
Jangan di tanya seberapa malunya Zhi ketika di goda oleh Li tadi. Selama ini hubungannya dengan Zhao baik-baik saja dan tak pernah terbesit di pikirannya untuk membuat anak bersama nya. Tapi tiba-tiba entah badai apa yang membuat ratu harus mengirimkan pesan kepada Li untuk menimang cucu.
"Aku akan memikirkan ini nanti." Gumam Zhi tak mau terbebani pikiran.
Dirinya pun melepaskan pakaiannya dan mulai merendamkan tubuhnya di dalam bak. Rambut panjang nya tergerai indah di luar bak, menutup matanya dan menikmati pemandian hangat hari ini.
Setengah jam berlalu, Zhi tak kunjung membuka kan pintunya membuat Zhao berpikir yang tidak-tidak. Zhao yang panik pun dengan terpaksa melewati pintu belakang kamarnya yang tersembunyi diantara ruang belajarnya.
Klek!
Zhao berhasil menembus pintu itu, ia sedikit menggeser rak buku dan memasuki kamarnya. Ia meletakkan kantung jajanan pasar di meja. Ia celangak-celinguk melihat ke kanan dan ke kiri. Tak ada tanda-tanda Zhi terlihat dan muncul di depan matanya.
"Zhi, kau-" suara Zhao tercekat ketika dirinya membalikkan badan menatap istri nya yang baru saja keluar dari bak.
hanya memakai handuk yang melilit di tubuhnya. Rambut yang tergerai indah, harum vanilla menyerbak serta wajah yang polos tanpa make up.
Glek!
"Zhao.." ucap Zhi.
Ia merasakan wajahnya yang panas. Kemudian Zhao berbalik badan membelakangi Zhi.
"Aku tidak akan menganggu mu. Satu jam lagi datang lah di taman." Ucap Zhao kemudian keluar dari kamar.
Zhi menelan Saliva nya. Terkejut hingga dirinya membeku tadi. Padahal pintu tertutup rapat tapi bagaimana suaminya bisa datang dan masuk ke dalam?
"Zhao.. dia sudah.. akhh!!" Menutup wajahnya dengan ke dua tangan malu.
Satu jam berlalu...
Zhi datang dengan pakaian Hanfu biru langit. Rambut nya di sanggul rapi dengan hiasan yang ia beli tadi. Ketika Zhi mendekat ke arah Zhao, lelaki itu dapat merasakan aroma vanilla yang masih melekat kuat di badan Zhi.
"Kau sudah datang." Ucap Zhao kagum.
__ADS_1
"Hmmm.." Zhi berdahem. Ia masih canggung sejak peristiwa di dalam kamar tadi.
"Maafkan aku soal tadi, aku benar-benar tidak tau jika kau-"
"Tidak papa, Zhao. Aku mengerti. Lupakan saja," memalingkan muka.
Wajah putih nya berubah menjadi merah. Zhao terkekeh pelan. Dirinya mundur dan duduk di pembatasan jembatan. Menatap senja yang perlahan menghilang.
"Lihat, Zhi. Jika kau terus memalingkan muka mu kau tidak dapat melihat senja." Ujar Zhao menatap lurus ke depan.
Zhi menatap ke depan. Terpana, melihat pantulan senja dari air sungai serta daun Semanggi berada di atasnya. Bunga-bunga itu menambah aura taman menjadi sangat indah. Kenapa ia tidak tau jika di atas sungai ada daun Semanggi?
"Indah." Ucap Zhi tanpa sadar.
Zhao tersenyum simpul. Lega jika Zhi menikmati pemandangan ini walau hanya di atas jembatan.
"Kau suka?" Tanya Zhao.
"Aku dari kecil suka sekali bermain disini, dari pagi sampai petang. Dulu aku juga suka melihat senja, tak di sangka pemandangan ini sangat sama dari masa aku kecil." Tertawa.
"Lalu kau membawa ku datang kemari?" Tanya Zhi.
"Iya." Ucap Zhao mengangguk.
"Aku suka sekali!" Ucap Zhi.
Zhao tersenyum, "syukurlah jika kau suka." Ucap Zhao.
Zhi kemudian berjalan ke arah Zhao dan ikut bersandar di pembatas jembatan. Melihat senja dengan gelutan pemikiran masing-masing. Zhi yang ingin berbicara sesuatu tidak jadi karena malu.
"Zhi." Panggil Zhao.
"HM?"
__ADS_1
"Apa makna senja bagimu?" Tanya Zhao.
"Maksudnya?" Tanya Zhi.
"Kenapa kau suka senja, Zhi?" Tanya Zhao.
Zhi terdiam sebentar memikirkan jawabannya. Ia menatap senja dengan tersenyum tipis.
"Dulu aku sering Skali melewati terbit nya matahari di timur. Karena aku bangunnya kesiangan, dan dulu kata orang fajar sangat indah hingga membuat ku berinisiatif untuk melihatnya. Tapi tidak bisa, diri ku sering tidak tidur tepat waktu di malam harinya. Hingga aku hanya bisa melihat senja yang indah." Ucap Zhi.
Zhao diam mencermati perkataan istri nya baik-baik. Ia hanya bisa menarik sedikit sudut bibirnya.
"Dan.. senja mengajarkan kita bahwa setiap orang harus singgah di kehidupan kita untuk belajar sesuatu. Kemudian relakan dia pergi..."
Belum selesai Zhi bicara. Dirinya heboh ketika matahari mulai terbenam di permukaan.
"Lihat Zhao! Matahari sudah hampir tidak terlihat!" Ucap Zhi.
"Zhao, hey.. uh.."
Ketika Zhi berbalik menatap sampingnya. Zhao langsung memeluknya hingga membuat tubuh Zhi membeku seketika.
"Zhao? Kau tidak papa?" Tanya Zhi.
Pasalnya dirinya bisa merasakan debaran jantung suaminya yang cepat dan pelukan erat dari Zhao.
"Percayalah pada ku, Zhi. Jika orang itu pergi, ikhlaskan dia. Jika dia kembali maka dirinya adalah punya mu, mengerti?" ucap Zhao tanpa melepaskan pelukannya.
"Iya. Aku mengerti, bisa kah kau melepaskan pelukan mu, Zhao? Aku sesak." Ucap Zhi.
Zhao hanya sedikit melonggarkan pelukannya. Tapi tidak melepaskan pelukannya dari badan Zhi. Dan itu membuat Zhi pasrah dan memeluk suaminya dengan bersandar di dada bidangnya. Mereka masih menatap senja bersama-sama dengan kepala Zhi bersandar di dada Zhao. Setelah matahari tidak terlihat dan menyisakan awan yang merah-merah. Barulah Zhao pergi dari sana.
Ratu tersenyum. Hingga pandangannya dengan Zhi bertemu. Ketika Zhi hendak menghampiri, ratu menggeleng dan mengangguk kepadanya. Kemudian pergi.
__ADS_1