
“Evan, Ethan, hari ini berangkat sekolah dengan papa, ya. Lucy, Valerie, kalian bisa berangkat dengan sopir.”
“Baik, pa!”
Kylian mengantar Lucy dan Valerie ke mobil. Saat Valerie sudah masuk, dan Lucy belum, Kylian membisikkan sesuatu.
“Laporkan kepadaku semua halnya dengan detail.” bisik Kylian.
“Iya, tenang saja. Kamu bilang kamu mengandalkanku, ’kan?”
“Iya, namun tetap saja. Saat dengar ibu dari si pembully itu adalah ketua komite di sekolah, aku menjadi kesal. Dia pernah mengemis kepadaku agar menyumbangkan uang untuk pemasangan CCTV dan komputer di sekolah dulu. Tidak tahu malu sekali dia. Pokoknya, kamu laporkan kepadaku jika ada yang tidak beres.”
Lucy pun berangkat bersama Valerie dengan sopir. Sedangkan Evan dan Ethan berangkat bersama Kylian. Di perjalanan, Lucy merasa ada yang mengikuti mobil mereka di belakang. Tidak hanya satu, dua, melainkan empat.
“Oh, iya, ya! Mobil kita diikuti. Siapa dan kenapa mereka mengikuti kita!?” Valerie panik.
“Itu pengawal yang disewa Pimpinan.” jawab sopir mereka.
“Pengawal!?” Lucy dan Valerie sama terkejutnya.
Sesampainya di sekolah, Lucy dan Valerie turun dari mobil yang pintunya dibukakan oleh pengawal. Halaman sekolah menjadi ramai karena ada empat mobil pengawal. Lucy dan Valerie memasuki gedung sekolah bersama. Mereka menjadi pusat perhatian para murid di sana saat menelusuri jalan menuju ke ruang kepala sekolah.
Valerie memasang wajah bangga dan sombong karena bisa memamerkan Lucy yang berperan sebagai ibu sambungnya.
“Kak, ibu si pembully itu adalah ketua komite di sekolah ini.” bisik Valerie.
“Kamu tenang saja, Val.” balas Lucy.
Kini Lucy dan Valerie telah berada di ruang kepala sekolah dan berhadapan dengan ibu serta anak yang membully. Dengan penengahnya adalah kepala sekolah dan wali kelas Valerie.
“Terima kasih atas kehadirannya. Secara khusus, kami memanggil ibu Lucy selaku orang tua Valerie, dan ibu Magda selaku orang tua Jennifer atas insiden yang melukai Jennifer. Setelah dilakukan pemeriksaan, tulang pipi Jennifer mengalami keretakan, dan terdapat luka di hidungnya yang membutuhkan 8 jahitan yang disebabkan oleh pukulan dari Valerie. Karena itu, kami telah memutuskan untuk memberikan sanksi kepada Valerie berupa kerja bakti sosial di sekolah selama 50 jam dan menulis surat permintaan maaf atas perbuatannya.” ucap kepala sekolah.
“Tunggu. Tindakan Valerie memang salah, tapi dengan sanksi tersebut, saya yakin itu tidak mendidik Valerie. Jika melihat ada anak yang dibully, Valerie pasti akan mengulangi hal yang sama.” sahut Lucy.
“Maksud ibu Lucy? Anak saya membully orang? Begitu? Anak saya disini korbannya. Korban.” timpal Magda.
__ADS_1
“Semua orang melihat Valerie melakukan kekerasan terhadap Jennifer, bukan? Pasti semua orang juga tahu mengapa Valerie melakukan hal itu. Bagaimana kalau kita meminta saksi dari para murid?” balas Lucy.
“Anda pasti sudah menyogok para murid untuk memberikan saksi yang memberatkan anak saya, ’kan!?”
“Kalau begitu, mungkin sudah saatnya kita memanfaatkan fasilitas yang disumbangkan suami saya untuk sekolah ini. Bagaimana kalau kita melakukan pengecekan CCTV, pak Kepsek?”
“Baik. Sesuai permintaan dan memberi keadilan untuk kedua belah pihak, saya akan melakukan pengecekan CCTV untuk melihat apa yang terjadi kemarin.” ucap kepsek.
Rekaman CCTV pun diputar di hadapan mereka, dan memperlihatkan Jennifer yang memukul, menendang, dan menyiram seorang murid dengan susu. Lalu Valerie datang untuk membantu murid itu berdiri dan malah mendapat cekikan dari Jennifer. Barulah Valerie menampar Jennifer dan menghajar wajahnya hingga ambruk ke lantai.
“Bahkan Valerie juga mendapat cekikan sebelum Valerie melukainya. Bagaimana ini, pak kepsek? Sebuah cekikan dapat menyebabkan kematian, lho. Leher anak saya juga sampai berbekas ini.” Lucy mengecek leher Valerie.
Valerie memandang Lucy dengan tatapan terharu. Lucy benar-benar memerankan peran ibu dengan baik, sampai Valerie merasa Lucy adalah ibunya.
“Atas insiden ini, kami memutuskan untuk memberikan sanksi berupa skorsing 2 minggu terhadap Jennifer dan kerja bakti sosial di sekolah selama 50 jam untuk Valerie. Dan keduanya wajib menulis surat permintaan maaf atas perbuatannya.” ucap kepsek.
“Menulis surat sebagai permintaan maaf sepertinya tidak cukup. Bagaimana kalau meminta maaf dengan berlutut? Saya tidak keberatan, pak! Asalkan dia juga minta maaf dan berlutut pada korban yang dia bully!” sahut Valerie.
“Ide bagus..”
“Aku minta maaf, Jen. Aku akan mengganti rugi biaya pengobatanmu.” ucap Valerie.
Lucy dan Valerie pun keluar dari ruangan kepsek, beserta Magda dan Jennifer.
“Usia anak seperti Valerie dan Jennifer memang sangat genting. Untung saja bu Magda dulu meminta suami saya menyumbangkan CCTV untuk sekolah, kalau tidak mungkin kesalahpahaman ini tidak menemukan titik terangnya. Semoga tidak ada insiden seperti ini lagi di antara anak-anak. Kalau begitu, saya permisi dulu.” ucap Lucy kepada Magda.
“Loh, papa?” Valerie terkejut melihat sosok Kylian dari kejauhan.
Lucy lantas berbalik badan.
Kylian menghampiri mereka.
“Bagaimana dengan masalahnya?” tanya Kylian.
“Hampir selesai.” jawab Valerie.
__ADS_1
“Jadi belum selesai?”
“Belum. Jennifer belum minta maaf dan berlutut padaku dan pada korban yang dia bully.” ucap Valerie.
“Hmm.. pak Kylian, ini hanya masalah biasa yang terjadi di usia remaja seperti anak-anak kita. Jennifer juga sudah mendapat hukuman skorsing 2 minggu, jadi mari kita mulai lupakan saja masalah ini, ya?” bujuk Magda.
Dia tidak mau anaknya berlutut dan minta maaf pada Valerie karena semua murid di sekolah sedang menyaksikannya dari depan kelas mereka.
Kylian melihat ke arah Lucy. Lucy memegangi lehernya sebagai bentuk kode. Kylian nampak bingung awalnya, dia mengira Lucy sedang haus dan ingin mempercepat ini semua, namun Kylian tidak sengaja menemukan ada bekas di leher Valerie. Tentu Kylian tidak terima.
“Lupakan? Tentu saja, jika Valerie yang meminta. Lehermu tidak apa-apa, nak? Setelah ini kita ke rumah sakit, ya.” ucap Kylian.
“Cepat berlutut!” bisik Magda seraya menurunkan pundak Jennifer.
“A-aku minta maaf, Valerie. Maafkan aku.” ucap Jennifer.
“Jangan lupa minta maaf juga pada orang yang kamu bully.” balas Valerie.
Mengantar Kylian dan Lucy sampai lantai dasar.
“Papa, Kak Lucy, terima kasih sudah membantuku, ya. Maaf sudah merepotkan kalian.” ucap Valerie.
“Kamu tidak boleh menggunakan kekerasan lagi, Valerie.” balas Lucy.
“Iya, kak. Berkat kakak juga, hari ini aku kembali ingat bagaimana rasanya memiliki ibu. Kakak memang yang terbaik!” Valerie mengacungkan jempolnya.
Lucy tersenyum. “Kembalilah ke kelasmu.”
“Sampai jumpa, papa, kak Lucy!”
“Hari ini kita akan makan bersama, kamu ingat ’kan?” seru Kylian saat Valerie sudah berjalan.
“Tentu saja. Nanti jemput aku, ya!” balas Valerie dari kejauhan.
Lucy dan Kylian tersenyum.
__ADS_1
Bersambung...