin sudah tidur. Bawakan saja ke kamar ku, ” ujar Li


“ Baik tuan, ”


******


Pagi harinya, aku terbangun. Menatap sekeliling, ku rasakan kaki ku kram. Seseorang menindih kakiku membuat ku langsung mengangkat tubuh ku tuk melihat ke bawah.


“ Pangeran, bisakah anda memindahkan kaki anda? ” Ujar ku dengan suara khas bangun tidur menoleh ke samping menatap pangeran Zhao.


Pangeran Zhao terbangun dari tidurnya, menatap diri ku yang langsung kembali ambruk di bantal. Ia langsung menarik kakinya.


“ Maafkan aku, apakah sakit? ” Tanyanya.


“ Hanya kram biasa, tapi.. kakiku terasa berat untuk di angkat, pangeran. ” ujar ku.


“ Aku akan memanggil tabib, ” ujar pangeran Zhao.


“ Tidak, tidak apa-apa pangeran. Jangan memanggil tabib, aku baik-baik saja. ” ujar ku menarik tangannya yang hendak pergi.


“ Kenapa? Aku khawatir terjadi sesuatu pada mu. Jangan cegah aku, ” ujar pangeran Zhao melepaskan cengkraman tangan ku dari lengannya. Ia pun meninggalkan aku sendirian di kamar membuat ku hanya menggerutu.


“ Dasar tidak peka. ” gumam ku.


Aku pun bangun, mencoba menurunkan kaki ku dari kasur. Hingga terdengar seseorang datang kembali.


“ Pangeran apakah sudah selesai? ” Ujar ku menoleh ke arah pintu.


“ Kakak ipar ini aku. ” Devan melangkah mendekati Ku. Ia menarik kursi dan duduk di atasnya. Seraya ia tak ingin berdiri ataupun duduk di ranjang bersama ku. Seperti hal yang pernah ia lakukan. Dan itu sedikit membuat ku mengerti bahwa Devan tidak ingin terjadi kesalahpahaman lagi diantara kita.


“ Devan? Ada apa kau kemari? ” Tanya ku.


“ Kakak ipar, apakah kau baik-baik saja? Aku ikut khawatir mengenai kesehatan mu. ” ujar nya.

__ADS_1


“ Aku tidak apa-apa Devan, ” jawab ku


“ Kakak ipar, mengenai waktu itu.. Aku sungguh meminta maaf kepada mu, aku tidak bermaksud membentak mu. ” ucapnya.


“ Lalu Maksud mu berbicara dengan nada besar seperti itu? Apa? ” Tanya ku.


“ Waktu itu aku hanya mempraktekkan sebagaimana ibu ratu di dalam pikiran ku, ” ujar Devan.


Tuk!


Aku menjitak kepalanya karena merasa geram.


“ Jika pelayan mendengar mu dan kebetulan itu mata-mata ratu. Kemudian melaporkannya kepada ratu bagaimana? dasar. ” Kata ku geram sembari menggelengkan kepala ku.


“ Em.. maaf, ” ujar Devan cemberut menunduk.


“ Jangan di ulangin kembali. Jika tidak aku tidak bisa mengerem mulut ku untuk mengadu kepada ratu. ”


“ Kakak ipar, kau yang terbaik! ” ujar Devan hendak memeluk ku dan aku melotot namun..


Seketika kegiatannya terhenti, kami melirik ke arah belakang. Menatap ibu ratu, Li, pangeran Zhao serta tabib menatap ke arah kami dengan tercengang. Lebih tepatnya, pangeran Zhao yang berdahem.


Devan dan aku langsung saling pandang dan seketika saja aku mengedipkan sebelah mata ku. Ia tersenyum dan langsung mundur.


“ M-Maaf kakak ipar, aku tak bermaksud melakukan sesuatu pada mu.. ” Devan mundur beberapa langkah sembari mengusap lengkuk lehernya.


“ Dasar tak tahu malu. ” sindir Li.


“ Li, jangan berbicara seperti itu. Hormati dia, ” ibu ratu melirik tajam ke arah Li.


“ Maaf yang mulia ratu. ” ucap Li menunduk.


Ratu menggelengkan kepalanya, lalu melirik ke arah tabib hingga pandangan mereka bertemu.


“ Tunggu apa lagi? Periksa keadaan menantu ku. ” ujar ibu ratu. Seketika pangeran Zhao melirik ke arah tabib.

__ADS_1


“ Baik yang mulia. ” balasnya menjawab lalu berjalan mendekat ke arah ku. Meraih kursi dan duduk disana, membuka tas khususnya.


“ Pagi-pagi aku sudah mendengar kabar, putra ku memanggil seseorang tabib untuk memeriksa mu. Sungguh aku benar-benar terkejut mengenai itu. Aku kira kau kenapa-napa. ” ujar ibu ratu mendekat


“ Maaf yang mulia ibu ratu, hamba tidak apa-apa. Hanya mengalami kram biasa di kaki.


” jawab ku menjawab dengan tersenyum.


“ Jangan memanggil ku yang mulia ibu ratu, panggil saja ibu. Lagi pula aku juga bukan hanya terkejut soal kondisi mu, melainkan kekhawatiran seorang pangeran yang dingin di istana. Mencari seorang tabib langsung. ” Ia menggelengkan kepalanya pelan sebelum melanjutkan ucapannya.


“ Aku tidak salah memilih mu. ” Imbuhnya sembari tersenyum.


“ Terima kasih ibu r— ” Suara ku tertahan begitu mengingat ucapan nya yang menyuruhnya memanggil ibu.


“ Maksud ku ibu. ” ujar ku sembari malu-malu.


“ Haha, menantu ku sangat pemalu. Lihat lah, apa kau tidak merasa beruntung memilikinya? ” Ujar nya melirik ke arah pangeran Zhao.


Begitu lah setiap saat ketika kami berdua ada di dalam kamar di dampingi oleh yang mulia ibu ratu. Setiap kali ia membahas sesuatu, ia selalu mengaitkan tentang aku dan aku. Membuat ku terus-terusan malu dan bibir ku keluh karena terlalu lama tersenyum.


Hingga sampai siang harinya, ia menyuruh ku dan pangeran Zhao untuk makan siang bersama nya. Benar saja, aku menyetujuinya. Karena sedari pagi aku selalu melewatkan sarapan karena pengobatan di kaki ku.


“ Aku tidak sabar, ingin memiliki seorang cucu! ” ujarnya dengan spontan.


Seketika aku melirik pangeran Zhao yang hanya santai melanjutkan makannya. Tanpa menoleh bahkan tenang sekali. seolah tutup telinga dengan ocehan ratu.


“ Ibu ratu tidak perlu menunggu, kami akan sering-sering berusaha membuat janin di dalam rahim istri ku. ” Ujar pangeran Zhao tiba-tiba.


Hati ku berdetak cepat, bukan karena malu. Aku merasa tak enak hati perihal soal menolak nya setiap kali ia menginginkannya. Bahkan hingga 3×, tapi semuanya aku tepis dengan berbagai macam alasan. Dan sekarang, dirinya menunjukkan kesannya dan tanggungjawabnya sebagai suami di mata ku. Rela berbohong, dan menyembunyikan kecewa nya pada nya.


“ Itu bagus! Tujuan ku menikah kan kalian bukan hanya membuat pangeran Zhao takluk terhadap mu menantu ku. Tapi aku juga ingin seorang cucu, ” ujarnya dengan senyum merekah.


Semakin ku rasakan dada ku terasa sesak, menunduk, aku menghentikan aktifitas makan ku. Lalu berdiri membuat yang mulia ibu ratu terkejut.


“ Maaf menganggu waktu makan siangnya, saya ada keperluan. Semoga lain kali kita bisa makan bersama. ” ujar ku lalu berjalan secara perlahan-lahan menjauh dari ruang makan ibu ratu.

__ADS_1


“ Saya harus menyusul istri hamba ibu ratu, mohon maaf atas ketidak enakan nya. ” ujar Pangeran Zhao mencuci tangan di baskom lalu pergi meninggalkan ibu ratu seorang diri. Mengejar ku yang sudah hampir menjauh dari ruang makan.


__ADS_2