
“Tentu saja. Nanti jemput aku, ya!” balas Valerie dari kejauhan.
Lucy dan Kylian tersenyum.
“Masih ada waktu sampai Evan pulang sekolah. Aku ingin bertemu dengan anakku yang keempat. Ayo!” ucap Kylian.
“He..?”
Kylian merangkul pundak Lucy dan berjalan. Rupanya dia membawa Lucy kontrol rutin kandungannya.
“Dia benar-benar seperti kacang.” ucap Kylian saat melihat layar monitor yang memperlihatkan bayi Kacang.
“Perkembangannya normal, sang ibu tetap harus menjaga kestabilan emosinya, ya. Jangan lupa diminum vitaminnya dan rutin kontrol kandungan setiap bulannya.” ucap sang dokter.
“Baik, dok.”
Kylian tidak bisa berhenti melihat foto hasil USG anak keempatnya yang dijuluki Bayi Kacang olehnya.
“Sepertinya kita harus mengganti nama panggilannya. Sebentar lagi ukurannya sudah tidak seperti kacang lagi.” ucap Lucy.
“Dia tetap selamanya menjadi kacang bagiku.”
“Baiklah. Kita harus cepat menjemput anak-anak. Biar aku simpan hasil USG-nya.”
“Tidak. Aku mau menyimpannya.”
-
Saat kelas telah berakhir, Valerie mengemas barang-barangnya. Kali ini dia sangat bersemangat karena akan makan bersama yang telah dijanjikan ayahnya. Dua teman Valerie menghampirinya.
“Hei, Val! Yang tadi adalah mama sambungmu?”
“Iya, betul. Dia mama sambungku.”
“Kamu sudah memiliki mama sambung? Selamat ya! Sejak kapan? Kok tidak memberitahu kita, sih?”
“Hmm, belum lama. Baru dua bulan.” jawab Valerie.
Mereka akhirnya ngobrol sambil berjalan ke halaman sekolah.
“Kamu pasti senang karena mendapat mama sambung yang sangat cantik dan masih muda sekali. Papamu hebat sekali, ya!”
“Itu tidak penting. Yang penting dia menyayangiku dan adik-adikku.”
“Hey, kamu yakin mama sambungmu menyayangi kamu dan adik-adikmu? Dia masih muda, mengapa dia memilih untuk menikah dan mengurus tiga anak? Padahal kalau mama sambungmu bekerja, dia bahkan bisa menjadi model atau aktris. Kalau papamu bukan pimpi—Eh, sepertinya aku sudah mengatakan hal yang tidak seharusnya aku katakan. Maaf ya, Val.”
“Hey, teman-teman. Tadi kamu bilang papaku hebat sekali, kan? Itu memang benar. Karena dia hebat, dia tidak salah memilih wanita untuk menjadi mama sambungku. Kalau dia mengincar uang papaku saja, dia tidak akan datang hati ini. Kepala sekolah menyuruh papaku yang datang, namun kalian lihat tadi siapa yang datang? Dan bukan sekedar datang untuk menyetor muka, melainkan dia mengungkap perbuatan Jennifer sampai membuat dia diskorsing. Dan biarkan aku katakan sekali lagi. Dia adalah mamaku.”
“Kak Valerie!” Evan dan Ethan berseru memanggil namanya dari dalam mobil yang baru saja sampai di halaman sekolah. Juga ada Kylian dan Lucy yang duduk di kursi depan.
“Cepatlah masuk. Ayo!”
“Kalau begitu, aku duluan ya!” Valerie meninggalkan teman-temannya dan masuk ke dalam mobil.
“Pa, kita akan makan dimana?” tanya Valerie.
“Rahasia.” jawab Kylian.
__ADS_1
Valerie kecewa.
“Kak Lucy tahu kita akan makan dimana?” Giliran Lucy yang ditanyai Valerie.
“Tentu saja, tidak.” jawab Lucy.
“Sudah sampai.” Kylian memberhentikan mobilnya. Namun Valerie tidak melihat ada restoran atau tempat makan. Dia kembali bertanya.
“Kita makan dimana?”
“Ayo ikut papa.”
Mereka berjalan mengikuti kemana Kylian akan membawanya. Meskipun bingung karena mereka memasuki hutan. Restoran mana yang beroperasi di tengah hutan?
Akhirnya sampailah mereka di depan danau yang tenang. Kylian telah menyiapkan piknik dengan menu makanan sederhana yang Kyliaan bawa dari rumah.
“Kita piknik, pa?” tanya Valerie.
“Wah, asyik!” seru Ethan.
“Hore! Aku sudah lama tidak piknik!” seru Evan.
Mereka pun bersenang-senang hari itu. Menyantap makanan dengan bersuap-suapan, tembak-menembak dengan pistol gelembung, bermain bola dan berfoto.
“Hah.. capek..” ucap Evan dengan napas terengah-engah.
Mereka kembali duduk di atas alas.
“Evan, minum dulu.” Lucy memberikan botol minum Evan.
Evan berbaring di pangkuan Lucy.
“Apa itu?” tanya Valerie.
“Kak Lucy.. adalah mama sambung kalian..” ucap Kylian.
“Hahahahahah! Papa ini lupa atau bagaimana, sih? Kak Lucy memang mama sambung kita saat di sekolahku tadi.” reaksi Valerie.
“Bukan hanya berperan sebagai mama sambung. Kak Lucy memang mama sambung kalian. Papa dan kak Lucy menikah 2 bulan yang lalu.” ucap Kylian.
“Candaan papa sungguh terlalu. Mana ada yang percaya jika mendengarnya?”
Kylian menunjukkan hasil USG tadi siang.
“Ternyata karena ini dia ingin menyimpannya.” ucap Lucy dalam hati.
“Papa.. ini...?”
“Di dalam perut kak Lucy, ada adik kalian.” ucap Kylian.
Evan bangkit berdiri dan memeluk Lucy. “Aku senang kalau kak Lucy menjadi mamaku!”
“Aku juga!” Ethan ikut memeluk Lucy.
“Mama..” Valerie juga bergabung memeluk mereka.
Dan Kylian menyempurnakan pelukan mereka.
__ADS_1
“Ini beneran, kan, pa? Papa tidak bercanda, ’kan?” tanya Evan.
“Iya, ini beneran.” jawab Kylian.
Sesampainya di rumah...
Evan terlelap dan digendong Kylian saking lelahnya. Satu tangan Kylian menggenggam tangan Lucy, dan satu tangan Lucy yang lain digenggam oleh Ethan.
“Pa, gantian dong! Aku juga ingin memegang tangan mama!” protes Valerie.
“Tunggu sebentar lagi. 5 detik lagi.” ucap Kylian.
“Kurasa sudah lebih dari 5 detik.” Valerie melepas paksa tangan Kylian dan Lucy lalu memegang tangan Lucy.
“Ada keributan apa ini? Valerie, nenek dengar kamu memanggil mama? Nenek tidak salah dengar?” Nyonya Sandra menghampiri mereka.
“Tidak, kok. Sekarang kita sudah mempunyai mama sambung. Ini.” Valerie menunjukkan tangannya dan Lucy yang sedang bertaut.
Nyonya Sandra membesarkan matanya. “Apa ini? Maksudnya.. Lucy..?”
“Lucy adalah nyonya di rumah ini. Kami sudah menikah. Sejak dua bulan yang lalu lebih tepatnya.” ucap Kylian.
“Apa? Nyo-Nyonya!?”
“Aku akan ke atas bersama anak-anak.” ucap Kylian dan mereka berlima naik ke atas.
Kylian membaringkan Evan di atas ranjangnya kemudian keluar dari kamar Evan. Dia memandangi kamar Lucy, ragu apakah masuk atau tidak. Namun Lucy keluar dari kamarnya.
Ethan juga keluar dari kamarnya.
“Mama, besok aku ambil rapot. Mama bisa datang?” tanya Ethan.
“Kamu hanya menyuruh mama saja yang datang? Papa tidak?” sahut Kylian.
“Tidak. Aku tidak mau papa datang. Papa cerewet, banyak berkomentar.” jawab Ethan.
“Papa sedih lho kalau semuanya memilih mama.”
“Kalau begitu, Papa boleh datang. Tapi papa tidak boleh ikut masuk. Hanya mama yang bertemu dengan guruku saja. Bagaimana, ma? Mama akan datang, ’kan?”
“Ok, Evan. Mama akan datang.” jawab Lucy.
“Yey! Terima kasih, mama.” Ethan kembali masuk ke dalam kamarnya.
Sementara Lucy berjalan melewati Kylian.
“Mau kemana?” tanya Kylian dan menahan tangan Lucy.
“Mau ke bawah. Apa tidak terlalu cepat memberitahu ke semuanya?”
“Terlalu cepat? Kamu tidak lihat betapa senangnya anak-anak tadi. Mereka langsung mengubah panggilan tanpa disuruh. Keluarga yang aku punya hanya mereka. Oh, ya. Ada satu orang lagi yang harus aku beritahu.”
“Siapa?”
“Kak Katherine. Ngomong-ngomong, kamu sudah harus pindah kamar. Ke kamarku.”
“Apa?”
__ADS_1
“Kamu harus pindah. Ke kamarku.”
Bersambung...