
“Bagaimana pun juga dia sudah melakukan kesalahan, kak. Kakak tidak perlu khawatir. Aku akan mencari guru yang lebih baik lagi untuk anak-anak.”
Pagi harinya Lucy pergi untuk mengantar Evan ke sekolah. Evan ingin bermain game dahulu dan Lucy mengizinkan. Evan terkejut, tidak menyangka dia diizinkan. "Wah, padahal ini bukan ulang tahunku."
Sebelum berpisah ia memeluk Evan. Evan merasa Lucy agak aneh. Evan bertanya ada apa.
"Karena Sejong sangat baik." jawab Lucy.
Dengan mata berkaca-kaca, Lucy menyuruh Evan mendengarkan kata guru di sekolah dan baik pada teman-temannya.
Katherine menemui Lucy. Dia berkata tidak sengaja mendengar pembicaraannya dengan Kylian. Katherine ingin Lucy mengungkapkan situasi yang sebenarnya sedang dia dialami, mungkin dia bisa bicara pada Kylian.
Lucy bicara terus terang, bahwa keluarga mereka hidup berpisah tidak punya rumah bahkan rumah sewa lagi. Lalu dia meninggalkan keluarganya. Karena dia tak punya tempat tinggal, dia senang bisa mendapatkan pekerjaan di kediaman Kylian. Hati Katherine terasa perih mendengar kisah Lucy. Ia tak menyangka putrinya hidup menderita seperti ini.
Katherine menemui Kylian untuk menjelaskan bahwa situasi yang dialami Lucy, keluarganya tak punya tempat tinggal. Katherine berkata karena itulah salah satu di antara mereka keluar yaitu Harry. Kylian teringat bahwa Harry pernah mengajukan pengunduran diri. Tetapi Kylian masih tetap pada pendiriannya.
Sepulang sekolah Evan kaget karena malah Selly yang menjemputnya bukan Lucy. Dia hanya ingin dijemput Lucy. Evan menangis pulang ke rumah. Dia tidak ingin Lucy pergi, padahal Lucy berjanji akan bersamanya untuk waktu lama.
“Aku tidak ingin kak Lucy pergi. Aku ingin dia kembali. Dia sudah berjanji untuk menemaniku sampai aku tinggi.” ucap Evan sambil menangis di pelukan Bi Yola.
Valerie dan Ethan juga kaget setelah pulang sekolah mendengar kabar Lucy berhenti.
Di malam itu, Kylian pergi bertemu sahabatnya Jeremy dan minum bersama. Kylian menceritakan apa yang telah terjadi pada Lucy.
“Apa!? Kamu memecat dan mengusir Lucy? Apa kamu sudah ingin melepas tanggung jawab setelah beberapa minggu yang lalu kamu bersikap sangat jantan dengan menikahinya?”
Kylian tersadar. Lucy sedang mengandung anaknya dan telah menjadi istrinya sekarang. Kylian pun bangkit berdiri untuk mencari Lucy. Namun sesaat ponselnya berdering. Selly meneleponnya untuk melapor kalau Evan demam.
“Pimpinan, badan Evan panas. Sepertinya dia demam.”
Kylian segera pulang ke rumahnya.
“Kondisinya tidak parah. Saya sudah memberinya obat. Demamnya akan segera turun.” kata dokter.
“Terima kasih, dok.”
Kylian menemani Evan di sampingnya. Selly menyuruhnya untuk beristirahat, biar dia yang menjaga Evan namun Kylian menolak.
__ADS_1
“Kalau begitu saya ambilkan teh untuk Pimpinan.” Selly keluar dari kamar Evan.
Tidak lama, Evan pun bangun dan mencari Lucy.
“Pa, panggil kak Lucy ke sini. Aku mau dia kembali.”
“Evan, kak Lucy...”
“Dia sudah berjanji kepadaku akan tetap bersamaku sampai aku besar. Tolong bawa kak Lucy ke sini. Aku hanya mau kak Lucy di sini...”
“Papa akan membawa kak Lucy kembali.”
“Benarkah?”
“Tentu saja. Sekarang Evan tidurlah. Setelah Evan bangun nanti, kak Lucy sudah kembali ke sini.”
Evan kemudian memejamkan matanya dan tertidur. Baru Kylian keluar dari kamar dan hendak mencari Lucy.
“Pimpinan mau kemana?” tanya Selly dengan secangkir teh yang dia bawakan untuk Kylian.
“Mau kemana Pimpinan malam-malam..” ucap Selly.
Kylian mengendarai mobilnya sambil menelepon Lucy. Namun karena Lucy sedang sibuk bekerja di sebuah restoran saat itu, dia tidak sempat melihat ponselnya. Kala itu ponselnya tertinggal di meja, dan sang pemilik restoran melihat ponsel Lucy terus berbunyi. Pemilik restoran itu menerima telepon dari Kylian dan mengatakan restoran sedang ramai jadi para pegawai sedang sibuk.
Kylian lantas bertanya apa nama restoran tersebut dan langsung menuju ke sana setelah mengetahuinya. Sesampainya di restoran, Kylian bertemu dengan pemilik restoran yang berbicara dengannya tadi, bertanya dimana keberadaan Lucy. Kylian segera menuju ke belakang begitu si pemilik restoran memberitahunya. Begitu melihat Lucy yang sedang berusaha keras membersihkan alat pemanggang yang kotor karena arang, Kylian terkejut.
“Apa yang kamu lakukan sekarang!?” Kylian menarik tangan Lucy hingga membuat alat pemanggang yang sedang dipegang Lucy pun terjatuh.
“Pak Kylian? Sa-saya..”
“Berhenti melakukan ini. Ikut denganku.” ucap Kylian selanjutnya.
Kylian membawa Lucy keluar dari restoran.
“Pak, saya harus segera kembali ke dalam. Restoran sedang ramai dan membutuhkan alat pemang—”
“Saya tidak peduli. Dan jangan berani kembali ke dalam.”
__ADS_1
“Tapi, pak..”
“Bisakah kamu mendengarkanku? Kamu mendengarkan saya dan langsung pergi begitu saya suruh, tapi kenapa kali ini kamu tidak mendengarkan saya?”
“Pak Kylian..” ucap Lucy dengan bergetar karena takut Kylian yang sedang marah.
“Apa kamu lupa dengan isi perjanjian yang sudah kamu tandatangani? Bahwa kamu akan tetap di rumah sampai anak kita lahir? Apa kamu juga lupa kalau kamu sekarang adalah istri saya? Kenapa kamu langsung pergi? Tidak bisakah kamu menolak dengan mengatakan ‘Bapak tidak bisa menyuruh saya pergi, saya adalah istri bapak, saya mengandung anak bapak’?”
Lucy hanya terdiam dengan menundukkan kepalanya.
“Saya minta maaf. Sekarang ikut saya dan kembalilah ke rumah.” ucap Kylian.
Lucy menaikkan kepalanya, menatap Kylian.
“Evan sedang sakit. Badannya panas.” ucap Kylian kemudian.
Mata Lucy membesar dan berkaca-kaca. Segera dia melepaskan celemek yang sedang dia pakai dan kembali ke dalam untuk mengambil barangnya. Lalu dia ikut bersama Kylian. Mereka lalu mampir ke loker tempat Lucy menyimpan kopernya. Di perjalanan, Lucy kembali minta maaf dan menjelaskan bahwa dia dan ayahnya bekerja di sana benar-benar kebetulan.
“Pak Kylian, saya ingin minta maaf sekali lagi. Saya tidak berniat membohongi bapak. Saya dan ayah saya sama-sama bekerja di rumah bapak benar-benar kebetulan. Seharusnya saya mengatakan ini lebih awal.”
“Saya mengerti. Kak Katherine sudah menjelaskan situasinya pada saya. Dan karena masalah kesalahpahaman sudah selesai, kamu bisa fokus saja kepada anak-anak. Soal kamu adalah anak dari Harry tidak perlu dibesar-besarkan dan diberitahukan pada orang-orang rumah.”
Sesampainya di kediaman Kylian, Lucy segera pergi ke kamar Evan. Selly yang sedang menemani Evan pun terkejut dengan kehadiran Lucy.
“Kenapa dia kembali lagi ke sini!?” ucap Selly dalam hatinya.
Evan pun langsung terbangun dan tersenyum ceria begitu melihat Lucy.
“Evan, bagaimana keadaanmu?” tanya Lucy yang segera duduk di ranjang Evan, memegang dahinya.
“Kak Lucy? Ini benar kak Lucy, ’kan? Aku bukan sedang bermimpi, ’kan? Tante Selly, aku tidak bermimpi, ’kan?” Evan memastikan bahwa dia benar melihat Lucy.
“Iya, ini kakak. Evan sedang tidak bermimpi.” jawab Lucy.
Evan sangat lega Lucy pulang. Anak-anak yang lain dan Kylian pun juga ikut senang melihat guru mereka kembali. Mereka menyaksikan Lucy dan Evan dari pintu kamar Evan.
Bersambung...
__ADS_1