
"Kenapa? apa kau masih kesal?" tanya nya.
Aku melirik ke arah Zhao, dia terlihat menatap ku. Aku memalingkan muka menatapnya.
Diam dan hening.
"Kau bisa kesana jika ada urusan penting, Zhi. Kau tidak bisa kesana seorang diri dan hanya berdua dengan Devan. Jika ada perampok dan kau diculik, apa istana tidak akan menanggung akibatnya?" tanyanya.
Aku hanya menghela nafas. Tidak merespon ucapannya, tapi telinga ku masih mau mendengar ocehan dan nasihatnya.
"Sekarang kau mau apa? kau ingin makan pangsit berdua lagi di kedai itu?" tanya Zhao menunjuk kedai mie pangsit yang tak jauh dari kita.
"Hemm.."
"Paman!!" Aku langsung berjalan cepat meninggalkan suami ku dan duduk di salah satu meja kosong.
"Wah, kau datang nona! katakan pada ku kau mau pesan berapa? akan segera ku buatkan!" ujarnya.
"Satu porsi pangsit besar!" ucap Zhi.
"Baik!!"
Zhao duduk di depan ku. Ia menatap ke arah paman itu.
"Kenapa meliriknya? kau suka?" tanya ku.
Zhao tersenyum tipis. "Jika kau memesan satu aku makan apa? kau tidak kasihan kepada ku?" tanya nya dengan memelas.
Mati-matian aku menahan senyum melihat wajah imutnya. Akhh!! pertahanan ku runtuh.
10 menit kemudian. Paman itu membawakan satu porsi pangsit mie besar kepada kami.
"Silahkan dinikmati nona.."
Aku mengangguk dan menarik mangkuk itu. Ia melirik suami ku kemudian mendekat dan berbisik.
"Apa dia tidak kau pesankan? hawanya sangat menyeramkan disini." ucap nya.
Aku menghentikan aktifitas mengaduk mie pangsit ku. Kemudian menatapnya.
__ADS_1
"Jangan hiraukan dia paman, cukup buatkan satu pangsit mie porsi kecil untuknya." ucap ku
"Baiklah. Ku harap kalian segera pergi, jika tidak mendadak kedai ku akan sepi hari ini, nona." ujarnya dan aku hanya tersenyum.
Zhao menatap ku. Ia berdiri dan mendekat ke arah ku dengan membawa kursinya.
"Berikan mie itu pada ku!" ucap nya memegang mangkuk dengan kedua tangannya.
Aku menggeleng, mengerut kepadanya. Mie yang berada di mulutku tidak akan ku biarkan putus. Tapi pertengkaran ini membuat ku ekstra sabar dua kali lipat dari biasanya.
"Zhi! kau curang." ujarnya duduk diam mengalah. Tapi auranya sangat suram bahkan dia tidak menatap ku.
Aku melirik. Paman, bisakah kau cepat membuatkan pangsit untuk nya?
Dengan terpaksa aku memutuskan mie pangsit panjang itu dan meneguk kuahnya.
"Zhao, mie mu akan datang sebentar lagi. Jangan kesal seperti itu," ucap ku.
"aku tidak mau, Zhi." ucap nya.
"Baiklah, aku akan memakannya untuk mu. Nanti kita bisa makan yang lain, ya?" ucap ku
"Zhao.."
"Baiklah jika kau ingin makan ini. Ambillah," ucap ku mendorong mie porsi besar itu.
Sedetik kemudian. Paman datang dengan membawa pesanan ku. Kemudian dirinya pergi karena ada pelanggan yang memesan.
"Mie mu-"
Sluurrrppp
Zhao makan dengan lahap, tanpa sadar bibir ku menyungging lebar menatap ke arahnya. Lucu sekali menatapnya seperti itu. Aku tertawa menatapnya yang makan seperti anak kecil.
"Pelan-pelan,Zhao." ucap ku memukul pelan punggungnya ketika ia tersedak.
Kemudian dilanjutkan keheningan diantara kami. Tak ada yang berbicara karena sibuk dengan dunia mie pangsit yang menggoda.
-
__ADS_1
Devan baru saja sampai didepan kamar nya. Tapi tiba-tiba seorang pelayan memanggil Devan untuk menghadap ratu.
Devan yang tau akan ada apa dirinya mengangguk saja. Melangkah pelan dan dirinya langsung bisa mengetuk pintu kamar yang terbuka.
Ratu sedang duduk di meja rias itu pun langsung menoleh ketika menatap Devan datang ke hadapannya.
"Hamba memberi salam untuk ratu. Semoga panjang umur." ujar Devan.
"Bangkitlah."
"Terima kasih, ratu." ujar Devan kemudian berdiri tegak.
"Kemari lah, Dev. Bantu aku menyisir rambut ku," ujarnya.
Devan mengangguk saja. Dirinya membantu menyisir rambut panjang ratu yang polos tanpa hiasan. Harum lavender menyerbu di ruangan. Mungkin ratu baru saja selesai mandi karena itu rambutnya tidak di ikat seperti biasanya.
Dengan ahli dan sabar Devan menyisir rambut ratu dengan tangannya.
"apakah kau kembali seorang diri, Dev?" tanya ratu.
"Iya ratu." ucap Devan.
"dimana putri dan pangeran?"
"Pangeran zhao menculik putri untuk bersenang-senang di pasar akhir pekan," ucap Devan.
"Baiklah. Zhao pasti akan menjaga Zhi dengan baik, titipkan salam ku padanya. Untuk membuat cucu yang menggemaskan." ujar ratu dengan tertawa
"Putri dan pangeran adalah kekasih muda di zaman sekarang,ratu. Mereka masih labil," ucap Devan dengan mode dewasanya.
"Kau benar, dev. Tidak mudah membuat cucu jika tidak ada dorongan paksaan untuk mereka. Tidak apa-apa, kirimkan salam ku saja kepadanya. Mereka yang labil pasti akan mengerti, walau tidak tau kapan mereka akan membuatnya." Tersenyum menatap kaca didepannya.
"Baik." ucap Devan.
"Pergi dan istirahatlah. Jika menemui, Li. Utus dia untuk mencari pangeran dan putri agar cepat kembali ke istana." ucap ratu.
"Baik, ratu. Hamba pamit undur diri."
Ratu mengangguk dan ia mendengar suara langkah menjauh dari kaki Devan.
__ADS_1