Menikahi Tuan Duda!

Menikahi Tuan Duda!
26


__ADS_3

“Mama, apa permohonan mama sebelum meniup lilin?” tanya Valerie.


“Hm.. rahasia.” jawab Lucy.


“Aaa... aku jadi penasaran!” sahut Evan.


Bertemu dengan kalian adalah hal terbaik yang pernah terjadi di hidupku. Sama seperti Ethan, aku juga berharap bisa terus bersama dengan kalian, dan Kacang juga bisa merasakan kebahagiaan ini.


Paginy, Kylian tampak asyik dan bersemangat. Dia membangunkan anak-anaknya yang sedang tidur dan mengajak berolahraga di halaman depan vilanya.


“Aku ikut juga?” tanya Lucy.


“Iya! Mana bisa aku mengurus 3 anak sendirian?” balas Kylian.


Kylian memimpin keempatnya jogging berkeliling, setelahnya, mereka bermain lempar tangkap bola di lapangan. Niat iseng Kylian muncul. Ia mengerjai Lucy dengan lemparan tinggi yang tak terjangkau Lucy. Lucy terpaksa pergi mengambil bola yang masuk ke daerah pepohonan.


Meski begitu, dia tetap menyusul Lucy. Ternyata bola jatuh ke bawah. Di turunan tiba-tiba Lucy terpeleset karena licin. Sontak dia memegang lengan Kylian. Kylian pun ikut tertarik ke bawah. Mereka jatuh berguling berdua. Lucy mendarat dengan posisi di atas dan menghadap Kylian. Mata Kylian menatap lekat wajah Lucy yang jatuh di atasnya. Tidak disangka Kylian mengecup bibir Lucy yang berada di atasnya.


“Papa, Mama, kalian tidak apa-apa?” tanya Valerie. Ketiga anak mendatangi lokasi mereka terjatuh.


Kylian langsung bangun dan tersadar akan sesuatu. “Kamu tidak apa-apa!? Perutmu sakit tidak!?” sembari dia membantu Lucy bangkit berdiri.


“Aku tidak apa-apa. Ada yang mengorbankan tubuhnya untukku.” ucap Lucy.


“Masa iya?” Tiba-tiba muncul sebuah ide dari benak Kylian.


“Oh, iya! Tubuhku terasa nyeri semua. Di sini, di sini, di sini. Kakiku juga sepertinya keseleo. Aaa!! Bagaimana ini? Sepertinya aku tidak bisa menyetir pulang.”


“Kita telepon sopir saja. Aku harus sekolah karena ada ujian akhir.” ucap Valerie.


“Kalau begitu, kalian pulang dengan sopir saja. Papa dan mama akan menyusul kalau kaki papa sudah membaik.” balas Kylian.


“Aku juga?” tanya Lucy.


“Iya! Siapa yang akan merawatku di saat aku tidak bisa bergerak?”


“Lalu bagaimana dengan aku? Aku tidak bisa jauh dari mama.” ucap Evan.


Kemudian Ethan membisikkan sesuatu kepada Evan hingga akhirnya Evan membiarkan mamanya tetap di vila bersama papanya. Kylian pun menelepon sopir untuk menjemput anak-anaknya dan membawa kembali ke kediaman.


Sopir datang. Anak-anak masuk ke dalam mobil. Kylian melambaikan tangan setinggi-tingginya.


“Valerie, santai saja mengerjakan ujiannya. Tidak usah memaksakan diri dan terlalu berusaha keras.” ucap Kylian.


“Tidak usah berusaha keras?” Valerie heran.


“Kebahagiaan itu tidak bergantung dari nilai. Jadi santai saja, jika tidak bisa menjawab soalnya, tebak saja.”

__ADS_1


“Ma, apakah kepala papa terbentur batu keras saat terjatuh tadi?” tanya Valerie.


“Ethan, Evan, nanti kita bermain game bersama setelah papa kembali ke rumah, ya.” ucap Kylian.


“Asyik! Cepat sembuh, ya, pa!”


Mobil yang dinaiki anak-anak pun melaju semakin jauh meninggalkan vila. Kini di vila hanya menyisakan mereka berdua saja. Saat ingin kembali masuk ke dalam, Kylian berpura-pura merintih kesakitan hingga memerlukan bantuan Lucy.


Lucy mau tidak mau membantu Kylian berjalan. Menurutnya, Kylian sakit seperti ini karena dirinya. Kylian menaruh tangannya di bahu Lucy, sembari berjalan pincang perlahan sampai masuk ke dalam. Tidak sampai di situ, Kylian meminta Lucy memijat tubuhnya, menyuapinya makan, minta diambilkan barang, sampai minta diantar bolak-balik ke toilet.


“Agak ke bawah sedikit. Iya, betul di sini. Ah, enak sekali. Lebih keras lagi. Ah, enaknya.”


Setelah memijatnya, Lucy membawakan makanan untuk Kylian.


Kylian memberi kode untuk menyuapinya.


“Disuapin?”


“Mengangkat tangan saja susah. Bagaimana aku bisa memasukkan makanan ke dalam mulutku?”


Lucy pun menyuapinya. Kylian sangat gembira. Dia pun sampai tersenyum meski sedang mengunyah.


Setelah makan, Kylian ingin menonton tv.


“Lucy, boleh tolong ambilkan remote tv? Aku ingin menonton tv.”


“Lucy, sepertinya aku kebelet. Bisa bantu aku berjalan ke toilet?”


“Lucy, bisa bantu aku kembali ke ranjang?”


“Lucy, aku ingin ke toilet lagi.”


“Minum hanya segelas kenapa ke toilet terus?” Lucy protes.


“Tadi buang air kecil. Sekarang besar.”


Lucy pun membantu Kylian berjalan ke toilet.


Kylian tidak menyangka Lucy sangat sabar meladeninya.


Di malam hari, Kylian bertelepon dengan anak-anak. Lucy masuk ke kamar dan membawa berbagai macam buah yang sudah dipotongnya.


“Anak-anak bilang akan ke sini di akhir pekan. Kita akan berpesta karena Valerie sudah menyelesaikan ujian akhirnya.” ucap Kylian lalu mengambil potongan buah.


“Berarti kita tetap berada di sini sampai akhir pekan?” tanya Lucy.


“Iya! Masa kembali? Sayang bensin. Kita harus hidup hemat.”

__ADS_1


Agak aneh jika kata “hemat” keluar dari mulut Kylian. Dia bahkan memborong semua botol bayi saat berbelanja kemarin itu.


Keesokan harinya, di pagi hari Kylian mengajak Lucy ke kebunnya untuk memetik sayuran yang bisa dimasak menjadi makanan mereka selama di vila.


Kylian memperlihatkan cara mencabut sayur dari akarnya. Lucy tidak bisa berhenti mengagumi Kylian yang serba bisa. Namun rasa kagumnya hilang begitu Kylian menjahilinya dengan menyodorkan ulat yang dia temukan.


Lucy menjerit.


“Sstt.. jangan kencang-kencang. Nanti Kacang kaget.” kata Kylian.


“Sudah lah. Aku tidak mau dekat-dekat dengan kamu.” Lucy menjauh dari Kylian.


Meski begitu, Kylian tidak dapat mengalihkan pandangannya dari Lucy. Dia selalu memastikan Lucy tidak kenapa-kenapa dari kejauhan.


Sampai akhirnya saat memetik sayur, Lucy menemukan ulat yang membuat menjerit dan berlari ke arah Kylian.


“Jadi, lebih baik berada di dekatku atau jauh dariku?” tanya Kylian.


“Tidak keduanya! Aku mau ke dalam saja.”


Lucy masuk ke dalam dan diikuti oleh Kylian. Rupanya Lucy ingin memasak untuk makan bersama mereka. Dia merasa aktivitas memasaknya terganggu karena pandangan Kylian yang terus ke arahnya. Kylian duduk di meja makan sambil kedua tangannya menopang wajahnya dan pandangannya terkunci pada Lucy. Bahkan bola matanya bergerak setiap pergerakan Lucy.


“Kenapa kamu di sini, sih? Kamu tidak ada kerjaan lain selain—”


“Tidak.” ucap Kylian singkat, padat, dan jelas.


“Bagaimana kalau kamu menyiapkan peralatan makan?”


“Bisa aku siapkan nanti.”


“Mataharinya sangat terik. Bagaimana kalau kamu pergi menyiram kebun supaya tumbuhannya tidak mati?”


“Ada mesin penyiram kebun yang otomatis menyala.”


Lucy menghela napas. Sulit sekali membuat Kylian teralihkan.


Setelah masakan Lucy jadi, mereka berdua menyantapnya bersama.


“Aku tidak menyangka masakanmu akan seenak ini jadinya.” ucap Kylian.


“Aku masih tidak ada apa-apanya dibandingkan Bi Yola.”


“Bi Yola memang sudah masternya. Tidak terkalahkan.”


“Lucy, aku membayangkan hidupku saat menua nanti. Hidup di sini, berkebun, melakukan hal lainnya di vila ini dan bersamamu. Sementara anak-anak nanti sibuk dengan masa depannya masing-masing. Jika seperti itu, kurasa masa tuaku nanti sangat menyenangkan. Ya, ’kan?” ucap Kylian kemudian.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2