Menikahi Tuan Duda!

Menikahi Tuan Duda!
48


__ADS_3

“Ayah. Kenapa ayah kasar sekali? Aku tidak akan berbicara dengan ayah lagi. Kylian, ayo pergi.” ucap Lucy lalu menarik tangan Kylian.


Harry kembali masuk ke dalam rumah.


“Loh, Lucy dan Kylian mana?”


“Mereka pergi,”


“Aku tahu kamu terkejut, tapi kenapa kamu membiarkan mereka pergi?”


“Hubungan mereka tidak masuk akal. Pikirkan apa yang telah dilakukan Kylian terhadap Lucy? Kamu pikir aku bisa menerimanya?”


“Tapi, dari perkataan Kylian, sepertinya dia serius dengan Lucy. Mungkinkah mereka mempertimbangkan untuk menikah? Astaga! Lucy akan menjadi istri Pimpinan Spencer Group! Harry, kamu akan merestui mereka, ‘kan?”


“Berhenti bicara yang tidak masuk akal. Dia 14 tahun lebih tua dari Lucy dan memiliki 3 anak. Sedangkan Lucy masih muda dan memiliki masa depan yang cerah.” Harry masuk ke kamar.


“Ayahku terlalu keras padamu, ‘kan. Maafkan aku,” ucap Lucy saat di mobil bersama Kylian.


“Tidak. Lucy, ini baru permulaan.”


“Iya. Kita baru saja mulai. Mungkin masih ada rintangan selanjutnya,”


“Benar,”


“Kylian, bisa menepi sekarang?”


“Ada apa? Kenapa?”


“Mau mengeluarkan keringat sedikit untuk menghilangkan stress?”


Lucy ternyata mengajak Kylian bermain pingpong untuk bersenang-senang. Lucy kurang pandai bermain pingpong. Saat bolanya tinggi, dengan mudah langsung di-smash oleh Kylian. Lama-lama Lucy jengkel karena Kylian tidak mau mengalah sedikit pun.


“Kylian, kamu benar-benar! Apa kamu akan mati kalau mengalah padaku?”


“Lucy, tidak ada mengalah dalam olahraga.”


“Kamu sangat kejam!”


“Baiklah, baiklah. Aku akan mengalah kali ini,”


“Sudahlah. Aku sudah muak,” Lucy menaruh bet (alat pukul bola pingpong) di atas meja. Lalu memukul bola setelah mengira Kylian lengah.


Namun Kylian berhasil memukulnya dengan kencang.


“Kylian, kamu sungguh tidak bisa membiarkan aku mencetak skor 1 saja?”


“Baiklah, baiklah. Kali ini aku akan benar-benar mengalah. Aku akan bermain dengan tangan kiriku,”


“Tidak. Bermain dengan kaki baru aku akan menerimanya,”


Keesokan harinya, Katherine mendatangi Kylian ke kantornya. Kylian terkejut pasalnya Katherine langsung masuk begitu saja tanpa ada pemberitahuan dari sekretarisnya.


“Kak, ada apa datang ke sini?” tanya Kylian.


“Kylian, apa kamu sudah gila?”


“Apa maksudmu?”


“Kylian, ini salah. Bagaimana kamu bisa berkencan dengan wanita yang baru berusia 27 tahun? Bagaimana kalau oang-orang tahu? Lucy akan menjadi bahan gossip orang-orang. Kenapa kamu begitu bodoh?”


Kylian meletakkan penanya dengan kasar di atas meja.


“Kak, cukup. Kenapa kakak terus seperti ini? Apa kakak tahu kalau kakak sangat mempersulit kami?”


“Kakak hanya bicara karena kalian tidak bisa berpikir jernih. Kamu memiliki sendiri anak perempuan. Bagaimana perasaanmu kalau Valerie berkencan dengan pria yang 14 tahun lebih tua darinya dan memiliki 3 anak? Apakah kamu setuju? Apa kamu bisa memberinya restu?”


“Kak…”


“Kylian, pikirkan ini baik-baik,” Katherine keluar dari ruangan Kylian.


Katherine menelepon Harry. “Harry, kita perlu bicara sekarang,”


“Kenapa harus? Saya sibuk.”


“Ini tentang Lucy,”


“Apa?”


“Aku punya sesuatu yang ingin dikatakan. Jadi, datanglah ke sini,”


Harry datang ke apartemennya.


“Siapa kamu berbicara dengan aku tentang kehidupan Lucy?”


“Aku mencoba untuk menjauh dari masalah ini karena aku tidak memiliki hak untuk ikut campur dalam hidupnya. Tapi kamu bilang kamu akan mengurus Lucy dan Kylian. Namun apa yang telah kamu lakukan? Lucy masih berkencan dengan Kylian, dan sepertinya mereka tidak akan mengakhiri hubungan mereka. Apa kamu membiarkan Lucy berkencan dengan Kylian? Kalau memang seperti itu, aku akan membawanya ke Perancis bersamaku. Aku akan mengaku kalau aku adalah ibunya dan membawanya pergi,”


“Apa yang baru saja kamu katakan? Kamu akan mengakui apa? Kamu akan membawanya ke Perancis? Kata siapa? Itu tidak akan pernah terjadi. Pergilah dari negara ini!”


“Kamu sebaiknya memikirkan ini. Karena kamu tidak dapat memisahkan mereka selama Lucy masih berada di negara ini. Bukankah pergi ke Perancis denganku adalah pilihan yang lebih baik? Kenapa wanita seusianya harus menjadi ibu dari tiga anak? Kenapa? Aku akan bersikap baik padanya di Perancis, jadi tolong biarkan aku membawanya. Sejak kecil, dia hanya menjalani kehidupan yang sulit,”


“Tutup mulutmu!”


“Ini semua salahmu. Kalau kamu merawatnya dengan baik, dia akan bersenang-senang di luar sana. Kenapa dia bekerja sebagai guru ketika gadis seusianya harus menikmati hidup? Ini tidak akan terjadi kalau dia tidak bekerja di sana. Kamu adalah alasan kenapa dia bertemu dengannya, jadi kenapa kamu tidak membiarkan aku memperbaiki kekacauan ini?”


Harry pergi dari apartemen Katherine.


Malam harinya, saat Kylian pulang ke rumah, dia melihat Harry berdiri di depan rumahnya.


“Ayah mertua…”

__ADS_1


Harry berlutut di hadapan Kylian.


“Ayah, tolong jangan lakukan ini.” Kylian hendak membuat Harry berdiri namun ditepis oleh Harry.


“Kylian, aku memohon padamu. Tolong akhiri hubunganmu dengan Lucy. Aku memohon padamu. Kamu memiliki seorang putri, ‘kan? Jadi tolong pertimbangkan ini dari sudut pandang seorang ayah. Kylian, apa yang harus aku lakukan untuk membuat kamu mengakhiri hubungan ini? Aku akan melakukan apa yang kamu minta. Aku mohon padamu.”


Kylian terhenyak. Dia diam seribu bahasa di hadapan Harry.


“Aku mengerti yang ayah maksud. Jadi tolong berdiri.”


Harry berdiri. “Terima kasih, Kylian. Aku mengandalkanmu.”


Harry pun pergi.


Saat Kylian berbalik badan ingin masuk ke rumahnya, dia melihat Lucy yang berdiri di dalam.


“Lucy…”


“Kylian…”


Keduanya menyiratkan rasa sedih yang mendalam dari mata mereka. Namun mulut mereka tidak mengatakan apapun.


Kylian mengajak Jeremy bertemu.


“Kamu berakhir seperti ini membuatku sadar kalau ini semua adalah salahku,” ucap Jeremy.


“Bukan salahmu,”


“Setelah mendiang istrimu meninggal, kamu akhirnya melihat seseorang dengan baik dan aku senang. Jadi aku mengabaikan keadaan dan menghasutmu. Maafkan aku, Kylian,”


Kylian menuangkan minum ke gelasnya.


“Aku memikirkan dari sudut pandang ayah Lucy,”


“Aku berharap kamu dapat membuka lembaran baru dan bahagia lagi,”


Kylian akhirnya pulang dan terlihat Lucy menungguinya.


“Kylian, apa kamu habis pergi minum?”


“Iya, sedikit. Aku tidak mabuk, aku masih melihat wajahmu tidak bergoyang,”


“Kylian, kalau kamu melakukan ini, itu akan membuatku kesal dan khawatir.”


“Jangan khawatirkan aku. Aku baik-baik saja. Aku bersumpah aku baik-baik saja. Aku khawatir kamu malah sebaliknya,”


“Kylian…” Lucy memeluk Kylian. Kylian pun membalasnya.


Keesokan harinya, Yuni bertengkar dengan Harry.


“Harry, tidak bisakah kamu membiarkan Lucy melakukan apa yang dia inginkan? Dia sangat menyukai Kylian.”


“Apa katamu? Maksudmu, kita harus menerima hubungan mereka?”


“Dia memiliki 3 anak. Apa kamu mau Lucy yang masih berusia 27 tahun membesarkan 3 anak? Apakah kamu bisa mengatakan itu karena dia bukan putrimu?”


“Astaga. Apa yang baru saja kamu bilang? Begitukah kamu menganggapku? Aku bicara ini karena aku kasihan dengan Lucy dan begitukah tanggapanmu? Aku membesarkan Lucy sejak dia masih bayi, mengganti popoknya dan menyuapinya makan. Aku mengatakan ini karena aku menganggap aku ini ibunya! Daripada dia menikahi orang seusianya dan berjuang bertahan hidup, aku mengatakan Kylian lebih baik. Apa itu hal yang buruk untuk dikatakan?”


“Cukup.” Harry pergi menemui Katherine.


“APa yang ingin kamu bicarakan?” tanya Katherine.


“Dengarkan baik-baik. Kamu bisa membawa Lucy pergi ke Perancis.”


“Harry, apa itu benar? Aku benar bisa membawanya ke Perancis?”


“Tapi… jangan katakan padanya kalau kamu ibunya. Dia sudah tahu kalau ibunya meninggalkannya. Kalau dia menyadari kamu ibunya, dia tidak akan pernah mau pergi ke Perancis bersamamu.”


Katherine mengangguk. “Ok, aku mengerti.”


“Bantu dia melupakan Kylian dan mulai dari awal,”


“Iya, Harry. Jangan khawatir. Aku akan menjaga putri kita dengan baik.”


“Tapi bukan berarti aku sudah memaafkanmu,”


“Aku tahu.”


Harry menemui Lucy di sebuah kafe.


“Lucy. Ayah sudah memikirkannya… kamu harus ikut Bu Katherine ke Perancis minggu depan,”


“Ayah…”


“Lucy, mungkin kamu berpikir kamu sudah dewasa. Tapi kamu masih anak-anak di mata ayah. Lucy, pergi ke Perancis dan kepakkan sayapmu. Ini adalah kesempatan sekali seumur hidup. Ayah tidak mengatakan kamu harus di sana selamanya. Hanya 3 tahun saja, jalani hidupmu seperti anak seusiamu di sana. Setelah itu, kalau kamu masih tidak bisa melupakan Kylian, ayah akan mempertimbangkan hubungan kalian kembali.”


“Apa ayah benar? Setelah 3 tahun kalau aku mengatakan aku ingin bersama Kylian, ayah akan mempertimbangkannya?”


“Itu benar. Jadi tolong pergi dan habiskan waktu di Perancis. Lucy, ini satu-satunya keinginan ayah,”


“Baiklah. Aku akan melakukan yang ayah inginkan,”


“Terima kasih, Lucy.”


Katherine dan Kylian sedang berbicara berdua di ruangan Kylian.


“Kylian, ayah Lucy menemuiku. Dia memohon padaku untuk membawa Lucy ke Perancis. Kylian, kakak mohon. Biarkan Lucy pergi ke Perancis. Kakak akan membantumu mencari pengganti. Kalau kamu sudah memiliki pengganti, ini satu-satunya cara Lucy memutuskan untuk ikut bersamaku ke Perancis. Bukankah lebih baik Lucy ke Perancis bersama kakak?”


“Aku mengerti.”

__ADS_1


“Kylian, berusahalah untuk move on meskipun itu sulit.”


“Jangan khawatir.”


“Tentu saja. Aku bersyukur,”


“Tapi, kak. Kenapa hubungan kita berakhir menjadi hal yang kamu syukuri? Kakak pernah jatuh cinta, ‘kan? Apa kakak tahu betapa sulit menghadapi putus cinta? Ini sangat menyakitkan. Perpisahan ini bukanlah sesuatu yang aku inginkan. Sebagai ayah yang memiliki putri, aku mencoba melihat dari sudut pandangnya. Aku paham kalau ayahnya khawatir dan senang kalau hubungan kita akhirnya berakhir. Tapi bagaimana dengan kakak? Kakak bukan siapa-siapa bagi Lucy. Kakak tidak berhak mengkhawatirkannya dan senang saat hubungan kita berakhir. Kalau kakak memang menganggapku adik kakak, seharusnya kakak menguatkanku alih-alih senang.”


“Baiklah, Kylian. Kakak minta maaf atas sikap kakak. Tapi ketahuilah bahwa ini untuk kebaikanku sendiri.”


“Sekarang aku telah berpisah dengannya. Aku berpisah dengan wanita yang aku cintai. Aku menderita. Apakah itu baik untukku? Bukankah kakak ingin aku bersama dengan wanita yang kucintai? Bagaimana bisa kakak bilang ini untuk kebaikanku?”


“Kylian, kakak minta maaf.”


“Kak, biar aku perjelas. Jangan pernah mencariku lagi. Aku juga ingin menghadiri rapat.”


“Baiklah. Kalau begitu aku akan pergi sekarang.”


Kylian pergi menemui Lucy karena Lucy memintanya.


“Kylian, aku akan pergi ke Perancis,”


“Aku tahu. kak Katherine memberitahuku.”


“Kylian, bisakah kamu menungguku? Aku setuju pergi agar kita kembali bersama. Setelah menghabiskan 3 tahun di Perancis, kalau aku masih tidak melupakanmu, ayah akan mempertimbangkan kembali hubungan kita. Aku akan menjalani hidup di Perancis, jangan lupakan aku selama itu.”


“Aku akan menunggumu. Jadi jangan pikirkan aku selama kamu disana, belajar, lakukan apa yang kamu inginkan selama di sana, dan berkencan kalau kamu bertemu seseorang yang baik.”


“Jangan bicara seperti itu. Aku akan kembali dalam 3 tahun.” Lucy memeluk Kylian.


“Aku mendoakan yang terbaik untukmu,” ucap Kylian.


Katherine mencarikan wanita yang tepat untuk Kylian. Kebetulan ada seorang kenalannya yang pernah naksir dengan Kylian. Katherine pun merencanakan pertemuan untuk keduanya.


“Aku merasa seperti bermimpi. Aku tidak percaya aku bisa makan malam berdua denganmu. Saat SMA, saat aku menyukaimu, aku hanya bisa melihat punggungmu saja dari kejauhan.”


“Kamu menyukaiku saat kamu hanya bisa melihat punggungku dari kejauhan?”


“Eee… bukan begitu,”


“Mary, aku sudah memiliki 3 anak, kalau ingin bertemu denganku, kamu juga harus menemui 3 anakku. Aku tidak akan memaksa.”


“Tentu saja aku harus menemui mereka. Atur saja pertemuan kita besok pagi,”


“Ok,”


Saat Kylian dan Mary keluar dari restoran, mereka berpapasan dengan Lucy. Mereka sempat berhenti sejenak sebelum Kylian memutuskan untuk berjalan.


Kylian menghentikan sebuah taksi untuk Mary karena dia tidak bisa mengantarnya pulang.


“Siapa wanita itu?” tanya Lucy.


“Adik kelasku saat SMA,”


“Kamu menemui adik kelasmu?”


“Ya,”


“Kylian, ada apa denganmu? Kamu bilang kamu bisa menungguku. Tapi apa maksudnya ini?”


“Lucy, pergilah ke Perancis dan jalani hidupmu yang baru di sana. Aku juga akan menjalani hidupku sendiri di sini.”


“Kylian, kenapa kamu seperti ini? Kenapa mendadak kamu seperti ini?”


“Hidupmu akan jauh lebih baik dari mengencani pria dengan 3 anak sepertiku. Aku juga akan mengencani wanita yang sepantaran denganku. Usia dan latar belakang kami sama. Aku mempertimbangkan hubungan serius dengannya. Aku harap kamu juga menemukan seseorang yang cocok denganmu.”


“Apa kamu bercanda? Kamu mengencani seseorang karena usia dan latar belakang yang sama? Bukan karena kamu menyukainya? Kylian, mengencani seseorang di saat kamu menyukai orang lain adalah hal yang kejam. Kamu mengencaninya agar aku bisa melanjutkan hidup, ‘kan? Hubunganmu tidak akan berhasil kalau kamu masih menyukaiku.”


“Aku berhak melakukan apapun atas hidupku,”


Sesampainya di rumah, Kylian mengumpulkan anak-anaknya untuk berbicara.


“Papa akan mengajak kalian bertemu seseorang besok.”


“Siapa?” tanya Valerie.


“Dia teman bibi Katherine dan adik kelas papa saat SMA.”


“Kenapa kita harus bertemu dia? Papa akan mengencani dia?” tanya Valerie.


“Kalau kalian tidak menyukainya, akan papa pertimbangkan kembali.”


“Bagaimana bisa papa mengencani seseorang begitu cepat setelah putus dengan mama? Ini salah!” sahut Ethan.


“Papa tidak akan langsung menjadi pasangan dengannya. Tapi papa akan mencoba. Kalau kalian tidak menyukainya, akan papa pertimbangkan.”


“Tidak akan ada yang lebih baik dari mama Lucy,” ucap Evan.


Setelah berbicara dengan anak-anak, Kylian masuk ke ruangannya. Lalu dia mendapat telepon dari seorang detektif yang pernah dia minta untuk mencari tahu keberadaan ibu kandung Lucy.


“Ya, halo.”


“Saya berhasil melacak ibu kandung Lucy Harry Steward seperti yang anda minta.”


“Betulkah?”


"Ibu kandung Lucy itu bernama Sapphira Lewis."


“Sa-phhira?”

__ADS_1


Kylian terkejut.


Bersambung...


__ADS_2