
“Kemana kita akan makan siang kali ini?” tanya Lucy.
“Ada restoran enak di sekitar sini. kamu pasti suka.”
“Kenapa kamu terlihat begitu serius padahal kita hanya pergi untuk makan? Kamu terlihat seperti ingin berperang.”
“Aku?”
“Iya. Kamu terlihat seperti memiliki misi yang harus diselesaikan.”
Ternyata Kylian berinisiatif mempertemukan Katherine dengan Lucy untuk makan bersama. Kylian tahu sebenarnya keduanya ingin bertemu.
"Lucy, kak Sapphira ingin bertemu denganmu, tapi dia tidak bisa memintamu untuk bertemu dengannya. Jadi aku mengaturnya agar kalian bertemu. Maaf aku tidak memberitahumu. Tapi, aku juga tahu kamu juga ingin bertemu dengannya.”
“Kylian…”
Anggap saja berbagi makan bersama, ok?" Kylian menasehati Lucy,
“Kylian, Lucy.”
“Kak, aku ingin makan siang denganmu, tapi ada urusan mendesak. Jadi, kalian berdua harus menikmati waktu bersama tanpaku.”
Kylian menarik kursi dan mendudukkan Lucy.
“Aku sudah memesan beberapa makanan dan membayarnya, jadi silakan nikmati makanan kalian. Sampai jumpa,” Kylian pun meninggalkan mereka berdua.
“Lucy, tolong jangan salah paham. Aku tidak meminta Kylian untuk menjembatani pertemuan kita. Kylian mengajakku makan siang dengannya, jadi aku pikir hanya berdua. Aku tidak tahu kalau kamu akan datang.”
“Duduklah,”
Katherine minta maaf pada Lucy bahwa ia juga tak tahu akan bertemu Lucy, bukan ia yang meminta pada Kylian. Meski masih merasa canggung, Lucy menyuruh ibunya duduk dan mengambilkan minuman.
Setelah makan, Katherine mengajak Lucy minum kopi.
“Lucy, mau minum kopi bersamaku?”
"Bukankah Bu Katherine seminggu lagi mau operasi, apakah boleh minum kopi?"
"Tidak, aku… sebenarnya hanya masih ingin melihat wajahmu sebentar lagi saja."
"Kalau Anda memang begitu ingin dekat denganku, menghabiskan waktu bersamaku, kenapa kamu berbohong padaku sampai sejauh ini? Kalau anda memberitahuku siapa anda lebih awal, kita bisa menghabiskan lebih banyak waktu bersama."
Suasana jadi haru dan emosional.
“Maaf, Lucy. Aku menyesal.”
Katherine minta maaf. Lucy pun tiba-tiba menangis.
“Ibu… aku minta maaf, aku menyesal. Aku minta maaf. Jangan sakit, bu. Jangan meninggal.”
Lucy ada di apartemen Katherine. Dia membantu ibu kandungnya menyiapkan makanan dan minuman sebelum pulang.
“Aku memotong buah untukmu.”
“Terima kasih.”
“Aku juga menaruh salad di lemari es dan nasinya sudah matang. Jangan melewatkan makan malam agar bisa mengalahkan penyakit ini. Aku akan pergi kalau begitu.”
“Iya. Akankah kita bisa bertemu lagi?”
“Tentu. Aku akan kembali di lain waktu.”
“Baiklah. Hati-hati di jalan kalau begitu.” Tiba-tiba sakit Katherine menyerang, ia mual dan muntah di toilet.
“Astaga!”
Malam hari Katherine terbangun, dan melihat putrinya duduk tertidur di samping tempat tidurnya. Dia menangis terharu memeluk Lucy.
Di rumah Harry, tengah malam Yuni terbangun dan menyadari suaminya tidak ada di sisinya. Dia melihat suaminya tengah minum sendirian di meja makan. Pastinya karena mencemaskan Katherine.
Keesokan hari Yuni membuat bubur yang ternyata untuk diberikan kepada Katherine, supaya dia sehat. Dia mengatakan kalau terjadi apa-apa pada Katherine, takutnya suaminya atau Lucy nanti menyalahkannya.
“Aku tidak melihat Lucy semalam, sepertinya dia tidak pulang,” ucap Harry.
“Dia mengirim pesan padaku katanya dia menginap di rumah teman.”
“Begitu..”
“Aku akan pergi kalau begitu.”
“Kamu mau kemana pagi-pagi?”
“Mengantarkan ini untuk wanita itu.”
“Apa?”
“Agar operasinya berjalan lancar dan dia kembali sehat. Kalau dia mati, kamu akan menyalahkanku.”
“Aku senang kamu mengubah cara pandangmu. Terima kasih, Yuni.”
Saat Yuni ke apartemen Katherine dia kaget melihat Lucy di sana. Lucy kemarin mengirim pesan akan menginap di rumah teman.
“Lucy?”
“Ibu?”
"Kenapa kamu di sini? bukankah kamu mengatakan menginap di rumah teman? Apa kamu menginap di sini? Inikah rumah temanmu? Dan apakah kamu diminta ayahmu menggantikannya menjaga wanita ini? Ayahmu memintamu?"
“Tidak, ibu. Aku ke sini atas kemauanku sendiri. Ayah tidak tahu apa-apa. Bu Katherine sangat kesakitan tadi malam, jadi…”
“Aku minta maaf. Aku seharusnya tidak membiarkan Lucy tnggal. Seharusnya aku menyuruhnya pulang. Ini semua salahku,” sahut Katherine.
Yuni merasa dibohongi dan dikhianati Lucy. Katherine meminta maaf.
“Kamu tahu ini tidak benar. Apakah mencuri suamiku saja tidak cukup? Apa kamu harus mengambil Lucy juga? Apakah kamu tidak punya malu?”
“Aku minta maaf. Aku benar-benar minta maaf. Lucy, pulanglah dengan ibumu.”
“Lucy, tidak perlu pulang dengan ibu. Tetap di sini bersama ibumu, ok?” Yuni pergi dengan cemburu, Katherine menyuruh Lucy mengejar ibunya.
__ADS_1
“Ibu, aku minta maaf. Seharusnya aku tidak berbohong dengan mengatakan menginap di rumah teman,”
“Saat kamu mengatakan kamu di pihak ibu, ibu percaya bahwa kamu mengerti apa yang ibu alami.. kamu bahkan berbohong. Memangnya kamu pikir ibu tidak akan membiarkan kamu datang ke sini? ini terasa seperti pengkhianatan. Bagaimana kamu bisa melakukan ini juga padaku?”
“Ibu, aku minta maaf. Aku salah. Bu Katherine kesakitan dan muntah. Aku tidak bisa meningalkannya seperti itu. Aku tahu ibu akan marah jika aku mengatakannya, jadi aku bohong menginap di rumah teman. Aku mohon maaf. Aku sangat membencinya tapi… aku kasihan dengannya. Aku minta maaf untuk menanyakan hal ini ke ibu, tapi bisakah ibu memahami aku sekali ini saja, ibu?” Lucy meminta maaf karena berbohong. Ia mengatakan merasa kasian pada Katherine. Dia ingin kali ini ibunya memahami dirinya yang ingin di sisi Katherine.
“Lepaskan ibu…” Yuni berjalan dengan lunglai. Baik suaminya dan Lucy mengatakan hal yang mirip padanya. Mereka sama-sama ingin dibiarkan bisa bertemu wanita itu. Dia merasa ditinggalkan.
Yuni datang ke restoran.
“Kamu datang. Apa kamu baik-baik saja?” tanya Harry.
“Pergi. Bantu wanita itu agar tetap hidup. Meski kamu di sini, kamu masih ingin bersamanya. Jadi, pergilah padanya daripada menjadi cangkang kosong di sini.”
“Yuni, ini tidak seperti yang kami Pikirkan. Jangan berkata seperti itu. Dia adalah ibu kandung Lucy. Itu sebabnya aku ingin membantunya, demi Lucy.”
“Itu sebabnya aku menyuruh kamu pergi ke dia. Lakukan apa yang kamu bisa untuk memastikan dia tetap hidup. Itu satu-satunya cara agar kamu tidak membenciku, kamu merasa nyaman dan aku dapat menemukan kedamaian juga. Pergi saja,”
“Yuni. Terima kasih. Terima kasih banyak,” Harry melepas celemeknya lalu pergi dari restoran.
“Kamu br*ngsek. Aku tidak percaya kamu benar-benar pergi. Kamu bahkan tidak berpikir dulu,”
Yuni menelepon Katherine.
“Suamiku akan datang sebentar lagi. Aku mengizinkannya. Jadi ajak dia berkeliling sebanyak yang kamu mau. Jalankan operasi kamu, keluarlah hidup-hidup dan kembalilah sehat. Hanya begitu aku akan merasa nyaman denganmu.”
Katherine menolak Harry yang datang lagi merawat dirinya meski Harry mendengar dari mulut istrinya sendiri memperbolehkannya. Katherine tidak mau dia menjadi sosok jahat yang menyakiti istri Harry. Ia menyuruh Harry jangan menemuinya lagi.
“Sapphira,”
“Kenapa kamu datang ke sini? Aku sudah bilang jangan datang.”
“Istriku mengizinkannya. Aku akan berada di sisi kamu sampai kamu operasi dan pulih,”
“Harry, tolong. Hanya karena istrimu menyuruhmu, bukan berartti kamu harus datang. Apakah kamu benar-benar membantu aku? Bukan begitu. Kamu malah mempersulitku. Kamu membuatku menjadi orang jahat.”
“Sapphira.”
“Jangan kembali lagi ke sini. aku tidak akan lagi membuat masalah dan rasa sakit pada istrimu. Aku sudah cukup menyakitinya. Aku tidak ingin menyakitinya lagi. Jadi, tolong kembalilah ke rumah. Aku mohon. Kamu tidak membantu aku dengan seperti ini.”
“Kamu tidak bisa sendiri. Operasi ini bukan lelucon, kamu tahu. ini hanya akan sampai operasimu selesai,”
“Harry, jika kamu terus bersikeras, aku akan menghilang dan mati di tempat yang tidak ada yang bisa menemukanku. Aku sungguh-sungguh. Aku tidak akan mau dioperasi,”
“Baiklah, aku mengerti. Kamu sangat keras. Tetap di sini dan jangan kemana-mana. Jalani operasi kamu. Tetaplah kuat untuk melewati penyakit ini.”
Harry pergi dari apartemen Katherine. Lalu Katherine bertemu dengan Yuni.
“Aku datang untuk meminta maaf. Aku mohon maaf, apa yang telah aku lakukan memang tidak termaafkan.”
“Ada apa denganmu? Aku menyuruhmu memanfaatkan suamiku. Aku tidak mengerti kenapa kamu menolak. Bukankah ini yang kamu inginkan?”
“Tentu saja tidak. Aku memang pernah memiliki pikiran egois. Aku tidak seharusnya menggunakan uang untuk mengambil Harry dan Lucy pergi bersama ku ke Perancis.” Dia minta maaf akan perbuatannya dulu yang sempat menginginkan membawa anak dan suami Yuni ke Perancis bersamanya.
“Aku merasa sedang dihukum sekarang.” Ia merasa apa yang dia derita sekarang ini sebagai hukumannya.
“Apa katamu? Kamu akan ke Perancis? Kamu akan diam-diam menghilang? Sulit dipercaya. Bahkan sampai akhir, yang kamu Pikirkan hanya dirimu sendiri. Kalau kamu meninggalkan negara ini dalam kondisimu yang seperti itu, bagaimana perasaan yang lain? Bagaimana dengan aku? Apakah kamu mencoba menjadikanku penjahat sekarang?”
“Tidak, tentu saja tidak. Aku hanya tahu bahwa aku bersalah padamu. Lalu apa yang harus aku lakukan? Bisakah kamu memberitahuku? Aku akan melakukan apapun yang kamu mau.”
“Jalani operasimu, kembali sehat dan kemudian pergi ke Perancis. Itulah yang diinginkan semua orang.”
“Jadi, jangan berpikir dengan menghilang kamu akan membanru mereka. Jangan membuat orang khawatir denganmu.”
“Aku minta maaf. Aku sangat menyesal. Aku benar-benar minta maaf. Aku bersyukur dan tidak akan pernah melupakan kebaikanmu. Terima kasih banyak karena sudah membesarkan Lucy yang menjadi wanita baik dan manis seperti sekarang ini. Dan aku minta maaf untuk semuanya.” Ia juga bersyukur dan berterima kasih karena Yuni telah membesarkan Lucy menjadi gadis yang manis seperti sekarang ini.
Kedua ibu itu sama-sama terharu.
Yuni ingin bicara di depan keluarganya.
“Karena Katherine menolak bantuan kamu, jadi Lucy, aku mengizinkanmu ntuk merawat ibumu sampai dia pulih dari operasi.”
“Yuni…”
“Ibu… apa ibu yakin?”
“Iya. Lakukan seperti yang ibu katakan. Hanya dengan begitu, ayahmu akan merasa tenang, begitu juga dengan ibu.”
“Baiklah, ibu. Terima kasih, ibu.”
“Yuni, terima kasih banyak.”
Ia tahu suaminya tidak ingin menyakitinya kalau harus merawat Katherine lagi. Lalu dia mengizinkan Lucy untuk tinggal bersama Katherine untuk merawat ibunya. Harry sangat lega dan sangat berterima kasih pada istrinya begitu pula Lucy.
Lucy pergi ke apartemen Katherine. Katherine terkejut.
“APa? Apakah kamu serius?”
“Iya. Ibu bilang aku bisa tinggal di sini bersamamu.”
“Tidak, Lucy. Aku tidak bisa membiarkanmu melakukan itu. aku merasa bersalah padamu dan ibumu yang sudah membesarkanmu.”
“Kalau kamu merasa bersalah, hanya dengan jalani operasi dan kembali sehat, itulah yang kami mau.”
“Lucy…”
“Ibu. Berjanjilah padaku, tolong jangan mati.”
Lucy memeluk ibu kandungnya.
“Iya, ibu tidak akan mati. Ibu berjanji.”
Katherine dan Lucy diundang makan bersama di kediaman Kylian. Bibi Yola memasak banyak makanan hari ini.
“Kenapa kamu menyiapkan begitu banyak makanan?” tanya Katherine.
“Aku harus melayani kamu dengan baik. Silakan makan. Mari makan,” jawab Kylian.
“Terima kasih atas makanannya.”
__ADS_1
“Aku harap tante menikmati makananya,” ucap Valerie.
“Iya. Sama untukmu, Valerie.”
“Tante Katherine, tante menjadi jauh lebih cantik sejak aku terakhir melihat tante,”
“Terima kasih, Ethan. Kamu juga menjadi sangat tampan. Tante yakin kamu sangat populer di sekolah,”
“Aku tidak ingin menyangkal bahwa aku populer,”
Semuanya tertawa.
“Semuanya mari makan. Makan yang banyak,”
Setelah itu, anak-anak bermain bola bersama Kylian dan Lucy di halaman rumahnya. Anak-anak dan Lucy bersekutu untuk merebut bola dari Kylian.
“Evan, hentikan papa!”
“Kamu harus terus berjalan,”
“GOLLLL!” Kylian berhasil mencetak gol.
“Kylian, ini sangat tidak adil. Kamu terus menguasai bola dan mencetak gol sendiri. Kenapa repot-repot bermain dengan kita? Bermain saja sendiri,” protes Lucy.
“Lucy, aku sudah memberitahumu sebelumnya. Persaingan memang kejam dan tidak ada istilah mengalah.”
“Ah, papa memang menyebalkan!” sahut Valerie.
“Ayo, main lagi!”
“Kali ini aku tidak akan membiarkanmu!” ucap Lucy.
“Evan, ambil!” Lucy memeluk Kylian dari belakang dan menyuruh Evan menendang bola ke gawang.
“Yeyyyy!!!!!” Anak-anak dan Lucy berseru.
“Tidak, tidak, itu tidak sah! Itu melanggar aturan! Kalian melanggar aturan! Ayo, ulang!”
Katherine dan Nyonya Sandra tersenyum melihat kebersamaan mereka. “Mereka putus dan kembali bersama berkali-kali. Mereka memang ditakdirkan bersama.”
“Nyonya Sandra, aku harap kamu menerima Lucy. Kamu melihat sendiri bagaimana hebatnya Lucy. Nyonya Sandra, tolong jaga Lucy.”
“Astaga, Bu Katherine. Berhenti mengkhawatirkan Lucy, dan fokus saja dengan operasimu. Aku berdua untuk kesehatanmu selalu.”
“Terima kasih,”
Bergantian dengan Lucy, kini Kylian yang memeluk Lucy agar dia tidak menghalanginya. Anak-anak pun berganti kubu.
“Tendang bolanya, Evan!”
“Astaga. Mereka bermain sambil berpacaran ternyata,” ucap Nyonya Sandra.
Katherine merasa perutnya sakit.
“Ada apa, Bu Katherine? Bu Katherine! Kylian!”
Semua mata pun tertuju pada Katherine. Lucy langsung berlari menghampiri ibunya.
“Kak! Kak Katherine!” panggil Kylian.
Katherine merintih kesakitan hingga akhirnya meminta Kylian mengantar Katherine ke apartemen bersama Lucy.
“Kak, apa kakak yakin tidak membutuhkan dokter?” tanya Kylian.
“Aku lebih suka tinggal di rumah. Aku lebih nyaman di sini,” jawab Katherine.
Harry datang ke apartemen dan membawakan makanan.
“Ayah, apa yang membawamu ke sini?” tanya Lucy.
“Ibumu menyuruhku mengantarkan ini.”
Kylian menyapa Harry. “Ayah,”
“Kylian, kenapa kamu di sini?”
“Aku dan Lucy diundang untuk makan siang di kediamannya,” jawab Katherine.
“Betulkah? Ini sudah larut, kamu boleh pulang,” ucap Harry pada Kylian.
“Kak, tolong hubungi aku kalau kamu butuh sesuatu,”
“Tentu saja, Kylian. Terima kasih,”
“Kalau begitu, aku pergi.” Kylian pergi.
“Ayah, aku dan Kylian kembali bersama. Ayah harus bersikap baik padanya,” ucap Lucy lalu keluar untuk mengantar kepergian Kylian.
“Harry, tidak bisakah kamu merestui mereka? Kamu tidak akan pernah boleh memisahkan mereka lagi. Penyakitku mengajariku untuk menikmati hidup kamu dengan orang yang kamu cintai adalah tujuan akhir. Harry, Lucy dan Kylian benar-benar saling mencintai. Percaya pada Lucy dan biarkan dia menemukan kebahagiannya sendiri. Tolong…” ucap Katherine.
Harry pun keluar dari apartemen Katherine dan melihat Lucy bersama Kylian dari kejauhan.
“Tunggu sebentar lagi. Sepuluh detik lagi saja,” ucap Kylian.
“Kamu masih ingin melihatku, ya? Sepuluh, Sembilan, delapan, dua puluh, Sembilan belas, tiga puluh, empat puluh…”
Kylian tertawa. “Kamu juga masih ingin melihatku, ya? Bagaimana bisa dari sepuluh ke dua puluh, tiga puluh?”
“Aku selalu ingin melihatmu setiap detiknya,” jawab Lucy.
“Baiklah, baiklah. Aku akan datang ke mimpimu malam ini. Supaya kamu bisa melihat aku sepuasnya.”
“Woah, sejak kapan Kylian yang kaku ini bisa manis juga? Aku jadi tidak merasakan kesenjangan generasi,”
“Apa katamu? Kesenjangan generasi?” Kylian tertawa, begitu juga Lucy.
Harry memperhatikan mereka dari kejauhan.
Bersambung...
__ADS_1