Menikahi Tuan Duda!

Menikahi Tuan Duda!
17


__ADS_3

“Kamu masih mengingatnya, ternyata..”


“Memoriku itu sangat baik, loh. Kamu juga suka bermain mesin capit boneka, bagaimana kalau kita bermain?”


Kylian mengajak Lucy ke tempat permainan mesin capit boneka. SedangkancLucy tidak bermain dia hanya memperhatikan Kylian yang berusaha keras sampai keringat bercucuran untuk mendapatkan boneka. Dia sampai rela menghabiskan uang banyak untuk membeli koin.


Hingga akhirnya satu boneka anjing berhasil dia keluar. Kylian senangnya bukan main. Dia langsung memberikan boneka tersebut ke Lucy.


“Terima kasih.” ucap Lucy dengan senyuman yang sangat tipis.


Kylian mengira perasaan Lucy masih tidak enak. “Bagaimana kalau kita naik sepeda 10 putaran? 20 putaran? Atau 100 putaran?”


Sebenarnya Lucy heran dengan perilaku Kylian.


“Kylian, mengapa kamu bersikap seperti ini. Bukankah aku sudah memintamu untuk bersikap biasa saja?”


“A-aku..” Tenggorokan Kylian seakan tersekat dan tidak mampu melanjutkan kalimatnya.


“Aku hanya merasa bersalah padamu atas perlakuan nenek anak-anak tadi. Dia ternyata hanya pura-pura demensia.” ucapnya kemudian.


“Jadi, karena itu alasan atas sikapmu baik kepadaku malam ini? Kamu tidak perlu khawatir. Aku bisa mengurus diriku sendiri.”


“Aku juga takut kamu berhenti. Kak Katherine bilang kamu ingin berhenti.”


“Soal itu kamu juga tidak perlu khawatir. Aku sudah berjanji akan merawat Evan sampai dia remaja.” ucap Lucy kemudian melengos pergi meninggalkan Kylian.


Kylian mengajak Jeremy untuk bertemu saat itu juga di bar seperti yang biasa mereka lakukan.


“Kurasa aku sudah mengacaukan semuanya. Bagaimana ini, Jer?”


Kylian lantas menceritakan semuanya ke Jeremy, mulai dari yang Lucy mengatakan bahwa Lucy akan menceraikan dia setelah anak mereka lahir, meminta Kylian untuk bersikap biasa saja agar Lucy tidak menyukainya, karena Kylian mungkin bisa bertanggung jawab dan menikahinya, tapi dia tidak dapat bertanggung jawab jika Lucy menyukainya, juga soal mereka yang hidup dalam kebohongan sampai kejadian hari ini dimana Kylian merasa tenggorokannya seakan tersekat saat ingin mengatakan sesuatu dan malah berdalih.


“Aku malah mengatakan kalau aku merasa bersalah akan perlakuan nenek tua itu dan takut dia berhenti bekerja. Padahal yang sebenarnya ingin aku katakan adalah aku sedih karena dia sedih. Aku ingin menghiburnya. Aku juga tidak tahu kenapa tenggorokan ini.. ah sudahlah.”


“Hahahah lucu sekali.. Namun, menurutku, Lucy masih terlaku sungkan untuk masuk ke dalam kehidupanmu.”

__ADS_1


“Kenapa begitu?”


“Dia takut keberadaannya malah menambah ‘beban’ di hidupmu.”


“Apa-apaan itu!? Mana ada seperti itu!”


“Maka dari itu, cobalah bicara jujur tentang perasaanmu sendiri. Dia sudah jujur tentang perasaannya, tinggal kamu.”


“Tapi.. apakah itu mungkin? Dengan umur kita yang—”


“Hey, zaman sekarang umur itu bukan masalah, yang penting perasaan keduanya.”


”Tetapi jaraknya cukup jauh. 14 tahun.”


“Memang terpaut jauh. Orang bisa menilai itu seperti menculik anak orang lain.”


“Benar, kan? Karena itu, aku awalnya tidak ada perasaan apa-apa. Semakin lama menghabiskan waktu bersamanya ternyata aku menyadari kalau dia anak yang tulus apa adanya dan baik hati. Saat dia menyatakan cintanya, hatiku menjadi gundah.”


“Namun banyak orang terpaut usia 20 tahun pun hidup bahagia. Di usia seperti kita sekarang, tidak mudah bagi hati kita bisa terbuai oleh cinta. Aku iri padamu, Kylian!”


Kylian pulang dari bar. Kylian tidak bisa tidur karena mencoba mencari tahu perasaannya.


"Aku sudah punya 3 anak. Tidak pantas."


Bahkan pagi itu, Kylian pergi pagi-pagi sekali tanpa diketahui siapa pun untuk menghindari Lucy.


Nyonya Sandra memanggil Lucy. Lucy agak ragu untuk menemuinya dan takut kejadian kemarin terulang lagi. Namun Bibi Yola ikut menemani Lucy. Nyonya Sandra berusaha berbaikan dengan Lucy karena takut diusir Kylian. Dia meminta maaf pada Lucy dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Dia bahkan memberinya perhiasan mewah sebagai tanda permintaan maaf.


Sementara Selly? Dia semakin kesal karena alih-alih tidak bisa mengusir Lucy, Nyonya Sandra malah menyalahkannya karena sudah membantunya sampai dia hampir diusir Kylian. Nyonya Sandra menyalahkan Selly yang tidak bisa merayu Kylian, malah kalah dari gadis kampung seperti Lucy.


Tidak disangkanya Selly melihat Lucy bertemu dengan Harry dan mereka terlihat akrab saat berjalan berdua. Dia membuntuti mereka dan memfotonya.


Kylian kebetulan hari ini begitu banyak kesibukan di kantor. Meski begitu kadang pikirannya melayang memikirkan Lucy dan membuatnya sulit untuk fokus pekerjaan.


Hingga Kylian tertidur di mobilnya di pinggir jalan. Dia mungkin masih gundah juga. Tiba-tiba dia bermimpi Lucy memutuskan pergi dari rumah karena tidak sanggup bertemu dengan Kylian lagi. Dia terbangun dan terkejut. Tidak mungkin dia membiarkan kenyataan itu terjadi. Jam sudah menunjukkan pukul setengah 12 malam. Kylian segera memacu mobilnya pulang.

__ADS_1


Di saat yang sama Lucy di dalam kamarnya, dia mengingat saat-saat manis bersama Kylian. Dari dijemput saat sedang bekerja paruh waktu, bermain mesin capit boneka, bersepeda bersama.


“Mungkin memang dia orang yang hangat dan baik hati.”


Harapannya terlalu tinggi.


Lucy berharap dia bisa segera melupakan Kylian.


Sesampainya di rumah, Kylian naik ke atas untuk menemui Lucy. Saat di depan kamar Lucy, dia kembali bimbang.


“Ini tidak benar. Aku duda dengan tiga anak. Aku terlalu tua untuknya.”


Tiba-tiba Lucy keluar dari kamar dan memergoki Kylian yang sedang berdiri di depan kamarnya.


“A-ada yang ingin aku bicarakan.” ucap Kylian.


Kylian pun mengajak Lucy ke taman. Dia juga melepaskan jasnya dan memakaikannya ke Lucy.


“Aku... Sebenarnya... Kemarin itu...” ucap Kylian yang terbata-bata.


“Aku mengerti. Bukankah kita sepakat untuk fokus kepada anak-anak saja?”


“Anak yang diperutmu. Itu juga anakku. Anak kita. Kita juga harus fokus padanya.”


Lucy terdiam.


“Lucy, sejak kapan kau jadi egois? Sejak kapan kamu hanya memikirkan apa yang kamu inginkan dan tidak peduli pada perasaan orang lain? Bagaimana denganku? Bagaimana perasaanku? Aku semakin memikirkanmu saat kamu memintaku jangan mempedulikanmu. Aku semakin ingin memperhatikanmu saat kamu memintaku untuk bersikap biasa saja. Aku juga merasa tidak nyaman saat tidak melihatmu. Aku bahkan sedih saat kamu sedih. Bagaimana dengan perasaanku itu? Tidakkah kau mengerti aku?”


“Kylian, aku hanya takut bahwa aku tidak akan mau melepaskanmu pada saat harinya tiba. Dan aku takut aku tidak bisa hidup tanpamu.”


Kylian langsung mencium bibir Lucy. Lucy terkejut tapi dia tidak menolak. Dirasakan lembutnya ciuman Kylian di bibirnya.


“Siapa yang akan meninggalkan siapa? Dan kenapa itu harus terjadi? Lucy, aku tidak memiliki ketakutan lain selain kehilangan dirimu.”


Setelah selesai berkata seperti itu Kylian kembali mencium bibir Lucy, awalnya pelan, tapi kemudian ciuman itu menjadi panas, karena Lucy ikut membalas setiap pagutan mesra Kylian di bibirnya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2