
Lucy bahagia dan bangga bisa diandalkan oleh Kylian. Dia juga membalas memeluk Kylian. m
“Oh, ya. Bagaimana dengan kelas pra natalmu? Karena tidak jadi hari ini, maka besok harus jadi.” ucap Kylian.
Keesokan harinya adalah jadwal Lucy ikut kelas hamil. Kylian mengantar Lucy.
“Kabari aku kalau sudah selesai. Nanti akan kujemput.” ucap Kylian.
“Iya.”
Kylin kemudian melaju pergi. Lucy masuk ke dalam kelas dan bertemu dengan pelatihnya. Untuk pertama kalinya Lucy mengikuti kelas hamil. Semua datang dengan pasangan kecuali Lucy. Lucy datang sendiri, dan namun dia tampak antusias dengan kelas kali ini.
Tapi kesenangan itu berubah menjadi kebingungan karena pelatih menyuruh para ayahlah memijat sang ibu. Lucy bingung bukan main ketika dihampiri oleh pelatih.
“Apa suami ibu sesibuk itu sampai membiarkan bu Lucy datang sendiri ke kelas hamil?”
“Dia...”
Lucy tidak sempat melanjutkan kalimatnya karena tiba-tiba Kylian datang.
“Maaf lama karena parkiran sudah penuh semua. Sepertinya benar kata orang kelas hamil disini yang terbaik, sampai banyak yang datang.” kata Kylian.
“Loh? Kok balik lagi?” bisik Lucy.
“Sudah.. sstt.. Ayo kita ikuti kelasnya. Apa yang harus para suami lakukan?” balas Kylian.
Singkat cerita, saat Kylian mengantar Lucy, dia melihat di sekitar gedung itu banyak dipenuhi pasangan yang mengikuti kelas hamil juga. Begitu Kylian memutar balik mobilnya dan ingin menuju kantor, dia terus memikirkan Lucy yang datang sendiri sedangkan yang lainnya ditemani suami mereka. Alhasil, Kylian kembali memutar balik mobilnya menuju tempat kelas hamil itu.
Pelatih kemudian bertanya, “Apa bayi kalian sudah diberi nama?”
Lucy dan Kylian saling menatap heran dan Lucy ingin menjawab kalau mereka belum melakukan itu.
“Kita be—”
“Kacang. Kita sudah menamainya kacang.” Kylian segera memotong.
Kelas senampun masih berlanjut, pelatih memberikan pengarahan gerakan yang harus dilakukan pasangan suami dan istri yang ikut kelas ini. Suami memijat kaki dan betis istri yang saat hamil akan membengkak. Pelatih meminta agar suami melakukan pijatan ringan dan lembut agar istri merasa rileks. Kylian pun dengan telaten mengikuti arahan dari pelatih.
Sekarang gerakan memijat punggung dan tulang belakang istri dengan lembut. Semua tentu melakukan hal itu termasuk Kylian.
“Pijat dengan lembut, dan katakan kalian mencintai istri kalian.” Ucap pelatih.
“Aku mencintaimu, ibu Kacang.” ucap Kylian.
Lucy tidak menyangka akan mendengar kalimat itu dari mulut Kylian.
Tapi tiba-tiba Kylian melihat jari tangan Lucy yang tidak memakai cincin pernikahan mereka. Lucy menjadi tidak enak karena Kylian kembali memakai cincin pernikahan mereka. Dengan gerakan reflek Lucy langsung menutup tangannya yang tersemat cincin pernikahan mereka. Meski Kylian jelas-jelas sudah melihatnya.
Setelah kelas selesai, Kylian mengajak Lucy untuk makan. Namun Lucy menolaknya.
__ADS_1
“Sebentar lagi Evan selesai sekolah. Aku harus menjemputnya.”
“Kalau begitu kita makan bersama Evan saja.”
Kylian dan Lucy bersama-sama datang ke sekolah Evan untuk menjemputnya.
“Kak Lucy!!” Evan dengan girang begitu melihat Lucy. Namun kali ini ada yang tidak biasa. Dia melihat ayahnya di samping Lucy. Rupanya ayahnya juga ikut menjemputnya kali ini.
“Tumben papa ikut menjemputku.” kata Evan.
“Evan, lapar tidak? Makan, yuk. Sama kak Lucy juga.” ajak Kylian.
“Wah, aku mau, aku mau!”
Mereka bertiga pun pergi ke sebuah restoran dan makan bersama. Raut wajah ketiganya menggambarkan kebahagiaan.
“Aku merasa memiliki orang tua yang lengkap. Ketika papa sama kak Lucy bersama, aku tidak takut lagi diledek teman-temanku karena tidak punya mama.” ucap Evan.
Lucy dan Kylian saling bertatapan.
“Evan mau memiliki mama baru?” tanya Kylian.
“Mau. Aku mau mama seperti kak Lucy. Aku tidak mau yang seperti tante Selly.” jawab Kylian.
Kylian senang. Dia baru saja mengantongi satu dari tiga anaknya. Begitu juga dengan Lucy. Sesuai rencana Kylian, dia ingin segera mengungkapkan semuanya kepada anak-anak mereka.
Mereka pun kembali ke rumah. Melihat Evan yang begitu senang sekembalinya ke rumah, Ethan dan Valerie merasa iri karena tidak diajak makan bersama.
“Setujuuu!” Anak-anak berseru.
Saat semuanya sudah di kamar masing-masing, Valerie mendatangi ayahnya di ruang kerjanya.
“Valerie, kamu belum tidur?”
“Ada yang ingin aku bicarakan dengan papa.”
“Apa itu?”
“Tapi papa jangan marah padaku.”
“Iya. Tentang apa?”
“Janji dulu.” Valerie mengacungkan jari kelingkingnya.
Kylian menautkan jari kelingkingnya dengan jari Valerie. “Papa janji.”
“Tadi siang aku memukul salah satu orang di kelasku..”
“Apa!?”
__ADS_1
“Aku memiliki alasan. Dia membully anak lain di kelasku. Karena aku sudah pernah merasakannya, aku ingin membantunya. Anak itu bahkan ditendang, diinjak, disiram air, mana bisa aku diam saja?”
“Tapi kamu tidak bisa membalas kekerasan dengan kekerasan, Valerie. Lalu bagaimana? Kamu dihukum?”
“Kepala sekolah memanggil orangtuaku untuk datang besok.”
“Baiklah. Papa akan datang besok.”
“Tapi aku tidak ingin papa yang datang besok. Karena aku tidak ingin anak-anak membicarakan aku yang hanya menggunakan kekuatan papaku saja. Papa kan pimpinan perusahaan terkenal. Bagaimana kalau diwakilkan saja?”
“Jika ingin diwakilkan itu harus memiliki hubungan keluarga. Keluarga kita hanya tante Hana dan ibunya. Tante Hana sedang pergi di Perancis, sedangkan ibunya..”
“Tidak! Aku tidak mau nenek datang ke sekolahku.”
“Maka dari itu. Hanya papa—Tunggu. Kak Lucy sepertinya bisa datang denganmu besok. Karena dia kan i—”
“Oh, iya. Benar. Kak Lucy bisa berpura-pura menjadi mama sambungku.”
“Iya, begitu maksud papa..”
“Kak Lucy juga pernah membantuku menghadapi para pembullyku. Baiklah, aku akan bicara dengan kak Lucy. Terima kasih, papa. Selamat malam.” Valerie keluar dari ruangan Kylian.
Kylian tersenyum dan lega. Kini, anak-anaknya memiliki seseorang yang bisa mereka andalkan.
Keesokan harinya, Kylian memanggil Lucy ke ruangannya. Betapa panglingnya Kylian begitu melihat Lucy berpakaian formal dan rapi.
“Ada apa memanggilku?”
“Eh? Iya. Kamu pasti sudah mendengarnya dari Valerie.” ucap Kylian yang langsung tersadar.
“Itu adalah hal yang biasa dilakukan anak seusia Valerie. Apalagi dia memiliki alasan yang kuat untuk melakukan itu. Meskipun tindakannya tidak dapat dibenarkan..”
“Aku serahkan urusan Valerie padamu. Dia juga mengandalkanmu sebagai ibunya.”
“Eh?”
“Valerie tidak bilang? Kamu datang ke sekolahnya hari ini sebagai ibunya. Karena itu, pakailah cincin pernikahanmu.”
Lucy mengangguk.
“Ah.. aku merasa bisa bernapas lega sekarang jika soal anak-anak. Ada seseorang yang dapat aku andalkan.” ucap Kylian.
Tok.. tok.. Valerie mendatangi ruangan ayahnya.
“Eh, kak Lucy ternyata di sini. Kak, ayo. Aku sudah siap ke sekolah sekarang. Ethan dan Evan juga sudah siap.” ucap Valerie.
Lucy dan Kylian keluar bersama-sama dan bersatu di ruang tamu. Bi Yola melihat kebersamaan mereka.
“Tidak kusadari, ternyata Lucy memang cocok menjadi istri Pimpinan dan ibu dari anak-anak.” ucap Bi Yola dalam hatinya.
__ADS_1
Bersambung...