Menikahi Tuan Duda!

Menikahi Tuan Duda!
37


__ADS_3

“Yaampun.. sudah diperiksa ke rumah sakit? Apa lukanya parah?”


“Kenapa kak Katherine begitu khawatir denganku?” Lucy bertanya-tanya di dalam hatinya.


“Sudah, kok. Lukanya tidak parah. Kakak tidak perlu khawatir. Eh, ya, aku lihat wajah kakak sangat ceria. Ada apa, kak?”


“Kakak memiliki kabar baik.”


“Apa tuh, kak?”


“Ayahmu akan ikut kita ke Perancis!”


Mata Lucy membesar. “Ayah akan ke Perancis?”


“Iya!”


“Kak, tapi aku ingin memberitahu kakak kalau aku tidak jadi pergi ke Perancis.”


“Hah? Kenapa tiba-tiba kamu membatalkan niatmu, Lucy?”


“Maaf, kak. Sepertinya aku tidak bisa pergi ke Perancis.”


Katherine dapat mengetahui kalau Lucy tidak siap untuk meninggalkan anak-anak dan Kylian.


“Apa karena kamu belum siap untuk meninggalkan anak-anak?”


Lucy sempat terdiam sebelum akhirnya dia melanjutkan. “Maaf, kak. Aku memutuskan ingin ke Perancis tidak berpikir dengan matang sebelumnya.”


Sepulang sekolah, anak-anak Kylian ketiganya berencana ingin datang mengunjungi Lucy yang sedang cuti sakit di rumahnya. Karena mereka merasa tidak enak hati, bagaimanapun juga Lucy terluka karena menolong mereka. Mereka datang dengan membawakan bunga dan buah-buahan. Lucy terkejut saat melihat kedatangan anak-anak yang hanya bertiga saja tanpa didampingi orang dewasa.


Namun dia juga terharu melihat usaha anak-anak yang sebegitu tulusnya menjenguk dirinya. Mereka malah senang menghabiskan waktu di rumah Lucy. Mereka juga menikmati masakan yang dibuat oleh Lucy di wadah besar. Mereka makan menyendok bersama dari wadah besar.


Anak-anak rupanya senang berada di rumah Lucy sampai tidak sadar kalau langit sudah gelap. Mereka bermain bersama Lucy dan kakaknya Lucio hingga malam. Keluarga Harry menerima kedatangan anak-anak dengan hati yang terbuka. Karena sudah malam, Lucy ingin mengantar anak-anak ke kediaman Kylian.


Saat anak-anak mau diantar pulang oleh Lucy, Kylian ternyata sudah tiba di depan rumah Harry yang datang untuk menjemput mereka. Tetapi anak-anak tiba-tiba ingin pergi dulu membeli jajan bersama Lucy. Kylian memperhatikan Lucy dengan kaku dan merasa bersalah, karena Lucy terlihat lemas dan kurang bersemangat.


Lucy pun menuruti anak-anak dan pergi mencari jajanan yang ada di depan gang rumahnya. Kylian mengikuti mereka dari belakang. Anak-anak tampak sangat senang saat menjelajah jajanan bersama Lucy.


“Anak-anak, sudah malam, mama juga butuh istirahat. Ayo, pulang.” ucap Kylian.


Anak-anak pun menurut dan pulang bersama papanya meski sedih karena Lucy tidak ikut pulang bersama mereka.

__ADS_1


“Terima kasih untuk hari ini, ma!” ucap Ethan.


“Cepat sembuh, ya, ma.” tambah Valerie.


“Cepat kembali ke rumah, ya, ma! Aku tunggu.” tambah Evan.


Lucy tersenyum mengangguk. “Hati-hati, ya.”


Dalam perjalanan pulang, Valerie heran karena Lucy terlihat begitu lemas dan kehilangan semangat. Kylian juga tampaknya merasa bersalah dan prihatin pada Lucy.


“Apa luka mama begitu sakit hingga merenggut keceriaannya?” Valerie bertanya-tanya.


“Pa, haruskah kita membawa mama ke rumah sakit di sini yang lebih besar?” Valerie bertanya pada Kylian yang sedang mengemudi.


Jujur Kylian juga bertanya-tanya mengenai Lucy yang terlihat lemas dan tidak bersemangat. Apakah ada hubungannya dengan kondisi luka yang dialami Lucy.


Kemudian dia teringat dengan perkataan Lucy yang mengatakan lukanya sangat sakit sehingga dia bersyukur anak-anaknya tidak terluka. Dari situlah dia menyimpulkan kalau Lucy terlihat lemas dan tidak semangat karena sakit di tangannya.


Sesampainya di rumah, Kylian mengirimkan pesan kepada Lucy menanyakan kabar lukanya.


Kylian.


Lucy.


Tidak, kok. Terima kasih sudah menanyakannya.


Kylian.


Kamu yakin? Anak-anak mengkhawatirkanmu. Bagaimana kalau besok kita ke rumah sakit yang di sini?


Kylian menggunakan “anak-anak” padahal faktanya dia yang khawatir pada Lucy.


Lucy.


Tidak, tidak. Tidak apa-apa, kok. Katakan pada anak-anak aku akan segera membaik.


Kylian.


Bagaimana kalau menemui dokter keluargaku?


Kylian masih tidak menyerah.

__ADS_1


Lucy.


Tidak. Tidak perlu khawatir.


Kylian bermaksud membalas lagi dan berniat memberitahu kalau Selly ternyata berbohong dan dia telah membatalkn pertunangan. Namun niat itu diurungkannya. Dia menghapusnya yang sudah dia ketik itu.


“Lucy berhak menjalani kehidupan yang lebih layak dan harus jauh dariku.” ucap Kylian.


-


Yuni merasa harus berterima kasih kepada Katherine karena sudah merekrut suaminya bekerja di Perancis nanti. Dia membuat masakan lauk yang super banyak dan mengantarkannya ke apartemen Katherine. Katherine mempersilakan Yuni masuk dan menaruh makanan ke kulkas. Saat itu Katherine sedang sibuk bertelepon dengan rekan kerjanya. Yuni bahkan sampai membantu merapikan perabotan Katherine di ruang tengahnya.


Lalu tidak sengaja dia melihat album foto yang isinya adalah foto-foto bayi di meja.


“Seperti foto Lucy ketika masih bayi..” kata Yuni.


Begitu melihat Yuni membuka album foto miliknya, Katherine langsung merebut albumnya.


“Ah, maaf.. saya tidak sengaja melihatnya ketika merapikan—”


“Saya hargai niat baik anda tapi tidak ada yang memintamu untuk merapikan barang-barangku.” ucap Katherine ketus.


“Maaf...” Yuni pun kembali pulang ke rumah.


Sampai di rumah, dia masih penasaran dengan foto bayi yang dilihatnya tadi. Dia lalu mencari kembali album foto Lucy untuk melihat foto Lucy ketika masih bayi. Dan ternyata foto Lucy ketika masih bayi sangat mirip dengan foto bayi yang dia lihat di album milik Katherine tadi.


Saat Harry pulang bekerja, Yuni menceritakan kebetulan yang dia lihat pada suaminya. Dia melihat foto di apartemen Katherine yang mirip foto Lucy ketika masih bayi.


“Aku datang ke apartemen bu Katherine untuk membawakan makanan karena ingin berterimakasih padanya yang telah merekrutmu ke Perancis. Aku juga membantunya merapikan sofa, dan kamu tahu apa yang aku lihat di sana? Di sana ada album foto yang berisi foto-foto bayi. Dan foto bayi itu sangat mirip seperti Lucy ketika masih bayi. Bukan mirip lagi, tapi sama persis!”


“Tidak mungkin, kamu pasti hanya mengada-ada.” ucap Harry.


“Sungguh! Aku tidak salah melihat. Aku benar-benar melihat foto bayi seperti Lucy ketika masih kecil di albumnya. Aku yang merawat Lucy dari masih bayi, jadi aku hafal sekali bagaimana wajah Lucy.”


“Bayi itu memang mirip semua wajahnya.” ucap Harry lalu masuk ke kamar.


Dia kembali teringat akan luka di hatinya saat ditinggalkan Sapphira, ibu kandung Lucy. Dia kemudian sadar bahwa istrinya lah selama ini yang berjasa di dalam hidup Lucy dan dirinya. Harry segera pergi menemui Katherine dan berkata tidak akan ikut ke Perancis. Dia akan fokus pada keluarganya saja.


Katherine kecewa. Putrinya sudah menolak untuk ke Perancis, dan sekarang ayah dari putrinya juga melakukan hal yang sama.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2