Menikahi Tuan Duda!

Menikahi Tuan Duda!
44


__ADS_3

“Aku akan memberikan gratis tapi kamu harus memberikan penilaian yang jujur,” ucap Lucio.


Lucio, Yuni, dan Harry pun duduk di hadapan Jeremy untuk mendengarkan penilaiannya yang jujur demi kelangsungan usaha mereka.


Jeremy memulai gigitan pertamanya. Dia mengambil satu potong ayam bagian paha.


“Hmm!”


“Bagaimana, bagaimana?”


“Kurasa restoran kalian akan maju. Daging ayamnya empuk, dan kulitnya sangat garing. Dan yang terpenting…”


“Apa itu?”


“Seasoningnya pas! Kurasa kalian akan sukses dan banyak yang suka dengan ayam kalian.”


“Benarkah?” Harry tidak percaya.


“Akhirnya kamu berguna juga, Lucio,” ucap Lucy.


“Aku ambil satu lagi, ya.” Saat tangan Jeremy hendak mengambil ayam, Lucio langsung mencegahnya.


“Hey, aku lihat wajahmu bagus juga. Bening, mulus, dan bersinar. Bagaimana kalau kamu bagikan selebaran pembukaan restoran kita? Kamu boleh makan ayam sepuasanya setelah itu,” kata Lucio.


Yuni segera memukul anaknya itu. Bagaimana bisa dia melakukan itu kepada orang yang baru bertemu?


“Makan sepuasnya di sini selamanya, baru aku setuju,” jawab Jeremy.


“Ah, Jeremy, tidak usah didengarkan perkataan anak itu. Bagaimana kalau kita ke tempat makan lain saja?” tanya Lucy.


“Lucy, aku juga baru sadar kalau wajahmu oke juga. Bagaimana kalau kalian membantu memasarkan restoran kita?” ucap Lucio.


Jadilah Lucy dan Jeremy membagikan selebaran restoran ayam Harry yang baru buka itu dengan nama “Ayam Kriuk Hap-Hap!”. Restoran sangat ramai berkat wajah Jeremy yang memikat pelanggan saat membagikan selebaran. Harry dan Yuni sampai kewalahan melayani pelanggan. Sementara Lucio di dapur sendirian menggoreng ayam.


“Lucy, Jeremy! Berhenti membagikan selebaran! Bantu kami di dalam!” Yuni memanggil keduanya.


“Hey, apa kamu benar tidak apa-apa membantu kita?” tanya Lucy. Lucy dan Jeremy sedang memakai celemek restoran sebelum membantu.


“Tidak apa-apa. Asalkan aku bisa makan ayam gratis di sini. Aku bantu melayani pelanggan, kamu bantu kakakmu di dapur, ya!” jawab Jeremy.


“Tuh, kan! Tidak salah aku menyuruhnya membagikan selebaran, restoran kita menjadi ramai,” ucap Lucio bersama Lucy di dapur.


“Ngomong-ngomong, berapa usianya? Apa pekerjaannya?” tanya Lucio.


“Karena dia temannya Kylian, mungkin usianya juga sepantaran.” jawab Lucy.


“Apa? Dia temannya Kylian? Tapi dia terlihat jauh lebih muda dari Kylian.” Lucio terkejut.


“Bagaimana bisa kamu berteman dengan teman mantan suamimu sendiri?” tanya Lucio kemudian.


“Kita bertemu di tempat kursus. Itu saja. Cepat angkat ayammu, tuh!” jawab Lucy.


Saat sadar kalau sudah waktunya menjemput Evan, Lucy pun melepas celemeknya dan keluar dari dapur.


“Ayah, ibu, aku harus menjemput Evan sekolah. Jeremy, sampai nanti!” Lucy pamit.


Dia pun menjemput Evan dari sekolah. Setibanya di rumah, Evan langsung mencari ayahnya di kamarnya untuk diajak main game bersama. Namun ayahnya tidak ada di kamar.


“Tuan muda Evan, Pimpinan sedang keluar,” ucap Gita.


“Apa papa bekerja?”


“Tidak. Dia hanya mencari angin di luar.”


“Katanya hanya sebentar, tapis udah 2 jam tidak kembali.” sahut Bi Yola.


“Apa papa kembali ke kantor, ya?”


“Tidak, kok. Tadi Pimpinan tidak memakai setelan jas, jadi, dia tidak mungkin ke kantor.”


“Main gamenya nanti tunggu papa pulang saja. Sekarang Evan mandi dan makan dulu, ya,” ucap Lucy.


“Oke, ma.”


Sementara itu, setelah besusah payah mencari restoran ayahnya Lucy, akhirnya Kylian menemukan. Namun dia bimbang di dalam mobilnya ingin turun atau tidak. Karena hubungannya dengan keluarga Lucy sedang tidak baik sejak terakhir kali. Kemudian dia ibunya Lucy keluar dari dalam untuk membuang sampah. Kylian ingin turun dan menyapanya namun dia melihat temannya, Jeremy, juga keluar dari dalam.


“Biar aku saja, tan,” ucap Jeremy.


“Ah, tidak apa-apa. Kamu sudah banyak membantu.”


“Mereka tampak akrab… bagaimana mereka bisa saling kenal? Jeremy juga memakai celemek, apa dia bekerja di restoran?” ucap Kylian.


Kylian mendapat telepon dari Evan yang mencarinya. Segera dia kembali ke rumah.


“Yayy! Papa sudah pulang!”


“Kamu sudah lama pulang ke rumah?” tanya Kylian.


“Ho’oh.”


Kylian melihat Lucy. “Sepertinya kamu tidak bisa diam di rumah, ya. Senang keluyuran, terus.”


Lucy tidak mengerti maksud Kylian.


“Evan, yuk kita main game bersama.” Kylian menggendong Evan dan membawanya ke kamar.


“Ada apa dengan orang itu? Kenapa aneh sekali?” Lucy heran dengan sikap Kylian.


“Evan, bermain gamenya sebentar saja, ya. Evan harus belajar. Kalau tidak belajar nanti mama menganggur dan pergi keluyuran.” ucap Kylian pda Evan.

__ADS_1


“Oke, pa.”


Keesokan harinya, anak-anak siap berangkat ke sekolah. Juga dengan Kylian yang keluar dari kamarnya dengan setelan jas yang rapi.


“Hari ini biar aku saja yang mengantar Evan ke sekolah. Kamu di rumah saja membantu Bi Yola.” ucap Kylian pada Lucy.


“Kenapa begitu, pa?” tanya Valerie.


“Tidak apa-apa. Biar mama tidak kelelahan,” jawab Kylian.


“Mama tidak mudah lelah, mama kan masih mudah dan energinya banyak. Berbeda dengan papa yang-“ Ethan tidak melanjutkan kalimatnya lagi.


“Begitukah? Baiklah, karena kamu juga masih muda dan banyak energi, lebih baik melakukan hal yang berguna daripada bermain game. Ayo, berangkat sekolah,” ucap Kylian.


Anak-anak berangkat sekolah diantar oleh Kylian. Saat anak-anak sudah masuk ke mobil dan Kylian sudah memasukkan Evan, Jeremy datang ke rumahnya.


“Hai, Kylian.”


“Eh, Jer? Ada apa pagi-pagi ke rumahku?”


“Aku ingin bertemu Lucy. Ada yang ingin aku bahas dengannya. Kamu yang mengantar Evan ke sekolah? Bukan Lucy?” tanya Jeremy.


“Oh. Iya, hari ini anak-anak pergi ke sekolah bersamaku.”


“Baiklah, hati-hati. Lucy ada di dalam, ‘kan? Aku ke dalam dulu, ya.” Jeremy kemudian masuk ke dalam rumah Kylian.


“Ada apa Jeremy bertemu dengan Lucy pagi-pagi? Sampai ke rumahku?” Kylian bertanya-tanya dalam hatinya.


“Pa, ayo! Kita sudah mau terlambat ke sekolah!” teriak Ethan dari dalam mobil.


“Selamat pagi Bi Yola, selamat pagi-eh siapa in?” Jeremy belum mengenal Gita, asisten rumah tangga yang baru di rumah Kylian.


“Selamat pagi, nak Jeremy. Oh, ini Bu Gita, asisten rumah tangga baru di rumah ini. Bu Gita, ini nak Jeremy, sahabat baiknya Pimpinan,” kata Bi Yola.


“Selamat pagi, tuan. Saya Gita.” Gita memperkenalkan dirinya.


“Oh, cepat juga Kylian mendapatkan pengganti Selly,” ucap Jeremy.


“Ngomong-ngomong, Pimpinan baru saja pergi, nak Jeremy.”


“Oh, iya, tadi saya bertemu dengannya kok di depan.”


“Lalu, nak Jeremy mencari siapa? Mencari sarapan, ya, di sini? Sebentar, ya, bibi buatkan dulu.”


“Eh, bukan, bukan, bi. Saya sudah sarapan kok sebelum datang ke sini. Saya mencari Lucy. Apa dia ada di sini?”


“Oh, ada di atas. Mungkin sedang membereskan kamar anak.”


“Aku di sini. Jeremy, ada apa?” Lucy turun dari tangga.


“Kamu sudah mau ke restoran?” tanya Jeremy.


“Kalau begitu, ayo ikut aku.”


Jeremy dan Lucy pergi bersama ke restoran.


“Kamu mau bekerja di restoran lagi? Sepertinya kamu harus berhenti. Aku jadi tidak enak denganmu.”


“Memangnya kenapa? Bekerja di restoran ternyata asyik juga. Aku belum pernah merasakan bekerja seasyik kemarin.”


“Tapi itu sangat melelahkan, ‘kan. Memangnya kamu tidak memiliki pekerjaan? Bagaimana kalau pekerjaanmu terganggu karena bekerja di restoran?”


“Pekerjaanku adalah semua hal yang ingin aku kerjakan.”


“Hah?”


“Kamu tidak mengerti?”


“Tidak. Jelaskan padaku.”


“Sayangnya kita sudah sampai. Ayo turun.”


Lucy tidak menyadari kalau mobil yang dikemudi Jeremy sudah sampai tepat di depan restoran.


“Ayah, ibu.” Lucy dan Jeremy memasuki restoran.


“Halo, om, tante.”


“Jeremy, kamu datang lagi?” tanya Yuni.


“Hehehe iya, tan. Belum terlambat, ‘kan?”


“Asyik! Kalau ada kamu, restoran jadi ramai, dan buat aku jadi semangat menggoreng.” sahut Lucio.


“Tapi, sebelum itu, ada yang ingin aku bicarakan dulu dengan kalian. Ayo duduk dulu,” kata Jeremy.


Mereka berlima pun duduk bersama di salah satu meja yang bundar. Jeremy memperlihatkan layar di laptop.


“Aku sudah memasarkan iklan tentang restoran Ayam Hap-Hap di media sosial dengan jangkauan lebih dari 500.000 orang. Dan aku telah mendaftarkan restoran ke dalam aplikasi pesan makan online. Jadi, diperkirakan akan banyak pengunjung baru di restoran.”


“Yaampun, Jeremy. Kamu melakukan itu?” tanya Yuni yang takjub.


“Tunggu. Tidak hanya itu, karena nantinya akan banyak yang memesan secara online, tapi kita belum memiliki orang untuk menjadi kurir antar makanan dan mencari orang pun membutuhkan waktu, aku mendaftarkan ke layanan jasa kirim dengan komisi 2% per menu yang dipesan. Jadi lebih mudah dan kita hanya membuat pesanannya saja.”


“Memasarkan iklan? Bukankah itu membutuhkan biaya yang besar?” tanya Lucy.


“Untuk jangka panjang memang membutuhkan biaya yang besar. Maka dari itu kita juga membutuhkan sponsor atau orang yang mau berinvetasi. Dan aku akan menjadi sponsor pertama restoran ini.”


“Wah, sebenarnya kamu ini kerja apa, Jeremy?” tanya Harry.

__ADS_1


“Aku hanya pekerja lepas yang menangani bagian pemasaran. Tapi kalian tenang saja, meski aku pekerja lepas, aku sudah terbukti bisa meningkatkan omset penjualan sebuah perusahaan. Bahkan omset penjualan di perusahaan Kylian meningkat hingga 150%.”


“Kamu bekerja untuk Kylian juga?” tanya Lucio.


“Aku bekerja untuk siapapun yang membutuhkan jasaku. Sistemnya seperti kontrak dengan mengejar target, jika target sudah tercapai, aku tidak bekerja lagi untuknya. Perusahaan Kylian kemarin membentuk tim yang dinamakan Pemasaran Kreatif dan aku yang menjalankannya. Saat target sudah tercapai, aku berhenti, dan tim itu masih terus berjalan.”


“Lalu kenapa kamu tidak lanjut bekerja untuk Kylian saja? Perusahaannya kan besar, kamu pasti akan mendapat penghasilan yang tinggi.” ucap Yuni.


“Aku tidak ingin terikat dengan siapapun. Aku menyukai bekerja untuk orang yang berbeda-beda. Dan apalagi Kylian adalah temanku. Aku tidak bisa menerima bayaran dari temanku sendiri.”


“Jadi sekarang kamu memutuskan bekerja di restoran kita?” tanya Lucy.


“Aku harus makan untuk bertahan hidup. Dan kebetulan restoran ini memiliki menu ayam yang enak. Oh, ya, karena ayam goreng saja tidak cukup untuk membuat orang tertarik, kurasa kita harus menambah menu lagi.”


Tririring……. Ponsel Jeremy berbunyi.


“Sebentar.”


“Halo. Ada apa, Kylian? Di restoran ayahnya Lucy, kenapa? Hey, apakah 150% tidak cukup? Tidak, aku tidak akan kembali. Bye!”


“Kylian memintamu ke kantor? Kalau begitu, pergilah,” ucap Lucy.


“Urusan aku dengan perusahaannya sudah selesai. Jadi, untuk apa aku kembali?”


Tingg….! Bunyi lonceng di restoran ketika ada yang masuk.


“Pelanggan pertama kita sudah da-Eh? Kylian?” ucap Yuni.


Mereka berlima pun terkejut dengan kedatangan Kylian di restoran.


Kylian datang dengan membawakan bunga untuk memberikan selamat atas pembukaan restoran keluarga Lucy.


“Aku harap aku tidak terlambat datang memberikan ini,” ucap Kylian.


“Kita tidak membutuhkan ini. Jadi, kamu boleh pergi,” jawab Harry.


“Harry… tidakkah kamu terlalu jahat? Kylian, ayo duduk dulu bersama Jeremy di sana,” kata Yuni.


Kylian melihat keberadaan Jeremy di tengah keluarga itu. Dia pun bergabung bersama temannya.


“Jadi, kamu memutuskan untuk berhenti bekerja di perusahaanku?” tanya Kylian.


“Iya.”


“Tidak bisakah kamu mempertimbangkan sekali lagi? Perusahaanku sangat membutuhkan kamu.”


“Tidak. Ada banyak alasan kenapa aku harus berhenti. Pertama, atmosfer di perusahanmu sangat melelahkan dan gampang membuatku mengantuk. Bagaimana bisa seluruh pegawai bekerja dari pagi sampai malam di depan layar komputer tanpa berkomunikasi? Di saat aku mencoba bergurau untuk mencairkan suasana, bagaimana bisa tidak ada yang tertawa? Hatiku sudah terlanjur sakit. Kedua, semua yang bekerja di perusahaanmu adalah budak korporat, dan aku tidak ingin menjadi salah satu dari mereka. Ketiga, aku sudah bekerja sesuai kontrak dan telah mencapai lebih dari yang kita sepakati. Di kontrak hanya 120% tetapi aku sudah memberimu 150%. Keempat, bayaran darimu sangat tinggi dan cukup untuk membiayai hidupku selama 1 tahun. Jadi, aku ingin bermalas-malasan. Kamu tidak mungkin memperkerjakan orang yang malas, ‘kan?”


“Bukankah biasanya orang akan berhenti karena gajinya kecil? Kamu berhenti karena gajinya terlalu besar.”


“Iya, dan aku merasa aku pantas menerimanya. Kamu tidak tahu bagaimana keadaan mentalku saat bekerja di perusahaanmu. Tidak ada yang tertawa dengan guyonanku, berkomunikasi hanya pada saat rapat, dan seluruh mata melototiku saat aku pulang di jam 7 malam. Dan apakah semua pegawaimu sedang puasa? Saat aku mengajak makan siang bersama di luar, tidak ada satupun yang mengiyakan. Jadi, melihat kondisi mentalku, kurasa itu sebanding.”


“Begitukah?”


“Lagipula kontrak kita sudah selesai. Kamu harus merelakan kepergianku. Sama seperti Lucy dalam 2 bulan lagi. Bukankah begitu, Lucy? Kamu setuju, ‘kan denganku?”


“Betul, aku setuju sekali denganmu. Kontrak itu hitam di atas putih yang harus dituruti. Kalau kontrak saja dilanggar, bagaimana kita bisa percaya dengan perkataan yang tidak memiliki kekuatan apapun?” sahut Lucio.


“Baiklah, baiklah. Aku tidak akan menahanmu lagi.”


“Ngomong-ngomong, kamu datang bukan untuk membujukku saja, ‘kan?” tanya Jeremy.


“Tentu saja bukan! Kamu terlalu percaya diri.”


“Lalu karena apa?” tanya Jeremy.


“A-aku… aku ingin memberi selamat atas pembukaan restoran milik keluarga Lucy.”


“Kita tidak acara pembukaan. Kamu tidak perlu repot datang ke sini,” sahut Lucy.


“Maaf sekali kakak ipar, tapi sebentar lagi pelanggan akan datang. Kita harus bersiap-siap. Dan… ayah sepertinya tidak suka melihat kakak,” tambah Lucio.


“Begitukah? Baiklah, kalau begitu aku akan pergi. Ayo, Jeremy,” ucap Kylian.


“Eh? Kenapa mengajakku?”


“Kamu ingin terus di sini memangnya?”


“Iya. Aku di sini sampai restoran tutup.”


“Hah?”


“Aku bekerja di sini.”


“Apa? Apa itu benar, Lucy?”


“Iya.”


Pantas Jeremy akrab sekali dengan semua keluarga Lucy. Jeremy ternyata bekerja di sini. batin Kylian.


“Baiklah. Kalau begitu, aku pamit dulu, ya, bu, ayah, Lucio.” ucap Kylian.


“Aku juga harus menjemput Evan. Aku pergi dulu, ya,” Lucy pamit untuk menjemput Evan.


Lucy dan Kylian keluar bersama. Dari luar, Kylian melihat Jeremy yang akrab tertawa bersama keluarganya Lucy di dalam.


Kenapa aku merasa iri? Ah, ini pasti karena sudah lama aku tidak berkumpul dengan orang tuaku. batin Kylian.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2