Menikahi Pria Candu

Menikahi Pria Candu
KE HUTAN UNTUK APA?


__ADS_3

Setelah menempuh beberapa jam perjalanan, hingga pada akhirnya suara kuda itu melengking. Li Zhe turun dari kuda nya, menampakkan kaki pada tanah di bawahnya.


Semuanya pun ikut turun, Li membantu Yuan turun dan mengikuti jejak kaki Devan yang mendekat ke arah Li Zhe.


“ Kakak, apakah kita boleh pergi ke hutan? Ibu ratu pasti akan marah. ” dengan takut-takut ia berbicara sembari menatap ke sekitar.


Li Zhe menoleh ke arah Devan, suaranya yang gemetar pasti ia ketakutan. Zhe menghela nafas sebelum melanjutkan perkataannya.


“ Aku juga tidak tahu apakah ibu ratu akan marah, biar aku yang tangani semuanya. Kau jangan khawatir, ikuti aku. ”


Li Zhe melangkah menjauh dari posisi Devan, sejenak Devan menoleh ke arah Li yang menepuk pundaknya sebelum ia berjalan mengikuti Li Zhe.


“ Kita harus menjaga nona sesuai pesan dari tuan Zhao. Ayo, keburu kita kehilangan jejak nya. ”


Devan mengangguk, ia juga akan berjalan mengikuti Zhe dari belakang. Bersamaan Li di belakangnya.


“ Aku membawa beberapa obat, dan belati. Kalian berdua membawa pedang? ” Dengan berjalan mundur.


Devan dan Li saling berpandangan, lalu ia mengangguk ke arah Zhe. Zhe mengangguk kecil menerima jawaban mereka. Sejenak ia menghentikan langkahannya, menoleh ke belakang yang ternyata jurang hampir saja ia jatuh jika tidak berbicara dengan Devan.


Menghela nafas karena Tuhan masih menyelamatkannya. Tapi ia sudah pastikan, ia gerak sedikit saja pasti akan terpeleset jatuh ke jurang.


“Kak? Kakak baik-baik saja?” Devan mendekat.


Zhe melotot ia ingin berbicara namun tidak bisa. Ia menggelengkan kepalanya pelan sembari mengerutkan keningnya. Li yang mengetahui kode itu pun berlari menyelematkan Devan yang hendak jatuh ke dalam jurang. Lalu bersamaan menarik tangan Zhe yang hampir terpeleset itu.


“ Huh...Huh.. Kalian tidak apa-apa? ” Li mundur beberapa langkah menetralkan pernafasannya. Menatap ke arah Zhe yang terduduk lemas dengan wajah pucat pasti dan menatap ke arah Devan kesal.


“ Pintar sekali kau Li, terima kasih karena sudah menyelamatkan aku. ” Ia melirik ke arah Devan yang tertidur di atas dedaunan kering.


” Tidak berguna, kenapa kau tidak paham akan kode ku? Kau tidak mempelajari 'Kode penyelamatan?!' ” Mengerutkan kening kesal menatap ke arah Devan.


Devan membuka matanya, menoleh ke arah Zhe yang marah.


“ Maafkan aku kak, aku lupa mempelajarinya ..” ujar Devan sembari duduk. Memelas meminta ampun kepada kakaknya.

__ADS_1


“ Sepertinya istana penjagaan nya kurang ketat, aku tidak mau tahu. Li kau urus pembelajaran yang belum ia pelajari sampai benar-benar hapal, selama 3 bulan lamanya. ”


Devan membulatkan matanya, 3 bulan? 1 pekan saja ia sudah pusing mati-matian.


“ Enggak aku enggak mau kak, aku— ”


“ Jika ada di posisi sama seperti ini, kau celaka bagaimana? Aku saja hampir jatuh ke dalam jurang karena diri mu, andai kau tahu. ”


Zhe berdiri, menepuk-nepuk paha nya menghilangkan pasir dan daun yang menempel. Menoleh ke arah Devan dan Li yang berdiri tegak.


“ Yuan, ikuti aku. Kalian berdua pulang lah, hutan ini seraya tidak cocok untuk kalian. ” Ujar Zhe melangkah meninggalkan mereka.


“ jadi kita disini hanya menemaninya sampai tujuan? ” Devan mengerutkan keningnya tidak percaya.


“ aku akan menjaga nona tanpa sepengetahuannya, jika kau mau kau bisa pulang. ” Li berjalan meninggalkan Devan. Mengikuti langkahan kaki Zhe yang hampir hilang dari pandangannya.


“ Aku ikut, ”


Swingg


Ia berjalan mengekor mereka, kejadian ini tidak ada yang terluka dan tak ada yang mau pulang. Terus mengikuti Zhi tanpa sepengetahuannya, ada alasan tersendiri bagi mereka. Li harus menjaga amanat tuannya, sedangkan Devan. Ia tidak mau pulang karena pasti akan di mintai keterangan akan hilangnya mereka bertiga.


“ Nona, sebaiknya kita pulang. Hamba takut, kita akan lupa jalan tuk kembali. ” Ujar Yuan.


“ Tidak, aku tidak akan pernah kembali Yu—an…. ” Zhe menghentikan langkahannya. Menatap 2 serigala abu-abu di depannya, memandang buas ke arah mereka berdua. Seketika kaki Yu/Yuan gemetar tak berdaya, ia melirik ke arah Zhe yang hanya diam. Mengingat jati dirinya sebagai pelayan pelindung Zhe, ia harus rela mati demi keselamatan Zhe.


“Jangan bergerak,” ucap Zhe pelan. Seakan-akan tahu apa yang akan di lakukan oleh Yu.


“Tapi nona, hamba takut.. ” Yu membulat sempurna. Dua serigala itu berlari mendekat ke arah mereka, ia mundur beberapa langkah.


Seett


Seett


Tuk! Bugh

__ADS_1


Dua-dua nya mati, Devan dan Li berlari mendekat ke arah mereka. Zhe menghela nafas menahan kesal karena Devan dan Li tidak mau meninggalkannya.


“ nona apakah kalian baik-baik saja? ” Tanya Li dengan panik. Menatap dua ekor serigala itu yang sudah terkapar mati di atas tanah. Dengan dua pedang menancap di kepala mereka masing-masing.


“ Kenapa kalian masih disini? aku tidak papa. Yu, kau tidak papa? ” tanya ku menatap ke arah pelayan ku yang masih berwajah pucat. Ia menoleh dan mengangguk, masih dengan dalam keadaan syok.


“ Maaf aku membuat mu bergetar seperti tadi. aku tau ini pertama kalinya, tapi tidak akan lama lagi kita akan pulang, sure? ” ucap ku membantu dia berdiri. Ia tadi mundur ketika dua serigala itu datang hingga dirinya terjatuh tersungkur.


” Iya nona. ” jawab Yu.


“ By the way.. terima kasih untuk kalian yang membantu ku. Jika tidak ada kalian mungkin apa yang akan terjadi kepada ku— ”


“ Kakak ipar. Untuk itulah kami disini membantu mu, atau ayo kita kembali lagi. Aku tidak mau kesini.. ” ucap Devan merengek.


” Tidak. aku harus membunuh dark untuk menyelamatkan kota.. ” ucap ku memandang ke depan dengan kosong.


Devan dan Li saling pandang, bingung dengan perkataan Zhe.


“ Anda kemari mau membunuh naga? ” tanya Li.


“ Bukan naga, tapi Dark. Itu namanya, beberapa hari akan ada kejadian besar jika Dark itu tidak di hancurkan. ” Ujar Zhe memunggungi mereka dan kembali merapikan pakaiannya.


“ karena itu, aku mau kalian meninggalkan aku dan Yuan. Aku takut, kalian akan mati ketika menyerang naga itu. Aku tidak akan bisa memaafkan diri ku sendiri jika ada korban. ” ujar Zhe dengan lemah.


Devan mendekat ke arah Li, hendak membisikkan sesuatu kepadanya.


“Bagaimana ini, kita harus melarang nona untuk pergi ke sana. Karena ada Zhao disana, jika ia mengetahui nona pergi dari istana dengan keadaan kurang sehat. Mati kita,” Bisik Devan.


“Kau kira aku tidak takut? aku juga sama,” bisik Li.


Devan dan Li membuang nafas secara gusar.


“Kak ay—"


Devan menatap ke sekeliling dengan terkejut karena tidak menemukan sosok yang ia cari. Kemudian Devan menemukan punggung wanita berdua berjarak beberapa meter dari posisinya.

__ADS_1


“ Ya ampun, kakak ku tersayang. Kenapa kau selalu kabur dari kami. ” Devan berlari meninggalkan Li yang mematung.


Menuju tempat tinggalnya Dark, diikuti Li yang ganti mengekor. Mereka harus menghentikan dua gadis itu sebelum Zhao sampai.


__ADS_2