Menikahi Tuan Duda!

Menikahi Tuan Duda!
9


__ADS_3

Valerie mengucapkan selamat tinggal pada ayahnya. Tetapi Lucy lalu bicara kecil pada Kylian.


"Bukankah Kylian berkata ingin dekat dengan anak-anak?"


Kylian lalu ikut masuk meski Valerie memandangnya dengan heran. Tidak biasanya ayah mereka pergi ke tempat seperti ini.


Mereka mendatangi toko souvenir membeli bando-bando lucu. Saat Kylian tidak mau memakai bando, Valerie mengancam.


"Mending ayah pulang saja, deh!"


Ayahnya pun pasrah dipasangi bando bertelinga Gajah. Sementara Lucy memakai bando bertelinga kelinci, Valerie dengan bando bertelinga rusa, Ethan bertelinga rubah dan si kecil Evan bertelinya kucing.


Di depan mereka kini wahana atraksi yang seru, dan esktrim, hanya yang cukup umur yang boleh ikut. Valerie ingin naik bersama Lucy. Ayahnya sempat melarang karena menurutnya berbahaya. Valerie kembali kesal meminta ayahnya pulang. Lucy membujuk Kylian.


"Orang merasa belum ke taman hiburan ini, jika belum naik wahana ini."


"Baiklah tetapi aku harus ikut."


Akhirnya ketika wahana mendebarkan sampai ke puncaknya, Kylian tampak semangat sedangkan Lucy dan Valerie menjerit saking ekstrimnya.


Kylian lalu malah menantang ingin atraksi yang lebih seru dan mendebarkan.


"Kami kemari ingin menghibur Lucy. Eh malah ayah yang lebih semangat." Valerie berkata di dalam hatinya.


Mereka berlima nampak gembira dan tidak puas-puasnya mencoba berbagai wahana dan berfoto ria. Mereka juga makan siang bersama dan juga mengunjungi taman burung.


Hari mulai gelap. Lucy mengusulkan untuk pulang. Tetapi anak-anak masih ingin bermain satu kali lagi. Kylian mengizinkan. Yang tersisa adalah wahana rumah hantu. Awalnya suasana rumah hantu masih tenang. Tiba-tiba ada sekelompok orang berkostum horror datang menakuti mereka.


"Lari Valerie!" seru Kylian.


Mereka pun lari, Valerie sigap berlari lebih dahulu. Saat memastikan sudah tidak ada yang mengejar, Kylian dan Lucy sama-sama berhenti. Mereka menyadari bahwa ternyata mereka berdua saling berpegangan tangan.


Di rumah hantu, baik Lucy dan Kylian sama-sama salah tingkah mendapati diri mereka berpegangan tangan.


“Maaf. Saya kira saya memegang tangan Valerie.” ucap Kylian meminta maaf karena mengira menggandeng tangan Valerie.


Di waktu yang sama, Katherine mendapatkan pesan dari orang suruhannya yang dia perintahkan untuk menyelidiki anak Harry. Dia telah menemukan anak Harry. Betapa terkejutnya Katherine karena orang suruhannya itu mengirimkan foto Lucy. Katherine tak menyangka bahwa orang di foto itu adalah guru privat di rumah Kylian, Lucy.


Setelah puas bermain, akhirnya anak-anak pun kehabisan energi dan saatnya pulang.


“Sudah lama saya tidak bersenang-senang dengan anak-anak.” ucap Kylian seraya menyetir.


“Aku berutang banyak padamu. Terima kasih.” tambahnya.


“Ah.. saya tidak melakukan apa-apa.” balas Lucy.


“Saya harus mengajak mereka bermain lagi sebelum mereka tumbuh lebih besar. Kamu juga harus ikut di tamasya berikutnya.”

__ADS_1


“Ah.. iya.”


“Apa kamu sudah menyelesaikan masalah dengan keluargamu?”


“Oh itu. Sudah, pak.”


“Evan sangat khawatir kamu akan berhenti.”


“Maafkan saya.”


“Tidak perlu minta maaf. Lucy, saya sangat berharap kamu bisa tinggal dalam waktu yang lama bersama kami.”


“Tentu saja. Terima kasih sudah mengatakan itu.”


Saat rombongan berlima pulang ke rumah, Katherine juga memacu mobilnya menuju kediaman Kylian. Katherine diam-diam memperhatikan Lucy yang baru datang bersama Kylian dan anak-anak. Dia menangis. Dia merasa iba melihat putrinya yang menjadi pengasuh, juga heran mengapa putrinya tinggal di rumah orang lain, bukan dengan ayahnya atau keluarga.


Rombongan berlima pun masuk ke dalam rumah. Selly dan Bi Yola menyambutnya.


“Pimpinan, kenapa kalian masuk bersama? Kalian bertemu di luar?” tanya Selly.


“Pimpinan, apa itu yang ada di kepalamu? Telinga gajah?” ledek Bi Yola.


“Saya dan anak-anak habis dari taman hiburan.” jawab Kylian.


“Taman hiburan? Kalian pergi ke sana?” tanya Selly.


“Ya. Kita bersenang-senang di sana! Sangat menyenangkan!” jawab Evan.


Tampak wajah Selly tidak senang melihat Lucy.


“Nona Lucy juga habis dari taman hiburan?” tanya Bi Yola.


“Iya, bi hehehe.”


“Kamu pasti lelah. Naik dan beristirahatlah.” ucap Kylian.


“Baik, pak.”


“Anak-anak, mandi dan beristirahatlah.”


“Baik, papa!”


“Kalau begitu, saya juga akan ke ruanganku.”


Selly mengantar teh untuk Kylian.


“Anak-anak kelihatan sangat bahagia hari ini, Pimpinan.”

__ADS_1


“Seharusnya saya melakukan ini dari dulu. Kenapa saya tidak kepikiran..”


“Ngomong-ngomong, apa ini ide dari Lucy?”


“Ini ide anak-anak. Mereka mengumpulkan tabungan mereka, berjalan menuju bus dan bertemu saya. Saya bergabung sebagai sopir mereka.


Sepertinya saya dapat memercayakan anak-anak pada Lucy sekarang.”


“Begitu rupanya..”


“Kamu belum pulang karena kami? Sudah malam, kamu boleh pulang.”


“Baik.”


“Selly, terima kasih atas kerja kerasmu.”


...****************...


Selly mengemudikan mobilnya menuju pulang ke rumah. Dia terlihat tidak senang.


“Setelah dipikir-pikir, ini sangat menyebalkan. Kenapa Lucy membuatku kesal!?”


Selly mengingat perkataan Kylian yang berterimakasih padanya.


“Namun sepertinya aku sangat penting bagi Pimpinan dan aku juga bisa bertemu dengan Evan setiap hari. Baiklah, aku akan membuat diriku menjadi lebih penting dan keluarga itu tidak bisa hidup tanpaku.”


Selly melihat foto-foto Evan di ponselnya dan tersenyum.


Baik Kylian dan Lucy tidur dengan perasaan puas dan senang. Kylian senang melihat foto-foto anak-anaknya di taman hiburan termasuk foto Lucy hingga sempat tercengang sejenak.


Sedangkan Lucy mengingat kembali momen saat dia dan Kylian berpegangan tangan di rumah hati.


“Kenapa aku memegang tangan Pimpinan? Aku harap dia tidak salah paham. Tapi.. kita kan sebenarnya sudah menjadi suami istri. Ah tidak tahulah! Tapi.. Pimpinan sangat lembut dan manis. Untuk pertama kalinya dia berbicara banyak padaku saat di mobil tadi. Biasanya sangat kaku dan dingin..” Lucy mulai sadar ternyata Kylian orang yang baik.


Keesokan harinya, Katherine menemui Kylian.


“Kylian, aku ingin tahu apakah aku bisa tinggal di rumahmh untuk sementara. Apartemenku masih berantakan dan aku juga merindukan masakan rumahan.”


“Tentu saja bisa! Aku akan memberitahu Selly. Kakak bisa segera pindah.”


“Terima kasih, Kylian!”


“Kakak sesenang itu? Biasanya kakak selalu menolak tawaranku.”


Kylian tentu senang dan meminta Katherine segera pindah ke rumahnya.


Nyonya Sandra kesal pada Kylian, karena tidak dianggap sebagai orang tua di rumah. Perihal Katherine pindah ke rumah mereka, dia tidaak diberi tahu apa-apa. Dia pun protes pada Kylian. Tetapi Kylian berkata hal biasa jika Katherine saat ke Korea tinggal di rumahnya. Kylian malah menyuruh Nyonya Sandra tinggal bersama Hana jika keberatan, karena Katherine adalah kakak sekaligus partner bisnisnya.

__ADS_1


Nyonya Sandra bertambah sakit hati pada Kylian dan mengancam akan pergi dari rumah. Tetapi Nyonya Sandra juga frustasi tak punya tempat tujuan. Anaknya Hana sedang tak stabil dan patah hati. Selly menawarkan Nyonya Sandra menginap di rumahnya. Nyonya pun bertekad mempromosikan Selly untuk menjadi menantunya.


Bersambung...


__ADS_2