Menikahi Pria Candu

Menikahi Pria Candu
KAU BUKAN ANAK-KU


__ADS_3

Devan di tempat panik setengah mati karena sudah lebih dari lima menit lamanya Zhao belum juga kembali. Padahal Bao pun hanya bisa tenang dan memakan anggur yang sudah di sediakan di meja nya.


“ Dimana kaisar.. aku takut dirinya kelewatan batas dan dapat memengaruhi hubungan mereka dengan nona. ” ucap Devan.


“ Mereka suami istri, paman. Jangan ribut. ” ucap Bao.


“ Iya, perhatikan tata ucapan mu itu juga! ” ucap Yuan memukul punggung Devan cukup keras.


“ CK, aku kan hanya mencemaskan keadaan. ” ucap Devan


“ Acaranya akan dimulai. ” ucap Bao buru-buru menghabiskan anggur di depannya ketika melihat Kasim dengan membawa tongkat menghampiri benda berat berwarna emas itu. Benar saja. Setelah di pukul benda itu berbunyi.


Dooonggggg


“ Acara akan dimulai 2 menit lagi, silahkan kembali ke posisi masing-masing. ” Kasim berteriak. Kemudian dirinya kembali menghilang usai mengatakan kalimat itu.


“ apa kau tidak mau mencari ayah mu? ” ucap Devan kepada Bao. Bao menggelengkan kepalanya menatap ke arah Devan.


“ Dasar bocah, biar aku saja yang mencarinya kalau begitu. ” ucap Devan.


“ He-heyyy!! ”


“ Ehm.. tidak usah paman. Biar aku saja, ” ucap Bao menarik tangan Devan.


“ Kau makan saja anggur mu, aku akan mencari ayah mu. ” ucap Devan.


“ Tidak perlu, aku saja! kembali ke tempat mu sana. ” ucap Bao.


Di lain sisi..


Zhi menatap dalam wajah pria di hadapannya itu. Matanya menatap ke arah pria itu dengan kebencian yang berkoar di dalam tubuhnya. Apalagi Zhao hanya diam ketika merasakan perempuan di depannya ini mengamuk. Ia sibuk dengan rutinitasnya.


“ Bre**sek. ” ucap Zhi.


Zhao tersenyum miring, matanya menatap ke arah wajah Zhi yang memalingkan mukanya. Kemudian dirinya menarik diri dan kembali memakai pakaiannya.


“ Hukuman untuk istri yang kabur. ” ucap Zhao dengan puas kemudian meninggalkan Zhi yang sibuk menutupi badannya dengan selimut.


Berulang kali Zhi mengucapkan sumpah serapah yang masih terkadang didengar oleh pria itu. Tapi perlahan menghilang karena dirinya terus berjalan menjauh dari kamar.

__ADS_1


Dari kejauhan, ia sudah melihat Bao yang celingak-celinguk. Ketika pandangannya berpapasan dengan Zhao, Bao langsung berlari dan menghormati Zhao dulu.


“ ayah, dimana ibu? ” ucap Bao.


Zhao memiringkan badannya dan terlihat Zhi berjalan cepat dengan memakai cadar. Zhi belum sadar akan keberadaan Bao dan Zhao yang sedang menatapnya.


“ Itu ibu mu, berbicaralah. ” ucap Zhao yang hanya diangguki oleh Bao.


Zhao pergi, Bao menghalangi Zhi untuk melewatinya. Kemudian wanita itu mendongak menatap pria tampan dihadapannya.


“ Kenapa kau ada disini? apa kau tersesat? ” ucap Zhi.


“ Ibu.. ”


Deg!


Zhi membeku ditempat dan menatap pria yang ada dihadapannya.


“ Ibu kau kemana saja!? kenapa kau tidak mau menemui ku selama ini!? ” bentak Bao.


“ pergilah Xiao Bao.. jangan sampai ada orang yang melihatmu bersama ku. ” ucap Zhi memalingkan mukanya ke arah lain.


Bao menggeleng dengan tersenyum getir. “ Kenapa kau menjauh dari ku, Bu? ” ucap Bao.


“ Aku tidak peduli sudah sebesar apa aku, Bu. Kau adalah ibu ku, ayo kembali ke istana.. ”


Plak!


Zhi menepis tangan Bao dengan kasar. Ia bahkan mundur menjauh dari Bao.


“ Jangan ada yang berani menemui ku... atau aku akan pergi jauh ke tempat yang tidak bisa kalian temukan. ” ucap Zhi kemudian meninggalkan Bao sendiri di lorong itu.


Bao hendak mengejar namun langkah kaki Zhi sudah sangat jauh dan itu membuat Bao kehilangan akalnya mengejar Zhi.


“ Sampai kapan pun.. aku akan menemui mu. ” ucap Bao kemudian pergi meninggalkan tempat itu ke tempat pelelangan.


Bao duduk semula di kursinya, dengan wajah datar bahkan aura Bao tak positif yang membuat Zhao bisa mengerti apa yang terjadi kepada Bao.


“ kau bicara apa saja dengannya? ” bisik Zhao.

__ADS_1


“ Tidak ada yang penting, ayah. ” ucap Bao.


“ Apa dia mengatakan sesuatu? ” tanya Zhao.


Bao menggelengkan kepalanya. Zhao hanya mengangguk menanggapi. Dan dirinya fokus dengan acara pelelangan yang sudah dimulai sejak 7 menit yang lalu.


“ Baik, semua warisan sudah di beli dan ada satu lagi warisan yang tak ternilai harganya. Warisan yang ke sepuluh. ” ucap Kaisar menunjukkan warisan terakhirnya.


Yaitu sebuah pedang biru yang sangat berkilau di tutupi oleh kotak transparan sebagai pembatas. Disampingnya ada Zhi yang menjaga kotak itu.


“ Kita mulai dari harga 1000 koin. ”


tok tok tok


“ 3000 koin. ” ucap Zhao mengangkat papannya.


“ 3000 koin dari kaisar kerajaan Chang, ada yang mau menambah? ”


“ Kaisar... ” Bao menatap ke arah Zhao dengan dahi mengerut.


Zhao menoleh. “ Itu pedang legendaris, aku harus mendapatkannya walau harganya akan menghabiskan harta kita. ” ucap Zhao.


Bao tak menanggapi kembali. Kemudian seorang pria mengangkat papannya.


“ 5000 koin. ” ucapnya.


Zhao menoleh, dirinya menatap seorang pria yang tadi berbicara dengan Zhi. Ia tak pernah melihat pria itu sebelumnya, lantas siapa pria itu?


“ 5.500 koin. ” ucap Zhao.


“ 5.500 koin dari kerajaan Chang. ”


“ 5.600 koin. ”


“ 5.600 koin dari kerajaan Khanza. ”


“ 10.000 koin! ” Zhao mengangkat papannya tinggi-tinggi.


“ Ayah.. ” Bao mendelik bahkan mencengkram tangan Zhao karena syok nya.

__ADS_1


“ Lepaskan. ” Zhao menepis tangan Bao dari lengannya.


Zhao menatap pria dari kerajaan Khanza itu dengan tatapan tajam. Sedangkan pria itu hanya tersenyum saja menatapnya.


__ADS_2