
Setelah makan, Lucy kembali minta dibopong lagi ke tempat tidur. Kali ini Kylian mencoba mengerjai Lucy.
“Ular!” teriak Kylian.
Lucy pun melompat ketakutan.
Langsung terbukti kaki Lucy baik-baik saja.
“Apa-apaan ini, Lucy? Jadi selama ini kamu hanya berpura-pura?” tanya Kylian.
“Memangnya hanya kamu saja yang bisa berpura-pura?”
Kylian menarik napas panjang.
“Kamu pikir aku tidak memiliki pekerjaan di kantor? Aku sebenarnya sangat sibuk tapi-“
“Tapi apa?”
“Tidak jadi. Istirahatlah.” Kylian hendak pergi.
Lucy segera turun dari ranjang dan memeluk Kylian dari belakang untuk menghentikannya.
“Aku tahu kamu mengkhawatirkanku, ‘kan? Aku juga tahu kamu selama ini menyembunyikan fakta kalau sebenarnya Selly tidak mengandung anakmu dariku. Aku sudah tahu semuanya. Kamu tidak bisa berbohong lagi.”
“Aku tidak ingin menghalangimu.”
“Kamu tidak menghalangiku. Aku membuat semua keputusanku sendiri. Kamu tahu, kemarin saat aku mengatakan padamu kalau aku tidak bisa kembali bersamamu, itu bukan karena aku sudah tidak mencintaimu. Aku hanya memikirkan Selly dan anak yang sedang dikandungnya.”
“Lalu, apa kamu mencintaiku?”
Lucy mengangguk.
Kylian memeluk Lucy dengan erat. Juga dia mengusap rambut Lucy. Semuanya hanya karena salah paham saja.
Kylian dan Lucy kembali pulang ke rumah bersama. Orang rumah sangat senang karena Lucy telah pulang dari rumah sakit.
“Anak-anak, sekarang tugas bertambah satu. Yaitu menjaga mama. Mengerti?”
“Mengerti, pa! Ma, ayo naik sama aku.” Anak-anak membantu Lucy naik ke kamarnya padahal kaki Lucy sudah tidak begitu sakit.
“Terima kasih, ya, anak-anak. Kalian bisa kembali ke kamar kalian dan tidur,” ucap Lucy.
“Ma, nanti kalau butuh sesuatu bilang aku saja, ya,” ucap Ethan.
“Iya, ma. Panggil aku saja,” sahut Valerie.
“Aku juga, aku juga!” kata Evan.
“Iyaaaa… sekarang kalian bisa kembali ke kamar kalian,” ucap Lucy.
“Selamat malam, mama,” Evan mengecup pipi Lucy.
“Cepat sembuh, mama,” Ethan juga mengecup pipi Lucy.
Lucy terharu dengan sikap manis anak-anaknya. Dia semakin yakin kalau keputusannya batal ke Perancis adalah keputusan terbaik dan dia tidak akan menyesalinya.
Tidak lama setelah anak-anak keluar dari kamar Lucy, Kylian datang ke kamar Lucy.
“Anak-anak sudah di kamarnya?” tanya Kylian.
“Sudah.”
“Aku mengantarkan salep ini untukmu. Jangan lupa dipakai, ya,” ucap Kylian.
“Iya, taruh saja di meja.”
“Tidak, deh. Aku takut kamu tidak memakainya.” Kylian lalu duduk di pinggir ranjang dan membuka selimut Lucy. Dia kemudian mengolesi salep itu di kaki Lucy dan memberi pijatan-pijatan lembut di kaki Lucy.
“Masih sakit sekali?” tanya Kylian.
“Tidak begitu.”
“Aku ragu kalau kakimu beneran sakit.”
“Sakit beneran, tahu! Tapi tidak perlu sampai dirawat di rumah sakit. Kamunya saja yang berlebihan.”
“Memangnya salah kalau aku khawatir? Aku ‘kan cinta, makanya aku khawatir.”
“Kylian, bagaimana kalau kita mengajak anak-anak jalan-jalan ke luar besok? Bagaimana kalau kita ke galeri seni? Melihat pameran?”
“Kamu yakin itu alasanmu? Bukan untuk berkencan denganku?”
Lucy mencubit lengan Kylian.
“Awww!” Kylian merintih kesakitan.
“Kamu yakin kakimu sudah tidak apa-apa?” tanya Kylian.
“Kakiku sudah diolesi salep setiap malam olehmu. Kakiku sudah sembuh.”
“Pasti karena kamu masih muda. Kamu cepat sembuhnya.”
“Kita tidak bisa berkencan kalau aku tetap sakit. Anak-anak pasti akan senang pergi ke galeri. Mereka ingin pergi.”
“Baiklah. Kita akan pergi ke galeri dan makan bersama. Lalu bermain permainan yang disukai anak-anak.”
“Ide bagus. Kalau begitu, selamat malam.”
“Selamat malam.”
“Kylian, semoga kamu memimpikan aku malam ini.”
“Lucy, astaga. Aku tidak bisa mengendalikan siapa yang akan muncul di mimpiku.”
“Astaga. Kylian, kamu bisa bilang saja ‘ya’ daripada mengkritik seperti itu. Kamu sungguh pria yang sulit dipahami. Baiklah. Lupakan saja perkataanku. Apa sulit sekali mengatakan ‘mimpikan aku juga’? Kamu tidak perlu mempermalukanku seperti itu? Lupakan saja. Aku juga tidak akan pernah mengatakan itu lagi padamu. Aku harap tidurmu nyenyak tanpa bermimpi sama sekali.” Lucy lalu tidur menutup selimut sampai ke kepalanya.
“Eh? Lucy? Lucy?” Kylian berusaha membangunkan Lucy, Namun Lucy tidak bergerak. Dia memejamkan matanya.
Kylian pun keluar dari kamar Lucy dan mematikan lampu di kamarnya.
“Apa dia benar-benar marah karena hal sekecil itu? Astaga. Baiklah, aku lebih tua dan dewasa darinya. Aku harus lebih pengertian.” Kylian kembali ke kamarnya.
Sesampainya di kamar, Kylian langsung mempraktekkannya di depan cermin.
“Lucy, selamat malam. Mimpikan aku. Sampai jumpa di mimpiku. Ah, aku tidak bisa melakukan ini. Ini mustahil. Norak sekali.”
Keesokan harinya, Kylian mengajak Jeremy bertemu.
“Jer, kamu dimana? Aku ingin bertemu denganmu. Ada urusan mendesak yang ingin aku bicarakan denganmu.”
Kylian dan Jeremy akhirnya bertemu. “Apa yang ingin kamu katakan?”
Kylian menceritakan masalah mimpinya ke Jeremy.
“Urusan mendesak?”
“Iya. Ini adalah urusan yang mendesak bagiku. Aku harus mengatakan hal seperti ‘mimpikan aku malam ini’.”
“Terima dan lakukan saja.”
__ADS_1
Lucy menjemput Evan ke sekolahnya. Evan selalu berlari dan menghampiri ketika melihat Lucy.
“Ma, apa benar kita akan ke galeri seni?”
“Hmm… benar tidak, ya? Benar!”
“Yeyyyy!!!! Apakah boleh setelah itu kita makan pizza dan bermain bombomcar?”
“Tentu saja!”
“Yeyy!”
“Kalau begitu, kita harus cepat. Kakak dan papamu sudah menunggu. Bagaimana kalau kamu naik ke pundak mama!”
“Setuju!”
Lucy menggendong Evan dari belakang.
“Tuan muda Evan, bagaimana rasanya?”
“Aku senang sekali. Aku merasa seperti sedang terbang di langit yang tinggi!”
“Hahaahaaha…”
Selly melihat Lucy dan Evan dari kejauhan.
“Apa yang telah dilakukan Lucy pada Evan? Dia menggedong Evan? Apa hak dia menggendong Evan?” Selly kesal.
Mereka pergi ke galeri seni bersama.
“Wah! Bagus sekali!” ucap Ethan.
“Aku suka yang itu!” sahut Valerie.
Mereka pun berpencar untuk melihat seni yang lain. Sementara Lucy mengikuti Evan untuk menjaganya. Kylian pun juga mengikutinya. Saat Evan dan Lucy melihat sebuah lukisan, Kylian mencuri pandang terhadap Lucy dan tersenyum. Begitu Lucy menyadarinya, Lucy langsung membuang mukanya ke arah lain. Raut wajah Kylian berubah menjadi bingung.
Kylian mendekati Lucy ke sampingnya. Lalu menoel-noel Lucy. Lucy pun menghindar.
“Anak-anak, ayo lihat ke sebelah sana!” ucap Lucy.
“Ayo!”
Lucy dan anak-anak pun berjalan ke arah lain meninggalkan Kylian.
“Apakah dia masih marah dengan kejadian tadi malam? Dia membuatku seperti laki-laki yang sedang frustasi yang membujuk pacarnya saat marah,” ucap Kylian.
Anak-anak bersenang-senang dan mengambil foto bersama. Kemudian Kylian mengirimi Lucy sebuah pesan.
Kylian.
Lucy, aku di lobi. Temui aku sekarang. Katakan pada anak-anak kamu pergi ke toilet sebentar.
“Dia memintaku berbohong pada anak-anak? Huh… Valerie, bisakah kamu menjaga Ethan dan Evan sebentar? Mama mau ke toilet sebentar.”
“Oke, ma. Jangan khawatir. Oh, ya, dimana papa?”
“Papa juga di toilet. Dia meminta mama bertemu di sana.”
“Baiklah,” jawab Ethan.
“Baiklah. Kita akan menunggu di sini,” jawab Valerie.
Lucy pun pergi menemui Kylian.
“Ada apa? Apa yang ingin kamu katakan?” tanya Lucy tanpa menghadap ke Kylian dan tangannya dilipat di depan dada.
“Lucy, kenapa sikapmu sangat dingin padaku? Kamu harus memberitahu apa kesalahanku supaya aku bisa emperbaiki. Apa kamu masih marah dengan kejadian tadi malam?”
“Apa?”
“Kamu adalah pacarku dan kamu bilang kamu mencintaiku, apakah begitu sulit mengatakan ‘mimpikan aku juga’?”
“Soal itu… aku masih berusaha. Aku tidak terbiasa mengatakan itu. Maafkan aku. Jangan marah lagi, ya? Bukankah kamu bilang kita akan berkencan?”
Lucy akhirnya luluh.
Kylian, Lucy, dan anak-anak kembali berjalan-jalan ke tempat eduwisata. Supaya mereka bisa berwisata sambil menambah pengetahuan.
“Wah, besar sekali!”
“Lihat itu! Luar biasa.”
“Papa, tidakkah itu sangat luar biasa?”
“Iya. Terlihat sangat bagus.”
“Benar. Keren sekali.”
Valerie sempat heran karena ayah kemarin mengajak mereka ke galeri seni, sekarang ke akuarium wisata.
“Papa. Ada apa dengan papa? Kemarin papa mengajak kita ke galeri seni, dan sekarang ke akuarium wisata. Dulu saat kita ingin bermain dengan papa, papa selalu bilang sibuk. Apa ada alasan lain?”
“Ah… sebenarnya, papa merasa tidak menghabiskan banyak waktu dengan kalian. Jadi, papa berusaha untuk lebih sering menghabiskan waktu bersama kalian. Kamu tidak menyukainya, Valerie?”
“Tidak. Kenapa aku tidak suka? Aku bilang begitu karena menyukai ini. Jadi, papa berjanji?”
“Iya. Papa berjanji.”
“Hore!”
“Hore!”
“Papa, ada dua jalan di sini,” ucap Evan.
“Aku akan berjalan ke sini,” sahut Valerie sambil menunjuk ke arah kiri.
Ethan berjalan mengikuti Valerie. Kemudian Ethan menyadari Evan masih bersama Kylian dan Lucy. Dia pun berbalik.
“Evan, ayo ikut kak Val saja. Kakak perempuan kita sangat pemberani,” ucap Ethan.
“Oke!”
“Papa dan mama kalian berdua harus ke sini,” Ethan menunjuk jalan arah kanan. “Ayo, Evan,” Ethan membawa Evan pergi bersamanya.
“Wah, lihat itu!”
“Aku menyukainya!”
“Ethan anak yang pengertian sekali,” ucap Kylian pada Lucy.
Mereka pun berjalan ke arah kanan, jalan yang berbeda dengan anak-anak. Kylian menggenggam tangan Lucy. Lucy terkejut.
“Kenapa kamu terkejut? Bukankah kita boleh bergandengan sekarang?”
“Aku tidak pernah bilang tidak boleh.”
Mereka pun terus berjalan. Lucy lalu senang melihat-lihat akuarium besar yang ada di sana. Lalu di tempat yang sepi dan indah itu mereka berdekatan saling memandang. Kylian pun ingin mencium Lucy. Saat mereka hampir berciuman, mereka mendengar suara Evan dari kejauhan mencari mereka.
“Papa! Mama! Papa! Mama!”
__ADS_1
Lucy tersentak dan langsung mendorong Kylian jauh-jauh. Dorongannya begitu kuat sampai Kylian terdorong jauh dan jatuh.
“Iya? Valerie, Ethan, Evan, mama datang. Kylian, maaf.” Lucy segera pergi menghampiri anak-anak.
“Astaga! Ini sangat indah.”
“Ini seperti pohon emas?”
“Bukankah itu seperti emas asli?”
“Memang terlihat nyata.”
Valerie melihat ayahnya lunglai.
"Ayah, ada apa? Ayah terlihat tidak senang."
“Apa maksudmu? Papa tidak apa-apa. Papa bersenang-senang dengan kalian.”
“Kurasa tidak. Aku yakin ada hal buruk terjadi ke papa.”
Oh, itu bukan sesuatu yang buruk. Tadi ada seseorang yang mendorong papa dengan keras sampai papa terjatuh. Jadi, papa sedikit terkejut," jawab Kylian menyindir Lucy.
“Siapa? Siapa yang mendorong papa? Papa membiarkannya begitu saja?” tanya Valerie.
“Tadi di sana agak gelap, jadi, orang itu kabur begitu saja.”
“Kasar sekali. Ada apa dengan orang itu?”
“Benar, kasar, ‘kan?”
“Iya.”
Lucy merasa tersindir.
Malam hari rupanya Kylian masih kesal. Menurutnya, Lucy seharusnya setidaknya menghubunginya setelah mendorongnya hingga jatuh.
“Wah… Lucy sangat kejam. Jika dia sudah mendorongku seperti itu, setidaknya dia harus menghubungiku dan menanyakan keadaanku.”
Dan tak lama kemudian Lucy meneleponnya. Kylian menjawab dengan nada suara yang kesal.
“Apa maumu?”
"Ah, dari suaranya tampaknya kamu masih marah. Kamu marah kita tidak bisa berciuman karena aku mendorongmu tadi?”
“Tidak. Dengar, Lucy. Itukah yang kamu pikrikan tentangku? Bukan karena itu. Aku jatuh karena kamu mendorongku, tulang ekorku hampir patah.”
“Maafkan aku.”
“Aku sebenarnya terkejut saat mendengar anak-anak. Aku takut ketahuan anak-anak.”
“Baiklah. Itu situasi mendesak. Jadi, aku paham. Akan kubiarkan.”
Lucy mengajak Kylian keluar membeli roti kukus sebagai permintaan maafnya. Mengetahui Lucy ingin makan roti kukus, Kylian menawarkan diri dia saja yang membelinya ke mini market.
Kylian ke mini market. Dia berniat membeli 5 untuk mereka berdua dan anak-anak mungkin, tetapi tinggal tersisa 1. Begitu membelinya, dia menaruhnya di balik mantelnya agar roti kukusnya tetap hangat.
Kylian tiba di rumah, langsung diam-diam ke lantai dua dan mengetuk kamar Lucy. Dia tampak terengah-engah. Hanya ada 1 tentu itu untuk Lucy. Lucy heran begitu cepat Kylian sudah kembali. Kylian ternyata berlari kencang agar roti kukusnya tetap hangat. Dan memang masih hangat.
“Enak sekali, mungkin karena kamu yang membawakan untukku sampai berlari dengan cepat.”
Lucy pun membagi dua roti kukusnya dan memberikan separuh untuk Kylian. Berduaan di kamar membuat Kylian kembali ingin mencium Lucy. Tiba-tiba pintu kamar Lucy diketuk dari luar. Valerie ingin masuk. Mereka langsung panik.
“Ma. Boleh aku masuk?”
Mereka berdua terkejut.
“Tunggu sebentar, Valerie! Mama sedang berganti baju! Tunggu sebentar!”
Kylian dipaksa bersembunyi menunduk.
“Sembunyi di bawah ranjang,” ucap Lucy.
“Di bawah sana?”
“Iya.”
“Aku?”
“Cepat!”
Lucy membukakan pintunya.
“Aku mau tidur tapi kukuku kasar. Tapi, aku tidak menemukan gunting kuku. Boleh aku pinjam punya mama?”
“Oh, boleh.” Lucy memberikannya.
“Ngomong-ngomong, ma. Aku mencium aroma roti kukus.:
“Roti kukus? Aku tidak mencium apapun.”
“Apa aku salah? Ma, gunting kukunya akan aku kembalikan nanti.”
“Tidak usah. Mama masih memilikinya satu lagi. Kamu simpan saja.”
“Terima kasih, ma. Selamat malam.”
Begitu Valerie pergi, Kylian keluar dari persembunyiannya. Kemudian dia pergi ke bawah mengendap-ngendap. Ia turun dengan berusaha tanpa bunyi. Begitu turun tangga kembali Kylian terkejut karena disapa Bibi Yola.
“Pimpinan, apa ada masalah di atas?” tanya Bi Yola.
Kylian terkejut hingga tubuhnya bergetar. “Tidak ada. Saya ke atas hanya memastikan apakah Evan sudah tertidur atau belum. Kalau begitu, selamat malam,” ucap Kylian lalu masuk ke kamarnya.
“Aneh. Tadi aku melihat Pimpinan berjalan dengan mengendap-ngendap. Padahal ini kan rumahnya sendiri,” Bibi Yola heran dengan perilaku Kylian yang mengendap-ngendap di rumah sendiri.
Keesokan harinya, Kylian mengajak Lucy makan siang bersama di hotel mewah dengan view yang indah menghadap ke lautan.
“Ada apa ini? Hari ini bahkan bukan hari ulang tahunku,” ucap Lucy.
Kylian tersenyum. “Memangnya kita hanya boleh ke sini di hari ulang tahunmu saja?”
“Jangan bilang… kamu berulang tahun hari ini?” tanya Lucy.
Kylian terdiam.
“Sepertinya itu benar.”
Kylian masih terdiam.
“Jadi, itu benar? Kenapa kamu tidak bilang? Aku belum menyiapkan hadiah apapun untukmu,”
“Karena aku ingin meminta untuk hadiahku sendiri.”
“Katakan, apa maumu. Akan aku berikan.”
“Janji?”
“Iya, janji.”
“Alih-alih menjadi guru asuh dengan kontrak yang akan habis dalam waktu kurang dari 2 bulan lagi, aku ingin kamu tinggal selamanya di sisiku.” Kylian mengeluarkan sebuah kotak berbentuk segi empat. Kylian memberikan cincin berdetail indah kepada Lucy. Tanda ia ingin secara memulai kembali dengan Lucy.
__ADS_1
Bersambung...