
Kylian mengisap lembut bibir Lucy dan dibalas oleh Lucy. Setelah itu Kylian pun membawanya ke dalam pelukannya.
“Aku mencintaimu, Lucy,”
“Aku sangat mencintaimu sampai aku merasa takut kamu meninggalkanku,”
“Aku ingin merevisi kontrak kita. Tidak, aku ingin memusnahkannya. Supaya pernikahan ini ada karena cinta, bukan karena kontrak.” ucap Kylian.
Lucy terharu mendengarnya. Dia pun berkomunikasi dengan bayinya dalam hati.
Kacang, kamu pasti bisa merasakan apa yang mama rasakan sekarang, kan. Karena mama sangat bahagia, kamu juga pasti sangat bahagia..
Akhir pekan pun tiba. Anak-anak datang ke vila dengan diantar sopir. Setibanya di vila, mereka langsung berlari memeluk orang tuanya Kylian dan Lucy senang menyambut mereka. Mereka pun berpesta bakar-bakaran.
“Bagaimana kaki papa?” tanya Valerie.
“Masih sakit sedikit.” jawab Kylian.
“Yah.. padahal aku, Ethan, dan Evan ingin bermain ice skating.” ucap Valerie.
“Yuk! Kaki papa tidak sakit sama sekali, kok.” sahut Lucy.
“Maksud mama?”
“Ada ularrr!”
Semuanya pun menjerit dan berlindung di belakang Lucy. Termasuk Kylian. Anak-anak pun menyadari bahwa itu hanya akal-akalan mamaya untuk mengetes papanya.
“Jadi, selama ini papa membohongi kita?” tanya Valerie.
“Kata tante Hana papa malas bekerja. Apa benar itu, pa?” tanya Ethan.
“Eh tidak kok. Kaki papa kemarin memang sakit. Hari ini sudah sembuh. Kalian mau main ice skating? Ayo kita pergi sekarang!” jawab Kylian.
Mereka pun pergi bersenang-senang bermain ice skating.
“Tunggu. Bagaimana kalau kita bermain polisi maling? Dan yang laki-laki yang menjadi malingnya.” ucap Valerie.
“Setuju!”
“Aku akan menghitung 1 sampai 10.”
Evan si kecil digendong Kylian yang bermain kejar-kejaran dengan Lucy dan dua anaknya yang lain. Berlari sambil tertawa lepas memang hal yang menyenangkan bagi mereka.
“Kalian tertangkap!” Lucy berhasil menangkap Kylian dan Evan.
Sementara Valerie berhasil menangkap Ethan.
“Bu polisi, memangnya salah ya kalau kami sudah mencuri hati ibu?” ucap Kylian.
Mereka pun tertawa terbahak-bahak.
“Ayo kita foto dulu!” ajak Valerie.
“1.. 2.. 3..”
__ADS_1
Valerie memposting foto terbaru mereka di sosial medianya. “Bermain ice skating setelah ujian akhir selesai bersama keluargaku^^ aku sangat senang!!~”
Unggahan Valerie itu dilihat oleh para pengikutnya yang merupakan teman-temannya dan ada Selly juga.
Begitu melihat postingan Valerie, tentu kekesalan terukir di wajah Selly. “Setelah membuatku diusir oleh Pimpinan, kamu bahkan bisa tersenyum lebar bersama mereka!? Seharusnya aku yang berada di posisimu, Lucy! Tunggu dan lihat saja apa yang akan aku lakukan padamu!”
Keesokan harinya, mereka kembali ke kediaman dan melanjutkan aktivitas seperti biasa. Kylian bekerja, anak-anak sekolah, Lucy mengurus anak-anak. Hingga tiba di jadwal rutin Lucy ke dokter kandungan. Kylian datang bersama Lucy untuk melihat perkembangan anak keempatnya, Kacang.
“Kacang sudah membesar dari yang terakhir kali aku lihat..” ucap Kylian.
“Perkembangannya baik, bentuk dan detak jantungnya normal. Disarankan untuk melakukan tes NIPT untuk mengetahui apakah ada kelainan kromosom dan bisa mengetahui jenis kelamin Kacang. Hanya pengambilan darah ibu, tidak sampai 5 menit, kok. Hasilnya akan keluar dalam 2 minggu.” ucap dokter.
*(NIPT adalah bentuk tes skrining yang bertujuan mengidentifikasi kelainan kromosom bayi yang belum lahir, yang dapat diindikasikan dengan menguji darah ibu. )
“Baik, terima kasih, dok.”
“Aku tidak sabar bertemu Kacang 6 bulan lagi. Oh, ya. Kamu harus tes NIPT itu. Kita bisa membeli perlengkapan Kacang yang lainnya setelah mengetahui jenis kelaminnya.” ucap Kylian.
“Iya, papa.”
“Apa katamu barusan?”
“Tidak, tidak.”
“Kamu memanggilku dengan apa barusan? Coba ulangi.”
“Tidak mau.”
“Ah, ayolah ulangi. Sekali saja.”
Sampai Lucy selesai mengikuti tes, hingga kembali ke rumah, Kylian terus merengek ingin mendengar Lucy memanggilnya “Papa”.
Lucy bertanya-tanya siapa wanita ini. Dia tidak muda, namun belum memasuki usia tua.
“Anda pasti Gita, asisten baru di rumah ini.” ucap Kylian.
“Betul, Pimpinan. Saya Gita dan siap menjadi asisten rumah tangga di rumah ini.”
“Perkenalkan, ini istri saya, Lucy.”
“Senang bertemu dengan Nyonya Lucy. Nama saya Gita.”
“Saya Lucy.”
...****************...
Keesokan harinya, di pagi hari Selly membulatkan tekadnya ingin merebut posisi Lucy dan menjadi ibu resmi dari anak-anak Kylian. Dia kembali ke kediaman Kylian ingin menemuinya. Gita mencegahnya. Pasalnya sekeluarga sedang menyantap sarapan dengan tenang. Dengan angkuh Selly meminta Gita menyingkir. Kylian pun keluar setelah mendengar keributan di luar rumahnya. Namun Selly berhasil menerobos masuk sebelum Kylian keluar.
“Aku ingin bicara sesuatu.” ucap Selly.
“Katakan saja di sini.”
“Tak apa-apa jika aku bicara di depan orang lain?” kata Selly menantangi Kylian.
Dia lalu menyerahkan foto USG kehamilan.
__ADS_1
“Apa ini?” tanya Kylian.
“Itu foto USG bayi kita.” Selly nekad total.
Kylian pun syok. “Bayi kita?”
“Ya.” Dia tanpa ragu dan percaya diri mengatakan bayi itu anak Kylian.
Lucy dan anak-anak sedang sarapan di meja makan lalu melihat Kylian dan Selly berjalan masuk ke ruang kerja Kylian. Timbul pertanyaan di benak masing-masing mereka. Kenapa Selly datang ke sini di saat sudah memiliki Gita sebagai pengganti? Ada urusan apa lagi Selly dengan Kylian?
Di ruang kerjanya, Kylian menanyakan apakah benar itu bayinya.
“Pimpinan boleh tidak ingat, namun Pimpinan tidak bisa menyangkal bayi kita.”
“Tidak ingat?”
“Kejadian di hotel bulan lalu. Tentu saja Pimpinan tidak ingat karena sedang mabuk berat.”
Kylian berusaha mengingat kejadian di hari itu.
“Saya berhak mendapat pertanggungjawaban dan tinggal di rumah ini.”
“Apa katamu!?”
Selly keluar dari ruang kerja Kylian dengan sok. Dia minta disiapkan kamar untuknya.
“Tolong siapkan kamar karena saya akan pindah ke sini besok.” ucap Selly kepada Bi Yola dan Gita.
Nyonya Sandra pun terkejut. Apalagi Lucy dan anak-anaknya.
“Bukankah akan aneh dan canggung jika Lucy dan Selly yang sama-sama sedang mengandung anak Kylian satu rumah?” kata Nyonya Sandra.
Lucy pun berlari masuk ke kamarnya karena tidak bisa menahan tangisnya. Dia mengemas barang-barangnya. Karena melihat Lucy akan pergi berkemas meninggalkan mereka, Valerie memasuki ruang kerja ayahnya dengan marah. Ethan mencegah Lucy pergi.
“Mama jangan pergi. Papa dan mama kan saling mencintai. Kenapa mama pergi?”
“Tetapi kini tante Selly mengandung bayi papa, mama tidak sanggup lagi tinggal di sini.”
Sementara Valerie memarahi ayahnya.
“Mengapa papa harus mengakui bayi tante Selly padahal papa tidak mengingatnya!? Apa papa tahu bagaimana perasaan mama sekarang?”
Ethan menyusul masuk. “Aku tidak suka mendapatkan adik dengan cara seperti ini. Aku hanya ingin adik yang ada di perut mama Lucy!”
“Tunggu sampai papa memastikan kebenarannya dulu. Mama dimana sekarang?”
“Di kamar.”
Kylian masuk ke dalam kamar. Mendapati Lucy yang sedang mengemas barang-barangnya ke dalam koper.
“Lucy..” Kylian menghampiri Lucy.
“Lucy, kumohon jangan pergi.”
“Kamu sudah memusnahkan kontrak kita, ’kan? Itu artinya aku sudah tidak berkewajiban tinggal di rumah ini sampai Kacang lahir.”
__ADS_1
“Lucy, kumohon.” Kylian menahan tangan Lucy.
Bersambung...