Menikahi Tuan Duda!

Menikahi Tuan Duda!
40


__ADS_3

“Kalau kamu sadar akan kesalahanmu, lebih baik kamu segera kembali ke Perancis dan menjauhi Lucy. Lebih baik Lucy selamanya tidak mengetahui kalau ibu kandungnya sendiri telah menelantarkan dia sebelum genap berusia 100 hari.”


Katherine menangis, dia menyesal dan tidak menyangka telah membuat Lucy sesedih ini dan menyakiti orang-orang.


Sementara itu Lucy mencoba pergi ke kota lamanya dan mencari bibi tetangga yang tadi memberi tahu tentang ibunya. Namun sayangnya saat dia sampai di rumah bibi itu, dia sudah pindah. Yang dia temui adalah penghuni baru. Lucy pun meninggalkan nomor teleponnya, kalau saja ternyata ada penghuni sebelumnya yang tahu kabar tentang bibi itu. Dia meminta tolong untuk menyuruh menghubungi dia karena sedang mencari ibunya.


Setelah cukup tenang dan mendapat ide baru, dia kembali mencari ayahnya. Kali ini dia berjanji memaafkan ayahnya dan ibu tirinya, dan akan jadi anak berbakti asal ayahnya memberi tahu sedikit informasi tentang ibunya. Minimal namanya. Tetapi Harry tidak mau memberi tahu apapun.


“Apa ibuku seorang kriminal? Di penjara?”


“Jangan mencari tahu tentang ibumu lagi!”


“Ayah, walaupun ayah membenci ibuku, tapi aku ingin melihat wajahnya.”


Harry tetap tidak mau mengatakan apapun tentang ibu kandung Lucy, Sapphira ataupun Katherine. Lucy sangat marah dan membenci ayahnya. Dia kembali pergi dari rumah.


Harry mendatangi kediaman Kylian dan membunyikan bel. Bi Yola keluar dan menemui Harry.


“Selamat malam.”


“Selamat malam, Pak Harry. Ada apa malam-malam begini datang ke sini?”


“Sebenarnya, aku datang ke sini karena aku tidak bisa menghubungi Lucy. Apa dia ada di dalam?”


“Tidak. Dia belum pulang.”


“Belum pulang?”


“Iya. Dia mengatakan ada urusan dan menitipkan anak-anak padaku. Aku penasaran apa ada hal yang terjadi?”


“Ah, tidak ada. Apa aku boleh minta tolong. Bisa minta dia menelponku saat dia kembali?”


“Tentu saja.”


“Baik, terima kasih.”


Harry pergi. Tidak lama setelahnya Kylian tiba di rumah.


“Bukankah tadi itu Pak Harry?”

__ADS_1


“Iya, Pimpinan. Itu pak Harry. Lucy pergi karena ada urusan dan dia mencari Lucy karena tidak bisa menghubunginya. Pasti terjadi sesuatu karena kelihatan serius dari raut wajahnya.”


“Benarkah?”


Lucy sedih, sampai dia tidak sadar naik bis sampai hingga ke perhentian terakhir. Sudah tidak ada bis yang beroperasi. Taksi pun susah dia dapatkan. Kylian meneleponnya karena sudah tengah malam namun Lucy belum juga pulang. Lucy mengatakan kalau dia tidak sengaja menaiki bis sampai ke perhentian terakhir.


“Tunggu di sana, jangan kemana-mana. Aku akan ke sana.” ucap Kylian.


Lucy menunggu di pinggir jalan hingga akhirnya Kylian datang. Kylian memberikan mantelnya kepada Lucy karena sudah menunggu lama di pinggir jalan dan pasti kedinginan. Kylian pun membawa Lucy masuk ke dalam mobilnya.


“Kenapa kamu sampai ke perhentian terakhir? Apa kamu bengong selama naik bis? Apa yang sedang kamu pikirkan.” tanya Kylian.


“Selama ini aku mengira ibuku sudah meninggal. Tapi ternyata dia masih hidup.”


“Oh, ya? Bukannya itu kabar baik? Kamu sudah bertemu dengannya?”


“Dia pergi ke Perancis.”


“Selama dia masih hidup, kamu masih bisa bertemu dengan ibumu.”


“Tapi bagaimana caranya? Ayahku tidak mau memberitahu sedikit pun informasi tentang ibuku. Namanya, atau fotonya. Dia tidak mau memberitahuku. Aku tidak mengetahui tentang ibuku sama sekali. Apakah salah jika aku ingin mengetahui siapa ibuku? Meskipun kalau dia adalah orang jahat atau pembunuh sekalipun, aku ingin sekali melihatnya.”


Keesokan harinya, Katherine mendatangi Kylian di kantornya.


“Kak, ada apa dengan wajahmu?”


“Oh, aku hanya kurang tidur jadi ada lingkaran hitam di bawah mataku dan membuatku tidak percaya diri. Kylian, ada hal mendesak yang ingin aku bahas padamu”


“Oh, ya. Apa itu?”


“Semua yang kurencanakan saat kemari. Aku tahu aku harus menyelesaikan semuanya. Jadi, maafkan aku, Kylian. Kurasa aku harus kembali ke Perancis secepatnya. Pekan ini. Ada urusan mendesak yang harus aku urus di sana.”


“Apa maksudmu? Bagaimana dengan fashion shownya?”


“Apakah mungkin untuk membatalkannya?”


“Membatalkannya? Aku rasa tidak bisa. Perusahaanku telah mengeluarkan uang yang banyak untuk mensponsori ini dan kakak tahu itu. Kak, apa yang sebenarnya terjadi?”


“Sayangnya, aku tidak bisa memberitahumu.”

__ADS_1


“Kak, aku akan menyelesaikan projek kita yang lain, jadi tolong tangani fashion show kali ini untukku.”


-


Katherine mengirim pesan pada Harry.


“Aku akan pergi besok jika bisa, tapi itu akan menimbulkan masalah bagi Kylian. Begitu menyelesaikan projek ini, aku akan segera kembali ke Perancis. Tidak ada lagi alasanku untuk bertemu dengan Lucy. Jadi, aku tidak akan merepotkanmu lagi.”


Harry membaca pesan itu dan langsung meletakkan kembali ponselnya. Dia sudah tidak pedulu dengan Katherine ataupun Sapphira.


Lucy mendapat telepon dari bibi tetangga lamanya yang dia temui tempo hari. Dia mengajak bertemu. Bibi itu heran selama ini Lucy salah mengerti.


“Apa bibi tahu nama ibuku? Bagaimana wajahnya? Dia pasti pergi karena memergoki ayah dan ibu tiriku berselingkuh, ’kan?”


“Hah? Lucy, ayah dan ibu tirimu itu tidak berselingkuh. Apa-apaan itu? Itu salah besar. Kamu telah dibohongi, Lucy. Bagaimana bisa kamu dibohongi seperti itu? Kamu kan tahu ayahmu bukan orang yang seperti itu. Ibumu itu bukan orang biasa. Dia memiliki mimpi yang besar dan ingin sukses.”


“Benarkah itu? Jadi, ayahku tidak berselingkuh, tapi ibu yang pergi menelantarkan aku?”


“Iya, begitu maksudku.”


Bibi itu kemudian bercerita kalau ibu kandung Lucy-lah yang pergi meninggalkan dia ketika masih bayi dan suaminya.


“Ambisinya berbeda. Dia tidak bisa menjadi ibu dan mengurus anak. Dia memilih pergi untuk mengejar karirnya. Ayahmu berusaha menahannya sambil menggendong kamu saat itu yang sedang menangis kencang. Tetapi dia tetap masuk ke dalam taksi dan pergi tanpa menoleh ke belakang. Itu sebabnya aku bingung kenapa kamu masih mencarinya.”


Lucy syok, ternyata dia ditelantarkan oleh ibu kandungnya sendiri.


Bibi itu juga bercerita bagaimana ayahnya yang seorang diri harus bekerja sambil menjaga Lucy, bahkan hampir kecelakaan saat bekerja di tempat konstruksi.


Lucy sedih dan tidak habis pikir, bagaimana ada ibu yang tega meninggalkan bayinya. Dia pun kembali ke rumah ayahnya untuk meminta maaf.


Lucy berlari memeluk ayahnya.


“Ayah, kenapa ayah merahasiakan ini dariku? Ibuku yang meninggalkanku. Kenapa ayah tidak memberitahuku? Jika ayah mengatakannya padaku, aku tidak akan repot-repot mencari ibu kandungku.”


“Maafkan ayah, Lucy. Ini semua salah ayah.”


“Tidak, aku yang salah. Maafkan aku, ayah. Aku akan menjalani sisa hidupku dengan menganggap dia sudah mati. Aku tidak akan mencarinya lagi. Aku tidak akan menyakiti perasaan ayah lagi.”


“Aku tidak tertarik mencarinya lagi. Aku tidak ingin menemukan wanita yang menelantarkanku.”

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2