Menikahi Tuan Duda!

Menikahi Tuan Duda!
43


__ADS_3

“Kamu belum mengatakan padanya kalau Selly tidak mengandung anakmu? Kalau begitu, lupakan saja dia jika kamu mau. Kenapa sulit sekali?”


“Aku harus berhenti menemuinya jika ingin melupakannya. Tapi masalahnya aku melihatnya setiap hari.”


“Kenapa harus melupakannya? Kamu saja tidak bisa menahan perasaanmu padanya. Kamu tidak harus kembali bersamanya seperti dulu. Coba saja pelan-pelan dan ikuti kata hatimu.”


“Usiaku 41 tahun sekarang. Aku duda dari 3 anak. Sedangkan dia masih 27 tahun. Perjalanan hidupnya masih panjang. Dan kamu menyuruhku untuk memulai hubungan dengannya?”


“Kenapa tidak? Itu bukan illegal. Tidak apa-apa. Lakukan saja. Coba saja jujur dengan perasaanmu, bisa saja dia tidak memiliki perasaan yang padamu dan akan menolakmu.”


“Jer! Apa kamu sungguh temanku?”


“Aku hanya membicarakan kemungkinan yang terjadi.”


Setelah berpisah dengan temannya, di mobil Kylian memikirkan Lucy. Setelah dipikir-pikir, Lucy tidak pernah mengutarakan perasaannya padanya, berbeda dengan Kylian yang sudah pernah mengucapkan “Aku mencintaimu.”


Kylian tiba di rumah dengan hujan deras, namun untungnya dia memiliki payung di mobilnya. Begitu hendak masuk, sebuah taksi sampai di depan rumahnya. Lucy turun dari taksi tersebut dan memeluk buku-buku yang dibelinya agar tidak kehujanan.


Kylian langsung datang memayunginya.


“Ibu Guru Lucy, darimana saja sampai selarut ini?”


“Aku habis membeli buku latihan untuk anak-anak. Tiba-tiba hujan turun dan sulit mendapatkan taksi.”


“Berikan padaku.”


“Tidak apa-apa. Ini tidak berat.”


“Biar aku saja. Ayo masuk.” Kylian merebut kantong berisi buku dari tangan Lucy.


Keduanya pun berjalan bersama ke dalam rumah dengan pelan agar tidak terpeleset.


“Mantelmu basah, kemarilah sedikit.” Lucy menarik lengan Kylian agar seluruh tubuhnya masuk ke dalam payung.


Sontak wajah mereka menjadi berdekatan. Kylian melihat wajah Lucy begitu bersinar dan cantik. Membuat jantungnya berdebar dengan kencang.


“Apa jantungmu berdebar kencang?” tanya Kylian.


“Hah? Jantungku? Tidak, biasa saja.”


“Benar kata Jeremy. Lucy bisa jadi tidak memiliki perasaan yang sama sepertiku.” ucap Kylian dalam hatinya.


Kylian mengecup bibir Lucy.


“Kalau sekarang? Apa tetap biasa saja?”


“Apa-apaan kamu ini? Kamu yang membuat batas di antara kita. Kalau kamu melewati batas seperti ini bagaimana bisa kita tinggal serumah?”


“Jawab pertanyaanku. Apa jantungmu tetap biasa saja?”


“Apakah boleh seorang bos mencium pegawainya? Aku bisa menuntutmu atas pelecehan seksual, lho!”


“Tuntut saja.” Kylian memberikan payung ke tangan Lucy dan berjalan kehujanan.

__ADS_1


“Kamu masih bilang tidak menyukaiku? Di saat kamu kesal pun kamu masih memberikan payung untukku. Dasar!”


Kylian terduduk di bawah ranjang sambil memikirkan apa yang telah dia lakukan tadi. Dia menggaruk-garuk kepalanya.


“Apa yang sudah aku lakukan? Bagaimana aku bisa melihatnya besok? Dasar bodoh! Tapi… melihat Lucy berreaksi seperti itu, sepertinya memang benar dia tidak menyukaiku. Dia memang tidak boleh menyukaiku. Aku benar-benar harus menjaga jarak dengannya. Tinggal 2 bulan lagi, aku pasti bisa.”


Anak-anak turun bersama Lucy. Mereka sudah siap berangkat ke sekolah. Bi Yola dan Gita menyambut mereka di bawah. Kylian juga keluar dari kamarnya sambil bersin-bersin.


“Papa flu?” tanya Valerie.


“Pasti papa hujan-hujanan semalam,” sahut Evan.


“Ah, tidak, kok. Tidak begitu parah. Uhuk.. uhuk.. uhukk..” jawab Kylian disertai dengan batuk.


“Pimpinan sebaiknya beristirahat saja di rumah hari ini. Saya akan membuatkan minuman hangat,” ucap Bi Yola.


“Iya, betul itu. Aku berangkat ke sekolah dulu. Sampai jumpa, papa,” ucap Valerie.


“Aku juga. Cepat sembuh, papa,” ucap Ethan.


“Kalau begitu aku juga akan mengantar Evan ke sekolah,” ucap Lucy.


“Sampai jumpa, papa. Nanti kita bermain game ya setelah aku pulang sekolah,” kata Evan.


Anak-anak pergi ke sekolah. Lucy juga pergi mengantar Evan ke sekolah.


“Dah, Evan. Belajar yang benar, ya. Nanti mama jemput,” ucap Lucy.


“Oke, ma. Ma, tolong temani dan rawat papa, ya. Pasti papa cepat sembuhnya. Seperti waktu itu di vila,” ucap Evan.


“Dah, mama!” Evan masuk ke dalam kelasnya.


Lucy pun kembali. Di perjalanan pulang, dia terus memikirkan apakah dia harus pulang merawat Kylian atau lebih baik ke restoran ayahnya saja.


“Rawat, tidak, rawat, tidak, rawat, tidak, rawat AAAAHHH! Bagaimana kalau dia menciumku lagi seperti semalam?! Tidak, tidak, tidak!”


“Lucy!” Seseorang bertemu dengannya di jalan.


“Jer, hai,”


“Habis darimana?”


“Aku habis mengantar Evan ke sekolah.”


“Oh. Ngomong-ngomong, kamu sudah tidak ikut kursus bahasa Perancis lagi?”


“Iya. Kak Katherine tidak memberitahumu? Aku batal ikut bersamanya ke Perancis.”


Di waktu yang sama, hari ini Kylian tidak bekerja dan hanya beristirahat saja di kamarnya. Namun dia berkali-kali keluar masuk dari kamarnya.


“Lucy memangnya selalu lama kalau mengantar Evan ke sekolah?” tanya Kylian ke Bi Yola.


“Tergantung. Kalau lama seperti ini mungkin dia datang ke restoran ayahnya untuk bantu-bantu.”

__ADS_1


“Ayah Lucy membuka restoran?”


“Iya, karena belum ada staf jadi dibantu dengan keluarganya. Lucy juga membantu.”


“Oooo.”


“Pimpinan butuh sesuatu? Biar saya saja. Mungkin Lucy baru akan pulang sekalian menjemput Evan dari sekolah nanti.”


“Tidak, tidak. Tidak perlu.”


Kylian kembali ke kamarnya. Namun tidak lama kemudian dia keluar dengan mantelnya lalu pergi.


“Saya ingin keluar mencari angin sebentar,” izinnya kepada Bi Yola lalu pergi.


“Loh? Pimpinan kan sedang flu, seharusnya jangan terkena angin dulu…?” Bi Yola pun heran dengan tingkah bosnya sendiri.


Lucy dan Jeremy berbicara sambil berjalan. Sampai Lucy lupa kalau dia harus kembali ke rumah.


“Benarkah? Karena apa?”


“Kurasa aku belum siap untuk pergi jauh meninggalkan keluargaku. Apalagi sebelumnya aku memutuskan untuk ikut karena sedang gegabah.”


“Ooo.. aku juga batal. Bu Katherine memajukan tanggalnya menjadi 2 minggu lagi. Tentu saja aku tidak siap, aku saja belum lancar berbahasa Perancis.”


“Kamu tahu kenapa alasannya?”


“Katanya, sih, karena ada urusan di Perancis. Dan projeknya di sini bersama Kylian akan segera selesai. Oh, ya, nanti akan ada fashion show besar yang diselenggarakan Kylian dan busana hasil rancangan Bu Katherine. Kamu harus ikut, ya!”


“Kalau aku mendapat undangannya, aku pasti ikut. Oh, ya. Mau mampir ke restoran ayahku?”


“Boleh. Dimana?”


“Sebentar lagi sampai.”


Lucy mengajak Jeremy ke restoran ayahnya yang baru saja buka.


“Ayah, ibu.” Lucy masuk membawa Jeremy.


Yuni sedang menyapu lantai sedangkan Harry sedang mengelap meja dan Lucio menggoreng ayam di dapur.


“Lucy? Eh, kamu membawa siapa ini?” tanya Yuni.


“Kenalkan, dia Jeremy temanku saat kursus Bahasa Perancis. Dia juga hampir ikut dengan Kak Katherine namun tidak jadi. Jeremy, kenalkan ini ibuku, dan ini ayahku.”


“Halo, om, tante. Namaku Jeremy.”


“Halo. Duduk, duduk. Sebentar lagi ayamnya jadi, tunggu sebentar, ya. Lucio, ayamnya sudah belum?” kata Yuni.


“Eh, tidak perlu repot-repot, tan.” balas Jeremy.


Lucio datang membawakan ayam gorengnya.


“Aku akan memberikan gratis tapi kamu harus memberikan penilaian yang jujur,” ucap Lucio.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2