
Lucy dan Kylian datang sebagai orang tua untuk mengambil rapot Ethan. Ethan merasa senang karena orang tuanya lengkap hadir seperti teman-teman yang lainnya. Dia bermain dengan puas bersama teman-temannya di saat Lucy dan Kylian bertemu dengan gurunya. Nilai rapot Ethan sedikit mengalami peningkatan walaupun nilainya masih pas-pasan.
“Dibandingkan sebelumnya yang sangat keras kepala, sekarang Ethan sudah mau melepas headphone-nya ketika di kelas dan mendengarkan guru saat menjelaskan. Dia juga lebih ceria dan sudah banyak berinteraksi dengan teman di kelas. Nilainya juga mengalami peningkatan. Namun sepertinya Ethan tidak pandai secara akademis. Nilainya di bidang seni musik sangat tinggi dan dia sangat aktif dalam kegiatan musik.” ujar guru Ethan.
“Baik, bu. Terima kasih atas pengajarannya untuk Ethan.” balas Kylian.
Lucy dan Kylian keluar dari ruangan kelas bersama.
“Apa Ethan sering memakai headphone-nya saat di kelas?” tanya Lucy.
“Bukan hanya di kelas. Dimanapun dia selalu memakainya. Namun sekarang sudah tidak lagi. Mantra apa yang kamu ucapkan pada Ethan?”
“Aku hanya mengatakan terlalu sering memakai headphone akan merusak pendengaran.”
“Kamu hanya mengatakan itu? Dan dia langsung menurut? Sedangkan aku, aku sudah memberitahunya berkali-kali namun tetap saja tidak didengar.”
“Papa! Mama! Rapotku bagus, ’kan?” Ethan menghampiri mereka.
“Tahu darimana?” balas Kylian.
“Raut wajah papa tidak menunjukkan akan marah atau kesal. Berarti nilai rapotku bagus. Iya ’kan, ma?”
“Iya. Wali kelas Ethan bahkan memuji Ethan.” jawab Lucy.
“Yey! Apa itu artinya aku boleh bermain game selama dua jam?”
“Dua jam? Itu terlalu lama. 30 menit.” sahut Kylian.
“Maa..” Ethan meminta bantuan Lucy.
“Dua jam khusus hari ini saja. Besok dan seterusnya 30 menit. Bagaimana?”
“Setuju! Mama memang yang terbaik! Kalau begitu, mama dan papa pulang duluan saja. Nanti aku pulang sama sopir.” Ethan kembali bermain bersama temannya.
“Dua jam itu terlalu banyak, Lucy.” ucap Kylian.
“Dia tidak akan bisa fokus belajar kalau tidak bermain sampai puas. Yang dia pikirkan saat belajar adalah game-nya terus. Nanti nilainya malah turun, bagaimana?”
Kylian akhirnya sependapat dengan Lucy. Mereka bergegas mengikuti kelas hamil. Kelas kali ini adalah menjahit pakaian pertama untuk bayi. Keduanya tampak bersemangat karena ini adalah pengalaman pertama mereka. Biasanya Lucy hanya menjahit pakaian yang berlubang. Tetapi kali ini dia harus membuat pakaian.
__ADS_1
Pelatih pun meminta para ayah untuk bersiap memasukkan benang dalam jarum. Kylian melakukannya hanya dengan sekali percobaan. Lucy terheran. Bagaimana bisa Kylian memasukkan benang dalam jarum tanpa kesusahan sama sekali? Dia merasa bangga saat berhasil memasukkan benang itu ke dalam jarum hanya dengan sekali percobaan. Sedangkan ayah lain masih berusaha memasukkannya.
“Apa kamu sering menjahit?” tanya Lucy.
“Tidak. Hanya memasukkan benang ke lubang jarum, apa susahnya?”
Tidak hanya memasukkan benang ke lubang jarum, Kylian menjahit pakaian itu dengan sangat mahir. Lucy hanya memberi semangat pada Kylian di sampingnya. Dan ketika Kylian berkeringat, dengan konyolnya dia meminta Lucy menyeka keringatnya. Lucy juga tanpa ragu menuruti yang Kylian perintahkan.
Lucy berkali-kali memuji Kylian yang sangar hebat. Tiba-tiba Kylian melihat jari tangan Lucy yang sudah kembali memakai cincin pernikahan mereka. Semangat Kylian semakin menggebu-gebu. Dia menjadi ayah pertama yang menyelesaikan baju untuk bayinya.
Kini kelas hamil sudah selesai, dan mereka sedang menunggu lift terbuka. Lucy senang sekali dengan baju bayi yang dijahit Kylian. Dia terus menatapnya dan selalu tersenyum.
“Kamu sesenang itu? Baju seperti ini bahkan banyak ditemui di mall.” ucap Kylian.
“Tapi hanya ada satu yang seperti ini di dunia. Yang dijahit menggunakan tanganmu langsung.” balas Lucy.
Kylian sungguh terharu dan senang sekali dengan apa yang Lucy katakan. Dia bahkan merasa bangga karena untuk pertama kalinya dia menbuat baju untuk anaknya dengan tangannya sendiri. Apa ada yang lebih membahagiakan daripada itu?
“Apa kamu lapar? Mari makan bersama dulu sebelum aku mengantarmu pulang. Makan apa?” ucap Kylian.
Ddrrrtt.. drrtt... ddrrrtt... Ada yang menelepon ke ponsel Kylian. Dan tidak lain adalah sekretarisnya.
“Lucy, sepertinya aku tidak bisa makan bersamamu. Perwakilan perusahaan yang akan bekerjasama denganku datang lebih awal. Aku juga tidak bisa mengantarmu pulang. Aku akan menelepon sopir untukmu.”
“Ee tidak usah. Aku bisa meneleponnya sendiri. Kamu lebih baik pergi saja.” Lucy mencegah tangan Kylian menelepon sopir.
“Baiklah. Kabari aku kalau sudah sampai di rumah.” ucap Kylian lalu bergegas pergi.
Lucy menjemput Evan dari sekolahnya lalu mereka pulang bersama. Di perjalanan, Evan menanyakan bagaimana kelas hamil yang diikuti Lucy hari ini. Lucy pun memperlihatkan baju bayi yang berhasil dibuat Kylian dengan tangannya sendiri.
“Papa hebat sekali! Aku iri dengan dedek bayi yang dibuatkan baju oleh papa. Ngomong-ngomong, kenapa papa ikut tidak menjemputku?” ucap Evan.
“Papa ada urusan di kantornya. Jadi, dia harus ke kantornya sekarang.” jawab Lucy.
Sesampainya di rumah, Lucy makan siang bersama Evan di meja makan. Ditemani dengan Bi Yola yang senang melihat interaksi Lucy dan Evan. Evan bahkan sudah bisa makan sayuran dengan lahap bersama Lucy. Tiba-tiba ponsel Bi Yola berdering.
“Baik, Pimpinan. Saya akan menyiapkannya sekarang. Baik, baik.”
Mendengar kata “Pimpinan”, Lucy bisa langsung mengetahui siapa yang menelepon Bi Yola. Yaitu Kylian. Dia pun langsung mengecek ponselnya, namun tidak ada panggilan tidak terjawab dari Kylian. Barangkali Kylian telah menghubunginya terlebih dahulu, tetapi tidak.
__ADS_1
“Ada apa, Bi?” tanya Lucy.
“Pimpinan minta disiapkan satu set pakaian kerja dan satu set pakaian tidur. Dia harus menginap di hotel karena ada rapat yang sangat penting paginya. Nanti biar sopir yang akan mengantarnya.” jawab Bi Yola.
“Kalau begitu biar saya saja yang menyiapkan.” ucap Lucy.
“Loh, tapi ’kan yang disuruh saya.”
“Sudah, tidak apa-apa, Bi. Evan, kalau sudah selesai makan, ke kamar duluan saja, ya. Nanti mama nyusul.”
“Ok, ma.” jawab Evan.
Lucy bergegas ke kamarnya dengan Kylian dan menyiapkan pakaian serta perlengkapan mandi yang Kylian butuhkan. Tidak lupa dia juga menyisipkan surat kecil di dalam tas.
Kamu bisa meminta bantuan istrimu untuk hal ini. Semoga berhasil, kami menunggumu di rumah ^^
Lucy pun keluar dari kamar dengan membawa sebuah tas berisi pakaian yang Kylian butuhkan.
“Ini ada sedikit cemilan untuk Pimpinan.” Bi Yola memberikan paperbag yang berisi cemilan.
“Mamaa! Aku mau ikut!” seru Evan yang sedang turun tangga.
“Mama hanya sebentar, kok. Hanya mengantar lalu pulang.” balas Lucy.
“Aku mau ikut. Aku ingin bertemu papa.” ucap Evan.
Lucy pun mengajak Evan pergi bersamanya dan diantar oleh sopir. Sesampainya di hotel, mereka bertemu dengan Selly.
“Hai Evan, hai Lucy. Sudah lama tidak bertemu.” sapa Selly.
“Tante Selly? Sedang apa di sini?” balas Evan.
“Tante ada perlu dengan papamu. Ini barang untuk Pimpinan, ’kan? Berikan kepadaku saja. Aku akan menemuinya setelah ini.” ucap Selly.
“Tapi aku ingin bertemu papa.” ucap Evan.
“Evan, papa sedang sibuk bekerja dan tidak bisa diganggu. Baiklah, ini.” Lucy menyerahkan ke Selly pakaian dan cemilan yang telah dipersiapkan untuk Kylian.
Bersambung...
__ADS_1