
“Evan, papa sedang sibuk bekerja dan tidak bisa diganggu. Baiklah, ini.” Lucy menyerahkan ke Selly pakaian dan cemilan yang telah dipersiapkan untuk Kylian.
“Terima kasih, Selly. Evan, yuk kita pulang.” ucap Lucy.
Evan pulang bersama Lucy meski raut wajahnya cemberut.
Selly sampai di kamar hotel Kylian dan membukanya dengan kartu akses. Rupanya, Kylian belum sampai di sana. Selly kemudian melihat isi tas yang dibawakan Lucy. Dia juga melihat kertas kecil yang ada di dalamnya.
“Istri!? Jadi, Pimpinan dan Lucy...?”
Tring... Pintu kamar hotel terbuka.
Kylian pun masuk ke dalamnya.
“Asisten Selly?”
“Pimpinan..”
-
“Tante Selly ngapain sih bertemu dengan papa? Dia kan sudah tidak bekerja lagi.” Evan kesal.
“Kan tadi tante Selly bilang ada perlu dengan papa.” balas Lucy.
“Iya, tapi ngapain, ma? Aku tidak suka dengan tante Selly!”
“Evan, jangan marah. Bagaimana kalau kita beli es krim?”
“Wah.. mau, ma! Selagi tidak ada papa, tidak ada yang mengambil es krim kesukaanku!”
“Pak, nanti berhenti di minimarket dekat rumah, ya.” ucap Lucy kepada sopir.
Sesampainya di minimarket, Evan segera mencari es krim kesukaannya. Lucy juga mengambil beberapa untuk anak-anak yang lain. Ponsel Lucy pun berbunyi. Ada sebuah pesan dari Kylian.
Kylian.
Terima kasih, ya. Karena kamu istriku, aku tidak ingin merepotkanmu.
Sudah sampai rumah?
Lucy.
Belum. Lagi di minimarket beli es krim bersama Evan.
Kylian.
Belikan untukku juga, ya!
Setelah membeli es krim, Lucy dan Evan memilih untuk pulang dengan berjalan kaki saja. Karena lebih menyenangkan sambil makan es krim dan berjalan di sore hari.
__ADS_1
“Ma, nanti kalau adik bayi sudah lahir, mama masih akan membelikan aku es krim, ’kan?” tanya Evan.
“Tentu saja. Kita bisa pergi beli bertiga sama adik nanti.” jawab Lucy.
“Kalau antar-jemput aku sekolah? Mama pasti sibuk menjaga adik bayi.”
“Nanti, kalau adik bayi sudah lahir, Evan pasti sudah besar dan mandiri seperti kakak Ethan dan Valerie.”
“Ah, tapi aku ingin berjalan dan dituntun mama seperti ini. Aku sangat menyukainya. Aku tidak ingin cepat besar.”
“Nanti kalau mama tidak bisa jemput, papa yang jemput. Bagaimana?”
“Tidak mau. Papa tidak seru.”
“Baiklah, kalau begitu mama akan menjemput Evan dan berjalan sambil menuntun Evan seperti ini.”
“Yey! Mama janji, ya!”
“Iya.”
Keesokan harinya, Kylian pulang ke rumah namun rumah sangat sepi hanya ada Bi Yola dan Nyonya Sandra karena ketiga anak sekolah dan Lucy sedang pergi mengantar Evan sekolah.
“Ada yang bisa saya bantu, Pimpinan?” tanya Bi Yola.
“Oh, tidak. Saya mencari istri saya. Tapi saya lupa dia sedang mengantar Evan.” jawab Kylian.
“Kamu sudah pulang?” Lucy dan Kylian menanyakan hal yang sama secara bersamaan. Bi Yola pun tersenyum meledek dan memilih mundur meninggalkan mereka.
Lucy membantu Kylian melepas jasnya. Mereka berdua memasuki kamar.
“Bagaimana dengan rapatnya?” tanya Lucy.
“Mulus dan lancar seperti jalan tol. Mereka juga langsung bersedia bekerjasama denganku. Tidak sia-sia aku bergadang untuk menyelesaikan projek ini.” jawab Kylian.
“Syukurlah.”
“Hari ini aku kosong. Mau pergi keluar?” tanya Kylian.
“Kemana?”
“Hmmm.. bagaimana kalau berbelanja perlengkapan Kacang?”
“Itu terlalu cepat. Kita bahkan belum tahu jenis kelaminnya.”
“Sudah tidak apa-apa. Ayo cepat bersiap. Aku tunggu.”
Kylian dan Lucy mendatangi sebuah pusat perbelanjaan. Sesuai tujuannya, mereka memasuki toko yang menjual perlengkapan bayi. Sesampainya di sana, seorang wanita datang menghampiri mereka dan menjelaskan tentang botol susu bayi pada Kylian dan Lucy. Kylian mendengarkan dengan cermat dan kemudian berkata kalau dia mau beli semua botol bayi itu.
“Kita akan mengambil semua botolnya.” ucap Kylian.
__ADS_1
“Kenapa harus semua? Satu saja. Bayi akan tumbuh dengan cepat, dan mereka ga butuh botol lagi setelah umur setahun.” Lucy melarang.
“Tidak. Botol bayi ini punya fungsi yang beda-beda. Yang satu terisolasi dari bakteri dan yang satu punya fungsi lainnya yang berbeda. Saya mau semua.” balas Kylian. Wanita di samping mereka pun tersenyum dan menuruti keinginan Kylian.
Mereka kembali berkeliling dan melihat tempat tidur bayi. Mereka akhirnya memilih ranjang tidur yang akan dibeli beserta juga dengan mainannya.
Malam sebelum tidur, Kylian merakit ranjang tidur bayi mereka dan Lucy menghiasnya. Padahal usia kandungan Lucy masih dua bulan dan kelahiran anak mereka masih sangat lama, tapi Kylian tampak sangat antusias melakukan pekerjaan ini.
Meskipun Kylian sering nampak kesulitan, dan bolak-balik buku panduan yang berisi langkah-langkah merakit sampai keringatnya bercucuran. Lucy nampak kagum, karena akhirnya ada hal yang tidak bisa Kylian selesaikan dengan mudah. Hal itu menandakan bahwa suami yang dia nikahi masihlah seorang manusia biasa.
Akhirnya selesai juga Kylian merakit ranjang bayi untuk Kacang. Kylian kemudian duduk di pinggir ranjang dan mengulurkan kedua tangannya ke arah Lucy. Lucy yang masih berdiri menyambut uluran tangan itu dan menyeka keringat di dahi Kylian sambil tersenyum manis.
“Kira-kira kapan Kacang akan mulai tinggal di kamar ini?” tanya Kylian.
“Mungkin sekitar bulan Oktober.”
“Lalu kapan hari ulang tahunmu?
“Tanggal 4 April.”
Kylian melongo karena 4 April itu lusa. Perbincangan mengenai tanggal lahir Lucy masih berlanjut bahkan ketika lampu kamar sudah dimatikan dan mereka siap tidur. Kylian berbaring di atas ranjang dengan posisi miring menghadap Lucy.
“Bagaimana biasanya kamu merayakan ulang tahun?” tanya Kylian.
“Bekerja.” jawab Lucy.
Kylian terkejut. Karena bekerja bukanlah cara merayakan ulang tahun baginya.
“Apa yang ingin kamu lakukan di hari ulang tahunmu nanti? Katakan saja padaku. Aku akan memberikannya. Jika kamu mau aku bahkan akan memetik bintang di langit untukmu.”
“Aku hanya ingin kita merayakannya bersama. Seperti ulang tahun Ethan di vila kemarin.”
“Kamu mau merayakannya di vila?”
Lucy mengangguk.
“Akan aku persiapkan.”
Tiba di hari ulang tahun Lucy, Kylian memboyong Lucy dan anak-anaknya ke vila miliknya. Anak-anak sangat bahagia mengetahui akan merayakan ulang tahun ibunya di vila. Mereka bahkan menghadiahi Lucy bantal hamil agar Lucy lebih nyaman ketika tidur. Lucy pun senang mendapatkan hadiah, merayakannya bersama, ada yang menyanyikan lagu ulang tahun, meniup lilin, dan memotong kue di hari ulang tahunnya.
Sama seperti Kylian dan anak-anaknya yang terasa hidup dan menjadi lebih bahagia dengan adanya kehadiran Lucy, Lucy pun juga demikian. Dia bahagia bisa menjadi bagian dari keluarga Kylian.
“Mama, apa permohonan mama sebelum meniup lilin?” tanya Valerie.
“Hm.. rahasia.” jawab Lucy.
“Aaa... aku jadi penasaran!” sahut Evan.
Bersambung...
__ADS_1