
“Kamu harus pindah. Ke kamarku.”
“Eee... Begitu, ya...” Lucy menjadi gelagapan.
“Aku akan meminta Bi Yola untuk membantumu.”
“Eh! Tidak usah! Aku bisa sendiri. Kalau begitu aku ke kamar dulu, ya!” Lucy gugup bukan main. Sampai dia menghindar dari Kylian dan ke kamarnya.
Kylian tersenyum melihat kelakuan Lucy. Dia pun turun. Di bawah, Kylian bertemu dengan Katherine yang baru saja pulang bekerja.
“Kakak sudah pulang?” tanya Kylian dengan wajah yang ceria.
“Kita harus bicara, Kylian.”
“Boleh. Kita bicara di ruanganku saja.”
Kylian mengajak Katherine ke ruang kerjanya.
“Kakak tadi mendengar keributan dari Nyonya Sandra. Dia bilang kamu sudah menikah dengan Lucy. Sepertinya kamu harus mengecek ulang penyakit demensia Nyonya Sandra.” ucap Katherine.
“Hahaha.. tidak perlu. Dia tidak sakit, kok.” balas Kylian.
“Maksudmu?”
“Yang dikatakan dia memang benar. Aku dan Lucy sudah menikah sejak dua bulan yang lalu.”
“Apa!?” Katherine terkejut luar biasa. Putri semata wayangnya ternyata telah menikah dengan Kylian. Padahal dia berharap Lucy bisa ikut bersamanya ke Perancis dan hidup bersama di sana.
“Maaf tidak memberitahu kakak sebelumnya. Aku hanya menunggu waktu yang tepat.”
“Kylian.. jadi.. kamu memperkerjakan Lucy sebagai guru di sini karena—”
“Bukan. Lucy bekerja di sini karena kebetulan. Ceritanya panjang.”
“Lalu kenapa kamu menikahi dia, Kylian?”
“Mungkin bisa dibilang karena aku menyukainya.”
“Mustahil. Selama dua tahun ini kamu tidak pernah melihat wanita sebagai wanita dan sekarang kamu bilang kamu menyukainya?”
“Sulit dipercaya, ’kan? Aku juga tidak percaya bahwa aku bisa membuka hatiku lagi. Dari pertama kali aku bertemu, aku melihat matanya yang begitu cantik dan bersinar. Hatinya pun tulus. Dia sangat apa adanya. Dan lucu.” Kylian tersenyum.
“Oh, ya. Pertemuan pertama kita bukan baru-baru ini. Melainkan 14 tahun yang lalu.” tambah Kylian.
“Benarkah?”
“Iya. Dan Lucy sekarang juga sedang hamil.”
“Hamil?”
__ADS_1
“Aku tahu ini sangat mengejutkan. Tapi aku ingin meminta dukungan kakak.”
“Apakah ini semua benar-benar keinginan Lucy? Menikah dan hamil? Kalau tidak, kamu sudah menghancurkan masa depannya, Kylian.”
Kylian sempat terdiam.
“Aku akan bertanggung jawab jika aku sudah menghancurkan masa depannya. Kakak tidak perlu memikirkan kita, aku akan menjaga Lucy.” ucap Kylian.
Katherine keluar dari ruangan Kylian. Sementara Kylian duduk termenung menghadap jendela. Dia masih memikirkan kalimat Katherine yang mungkin ada benarnya. Dia juga teringat saat Lucy sempat ingin menggugurkan kandungannya namun Kylian mencegahnya. Kehadiran Lucy telah mengubah hidupnya dan anak-anaknya.
Dia dan anak-anaknya merasa seperti hidup. Lucy membawa kebahagiaan di kehidupan mereka. Namun apakah Lucy merasakan hal yang sama dengan hidup bersama Kylian dan anak-anaknya? Itulah yang menjadi pertanyaan Kylian. Kylian menghembuskan napas berat.
Akhirnya dia keluar dari ruang kerjanya, mengingat sudah jam 1 malam. Dia berpapasan dengan Lucy di depan ruangannya yang membawa secangkir teh.
“Ibu hamil sedang apa di depan ruanganku malam-malam?” tanya Kylian.
“Aku pikir kamu akan lembur.”
“Jadi, ini untukku, ya?” Kylian mengambil alih cangkir berisi teh dari tangan Lucy.
Kylian menghirup teh tersebut.
“Pasti banyak pekerjaanmu yang tertunda karena beberapa hari ini—”
“Sst!” Kylian menutup mulut Lucy.
“Aku hanya berpura-pura bekerja saja supaya kelihatan kalau aku ini Pimpinan yang sibuk.” ucap Kylian kemudian.
Lucy tertawa keras. Dia tidak menyangka Kylian bisa melempar candaan. Selama ini dia berpikir Kylian orang yang kaku dan dingin.
Begitu juga dengan Kylian, dia tidak menyangka Lucy bisa tertawa keras. Jika ada yang terbangun, itu bisa dipastikan karena Lucy.
“Lucy, kamu bisa tidur di kamarmu kalau kamu ingin. Aku tidak memaksa.” ucap Kylian.
“Baiklah. Selamat malam.” balas Lucy.
Lucy kemudian berbalik meninggalkan Kylian. Kylian merasa sedih, tetapi dia tidak bisa memaksakan Lucy lagi. Namun alih-alih naik ke atas, Lucy malah berjalan ke kamar Kylian dan masuk ke dalam. Kylian pun terheran, dia mengikuti Lucy masuk ke kamarnya.
“Sedang ap—” Kylian terkejut begitu melihat serangkaian perawatan kulit milik Lucy sudah ada di atas meja kaca, dan koper-koper yang berisi baju Lucy di kamarnya.
“Bukankah suami istri harus berbagi kamar? Kamar suami adalah kamar istri. Jadi, mulai malam ini kamarku di sini.” ucap Lucy.
Kylian mengangguk tersenyum. “Baik, baik. Tidurlah, kalau kamu bisa.” goda Kylian.
Keduanya kini berbaring di atas ranjang yang sama. Rasanya sangat canggung karena pertama kalinya mereka tidur bersama. Tentu saja mereka tidak bisa langsung tidur begitu saja. Lucy melihat ke arah Kylian yang matanya terpejam.
“Tidur, Lucy. Jangan melihati aku.” ucap Kylian dengan mata terpejam.
“Bagaimana dia bisa tahu?” pikir Lucy.
__ADS_1
“Kamarmu.. agak panas.” balas Lucy.
“Ini suhu yang pas bagiku. Tapi kamu bisa menurunkan suhu AC-nya kalau kamu mau.” ucap Kylian.
Lucy pun menurunkan suhu AC sebanyak 5 derajat. Barulah tidak lama dia terlelap. Sementara, Kylian tidak terbiasa dengan suhunya karena dirasa sangat dingin. Kemudian dia melihat Lucy yang tertidur dengan lelap.
“Kamu harus bertanggung jawab, Lucy.” ucap Kylian lalu memeluk Lucy. Sampai pagi, Kylian tidur dengan posisi memeluk Lucy dan kakinya mengunci kaki Lucy. Entah apa maksudnya, Lucy dibuat heran olehnya.
Tidak lama Kylian terbangun.
“Selamat pagi.” ucap Kylian dengan ceria.
“Kamu tahu semalam kamu tidur seperti apa?”
“Aku tahu. Kamu menurunkan suhu AC-nya, dan aku kedinginan, maka dari itu terjadilah..”
“ ‘Terjadilah’ !?”
“Kita harus bergegas. Kita sudah kesiangan. Anak-anak mungkin sudah menunggu kita di meja makan.” kata Kylian.
Saat di meja makan, Lucy mengoles selai di roti untuk Evan dan yang lainnya. Sementara anak-anaknya mengamati tingkah laku papa dan mamanya yang sering kali menguap bersamaan. Sesaat sedang menguap, mata mereka bertemu dan menyadari betapa anehnya mereka yang menguap bersama dan dilihat anak-anak pula.
“Ethan, sebaiknya kamu bersiap-siap. Kamu tidak akan boleh bermain game jika nilaimu jelek.” ucap Kylian mengalihkan.
“Walaupun aku sering bermain game, tapi tidurku tetap cukup, tuh. Aku tidak pernah mengantuk di pagi hari.” balas Ethan.
Kylian batuk tersedak dibuatnya.
“Cepat habiskan sarapannya.” ucap Kylian.
Setelah sarapan, mereka bersiap berangkat.
“Setelah mengambil rapot, jangan lupa kamu ada kelas hamil hari ini.” ucap Kylian.
“Aku mau ikut!” sahut Evan.
“Tidak bisa, Evan. Di sana hanya diikuti ibu-ibu hamil.” kata Kylian.
“Yah..”
“Papa juga harus ikut, dong! Temani mama.” sahut Valerie.
“Papa memang ikut kok. Ayo, berangkat!”
Katherine menyaksikan mereka berlima dari kejauhan.
“Mereka tampak harmonis saat bersama..”
Bersambung...
__ADS_1