
“Alih-alih menjadi guru asuh dengan kontrak yang akan habis dalam waktu kurang dari 2 bulan lagi, aku ingin kamu tinggal selamanya di sisiku.” Kylian mengeluarkan sebuah kotak berbentuk segi empat. Kylian memberikan cincin berdetail indah kepada Lucy. Tanda ia ingin secara memulai kembali dengan Lucy.
“Sebenarnya, aku ini orang yang pengecut,” ucap Kylian.
“Kenapa? Kamu bukan orang yang pengecut. Kamu sangat berani dan jantan,” balas Lucy.
“Lucy, kamu tidak tahu. Semakin aku mencintaimu, semakin aku bersandar padamu, semakin juga aku takut padamu. Ibuku meninggal saat aku masih sekolah. Dia dibawa ke rumah duka tapi aku tidak sempat berpamitan dengannya. Ibuku sakit parah, tapi aku tidak pernah tahu bagaimana kematiannya. Tanpa aba-aba, dia meninggalkanku,”
“Kylian…”
“Istriku sangat menyayangi anak-anak, dia berusaha keras untuk bertahan hidup demi aku dan anak-anak. Aku berdoa agar istriku tidak meninggalkan kita semua,”
“Kylian…”
“Lucy, cinta itu menyakitkan dan sia-sia. Itu sebabnya aku takut,”
“Cinta itu indah. Lihat, aku sekarang di sini bersamamu, ‘kan?” Lucy menggenggam tangan Kylian.
“Kamu yakin hanya itu saja yang kamu inginkan untuk hadiah ulang tahunmu? Aku akan memberikannya. Kita akan terus bersama-sama dalam waktu yang lama. Aku janji,” ucap Lucy kemudian.
“Lalu, kamu hanya akan memberikan ini padaku? Tidak memakaikannya?” tanya Lucy meledek.
Kylian memakaikan cincin di kotak ke jari manis Lucy. Lucy bahagia dan menyukai pemberian cincin itu.
“Aku telah memikirkan. Aku ingin kita menjadi pasangan resmi. Bagaimana menurutmu? Apa terlalu cepat untuk memberitahu semua orang?”
“Aku setuju,”
Selesai makan, Kylian dan Lucy berjalan-jalan. Kylian mengatakan besok akan mengadakan pesta sederhana untuk merayakan ulang tahun Evan di vila. Dan pada saat itu, dia akan mengatakan pada anak-anak mengenai hubungan mereka.
“Anak-anak pasti senang,” ucap Kylian.
Sementara Kylian tidak dihiraukan oleh Lucy. Lucy terus fokus melihat cincinnya yang melingkar di jari manisnya.
“Ah, cantiknya,”
“Kamu sesuka itu?”
“Iya. Aku sangat menyukainya.”
“Kalau tahu itu akan membuatmu sangat bahagia, seharusnya aku membelikanmu lebih awal. Mau aku belikan satu lagi? Aku bisa memberikan cincin untuk sepuluh jarimu,”
“Baiklah, aku akan menantikannya, Pimpinan,”
“Jadi, kita bisa berjalan berpegangan tangan sekarang?”
"Mari kita berpegangan tangan sampai lelah," Kylian tersenyum melihat pacarnya gembira.
Kylian mengayun-ayunkan tangan mereka yang sedang bergenggaman.
“Kylian, jangan seperti ini. Nanti semua orang akan melihat kita,” ucap Lucy.
“Biarkan saja. Memang itu yang ingin aku lakukan setiap hari. Sekaligus aku ingin memberitahu kepada semua orang kalau HARI INI KITA TELAH MENJADI PASANGAN RESMI!!!” Lucy langsung menutup mulut Kylian.
“Kylian, orang-orang melihati kita,”
“Hari ini hari pertama kita sebagai pasangan resmi!” Kylian kembali berteriak dan berjalan meninggalkan Lucy.
“Semuanya, wanita di sana adalah pacarku! Pacarku, cepat kesini!”
Aku tidak menyangka Kylian memiliki sisi yang kekanak-kanakkan. batin Lucy.
“Baiklah, pacarmu datang. Kylian, kita harus membelikan hadiah untuk Evan,”
“Ok, ayo kita pergi ke toko buku,”
“Kok toko buku? Kamu ingin menghadiahi Evan dengan buku?’
“Lalu, kamu ingin menghadiahi apa untuk Evan? Mainan?”
“Tidak. Aku ingin menghadiahinya baju. Badannya sudah bertambah besar seiring bertambahnya usia. Baju-bajunya di lemari sebentar lagi akan kekecilan untuknya,”
“Lihat? Ini sebabnya aku dan anak-anak semakin sulit lepas darimu karena kamu selalu memperhatikan kita sampai ke hal yang mendetail,”
Keesokan harinya, mereka berlima pergi ke vila untuk merayakan ulang tahun Evan. Selly datang ke kediaman Kylian untuk mengunjungi Evan, tetapi dia diberitahu Bi Yola bahwa Kylian dan anak-anak pergi berlibur.
“Selly, sedang apa kamu di sini?” tanya bi Yola saat keluar dari rumah.
“Halo, bi Yola. Aku sedang di sekitar sini dan aku ingat hari ini adalah ulang tahun Evan. Bibi kan tahu aku selalu ingat ulang tahun ana-anak. Jadi, aku membelikan hadiah untuk Evan. Apa Evan sudah pulang sekolah?”
“Begitu rupanya. Sayang sekali… Evan ada di vila dengan Pimpinan, Lucy, dan anak-anak,”
“Di vila bersama Pimpinan dan Lucy?”
Anak-anak, Lucy, dan Kylian asyik berlibur bermain seluncur es dan salju. Selesai bermain, Kylian pun mencari kesempatan untuk menggenggam tangan Lucy. Ethan pun memergoki mereka. Mereka lalu berbicara dengan anak-anak.
Ethan protes pada ayahnya mengapa dia tidak diberi tahu jika papa dan mamanya sudah kembali bersama. Ethan merasa dia telah susah-susah menjodohkan papa dan mamanya. Anak-anak yang lain juga merasakan hal yang sama, namun mereka semua senang kalau papa dan mamanya telah kembali bersama.
“Jadi, sekarang kita telah menjadi keluarga yang utuh kembali?” tanya Valerie.
“Apa papa dan mama akan menikah lagi?” tanya Ethan.
“Papa dan mama akan membahasnya lagi soal itu,” jawab Kylian.
“Pokoknya, aku senang kalau kalian kembali bersama. Aku tidak ingin kalian berpisah lagi,” ucap Valerie.
“Jangan sampai berpisah lagi, ya, papa, mama,” ucap Evan.
Selly nekad diam-diam datang ke villa. Dia heran hanya Lucy yang ikut, Bibi Yola tidak. Sesampainya di vila, Selly melihat vila tampak kosong dan gelap. Tidak ada tanda-tanda kehidupan.
“Mereka ke vila, tapi kenapa lampunya mati? Apa mereka ke tempat lain?”
“Menyenangkan!”
“Sangat menyenangkan,”
“Aku sangat bahagia, terima kasih, mama, papa,” seru anak-anak.
Melihat kedatangan anak-anak bersama Kylian dan Lucy, Selly segera mencari tempat untuk bersembunyi.
“Papa, aku lapar,”
“Aku juga,”
“Papa, apa menu makan malam kita?”
“Tunggu sebentar. Papa akan menyiapkannya untuk kalian,”
“Memangnya papa bisa memasak?” tanya Valerie.
“Kamu meremehkan papa? Coba sebutkan apa yang tidak bisa papa lakukan?” balas Kylian.
“Iya, deh, yang sudah berhasil menaklukan hati mama kembali,” Valerie meledek papanya.
“Apa katamu?”
“Ayo kejar aku kalau bisa, wle!”
“Kamu menantang papa, ya!”
“Adik-adik, bantu kakak!”
Ethan dan Evan pun berlari mengejar Kylian untuk menghentikannya. Mereka tidak berhenti bermain.
Selly tampak iri melihat kebersamaan mereka. “Bagaimana dia bisa mengajak Lucy tanpa Bi Yola?”
Kylian memasakkan makan malam mereka. Semua menyukainya.
“Makanlah semuanya. Kamu juga duduk saja, biar aku yang memasak,” ucap Kylian.
“Baiklah,” Lucy pun duduk di samping Evan.
“Aku senang kita makan berlima seperti ini. Aku merasa lengkap dan utuh,” ucap Evan.
“Mari kita bersulang untuk tetap bahagia dan sehat selalu,” ucap Valerie.
__ADS_1
“Bersulang!”
“Bersulang!”
“Anak-anak, bagaimana makanan yang papa masak?” tanya Kylian.
“Rasanya enak,”
“Luar biasa!”
“Papaku yang terbaik!”
“Rasanya lebih eank dari restoran,”
“Terima kasih, anak-anak.”
Selly lagi-lagi merasa iri dengan kebersamaan keluarga bahagia itu apalagi saat Evan menyuapi Kylian dan Kylian menyuapi Lucy.
Saat anak-anak sudah tidur, Kylian mengajak Lucy keluar untuk melihat bintang.
“Kamu tidak kedinginan?” tanya Kylian yang sambil menggosok kedua tangannya lalu menaruhnya di pipi Lucy.
“Berhenti menghangatkanku. Lihatlah bintang-bintang,”
“Cantik sekali,”
Dan Selly ternyata belum pulang. Dia cemburu melihat Kylian memeluk Lucy dengan mesra dan memberikan kehangatan di malam yang dingin sambil menyaksikan langit yang bertabur bintang.
“Jadi, dia memutus pertunangan untuk kembali bersama wanita itu? Dia jatuh cinta pada j*lang itu dan mencampakkanku.” Selly kembali pulang dengan mengendarai mobilnya. Di perjalanan, dia teringat kembali dengan momen saat pertama kali dia bertemu Kylian. Saat itu dia masih menjadi staf biasa di perusahaan Spencer Group yang sekarang dipegang oleh Kylian.
Selly ingat saat itu dia berpapasan dengan Kylian yang mau masuk ke gedung kantor, Kylian dengan tersenyum ramah membukakan pintu untuk Selly.
“Aku mencintai Pimpinan saat usiaku masih 24 tahun. Dia tidak pernah menganggapku serius dan mengusirku saat kami sudah bertunangan hanya agar dia bisa bersama wanita itu? Bagaimana bisa? Bagaimana!? Bagaimana ini bisa terjadi?”
Beberapa hari kemudian, Selly mendatangi kantor Kylian. Dia mengikuti Kylian sampai ke parkir.
“Pimpinan,”
“Selly, ada apa kamu ke sini?”
“Ada yang ingin saya bicarakan,”
“Kurasa tidak ada yang bisa kita bicarakan lagi,” Kylian lanjut berjalan.
“Pimpinan memutuskan pertunangan agar bisa kembali bersama Lucy?”
“Itu bukan urusanmu,”
“Saya menyukai Pimpinan sejak usiaku 24 tahun. Saya mengabdikan hidup saya untuk Pimpinan dan keluarga. Kenapa Pimpinan tega melakukan hal ini kepadaku?”
“Mengabdi? Yang saya tahu sebuah pengabdian tidak membutuhkan balasan. Selly, tidak ada yang ingin saya katakan padamu.” Kylian pergi meninggalkan Selly.
Katherine mendatangi restoran Harry. Harry segera membawa Katherine ke tempat sepi sebelum ada yang melihatnya.
“Untuk apa kamu datang ke sini?”
“Ada yang ingin aku katakan padamu. Bisa kita pergi ke kafe sebentar?”
“Untuk apa aku pergi ke kafe denganmu?”
“Aku hanya akan meminta sedikit waktumu.”
“Ada apa?”
“Semua sudah beres. Jadi, aku akan pergi ke Perancis minggu depan. Aku harus memberimu sesuatu sebelum pergi. Tolong terima ini,”
“APa itu?”
“Terima itu dan pakai untuk Lucy saat dia butuh bantusn. Saat dia ingin belajar lebih banyak atau menikah, kamu bisa menggunakan ini. Setidaknya aku ingin memberikan ini kepadanya,”
“APa?”
“Apa yang kamu rencanakan? Kamu pikir aku akan menerima ini? Kamu pikir aku masih susah dan mskin?”
“Kamu tidak ada lagi di dunia kami. Kamu sudah mati bagi kami. Pergilah.”
“Namun aku ibunya,”
“Ibu? Beraninya kamu berkata begitu? Pergilah sekarang juga,”
Harry pun pergi.
Keesokan harinya Kylian mengajak Katherine makan siang. Ini juga karena sebentar lagi Katherine akan kembali ke Perancis.
“Aku senang kita bisa makan bersama sebelum Kakak kembali Perancis,”
“Kakak juga. Semua sudah beres, tinggal menunggu hari fashion show tiba. Ada yang ingin kamu bicarakan, ‘kan?”
"Ah, iya. Kakak tahu kan, bahwa sejak kedua orang tuaku meninggal, aku sangat mengandalkan Kakak, seperti pengganti ibuku," kata Kylian.
“Aku tahu itu,”
“Itu sbebanya aku ingin mengenalkan orang yang istimewa di dalam hidupku,”
“Kylian, astaga. Kamu mengencani seseorang yang baru?”
“Ya,”
“Astaga, aku ikutan bahagia. Kalau tahu, aku akan berdandan,”
Kylian bermaksud memperkenalkan Lucy sebagai kekasihnya pada Kakaknya. Katherine begitu senang dan antusias mendengarnya. Dia juga grogi karena tidak bersiap-siap tak membawa apa-apa untuk kekasih Kylian. Kylian berkata bahwa dia sebentar lagi datang.
Lucy datang ke restoran. Kylian memberinya kode untuk mendekat. Begitu melihat yang datang adalah putrinya, raut wajah Katherine berubah.
“Lucy, ada apa ini? Kylian?"
“Iya, benar. Lucy dan aku kembali bersama.”
“Apa?” Katherine melihat sebuah cincin yang melingkar di jari manis Lucy.
“Lucy, duduklah,”
“Apa yang terjadi? Bagaimana kalian kembali bersama? Kalian pikir ini masuk akal? Kylian, ini tidak benar,”
“Kak, ada apa?”
“Maafkan aku. Ada hal mendesak yang harus kuurus. Aku harus pergi,”
Katherine syok melihat Lucy. Dia tak menyangka kekasih Kylian itu putrinya. Ia pun buru-buru pamit pergi.
"Ini salahku, ia mungkin terkejut, seharusnya aku memberi tahu Kakak lebih dahulu." ucap Kylian pada Lucy.
Lalu Katherine mengirim pesan untuk Kylian.
Katherine.
Kylian, antar Lucy pulang. Aku perlu bicara denganmu.
Kylian menemui Katherine di apartemennya. Kylian bertanya mengapa Kakak tidak memberinya selamat dan berkat seperti saat dia memperkenalkan ibunya anak-anak dahulu.
“Kak, sejujurnya aku bingung dengan reaksimu. Aku kira kakak akan memberi selamat seperti saat aku mengenalkan mendiang istriku padamu dulu. Kenapa kamu melakukan itu?”
“Lucy tidak seperti mendiang istrimu. Pikirkan perbedaan usia antara kamu dan Lucy. Usianya baru 27 tahun. Kamu ayah dari tiga anak.. Itulah alasannya,”
“Kak…”
“Kamu tahu aku peduli padamu. Aku mengatakan ini karena aku sudah menganggapmu seperti adikku. Jika orang tahu kalian berpacaran, mereka akan mengkritikmu. Kalian seperti kakak-adik. Kylian, ini tidak benar,”
“Kak, apakah salah kalau aku kembali bersama Lucy? Bahkan jika semua orang menghakimiku, aku pikir setidaknya kamu akan memihakku dan memahamiku. Itu sebabnya aku memberitahu hubunganku dan Lucy padamu. Aku tidak tahu kamu akan bereaksi seperti ini.”
“Kylian…”
“Seperti katamu, aku ayah dari tiga anak dan usia kita berbeda jauh. Butuh banyak berpikir bagiku untuk kembali bersama dengan Lucy. Tapi jika perasaan kami tidak sedalam ini, aku mungkin tidak berpikir untuk kembali bersama dengannya.”
“Kylian…”
__ADS_1
“Kalau begitu, aku permisi dulu,” Kylian pergi meninggalkan apartemen Katherine.
“Aku harus bagaimana? Lucy… kenapa kamu mau mengencani pria yang punya tiga anak?” ucap Katherine.
Katherine menemui Lucy pada akhirnya.
“Lucy. Tentang kamu yang kembali dengan Kylian, apa ada orang lain yang tahu? Apa ayahmu tahu soal ini?” tanya Katherine.
“Baru anak-anak yang tahu,”
“Lalu, apa kata anak-anak?”
“Mereka senang,”
“Lucy, tetap saja ini tidak benar. Pikirkan perbedaan usia dan status sosial kalian. Kamu memiliki masa depan yang cerah dan menjanjikan. Kenapa kamu memilih mengencani pria seperti Kylian? Lucy, apa karena uang? Karena itu kamu bersamanya?”
“Kak Katherine. Bukan seperti itu. Tanpa aku sadari, aku tiba-tiba menyukainya. Jadi, jangan pernah mengatakan hal itu. Aku dan Kylian serius akan hal ini. Kita saling mencintai,”
“Aku tahu, Lucy. Aku paham kamu bisa jatuh cinta pada seseorang. Namun, jangan Kylian. Kamu masih muda dan cantik. Kamu harus mengencani pria baik seusiamu. Kenapa kamu mengencani pria dengan 3 anak? Jika ayahmu tahu, dia akan sangat frustasi. Jadi, Lucy, akhiri semuanya di sini,”
“Aku tahu kakak sangat peduli denganku. Tapi jangan pernah menyuruhku untuk putus dengan Kylian. Maafkan aku, aku permisi,” Lucy segera keluar dari kafe sambil menangis.
“Lucy! Lucy!” Katherine mengejar Lucy.
Di depan kafe, Harry melihat Lucy yang pergi menangis dan Katherine mengerjarnya.
“Kenapa kamu menemui Lucy? Kamu berjanji tidak akan menemuinya lagi. Apa yang kamu katakan pada Lucy sampai dia menangis seperti itu? Jangan bilang…” ucap Harry.
“Tidak, Harry. Bukan seperti itu. Lucy berpacaran dengan pria yang tidak pantas bersamanya. Jadi, aku menemuinya untuk mengubah pikirannya.”
“Omong kosong macam apa itu? Lucy berpacaran dengan pria yang tidak pantas?”
“Dia mengencani pria yang jauh lebih tua darinya, dan sudah punya anak,”
“Apa? Lucy mengencani pria yang jauh lebih tua darinya, dan sudah punya anak? Omong kosong apa itu? Lucy tidak mungkin seperti itu. Dan meskipun itu benar, itu tidak ada hubungannya denganmu. Jangan berani menggunakan itu sebagai alasan untuk menemui Lucy. Mengerti?” Harry pergi.
Di tengah jalan, Harry terus memikirkan perkataan Katherine mengenai anaknya yang berpacaran dengan pria yang dimaksud. Dia pun menepikan motornya untuk menghubungi Lucy. Tapi Lucy tidak menjawabnya.
Kylian dengan cuaca yang dingin menunggu Lucy pulang. Akhirnya dia pun lega saat melihat kekasihnya datang.
“Kylian, kamu sedang apa di luar?”
“Lucy, kamu darimana saja? Kamu tidak mengangkat teleponku dan membuatku khawatir. Apa terjadi sesuatu?”
“Ah, tidak, tidak ada apa-apa. Ponselku dalam mode sunyi jadi aku tidak mendengarnya.”
“Baguslah kalau tidak terjadi apa-apa,”
“Kylian, bukankah kamu seharusnya bekerja? Kenapa jam segini sudah di rumah?”
“Seharusnya aku tidak bertemu dengan Kak Katherine… kukira dia akan memberi kita selamat. Aku pikir kamu akan sedih, jadi aku datang untuk menghiburmu. Sudah lama kita tidak bermain mesin capit boneka, naik sepeda. Mari kita lakukan itu semua,”
“Aku setuju. Tapi, Kylian, mari bersepeda 50 putaran,”
“Baiklah,”
Mereka pergi bergandengan tangan. Tiba-tiba mereka bertemu dengan Harry. Mereka buru-buru melepaskan genggaman tangan.
"Mengapa kalian bergandengan tangan?"
"Pak Harry... Ayah mertua," Kylian mengoreksi sebutannya lalu memberi hormat.
"Mengapa kamu memanggilku ayah mertua? Kylian, jelaskan. Kenapa kamu menggandeng Lucy?”
Lucy pun lalu membawa ayahnya bicara berdua. Ayahnya masih tidak percaya.
“Lucy, kenapa kamu memegang tangan Kylian? Ayah kebetulan bertemu dengan Bu Katherine tadi. Dia bilang kamu mengencani pria aneh. Ucapan dia tidak benar, ‘kan? Dia bilang kamu mengencani pria yang jauh lebih tua dan memiliki anak. Dia salah, ‘kan?”
“Dia benar, ayah. Aku kembali bersama dengan Kylian,”
“Lucy…”
“Ayah, aku mencintainya,”
“Apa kamu gila? Pikirkan apa yang telah dia perbuat padamu. Dia menghamili wanita lain di saat kamu sedang hamil hingga menyebabkan kamu keguguran.”
“Ayah, aku keguguran karena kecelakaan, bukan karena dia. Siapa yang mau kehilangan anak? Dan juga, Selly telah terbukti tidak hamil anak Kylian. Jadi ayah berhenti menjelek-jelekkan Kylian,”
“Meski begitu, dia jauh lebih tua darimu. Dan juga dia memiliki 3 orang anak,”
“Aku tidak peduli soal itu.”
“Kenapa kamu seperti ini, Lucy? Kamu masih muda dan naif. Dia hanya bersikap baik. Kamu harus sadar. Tidak, tidak bisa begini. Kamu tidak bisa berada di sana. Berhentilah hari ini dan pulanglah dengan ayah.”
“Tidak. Ayah, aku mencintainya. Terlepas dari usia dan statusnya. Aku tahu ayah mungkin terkejut karena mengetahuinya tiba-tiba. Cobalah untuk tenang, baru kita bicara lagi.”
“Lucy, sadarlah. Kemasi barang-barangmu dan pulanglah dengan ayah. Kita bisa menjalankan restoran bersama.”
“Aku tidak mau, ayah. Aku tidak akan pergi. Jangan cemaskan aku.” Lucy pergi meninggalkan Harry.
Dia kembali ke Kylian.
“Lucy, apa kata ayahmu? Dia terkejut, ya?”
“Iya.”
“Jika aku berada di posisinya, dan jika Valerie bilang dia mengencani pria sepertiku, aku akan terkejut dan khawatir seperti ayahmu,”
”Ayahku hanya sedikit terkejut. Dia selalu memihak padaku.”
“Seharusnya kita beritahu dia lebih dahulu. Karena ayahmu sudah terlanjur tahu, mari kita temui keluargamu malam ini,”
“Baik. Kita akan hadapi masalah ini bersama.”
Harry pulang ke rumah dan melihat Yuni memasak lauk yang banyak.
“Apa hari ini hari istimewa?” tanya Harry.
“Lucy menelepon dan mengatakan ingin mengenalkan seseorang. Kurasa itu pacarnya,”
“Apa? Lucy membawa seseorang untuk menemui kita?”
“Aku datang,” Lucy tiba di rumah.
“Lucy, katamu kamu akan membawa seseorang? Apa? Kylian? Astaga.”
“Selamat malam, ibu, ayah,”
“Kenapa kamu datang bersama Lucy?”
“Ibu, aku dan Kylian kembali bersama.”
“Apa? Kalian kembali bersama?”
“Iya, bu. Kami memulainya secara perlahan,”
“Rumah kita sangat lusuh, duduklah,”
“Kenapa dia harus duduk? Kylian, kita harus bicara. Ikut aku,” ucap Harry lalu keluar.
“Aku bicara dengan ayah dan akan kembali lagi,” ucap Kylian dan menyusul Harry.
“Ayah tidak dapat dipercaya,” Lucy menyusul Kylian ke luar.
“Kylian, apa kamu sadar apa yang sudah kamu lakukan terhadap Lucy? Kamu bilang kamu dan Lucy apa? Kembali bersama? Apa itu masuk akal?” ucap Harry pada Kylian.
“Aku tahu. Aku banyak berpikir sebelum membuat keputusan ini. Aku tidak main-main saat memutuskan untuk kembali bersama, ayah.”
“Jangan memanggilku ayah! Aku merasa tidak nyaman.”
“Bahkan jika Lucy putriku yang polos menyukaiu, seharusnya kamu melarangnya. Aku tidak akan membiarkan ini. Pergi sekarang juga serta jangan menghubungi Lucy lagi,”
“Ayah. Kenapa ayah kasar sekali? Aku tidak akan berbicara dengan ayah lagi. Kylian, ayo pergi.” ucap Lucy lalu menarik tangan Kylian.
Bersambung...
__ADS_1