Menikahi Tuan Duda!

Menikahi Tuan Duda!
42


__ADS_3

Lucy meminta maaf karena telah salah paham selama ini, dan berterima kasih karena ibu tirinya Yuni yang sudah membesarkannya selama ini, sebagai anak yang ditelantarkan. Yuni menitikkan air mata karena terharu. Mereka berpelukan penuh haru.


Selly bermimpi aneh dalam tidurnya. Dia teringat pada kejadian di masa lalunya yang menaruh bayi di depan kediaman Kylian beberapa tahun yang lalu. Keringat bercucuran di dahinya.


“Selly, ada apa? Hey, Selly. Ada apa?” Ibu Selly masuk ke dalam kamarnya dan membangunkan Selly dari mimpi buruknya.


“Kamu bermimpi buruk?”


“Tidak, ibu. Bukan begitu. Aku akan keluar sebentar.” Selly bangkit dari ranjangnya.


“Kamu mau ke mana dengan kondisi seperti itu?”


Selly mendatangi sekolah Evan. Dia melihat Evan sedang bermain di halam sekolah bersama temannya dengan wajah yang ceria. Dia sampai menitikkan air matanya. Segera dia hapus dan memanggil Evan,


“Evan.”


“Tante Selly?” Evan menghampirinya.


“Hai. Evan, kamu baik-baik saja?”


“Iya. Ngomong-ngomong, tante, kenapa datang ke sini?”


“Tante kebetulan lewat. Jadi, tante mampir untuk menemuimu.”


“Untuk apa? Tante kan sudah tidak bekerja untuk keluargaku lagi.”


“I-iya. Evan, tante menemukan mainan yang kamu sukai. Jadi tante ke sini untuk memberikan ini.”


“Wah! Ini mainan kesukaanku.”


“Kamu menyukainya?”


“Ya! Terima kasih, tante Selly.”


“Iya. Dengan senang hati. Evan, kamu tidak sakit, ‘kan?”


“Tidak.”


“Baiklah. Tante senang mendengarnya. Evan, tante merindukanmu. Kamu sama sekali tidak merindukan tante?”


“Evan, cepat kesini!” Teman Evan memanggilnya.


“Tante Selly, aku harus kembali. Pacarku memanggil.” Evan kembali bermain bersama temannya dan meninggalkan Selly.


“Yuni, kamu menyiapkan pesta ini untuk Lucy?” tanya Harry yang terkejut karena Yuni telah menyiapkan makanan yang begitu banyak hingga memenuhi satu meja. Dan membeli banyak daging.


“Iya. Hubunganku dan Lucy sudah jauh lebih baik. Jadi, aku ingin kita semua berkumpul dan bersenang-senang.”


“Yuni, terima kasih sudah menjaga Lucy sampai dia sebesar ini. Jika aku memikirkan apa yang sudah dia alami, hatiku hancur meski dia tidak bilang apa-apa. Aku yakin dia sakit hati. Entah ibu kandungnya sudah meninggal atau masih hidup. Bagaimana bisa seseorang melakukan itu.. Sudah, sudah, jangan bicarakan soal itu lagi. Ini terakhir kali membicarakan dia. Jangan sebut dia di depan Lucy lagi. Mengerti?”

__ADS_1


“Iya. Kita hanya akan berpesta dan bersenang-senang saja beerempat.”


“Ayah, ibu.” Lucy sampai di rumah ayahnya.


“Kamu sudah datang? Ayo makan.”


“Aapa ini hari istimewa? Kenapa ibu masak banyak sekali makanan?” tanya Lucy.


“Iya. Hari ini hari istimewa. Bisnis restoran ayah berjalan dengan lancar. Jadi, kita berkumpul.” jawab Yuni.


“Duduklah. Lucio akan memanggang daging yang enak untukmu.” ucap Harry.


“Karena sudah berkumpul, bagaimana kalau kita bersulang?”


“Untuk kebahagiaan di keluarga ini, bersulang!”


“Bersulang!”


Lucy mencari Katherine ke apartemennya karena ingin memberikan sesuatu. Saat Lucy mengajak berbicara di tempat lain, dia mengatakan kalau dia sibuk. Lucy lalu memberikan hadiah sebagai tanda maaf karena tidak jadi berangkat ke Perancis dan terima kasih. Dia juga mengucapkan maaf karena pernah telah merepotkan Katherine untuk mencari ibunya di Perancis. Dia mengatakan tidak akan mencari ibunya lagi.


Hati Katherine hancur mendengarnya. Lucy tidak tahu kalau ibunya ada di hadapannya sekarang.


“Kapan kakak akan kembali ke Perancis?”


“Mungkin sekitar 2 minggu lagi.”


“Secepat itu?”


“Kalau begitu, aku akan mengajak kakak makan di luar sebelum kakak pergi.”


“Tidak, itu tidak perlu. Aku sibuk bekerja dan kamu juga. Hadiah kecil ini sudah cukup. Pokoknya, jaga kesehatanmu.”


Katherine menerima hadiah sarung tangan kulit dari putrinya. Bahkan bertuliskan ucapan bahwa bagi Lucy Katherine seperti sosok ibu baginya.


Katherine menangis sejadi-jadinya. Dia sangat menyesali perbuatannya di masa lalu. Tapi tidak ada yang bisa dia perbuat. Dia harus meninggalkan Lucy secepatnya.


Sepulangnya ke rumah, Kylian menemukan sebuah kotak kado di meja kerjanya. Ternyata dari Lucy. Lucy mengucapkan terima kasih karena Kylian sudah membantu melewati masa sulit. Lucy memberikan hadiah kotak musik mungil. Dia berharap jika sedang mengalami suntuk karena pekerjaan, Kylian bisa terhibur dengan mendengarkannya.


Kylian membuka kartu ucapan yang berisikan tulisan tangan Lucy sendiri.


“Kylian, aku tidak sedang melewati batas. Aku membelikan hadiah unuk keluargaku dan teringat denganmu. Jadi, aku juga membelikan satu untukmu. Saat aku berada di masa sulit, kamu banyak membantuku dan menyemangatiku. Meskipun hadiah yang kuberikan kecil, aku ingin berterima kasih atas kebaikanmu padaku. Kamu bisa mendengarkan musik ini untuk menjernihkan pikiranmu saat bekerja.”


Malam sebelum tidur, Kylian duduk di ranjangnya sambil menikmati musik pemberian Lucy. Lalu Evan masuk ke kamarnya dengan membawa bantal.


“Evan, kamu terbangun?” tanya Kylian.


“Iya. Aku ingin tidur di kamar papa malam ini. Eh, itu apa?” Evan tertarik kepada barang yang berbunyi yang dimainkan ayahnya.


"Ini kotak musik."

__ADS_1


"Bolehkah aku memilikinya, aku ingin memberikan untuk pacarku," kata Evan.


"Apa? Tidak, ini hadiah pemberian. Papa nanti akan membelikan yang mirip untuk Evan.”


“Tapi, aku suka yang itu. Papa saja yang membeli baru. Aku mau yang itu.”


“Maaf, Evan. Yang ini sangat berarti untuk papa. Dan, apa katamu? Pacar? Evan, umurmu bahkan masih 5 tahun dan kamu sudah berpacaran?"


“Berpacaran kan tidak memandang usia!” Evan ngambek. Dia keluar dari kamar Kylian dan tidak jadi tidur dengan ayahnya.


Kylian menggaruk kepalanya. Kylian merasa tindakannya tidak salah. Karena tidak baik memberikan hadiah dari orang lain


Lucy melihat Evan berjalan membawa bantal.


“Evan, ada apa? Kamu dari mana? Kamu bermimpi buruk?” tanya Lucy.


“Aku bangun dan turun ingin tidur di kamar papa, tapi tidak jadi, aku mau kembali ke kamarku. Aku kesal dengan papa!”


“Kenapa kamu kesal?”


“Aku meminta papa memberiku mainan yang bisa mengeluarkan musik, tapi dia menolak.”


“Kotak musik?”


“Iya. Dia menolak karena dia bilang karena barang itu berarti untuknya. Dia pelit sekali.” Evan masuk ke kamarnya.


Lucy tersenyum begitu mendengarnya.


Keesokan harinya, Kylian mengajak Jeremy makan biasa di luar. Hanya makan biasa.


“Sudah malam, ayo pulang. Anak-anakmu pasti sudah menunggumu di rumah.”


“Kenapa cepat sekali? Bagaimana kalau kita lanjut minum?”


“Minum? Tidak, tidak. Aku sudah tidak kuat lagi.”


“Bagaimana kalau kita menonton film?”


“Menonton film? Aku dan kamu?”


“Memang apa salahnya dua teman menonton film bersama?”


“Apa lagi kali ini, Kylian? Katakan.”


“Aku hanya ingin menonton film bersama. Katakan apa?”


“Cepat katakan, atau aku akan pulang. Ini tentang Lucy, ‘kan? Ikuti saja kata hatimu. Pergilah menonton film tengah malam bersamanya. Toh, kalian berakhir karena Selly dan sekarang dia sudah terbukti berbohong.”


“Masalahnya, aku belum mengatakan padanya kalau Selly berbohong. Dan sekarang aku sedang berusaha melupakannya, tapi ternyata itu tidak mudah. Aku pikir aku sudah melupakannya, tapi aku terus menunjukkan perasaanku padanya.”

__ADS_1


“Kamu belum mengatakan padanya kalau Selly tidak mengandung anakmu? Kalau begitu, lupakan saja dia jika kamu mau. Kenapa sulit sekali?”


Bersambung...


__ADS_2