
Zhi mengerahkan seluruh bawahan yang ia bawa untuk tidak mencegah jalannya. Dimana seseorang berjubah hitam dengan tudung di kepala membuat perjalanan mereka bertiga terhambat.
Di hutan..
“ Hati-hati banyak jebakan!! ” ucap Zhi kepada mereka.
“ Baik! ” Devan menyahut.
Mereka terus melajukan kudanya meninggalkan bawahan mereka untuk bertarung di belakang mereka. Meninggalkan nasib mereka demi warga yang harus lebih dahulu di tolong.
Tak seberapa lama kuda Zhi yang kebetulan lumayan jauh dari Pangean Xing dan Devan terhenti di tempat penghentian. Zhi merasa dirinya sudah dekat karena banyak sekali suara teriakan dari warga.
Kemudian kuda pangeran Xing dan Devan menyusul di belakang mereka. Zhi berbalik badan menatap keduanya yang sudah turun dari kuda mendekat ke arahnya.
“ Kalian berdua berhati-hati lah. Kita hanya bertiga, bawahan lain tidak ada yang tersisa. Kalian paham? ” tanya Zhi.
“ Sepertinya Gelar ku disini tidak dibutuhkan. ” Pangeran Xing komentar.
Sontak saja Zhi yang sudah berjalan 2 langkah langsung berhenti dan menoleh kembali menatap pangeran Xing.
“ Maafkan hamba. Tapi ini bukan waktunya untuk berbicara formal. ” ucap Zhi.
Pangeran Xing mengangguk. “ Devan, pangeran Xing, aku harap kita dapat bekerja sama dengan baik. Dan jangan memanggil ku seperti yang kalian memanggil ku di istana. Panggil saja aku queen. ” ucap Zhi.
“ Qu.. i - n ? ” Pangeran Xing berusaha mengeja. Dari mana kosakata asing dan aneh itu?
“ Q U E E N. Queen. ” ucap Zhi.
“ Ah.. Quin.. ” Zhi menepuk jidatnya.
“ Queen pangeran. ”
“ Akhhhh!! ”
Zhi terkejut dan langsung menoleh ke belakang. Ia terlihat panik sekarang
“ Aku rasa kita sudah harus kesana. Lupakan soal nama pangeran Xing. ” Devan berdecak kesal.
“ Iya iya baiklah. ” Mengalah daripada berdebat.
Zhi mengangguk kepada mereka. Kemudian mereka berlari dengan membawa pedang masing-masing menuju sumber suara.
Di sisi para pemberontak. Mereka menyiksa anak gadis sekaligus ibunya yang menolak untuk melayani mereka. Mereka pikir mereka bisa memanfaatkan tubuh orang yang mereka culik sebelum tuannya itu datang.
Tapi sikap teguh ibu maupun gadis gadis yang menolak melayani itu membuat mereka marah dan geram hingga menyiksa mereka dengan cambukan hingga suara rintihan demi rintihan terdengar.
__ADS_1
Hua Su Xue. Pemimpin penculikan ini tersenyum miring menatap mereka. Ia senang setelah sekian lama tidak mendengar suara halus nan enak di dengar di telinga nya itu.
“ Tambahkan cambukan nya. ” Hua marah.
“ Baik! ”
Ceplass
Cplass
Plakk
Tak ada rintihan dari satu wanita yang sedang di cambuk didepan Hua. Membuat Hua berpikir untuk menggantikan posisi pria yang sedang mencambuk nya.
“ Ah sudahlah, Kau terlalu lembut untuk mencambuk nya. Biar aku saja, sini! ” Hua mengambil alih cambukan nya itu.
Gadis itu mengigit kuat bibirnya tak peduli jika berdarah. Rasa nyeri dan panas di punggung nya membuat dirinya tak merasakan rasa hambar dari darah yang menetes di bibirnya.
Ketika Hua hendak menjatuhkan alat cambuk nya. Tiba tiba seseorang berteriak kencang hingga pandangan Hua terhenti.
“ Aaaaakkkhhhh! ”
Bruk!
Hua menatap kearah pria yang tersungkur itu di depannya.
“ Apa! Dimana dia!??? ” Bentak nya marah.
“ Disini. ”
DUGH!!
“ aahhkkkkk!!! ”
Brukk
Hua menatap tajam wanita asing yang ada di depannya.
Cambuk yang ada di tangan nya seketika ia pegang erat hingga muncul urat-urat. baik di kepala nya maupun ditangannya. Ia memajukan satu kaki nya menatap tajam. sudah dua kali bawahannya di buat lemah di hadapannya langsung. Bahkan dengan tenang dan santai nya ketiga orang didepannya menunjukkan aura kekuasaannya.
“ siapa kau!! beraninya masuk ke dalam wilayah ku!! ” teriak Hua dengan emosi.
Wanita itu yang dianggap asing oleh Hua maju seolah memutar pedang nya.
“ Nona.. ”
__ADS_1
“ Hm? ” tanya Zhi terdiam
“ Jangan.. ” Devan menggeleng dengan panik. Zhi terkekeh.
“ Tenang saja, aku yang akan mengandalkan mereka. " ucap Zhi tersenyum manis dengan tenang.
Zhi membalikkan tubuhnya dan menatap tajam ke arah pria itu. Awal nya Zhi hendak berbicara, namun ketika dirinya melihat seorang wanita tua disana yang di seret paksa membuat emosi Zhi membuncah.
“ Kau duluan yang menculik warga ku bedebah!!! Berani sekali kau! ” Zhi berteriak mengalahkan suara singa yang mengaum marah.
Hua tergelonjak kaget, kemudian dirinya tertawa. “ hey nona. Kawasan ini bukan milik mu sepertinya, tempat tinggal mu di istana. ” tawanya.
Zhi menggenggam erat pedang nya.
“ Aku sepertinya tau kau ingin apa. tapi kau hanya seorang wanita dan dua orang pria di belakang mu itu, tidak akan mampu membuat bawahan ku kalah. ” gelak nya.
” Kita taruhan saja bagaimana? ”
” Nona! ” Devan kaget.
“ Sudahlah Devan. Aku yang raja disini, ” Zhi mengelak ucapan Devan.
“ Kau kalah turuti tiga permintaan ku. Dan aku kalah, ku turuti satu permintaan mu. Bagaimana? ” ucap Zhi yang memang sudah merencanakan matang perbuatannya.
Hua mengerut. “ Kenapa aku hanya satu? ” ucap Hua.
Zhi menancapkan ujung pedang nya ke tanah hingga Hua mundur karena angin yang tiba-tiba menghantam.
“ sadar diri lah kau, kau menginjak kawasan siapa. Angin, pohon, wilayah, bahkan tanah sekalipun ini kawasan ku! ” Teriak Zhi.
Hua yang emosi pun mengiyakan ucapan Zhi.
“ oke! aku akan menerima tantangan ini. ” ujar Hua kepada Zhi hingga wanita itu tersenyum miris.
“ Nona aku ikut! ” ucap Devan.
“ Tidak Devan. Aku hanya ingin bertarung berdua dengannya. ” ucap Zhi.
“ Tapi nona-”
“ Bagus sekali. Dua lawan satu bagaimana? ” tanya Hua.
Zhi menggeleng. “ Tidak perlu. Aku, dan kau. ” Zhi menunjuk dirinya sendiri dan Hua.
“ Nona.. ”
__ADS_1
Pangeran Xing memukul bahu Devan hingga lelaki itu menoleh. Sedetik kemudian Zhi telah menghilang dari pandangan mereka dengan Hua yang menghilang ditempat