
Pernikahan pun akhirnya dilaksanakan secara sangat sederhana di sebuah gereja. Kylian dan Lucy berjalan menuju altar dimana sudah ada pendeta yang akan mengesahkan pernikahan mereka di sana. Kylian tampak gagah dengan setelan suits dan Lucy dengan gaun putih. Tidak ada yang hadir selain Jeremy sebagai sahabat Kylian. Meskipun bukan seperti ini pernikahan yang Lucy impikan, namun dia juga tidak ingin orang tuanya bertemu Kylian.
Lucy juga tidak menyangka, “kecelakaan” satu malam telah mengubah hidupnya, membuat dia jadi menikahi orang asing yang tadinya tidak dia kenal, menjadi tuannya, dan kini akan menjadi suaminya.
Kini, kedua pengantin sudah sampai di altar dan siap bertukar janji pernikahan. Pendeta segera memulai pengesahan pernikahan mereka.
“Lucy Harry Steward, apakah kau berjanji untuk menerima Kylian Hugo Spencer sebagai suamimu yang sah, dalam suka maupun duka, mencintai dia sepenuhnya, dan tidak berubah?”
Lucy sempat melirik ke arah Kylian sejenak, lalu kemudian dia menjawab “ya.”
Giliran Kylian yang mendapat pertanyaan yang sama.
“Kylian Hugo Spencer, apakah kau berjanji untuk menerima Kylian Hugo Spencer sebagai suamimu yang sah, dalam suka maupun duka, mencintai dia sepenuhnya, dan tidak berubah?”
Kylian diam sejenak dan menarik nafas dalam-dalam setelah itu akhirnya mengucap “ya”.
Kini saatnya bertukar cincin. Kylian giliran pertama yang menyematkan cincin di jari manis Lucy. Kylian nampak gamang. Dia menatap cincin itu berkali-kali. Ini merupakan kali kedua dia memasangkan cincin itu di jari manis wanita. Setelah itu giliran Lucy yang memasangkan cincin di jari manis Kylian. Prosesi pernikahan pun berakhir, hanya ada satu kali foto bersama dan tak ada adegan ciuman di akhir prosesi.
“Kamu pulanglah lebih dulu. Jangan sampai kelelahan. Di luar sudah ada orang yang akan mengantarmu.” ucap Kylian.
“Baik, pak.” Lucy pun meninggalkan tempat terlebih dahulu.
“Wah, aku tidak pernah menyangka akan menghadiri pernikahan tersingkat dan tersepi ini.” ucap Jeremy.
“Terima kasih, ya. Aku tidak tahu lagi siapa yang bisa aku mintakan bantuan.” balas Kylian.
“Kamu sudah melakukan yang terbaik, kawan.”
...****************...
Malam setelah anak-anak tidur, Kylian memanggil Lucy ke ruang kerjanya.
"Perkataan kamu saat Valerie hilang.. saya setuju. Semuanya benar, tak ada yang salah. Seperti yang kamu katakan, saya tidak mengetahui apa-apa tentang anak-anak saya. Kalau saya saja tidak mengetahui apa-apa tentang anak-anak saya, bagaimana saya bisa mengerti mereka. Benar, 'kan?”
“Tapi, pak... Saya tidak bermaksud..”
“Terima kasih.”
“Eh?”
“Karena telah menyadarkan saya. Saya ingin dekat anak-anak saya. Tapi saya tidak tahu caranya. Mereka sangat tertutup. Sedangkan kamu, kamu sudah bisa dekat dengan mereka dalam waktu singkat. Untuk itu, saya butuh bantuan kamu untuk bisa lebih dekat dan mengenal anak-anak saya. Berikan laporan harian tentang anak-anak, meskipun anak-anak minta untuk dirahasiakan.”
__ADS_1
Lucy merasa lega dan senang. “Baik, pak. Saya akan membantu dengan sebaik mungkin.”
“Jadi, saya tidak dipecat, 'kan?”
“Kenapa saya harus memecatmu? Kamu bekerja dengan baik.”
...----------------...
Saat dalam perjalanan menuju sekolah, Evan dan Lucy selalu melewati mesin capit boneka dan game lainnya yang menarik perhatian Evan. Evan membujuk Lucy ia ingin bermain game di pinggir jalan.
“Kak Lucy, bisakah kita main sebelum ke sekolah?” tanya Evan.
“Kita bisa terlambat ke sekolah, Evan. Bagaimana kalau besok?”
“Ah.. satu kali saja..”
“Kalau begitu, bagaimana setelah pulang sekolah?”
“Baiklah. Tapi kak Lucy harus janji kita akan main nanti.”
“Tentu.”
Lucy mengiyakan bermain game namun hanya sekali. Ketika mereka asik bermain, Kylian memergoki mereka.
“Evan Spencer.” Kylian memanggil anaknya. Lucy terkejut hingga dia kehilangan keseimbangan dan Kylian segera menahan tangannya. Suasana canggung langsung begitu terasa.
Kemudian Kylian memarahi Lucy yang membawa Evan bermain game di pinggir jalan. Evan membela Lucy. Dia mengaku bahwa dia sendiri yang membujuk dan memaksa bermain. Kylian kekeh pada pendiriannya kalau bermain game tidak baik untuk perkembangan anak dan melarang Evan untuk bermain game lagi.
Sesampainya di rumah Evan langsung marah, merajuk, hingga mogok makan. Selly mencoba membujuk Evan. Dia menerangkan alasan ayahnya melarang Evan bermain. Evan semakin kesal dan mengatakan Selly tak lebih baik dari ayahnya.
Sementara Lucy mati-matian berusaha membujuk Kylian di ruang kerjanya. Dia mengupayakan segala cara untuk mendapatkan izin agar Evan bisa bermain lagi dan mau makan.
“Tidak bisa! Bermain game tidak baik untuk perkembangan Evan. Setelah pulang sekolah harus langsung ke rumah. Ah, apa perlu saya mengantar Evan setiap harinya ke sekolah? Supaya Evan tidak melewati jalan yang penuh game itu.”
“Bukankah bapak berkata ingin mengenal anak-anak? Anak-anak sekarang berkomunikasi saat bermain game.”
“Anak-anak sekarang berkomunikasi saat bermain game?”
“Ya. Mereka juga bebas mengekspresikan emosi mereka dengan bermain game. Senang, sedih, marah.”
Kylian merenung.
__ADS_1
“Baiklah. Evan boleh bermain game tapi hanya sekali dalam seminggu.”
"Sekali dalam seminggu itu sangat kurang bagi Evan. Bagaimana dengan tiga kali?”
“Apa!? Tiga kali? Itu kebanyakan! Dua.”
Akhirnya dengan tawar-menawar, Kylian memberi izin bermain game 2 kali seminggu.
Lucy memberitahukan kabar gembira itu pada Evan. Evan akhirnya pun mau makan kembali dan ditemani makan oleh Lucy.
Selly tidak senang melihat Lucy yang berhasil akrab dengan anak-anak terutama Evan dalam waktu singkat. Selly teringat sikap Evan yang memusuhinya. Ia lalu bertekad menjadi ibu resmi bagi Evan dengan menjadi istri Kylian. Ada yang agak aneh dari sikap Selly ini. Ia kerap memaksa Evan belajar dan mengatakan Evan akan menjadi pewaris ayahnya. Dia juga protektif yang tak pada tempatnya. Dia memanggil Lucy untuk berbicara.
“Lucy, ada yang ingin saya bicarakan.”
“Baik.”
Lucy dan Selly mencari tempat yang sepi.
“Ada perlu apa kamu menemui Pimpinan?”
“Kami membahas pekerjaan.”
“Pekerjaan? Katakan lebih rinci lagi.”
“Pimpinan ingin lebih dekat dengan anak-anak. Karena itu saya diminta untuk melapor kepadanya setiap hari.”
“Tentang pekerjaan, kenapa kamu tidak memberitahu saya soal Valerie?”
“Tentang itu.. saya sudah berjanji dengan Valerie untuk tidak memberitahu siapapun.”
“Oh begitu. Menepati janji dengan anak-anak memang penting. Tapi bagaimana jika terjadi sesuatu dengan anak-anak karena janji kamu itu? Kamu harus bertanggung jawab. Itu sebabnya kami menyewa guru privat tinggal. Laporkan kepada juga tentang semua hal yang berhubungan dengan anak-anak.”
“Baiklah. Saya mengerti.”
“Kamu boleh pergi sekarang.”
Lucy setiap malam memiliki kebiasaan baru yaitu mengirim pesan singkat pada Kylian untuk melaporkan kegiatan anak-anak hari itu. Dari jam berapa anak pulang, kegiatan les, aktivitas atau hal yang terjadi pada anak-anak. Kylian yang awalnya jarang tersenyum, tampak bahagia membaca laporan itu.
“Terima kasih. Selamat tidur.” Ia pun semakin ramah saat berkirim pesan singkat pada Lucy, bahkan mengucapkan selamat tidur.
Bersambung...
__ADS_1