
Kenapa aku merasa iri? Ah, ini pasti karena sudah lama aku tidak berkumpul dengan orang tuaku. batin Kylian.
Melihat Lucy berjalan, Kylian menawarkan tumpangan. “Bareng denganku saja naik mobil.” ucap Kylian.
Lucy bersama Kylian menjemput Evan ke sekolah. Evan senang karena kedua orang tuanya datang menjemputnya ke sekolah. Dia langsung berlari menghampiri Kylian dan masuk ke dalam gendongannya.
“Papaaa!!!”
“Anak papa, bagaimana sekolahnya?”
“Sangat menyenangkan. Aku bisa melihat pacarku!”
“Apa? Pacar?”
“Evan, bagaimana caranya kamu bisa berpacaran?” tanya Lucy.
“Papa bilang laki-laki itu harus berani, jadi aku menyatakan perasaanku dan dia juga bilang dia menyukaiku.”
“Wah! Tapi, siapa yang bilang? Papa? Bahkan papamu saja tidak seperti itu.”
“Pa, laki-laki itu harus berani, dong! Kalau papa suka, utarakanlah!”
“Sudah, sudah. Ayo kita pulang!”
Mereka bertiga menikmati candaan mereka bersama. Dari kejauhan, Selly diam-diam mengamati mereka. Dia tentunya iri dengan posisi Lucy yang bisa bahagia bersama Kylian dan Evan.
Selly pulang ke rumahnya. Di perjalanan pulang, ada seorang pria yang menghampirinya.
“Selly.”
Selly terkejut bukan main begitu melihat laki-laki yang menghampirinya.
“Apa kabar? Sudah lama tidak bertemu, ya,” ucap laki-laki itu.
Dan laki-laki itu adalah Ray, mantan kekasihnya dulu.
“Kamu? Kenapa kamu ke sini?” tanya Selly.
“Selly, aku dengar pertunanganmu dibatalkan.”
“Itu bukan urusanmu.”
“”Berarti kamu batal menjadi orang kaya, dong? Bagaimana rasanya batal menjadi nyonya Spencer Group yang sudah ada di depan matamu? Hidupmu sungguh naik turun.”
“Itu bukan urusanmu!” Selly hendak berjalan. Namun Ray menahan tangannya.
“Lepaskan!”
“Selly, apa yang kamu lakukan terhadap anakku?”
“Apa? Apa katamu?”
“Kamu melahirkan anakku.”
“Ray, omong kosong apa yang kamu ucapkan?”
Ray tertawa.
“Istri temanku bekerja di rumah sakit tempat kamu melahirkan. Dia ingat kamu melahirkan seorang anak.”
Selly terdiam.
“Sekarang beritahu aku. Dimana anakku?”
“Katakan. Dimana anakku? Katakan! Katakan!” Ray memegang lengan Selly hingga membuatnya ketakutan.
“Katakan dimana anakku!”
“Baiklah, tidak apa-apa jika kamu tidak mengatakannya sekarang. Aku akan kembali lagi. Sebaiknya kamu sudah menyiapkan jawaban untukku nanti. Mengerti?”
Ray pergi.
Selly terjongkok sambil menutup mulutnya. Tangannya gemetaran.
Keesokan harinya, Harry mendapat pesanan ayam yang akan diantar ke dekat sekolah Evan. Harry tahu dan dia dengan senang hati akan mengantarnya sendiri karena dia tahu dia akan bertemu Lucy di sana.
“5 bungkus? Baik, terima kasih.”
“Evan!” Lucy memanggil Evan. Evan pun berlari menghampiri Lucy.
“Ma, bolehkah kita makan pizza setelah pulang?”
“Baiklah. Ayo!”
“Benarkah? Yey, senangnya!” Evan lompat kegirangan.
Lucy dan Evan berjalan dengan hati yang senang.
Katherine mengamati Lucy dari kejauhan.
“Aku senang melihat Lucy bahagia. Memang seharusnya kamu bahagia, Lucy. Berhentilah mencari ibumu yang tidak pantas menjadi ibumu. Lucy, semoga kamu selalu bahagia,” ucap Katherine sambil menitikkan air mata.
Harry melihat Katherine dan memergokinya.
“Sedang apa kamu di sini?”
“harry. Ini tidak seperti yang kamu pikirkan. Aku ke sini bukan untuk menemui Lucy. Aku hanya lewat, aku bersumpah!”
“Lucy datang ke sini setiap hari. Jangan berbohong. Kamu bilang kamu akan menghilang dengan tenang seperti hembusan angin. Kenapa kamu muncul? Kenapa kamu tidak menepati janjimu?”
“Harry. Aku sungguh melihat Lucy tanpa sepengetahuannya. Aku tidak bisa menemuinya lagi setelah kembali ke Perancis. Ini bisa jadi kesempatan terakhir yang aku miliki. Tidak bisakah aku mencuri pandang dari kejauhan?”
“Tidak bisa. Tidak akan pernah. Kamu tidak berhak.”
“Harry, kumohon…”
__ADS_1
“Saat kamu meninggalkan Lucy dan aku, bukankah itu caramu mengatakan kalau kamu sudah muak hidup bersama kami? Jangan pernah bermimpi bisa menemui Lucy lagi. Aku tidak suka kamu mencuri pandang putriku. Itu membuatku jijik.”
“### Baiklah. Aku mengerti. Aku bahkan tidak akan mencuri pandang. Maafkan aku. Aku salah.”
Kylian bertemu Jeremy seperti biasa untuk nongkrong.
“Oh, ya. Kenapa kamu bisa tiba-tiba akrab dengan Lucy dan keluarganya?”
“Oh, soal itu. Lucy mengajakku ke restorannya dan bertemu keluarganya di sana. Aku juga membantu saat restoran sedang ramai.”
“Ohhh…”
“Kylian, ada yang ingin aku sampaikan padamu.”
“Soal apa?”
“Sebenarnya, aku sempat menerima tawaran Bu Katherine untuk ke Perancis bersamanya.”
“Apa? Kamu juga ingin ke Perancis?”
“Iya. Tapi Bu Katherine memajukan tanggalnya menjadi 2 minggu lagi. Tepat setelah pergelaran fashion show hasil kolaborasimu bersamanya.”
“Apa?! 2 minggu?! Apa itu artinya… Lucy… Jer, maaf aku harus pergi sekarang. Kita lanjutkan lagi nanti.” Kylian langsung bangkit berdiri dan pergi meninggalkan Jeremy.
“Ada apa dengan anak itu? Aku belum selesai bicara.”
Kylian segera melajukan mobilnya kembali ke kediaman dengan kecepatan penuh. Dia salah mengartikan ucapan Jeremy. Dia mengira Lucy akan pergi ke Perancis dalam 2 minggu lagi. Itu sebabnya dia ingin segera kembali ke kediaman untuk berbicara dengan Lucy.
Kylian mengirim pesan pada Lucy.
Kylian.
Aku ingin bicara di taman. Sekarang.
“Apa-apaan dia ini?” Lucy meski kesal, dia tetap ke taman untuk menemui Kylian.
“Mama, mama mau kemana?” Ethan bertemu dengan Lucy saat keluar kamar.
“Mama mau membeli roti kukus, Ethan mau? Roti kukus sangat enak saat dimakan di cuaca seperti ini.” Lucy berbohong. Karena tidak mungkin jika dia mengatakan akan bertemu papanya di taman, malam hari, dan hanya berdua saja.
“Aku mau, ya, ma. Isi coklat satu, ya, ma.”
“Oke. Mama pergi dulu, ya.”
Lucy pun keluar dan pergi ke taman.
“Aku tahu kamu memang atasanku, tapi kamu tidak bisa semena-mena menyuruhku keluar di saat-“ Kylian segera memeluk Lucy hingga membuat Lucy tidak dapat melanjutkan kalimatnya.
“Lucy, aku tidak ingin menyesal nantinya,” ucap Kylian.
“Ada apa denganmu?”
“Aku tidak ingin menyesal karena sudah menjadi laki-laki pengecut yang kalah dengan anakku sendiri. Aku tidak ingin menyesal karena sudah menyembunyikan perasaanku. Lucy, aku memang masih mencintaimu. Seberapa keras aku berusaha untuk melupakanmu, faktanya aku masih mencintaimu.”
“Lucy, aku tidak bisa jauh darimu. Baik 2 bulan lagi ataupun 2 minggu lagi.”
“Kylian, jangan bilang… kamu tidak tahu kalau aku batal ke Perancis bersama Kak Katherine?”
“Apa? Tapi Jeremy bilang…”
“Iya, dia juga batal. Kak Katherine akan kembali ke Perancis dalam 2 minggu lagi, tentu saja dia tidak siap. Kalau aku…”
“Kalau kamu kenapa?”
“Aku tidak bisa meninggalkan anak-anak. Mereka penyembuh lukaku saat kehilangan Kacang. Mereka menjadikanku seorang ibu tanpa melahirkan.”
Kylian memeluk Lucy. “Syukurlah kalau kamu tidak jadi pergi.”
“Tapi, Kylian… kalau aku tidak salah dengar… tadi kamu mengatakan kalau kamu masih mencintaiku?”
Kylian melepas pelukannya.
“Kamu akan menjadi laki-laki pengecut jika kamu menyangkalnya, lho,” ucap Lucy.
“Kata siapa aku menyangkalnya?”
“Jadi, benar apa yang kamu katakan?”
“Cu-cuacanya dingin! Aku ingin mencari makanan yang hangat!” Kylian berjalan pergi.
Lucy tersenyum. Dia pun menyusul Kylian dan menyamai langkahnya dengan menggandeng lengan Kylian. Kylian pun memperhatikan lengannya yang digandeng oleh Lucy.
“Ikut aku, aku tahu dimana tempatnya,” ucap Lucy.
Lucy dan Kylian pun makan roti kukus bersama.
“Cara makannya itu dibelah dua, supaya uap hangat rotinya keluar dan menghangatkan kita,” ucap Lucy.
“Bagaimana? Enak?” tanya Lucy.
Kylian mengangguk.
“Ini rotinya,” Penjual roti kukus memberikan Lucy sekantong berisi 5 roti kukus.
“Terima kasih.”
“Kamu membelikan untuk anak-anak?” tanya Kylian.
“Ethan menitip padaku tadi, dua yang lainnya mungkin akan iri jika tidak dibelikan.”
Sembari makan roti kukus, Lucy dan Kylian berjalan bersama menuju ke rumah.
“Kamu benar-benar tidak jadi ke Perancis, ‘kan?” tanya Kylian.
“Tidak. Kamu bisa mengonfirmasinya dengan Kak Katherine.”
__ADS_1
“Satu pertanyaan lagi yang menggangguku.”
“Apa itu?”
“Apa kamu masih mencintaiku?”
Lucy berhenti melangkah. Membuat Kylian juga berhenti.
“Kylian. Soal itu… aku tidak bisa. Memang benar aku tidak jadi ke Perancis, tetapi aku akan berhenti bekerja setelah 2 bulan. Untuk itu, aku ingin memintamu segera mencari penggantiku dalam 2 bulan lagi,” ucap Lucy.
Kylian terhenyak. Jadi benar dugaannya selama ini. Lucy memang tidak mencintainya. Dia bertahan karena anak-anak, bukan karena dirinya, apalagi karena masih mencintainya. Kylian pun diam mematung. Dunianya serasa runtuh saat tahu Lucy tidak mencintainya.
Keesokan harinya, Lucy bertemu dengan Jeremy di restoran.
“Semalam Kylian bersikap aneh,” kata Jeremy.
“Kapanpun dia memang aneh bagiku,” balas Lucy.
“Saat aku mengatakan Kak Katherine memajukan tanggalnya ke Perancis menjadi dua minggu lagi, dia segera bergegas pulang begitu saja meninggalkanku. Padahal aku belum bercerita sampai selesai,” kata Jeremy.
“Oh, jadi karena itu? Mengapa dia sangat emosional sekali…”
“Entahlah, aku juga tidak mengerti. Dia memang menjadi sensitive setelah mendiang istrinya meninggal. Sampai salah satu dokter terbaik mendiagnosa kalau dia memiliki ketakutan kehilangan seseorang.”
“Benarkah? Tapi sepertinya dia biasa saja jauh dari Selly dan anaknya yang sedang dikandung Selly.”
“Lucy, kamu belum tahu? Kylian itu telah terbukti tidak menghamili Selly.”
“Apa?!”
“Eh! Anggap saja kamu tidak mendengar kalimatku barusan, ya! Atau anggap saja kamu dengar dari orang lain, ya, bukan dari aku. Kalau tidak aku bisa habis di tangan Kylian.”
“Jadi, anak yang dikandung Selly itu, bukan anak Kylian?”
“Entah anak siapa yang dikandung Selly, tapi yang pasti bukan anak Kylian. Selly bahkan sudah mengakuinya, dia terpaksa berbohong karena tergila-gila dengan Kylian.”
“Karena itu Selly sudah tidak tinggal di rumah… Selama ini aku mengira Kylian menyediakan tempat untuk Selly di luar sana.”
“Tidak. Dia tidak tahu-menahu lagi soal Selly. Kylian sengaja merahasiakan ini darimu karena tidak ingin kamu batal pergi ke Perancis. Dia tidak memiliki kepercayaan diri untuk kembali bersamamu karena statusnya yang seorang duda beranak. Bukan satu, melainkan 3 anak.”
Jadi, selama ini Kylian sengaja merahasiakannya dariku? Aku bahkan menolaknya kemarin karena aku pikir dia harus bertanggungjawab dengan Selly. Kylian ini benar-benar!
Sore hari ketika di kantor Kylian mendapat telepon bahwa kaki Lucy terkilir saat bermain bola bersama anak-anak. Kylian segera pulang ke rumahnya dan langsung ke kamar Lucy untuk melihat keadaan Lucy. Kylian mengangkat selimut Lucy untuk melihat kakinya. Dia melihat kaki Lucy tidak ada yang terluka.
“Apa sakit sekali? Masih bisa berjalan?”
“Aku tidak apa-apa.”
“Sepertinya tidak bisa deh, pa. Tadi kita beramai-ramai membopong mama ke kamar,” ucap Valerie.
“Iya, pa. Mama kesulitan berjalan.” tambah Ethan.
“Mama tidak apa-apa, kok,” kata Lucy.
“Jangan mengatakan tidak apa-apa kalau kesakitan. Kita ke rumah sakit sekarang.” Kylian tanpa ragu mengangkat tubuh Lucy dan menggendongnya dalam sekali percobaan.
Dokter mengatakan kaki Lucy baik-baik saja hanya perlu diolesi salep beberapa kali saja. Namun atas sikapnya yang berlebihan, Kylian meminta disiapkan kamar untuk Lucy menginap selama beberapa hari.
“Apa ada yang kamu butuhkan? Katakana, aku akan memenuhi semua kebutuhanmu selama di rumah sakit,” ucap Kylian.
“Hey, tidakkah kamu terlalu berlebihan? Dokter saja mengatakan-“
“Kalau kamu memaksakan untuk beraktivitas, bisa saja kamu terluka lagi. Sudah diam saja di sini selama beberapa hari,” sela Kylian.
Lucy pun terpikirkan sesuatu. Dia ingin memanfaatkan keadaan.
“Katanya kamu akan memenuhi kebutuhanku selama di sini. Aku ingin choco lava cake dan caramel latte dari cafe kesukaanku. Sepertinya jika menyantapnya aku akan cepat membaik.”
“Baiklah, tunggu sebentar. Aku akan pergi membelinya.”
Kylian pun kembali datang ke rumah sakit dengan membawa pesanan Lucy. Lucy tahu tidak ada lagi Selly di antara cinta mereka. Dia pun dengan manja minta di bukakan dan dipotongkan kuenya dan mengaku tangan kanannya sakit. Tidak hanya itu ia pun minta disuapi.
“Perasaan kakimu yang terluka, kenapa tanganmu ikutan sakit?” tanya Kylian.
“Kamu tidak tahu bagaimana kejadiannya, sih. Hanya aku yang bisa merasakan sakitnya,” jawab Lucy.
“Pakai tangan kiri ‘kan bisa?” Kylian tampak ragu.
“Aku ini bukan kidal. Ya sudah kalau tidak mau, pulang saja,” balas Lucy.
Kylian pun menyuapi Lucy.
“Enak," kata Lucy.
Lucy minta diantarkan ke toilet karena ingin buang air kecil, lalu diantarkan lagi ke ranjang. Dia mengikuti cara Kylian yang modus saat kakinya pura-pura sakit saat di villa. Lucy pura-pura jatuh ke pelukan Kylian saat mau naik ke ranjang. Kylian pun terpaksa menggendong Lucy ke tempat tidur. Lucy tampak puas sudah mengerjai Kylian hari itu.
Lucy menyuruh Kylian untuk pulang karena sudah malam, terlebih keesokan harinya Kylian masih harus bekerja. Namun, Kylian beralasan jam segini jalanan masih padat dan dia bisa stress di jalan, jadi dia akan menunggu beberapa jam lagi.
Lucy pun tertidur di ranjangnya. Kylian melihat Lucy yang sudah tertidur. Dia jadi tidak tega meninggalkan Lucy, terlebih kakinya sedang sakit. Kalau dia pulang, takutnya Lucy akan membutuhkan sesuatu, dan terjatuh yang malah akan memperparah lukanya. Lebih tepatnya, Kylian ingin menemani Lucy.
Keesokan harinya, Lucy minta burger yang berjualan di dekat sekolahnya dulu. Dia memberikan alamat tempat membeli burger itu pada Kylian. Kylian pun datang ke rumah sakit membawa pesanan Lucy.
“Taruh saja di meja sana.” Lalu Lucy dengan manja minta dipegangi dan dituntun ke meja.
Sebenarnya Kylian sudah curiga. Dia menyarankan Lucy menjalani pemeriksaan lagi, karena pernyataan dokter yang mengatakan bahwa tidak ada masalah di kaki Lucy. Tentu Lucy menolak. Dia berkata kakinya akan sembuh hanya cukup dengan istirahat.
Setelah makan, Lucy kembali minta dibopong lagi ke tempat tidur. Kali ini Kylian mencoba mengerjai Lucy.
“Ular!” teriak Kylian.
Lucy pun melompat ketakutan.
Langsung terbukti kaki Lucy baik-baik saja.
Bersambung...
__ADS_1