Menikahi Tuan Duda!

Menikahi Tuan Duda!
55


__ADS_3

“Apa yang kamu bicarakan? Ayah berselingkuh?”


“Lalu kenapa ayah pergi berbelanja dengannya? Kenapa ayah sering ke tempatnya? Ibu sedang sakt di tempat tidurnya.”


“Apa?”


Yuni keluar dari kamarnya.


“Katakan yang sebenarnya padaku. Kamu berselingkuh dengannya, ‘kan?”


“Tidak. Bukan seperti itu.”


“Kalau bukan seperti itu, lalu apa? Kenapa kamu ke supermarket dan berbelanja dengannya? Aku melihat semuanya.”


“Memang benar aku ke supermarket bersamanya, tapi itu tidak seperti yang kamu Pikirkan. Jangan bilang… kamu pergi ke tempatnya dan mengganggunya lagi?”


“Iya. Apa kamu pikir aku hanya akan duduk diam dan menyaksikan kalian? Aku mencabut semua rambutnya. Kenapa? Kamu tidak terima? Apa yang akan kamu lakukan?”


“Apa yang kamu lakukan pada wanita yang sedang sakit itu? Dia menderita kanker pankreas!”


“Kanker pankreas? Katherine menderita kanker pankreas?”


“Ya. Sudah stadium tiga. Dia menjalani operasi untuk kanker perut, tapi ternyata sudah menyebar. Kalau dia tidak menjalani operasi sekarang, dia tidak akan bertahan sampai enam bulan.”


“Apa kamu mengatakan yang sebenarnya?”


“Iya. Tapi dia menolak untuk dirawat. Jadi aku mengunjunginya untuk memastikan dia menjalani operasi. Yuni, kita harus membuatnya tetap hidup. Rasa bersalah meninggalkan Lucy pasti terlalu besar baginya, dia bilang lebih baik mati daripada dioperasi. Aku tidak bisa membiarkan itu terjadi. Aku bilang aku akan membantunya. Itu saja.”


“Kenapa kamu akan membantunya? Dia wanita kaya. Dia bisa menyewa pengasuh. Kalau kamu memiliki niat murni seperti itu, kamu seharusnya memberitahu kami dan mengunjunginya di tempat terbuka, tidak seperti ini. Kenapa kamu berbohong kepada kita dengan mengatakan mengunjungi teman padahal datang ke tempatnya? Kamu bukan lagi suaminya. Kenapa kamu peduli dia hidup atau mati? Kenapa kamu sangat peduli?”


“Bagaimana aku tidak peduli? Dia adalah wanita yang sudah melahirkan Lucy.” Harry bangkit berdiri dan pergi.


“Lihat. Lihat ayahmu. Dia bertingkah aneh. Jangan berani-berani kamu menemui dia lagi!”


Lucy yang ikut mendengar syok. Dia masuk ke kamarnya dan menangis. Ia teringat tadi telah mengatakan kata kasar pada Katherine.


“Kenapa aku mengatakan itu? Aku harus menemuinya.”


Harry mengecek ke apartemen Katherine, Katherine hilang. Dia mencoba menghubunginya tapi tidak diangkat. Lucy juga datang ke apartemen Katherine. Dia takut Katherine pergi karena perkataan Lucy yang menyuruhnya menghilang.


“Lucy, kenapa kamu ke sini?”


“Bagaimana dengan bu Katherine? Apa dia baik-baik saja?”


“Ayah tidak bisa mengubunginya. Dia menghilang dan mematikan teleponnya.”


“Dia menghilang? Oh, tidak. Sepertinya itu salah aku. Sebelumya ak ke sini dan menyuruhnya menghilang. Aku beteriak padanya dan menyuruhnya menghilang dari dunia ini. Ini karena aku,”


“Tidak, Lucy. Bukan salahmu. Dia akan segera menelepon. Jangan khawatir. Ayo pulang saja.”


“Kalau misalnya dia tidak menelepon kita dan menolak pengobatan, lalu dia meninggal… ah. Kenapa dia harus menghilang dan membuat kita semua khawatir. Kenapa dia harus muncul dan menyulitkan kita? Aku sangat membencinya!”


“Lucy… bisakah kamu berhenti membenci ibu kandungmu?”


“Aku harus berhenti membencinya? Bagaimana aku bisa melakukan itu di saat aku sangat membencinya? Aku benci dengannya!’


“Kamu membenci ibumu sendiri, ayah merasa itu salah ayah. Itu semua salah ayah.”


“Ayah, kenapa itu salah ayah? Dia yang meninggalkan kita.”


“Ayah pikir itu karena ayah menanamkan kebencian padanya di dirimu. Kalau ayah tidak membencinya, maka kamu juga tidak. Lucy, saat itu ayah sedikit mengerti bagaimana perasaan ibumu mengapa dia pergi. Kalau kamu harus membenci seseorang, bencilah ayah. Berhenti membenci ibumu. Ayah tidak ingin kamu sebegitu membencinya sekarang ini nanti kamu menyesalinya di kemudian hari.”


“Apa yang ayah katakan? Aku tidak berpikir aku bisa memaafkan dia,” ucap Lucy lalu pergi.


Harry minta Lucy berhenti membenci ibu kandungnya, dia tak mau Lucy suatu saat menyesal. Namun Lucy tidak bisa tidak membenci ibunya.


Kylian menelepon Lucy. Tetapi ternyata Lucy sedang menangis. Kylian pun malam-malam menemui Lucy. Lucy langsung menangis di pelukan Kylian. Dia memberi tahu Katherine sakit kanker dan kondisinya.


Dia tidak tahu harus bagaimana, dia membenci Katherine tetapi juga kasian padanya. Kylian menenangkan Lucy bahwa dia berhak benci tetapi juga bisa kasian.


“Kak Katherine menderita kanker pankreas? Benarkah itu?” Kylian terkejut.


“Iya. Kalau dia tidak menjalani operasi, dia tidaka akan bertahan sampai enam bulan. Aku harus bagaimana, Kylian? Aku menyuruhnya menghilang dari dunia ini. Aku sangat menyakitinya. Bagaimana kalau dia mati karena aku? Aku harus bagaimana? Aku bingung apa yang sedang aku rasakan. Aku membencinya, tapi aku juga merasa kasihan padanya. Aku harus membencinya atau aku harus kasihan padanya, aku tidak tahu.”

__ADS_1


“Kamu bisa membencinya kalau kamu mau, dan mengasihaninya kalau kamu mau. Biarkan hatimu merasakan apa yang diinginkannya. Semuanya akan baik-baik saja.”


Malam-malam Yuni melihat suaminya tidak bisa tidur dan tetap terjaga karena cemas. Dia tahu suaminya memikirkan Katherine. Malam-malam dia marah-marah karena cemburu. Dia histeris menyuruh Harry pergi bersama Katherine dan menceraikannya saja. Lucy merasa tersiksa mendengar ayah dan ibunya bertengkar karena ibu kandungnya.


“Apa ini? Kenapa? Kamu khawatir dia menghilang? Itu sebabnya kamu tidak bisa tidur? Karena kamu khawatir dia mati?”


“Apa yang merasukimu? Jangan berteriak, semua orang sedang tidur.”


“”Kamu sebegitu khawatirnya dengan dia? Kalau begitu pergi dan tinggal bersamanya. Kenapa tinggal di sini bersamaku?! Ceraikan saja aku! Ceraikan aku!”


Lucy dan Lucio masuk ke dalam kamar orangtuanya.


“Ibu, kenapa ibu beteriak malam-malam?” tanya Lucio.


“Lucio, lihat ayahmu. Dia tidak bisa tidur karena khawatir dengan Katherine. Ibu tidak bisa hidup dengannya lagi. Ayahmu tidak pernah sekalipun mengkhawatirkan ibu sampai seperti ini. Ketika ibu pergi dari rumah saat kita kehilangan rumah, ayahmu bahkan tidak mencari ibu. Tapi dia tidak bisa tidur karena khawatir Katherine mungkin sudah mati. Bagaimana bisa ibu menganggap dia suami ibu? Siapa yang membesarkan anak yang dia tinggalkan? Bagaimana mungkin kamu melakukan ini padaku? Ibu ingin bercerai! Ibu tidak memiliki keinginan untuk hidup lagi. Pergilah kamu bersamanya, si*lan!”


Sementara itu Lucy hanya bisa terdiam dan menangis melihat ibunya.


Pagi harinya, Harry mendapat informasi bahwa Katherine menginap di luar kota dan dalam keadaan sakit.


“Halo, ada seorang wanita yang check in di penginapan kami, tapi dia tampak sakit. Oleh sebab itu saya menelepon. Apakah anda kenal baik dengan pemilik ponsel ini?”


“Iya, saya keluarganya,” jawab Harry.


“Kalau begitu, tolong jemputlah dia. Dia tidak mau pergi ke rumah sakit, jadi saya menelepon.”


“Terima kasih. Dia ada dimana?” Harry langsung menyusul ke sana.


“Kemana kamu mau pergi sepagi ini? Untuk menemui wanita itu?” tanya Yuni saat melihat Harry keluar dari kamarnya.


“Yuni, Sapphira telah ditemukan. Dia dalam kondisi buruk, jadi aku akan menjemputnya.” Harry langsung pergi.


“Kenapa kamu menjemputnya? Memangnya kamu siapa baginya?” Yuni gagal mencegah Harry.


Harry mengajak Sapphira pulang, untuk mau dioperasi. Harry memberi tahu bahwa Lucy menangisi Sapphira. Sapphira harus mau dioperasi demi Lucy. Sapphire terharu putrinya memikirkannya. Dia pun menurut.


“Harry, kenapa kamu di sini?”


“Apa yang kamu lakukan di sini? kamu operasi minggu depan. Mari ikut aku kembali.”


“Ini tidak baik untukmu. Ayo pergi,”


“Aku akan mati atau tidak bukan urusanmu. Aku tidak akan pergi bersamamu.”


“Apa karena istriku? Dia belum tahu kamu sakit saat itu.”


“Istrimu berhak marah. Aku tidak ingin menimbulkan masalah di keluarga kamu. Kamu terus merawat saya, karena itu aku pergi ke luar kota.”


“Sapphira, jangan mempersulit kita. Dengan kamu seperti ini, kamu akan mengecewakan Lucy. Apa kamu tahu dia menangis?”


“Lucy menangis? Menangisiku?”


“Iya. Jadi, ayo kembali denganku. Pulang ke rumah. Tolong, aku mohon padamu.”


Harry kembali pulang ke rumahnya setelah menjemput Sapphira. Dia kembali berbicara dengan Yuni, istrinya. Harry memohon pada istrinya agar diizinkan mendampingi Sapphira sampai ia menjalani operasi. Yuni sakit hati. Lucy dan Lucio mendengar percakapan mereka dari luar kamar.


“Yuni, tolong maafkan aku sekali ini saja. Izinkan aku bersamanya untuk berada di sisinya sampai operasinya selesai. Tolong. Aku mohon padamu.”


"Apa maksudnya? Kamu lebih memilih dia daripada aku? Kamu mengakhiri hubungan denganku?”


"Kenapa aku mengakhiri hubungan denganmu? Bukan itu maksudku. Aku tidak bisa membiarkan dia mati seperti ini. Jika aku membiarkannya mati, aku akan menyesalinya seumur hidupku. Yuni, tidak bisakah kamu mengizinkanku sekali ini saja? Jangan mempersulit keadaannya. Aku hanya ingin memastikan sampai dia dioperasi, sembuh, lalu kembali ke Perancis. Tolong. Demi Lucy. Aku mohon padamu."


"Kalau mau pergi menemuinya, tanda tangani dulu surat cerai. Akhiri dulu hubungan denganku"


“Apa?”


“Jika kamu sangat ingin bersamanya, ceraikan aku dulu! Bagaimana kamu bisa seperti ini padaku? Tempatkan dirimu di posisi, si*l! bagaimana perasaanmu jika jadi aku?”


Lucio membuka pintu kamar. Dia kesal pada ayahnya karena menyakiti ibunya.


“Ayah, bagaimana bisa? Bagaimana bisa ayah bertanya seperti itu pada ibu? Bagaimana bisa ayah mmemperlakukan ibu seperti ini?”


Harry pun pergi.

__ADS_1


“Iya, pergi saja! Pergi! Aku juga tidak membutuhkan suami sepertimu. Apa artinya dia bagimu?! Bagaimana kamu bisa melakukan ini padaku?” Yuni berteriak sambil menangis. Lucio memeluknya.


“Jangan menangis, ibu.”


Lucy juga secara terpisah menyalahkan ayahnya. “Ayah. Ada apa denganmu? Aku sama sekali tidak mengerti dengan ayah. Bagaimana bisa kamu menanyakan itu pada ibu? Apa ayah tidak merasa bersalah?”


Harry mengatakan pada Lucy, Katherine tak punya siapa-siapa.


“Lucy, dia sedang sakit. Dia tidak memiliki siapa-siapa. Bagaimana dia bisa melewatinya sendirian?”


“Siapa dia bagi ayah sampai ayah melakukan ini semua?”


“Dia ibu kandungmu, Lucy.”


“Ayah, apa ayah lupa bagaimana ayah membencinya dulu? Aku tahu ayah bisa melupakan dan memaafkan, tapi ayah tidak bisa melakukan ini dengan ibu. Dia adalah orang yang mendampingi ayah sampai saat ini. Bagaimana ayah bisa begitu kejam dengan ibu? Kalau ayah ingin merawat Bu Katherine, penuhi keinginan ibu dan ceraikan dia terlebih dahulu.”


“Ayah mengerti. Ayah salah. Ayah tahu ayah salah.”


“Minta maaf pada ibu.”


“Baiklah. Tapi, Lucy. Bu Katherine akan segera menjalani operasinya. Hatimu akan hancur jika sesuatu yang buruk terjadi padanya.”


“Dia hidup atau mati bukan urusan kita lagi. Kenapa aku harus sakit hati jika dia meninggal?” Lucy pergi meninggalkan ayahnya.


Harry kembali ke kamar.


“Yuni, aku salah. Aku benar-benar minta maaf. Aku pasti sudah gila. Aku tidak akan pernah mengatakan hal-hal seperti itu lagi. Aku bahkan tidak peduli lagi apakah dia hidup atau mati. Yuni, tolong jangan marah.”


Kylian menemui Sapphira, kakaknya (Katherine).


“Aku tidak tahu kalau selama ini kakak sakit. Beritahu aku jjika ada yang bisa aku lakukan,”


“Tidak. Tidak ada yang bisa membantuku. Aku harus menghadapinya sendiri. Mari kita tidak membicarakan ini. Banyak yang ingin aku katakan padamu, Kylian.”


Katherine minta maaf telah membuat Kylian sedih, tidak memedulikan perasaan Kylian, padahal mereka telah menyebut sebagai kakak-adik.


“Aku… minta maaf untuk semuanya. Aku selalu ingin mengatakan ini.”


“Kak. Jangan khawatir. Tenang saja.”


“Kamu selalu mendukungku dan menyapa aku seperti keluarga setiap kali aku datang ke sini. kamu menganggapku kakak, tapi aku hanya menyakiti perasaanmu.”


“Kak.”


“Itu bukan karena aku membencimu. Dan bukan karena kamu melakukan sesuatu yang salah. Itu karena rasa bersalah dan penyesalanku karena telah meninggalkan Lucy. Aku ingin membawanya pergi bersamaku dan melakukan semua yang aku bisa untuk menebus waktu yang terlewat. Aku mencengkram hal-hal yang tidak pantas aku dapatkan. Aku hanya memikirkan Lucy tanpa perasaanmu. Dan aku pikir dia terlalu muda untukmu, aku pikir dia pantas mendapatkan yang lebih baik, namun aku tidak sadar itu membuatmu terluka. Maafkan aku, Kylian.”


Katherine menjelaskan bahwa dia bukan bermaksud sengaja menyakiti hati Kylian. Hatinya dipenuhi rasa bersalah pada Lucy. Karenanya, dia ingin menebus kesalahannya dan membawa Lucy ke Perancis. Dan dia merasa Lucy masih terlalu muda sehingga sempat tak rela memberikannya pada Kylian.


“Kak, kamu tidak perlu mengatakan semua itu. Aku baik-baik saja.”


“Kylian, kamu masih mencintai Lucy, ‘kan?”


“Iya, kita kembali bersama. Aku tidak akan pernah melepaskan dia lagi.”


“Aku mengerti. Aku senang kamulah yang dicintai Lucy. Aku percaya kamu akan membuat Lucy bahagia.” Sekarang dia merasa lega kalau yang dicintai anaknya orang seperti Kylian.


“Kylian, tolong buat dia bahagia.” Katherine memegang tangan Kylian.


“Jangan khawatir tentang Lucy. Kakak harus segera sembuh. Kakak harus melihat aku dn Lucy hidup bahagia bersama.” Kylian ingin Katherine sehat dan menyaksikan sendiri kebahagiaan mereka berdua.


“Baik. Aku akan melakukan itu. Terima kasih, Kylian.”


Lucy diajak makan siang oleh Kylian. Dia heran Kylian serius dan tegang sekali ketika menggandeng tangannya.


“Kemana kita akan makan siang kali ini?” tanya Lucy.


“Ada restoran enak di sekitar sini. kamu pasti suka.”


“Kenapa kamu terlihat begitu serius padahal kita hanya pergi untuk makan? Kamu terlihat seperti ingin berperang.”


“Aku?”


“Iya. Kamu terlihat seperti memiliki misi yang harus diselesaikan.”

__ADS_1


Ternyata Kylian berinisiatif mempertemukan Katherine dengan Lucy untuk makan bersama. Kylian tahu sebenarnya keduanya ingin bertemu.


Bersambung...


__ADS_2