
Lucy sedang minum dan Bi Yola sedang mengelap meja. Tiba-tiba terdengar suara Valerie menjerit.
“Bi Yola, ada apa dengan suara itu?” tanya Lucy.
“Apa ada yang terjadi dengan Valerie?”
Lucy segera menaruh gelasnya dan langsung lari menaiki tangga ke atas.
“Bi Yola, suara apa itu?” Kylian keluar dari kamarnya.
“Tidak tahu juga. Seperti ada yang terjadi di atas.” jawab Bi Yola.
Kylian juga langsung naik ke atas.
Sesampainya di atas, ada ular mainan milik Ethan. Lucy terkejut hingga melompat-lompat dan Kylian yang datang di belakangnya menangkap Lucy. Jadinya Lucy berakhir di gendong Kylian. Ternyata Ethan iseng mengerjai kakaknya dengan ular mainan. Valerie marah. Ethan kabur saat kakaknya marah, Valerie berteriak lalu melempar ular mainan tersebut si lantai.
“Ada ular!” Lucy menjerit ketakutan.
“Ular? Dimana ular?” Kylian juga ketakutan.
“Astaga. Ini ular mainan.” Bi Yola mengambil ular mainan Ethan di lantai.
Lucy dan Kylian malu setengah mati. Segera Lucy turun dari gendongan Kylian.
“Tapi itu terlihat seperti sungguhan. Mereka membuatnya dengan hebat.” ucap Kylian gugup.
“Pimpinan mau memegangnya?” tanya Bi Yola.
“Tidak usah!”
“Lucy, kamu tidak boleh melompat seperti tadi. Bagaimana kalau kamu terjatuh dan ba—” Kylian hampir keceplosan di saat Valerie, Ethan, dan Evan keluar dari kamar.
“Ba?” tanya Valerie.
“Valerie, Ethan, Evan. Siapa yang menaruh mainan di lantai? Kak Lucy hampir saja terjatuh.” Kylian mengalihkan.
“Kak Lucy tidak mungkin menangis saat terjatuh. Karena kak Lucy sudah besar.” sahut Evan.
“Tetap saja kak Lucy tidak boleh terjatuh. Bi Yola, buang saja mainannya.” ucap Kylian.
“Aataga.. apa salahnya sampai dibuang.. Evan bahkan tidak takut.”
__ADS_1
Nyonya Sandra mengungsi di rumah Selly. Di sana sana curhat ketika minum berdua dengan Selly. Dia benar-benar merasa jadi wanita bodoh sebagai istri kedua. Dia baru sadar bahwa dia tidak memiliki tempat di hati mantan suaminya sampai suaminya meninggal. Belum lagi Kylian yang sudah 20 tahun lebih tinggal bersama, dia masih yang bersikap dingin padanya. Yah begitulah nasib perebut suami orang. Suami tetap terkenang istri pertama dan dibenci anak tiri.
Katherine ingin membelikan baju-baju sehari-hari untuk putrinya. Tetapi akhirnya dia sadar dia tak punya alasan yang masuk akal sekarang. Dia lalu melihat 1 gaun yang pantas untuk Lucy. Di Kediaman Kylian, dengan alasan akan tinggal bersama, Katherine membawakan hadiah untuk semua anggota keluarga, bahkan untuk karyawan di rumah seperti Bi Yola, Selly, dan tentunya maksudnya untuk Lucy.
Sampailah hadiah untuk Lucy sebuah baju terusan yang cantik untuk seorang guru. Valerie pun menyarankan Lucy mencobanya. Semua orang dibuat pangling oleh penampilan Lucy termasuk Kylian.
Malam harinya Harry menemui Lucy. Diaa meminta Lucy juga segera keluar karena takut akan ada masalah lagi jika Lucy nanti ketahuan kalau dia adalah putrinya. Tentu Lucy menolak. Dia tidak mau berhenti bekerja. Dia juga tidak suka dengan ibu tirinya. Dia lebih memilih tinggal dan bekerja di rumah Kylian. Biar mulai sekarang mereka hidup masing-masing. Lucy berkata, jika ayahnya khawatir dia akan ketahuan, lebih baik mereka tetap berlagak seperti orang asing.
“Papa mencemaskanmu, Lucy. Bagaimana kalau kamu berhenti bekerja dan kembali hidup bersama keluarga kita lagi seperti dulu?”
“Ayah, sejujurnya aku lebih nyaman bekerja di kediaman Pimpinan dan tinggal di sana bersama anak-anak. Dan aku merasa muak dengan ibu. Aku tidak mau kembali.”
“Maafkan ayah, Lucy. Ayah hanya mencemaskanmu.”
“Kalau ayah mencemaskanku, sebaiknya ayah jangan datang menemuiku di sini. Bagaimana kalau kita ketahuan? Ayah bersedia bertanggung jawab?”
Lucy langsung pergi meninggalkan ayahnya dan kembali ke kediaman Kylian.
Setelah menidurkan Evan, Lucy mendapat telepon dari ibu tirinya yang mengatakan ayahnya kecelakaan dan sekarang kondisinya sedang kritis. Tanpa pikir panjang, Lucy pun segera pergi ke rumah sakit.
Setelah operasi selesai, dokter berkata mereka harus mengawasi sampai Harry mereka sadar. Lucy menangis dan menyesal telah marah ke ayahnya. Syukurlah tidak lama kemudian ayahnya kemudian sadar. Lucy langsung minta maaf pada ayahnya. Hari sudah larut malam, Lucy berlari segera pulang ke kediaman Kylian.
Sesampainya di rumah, Lucy berpapasan dengan Kylian melihatnya dan bertanya mengapa baru pulang.
Lucy terdiam sejenak. Memikirkan jawaban yang bisa dia berikan pada Kylian.
“Saya habis mengantar teman saya ke UGD. Dia tinggal sendiri dan sedang sakit. Maafkan saya. Sebelum pergi saya sudah menitipkan anak-anak ke Bi Yola. Dan situasinya sangat mendesak tadi, jadi saya tidak dapat memberitahu bapak terlebih dahulu.”
“Bukan anak-anak yang saya khawatirkan. Tapi.. ah lupakanlah. Naik dan beristirahatlah.”
“Baik..”
Lucy berjalan menuju tangga, Kylian pun berjalan menuju kamarnya. Namun Lucy berbalik.
“Pak Kylian.” panggilnya.
Kylian menoleh.
“Maafkan saya. Saya sudah berbohong.” ucap Lucy.
Saat itu seisi rumah sudah gelap. Hanya ada Lucy dan Kylian yang saling berdiri berhadapan.
__ADS_1
“Apa maksudmu? Kamu bohong soal apa?”
“Saya tidak mengantar teman saya melainkan ayah saya.”
“Kenapa kamu berbohong?”
“Karena ayah saya adalah Pak Harry, sopir yang pernah bekerja di sini.”
“Apa!? Jadi maksudmu.. kamu putri dari pak Harry, sopir yang saya pecat beberapa waktu yang lalu?”
Lucy mengangguk. “Iya.” Air matanya sudah tak terbendung lagi.
“Maafkan saya. Mungkin ini terdengar seperti alasan bagi bapak tapi saya berniat memberitahu bapak berkali-kali. Hanya saja saya tidak memiliki keberanian untuk itu. Anak-anak sangat baik dan penyayang, semua orang di sini sangat baik hingga membuat saya tidak ingin pergi dari sini.”
“Jadi, kamu telah menipu saya dan anak-anak saya?”
“Tidak, pak. Bukan begitu. Saya dan ayah saya tidak bersekongkol untuk menipu bapak. Hanya saja situasinya sangat rumit. Saat saya diterima sebagai guru, ayah saya sudah bekerja menjadi sopir disini. Ini semua hanya kebetulan.”
“Saya tidak peduli jika ini semua hanya kebetulan. Keluar dari rumah saya sekarang juga.”
“Baik, saya mengerti. Saya sungguh minta maaf. Saya sangat bersyukur atas kesempatan ini.”
“Tunggu.”
“Ya, pak.”
“Jangan sekarang. Tapi besok pagi. Setelah anak-anak pergi ke sekolah, kamu pergi diam-diam agar mereka tidak khawatir.”
“Ya, pak. Saya akan menuruti perintah bapak.”
Katherine yang diam-diam mendengar pembicaraan putrinya dengan Kylian dan menangis. Dia bingung bagaimana menolong Lucy.
Katherine lalu mengajak Kylian bicara.
“Kylian, maaf tadi aku tidak sengaja mendengar pembicaraanmu dan Lucy.”
“Ah, soal itu.”
“Menurut aku, Lucy pasti memiliki alasan untuk berbohong meski pada akhirnya dia jujur kepadamu. Tidak bisakah kamu mempertimbangkannya lagi? Anak-anak juga sudah nyaman dengannya.”
“Bagaimana pun juga dia sudah melakukan kesalahan, kak. Kakak tidak perlu khawatir. Aku akan mencari guru yang lebih baik lagi untuk anak-anak.”
__ADS_1
Bersambung...