
Hana, Ethan, dan Valerie datang ke rumah sakit. Mereka lega Evan selamat. Kylian menitipkan Evan untuk dibawa pulang.
Dokter sudah selesai mengoperasi Lucy. Lucy kondisinya aman dan tak parah. Lengannya dijahit dan diberi gips karena retak. Dia tinggal menunggu sadar dari anestesi.
Kylian menemani Lucy di ruang rawat inap. Lucy belum bangun. Kylian memegangi tangan Lucy, Selly mengetuk pintu, dia mencari Kylian. Selly mengatakan bahwa pria yang membawa Evan itu bukan orang baik. Dia suka meminta uang. Selly memohon agar Kylian menjaga Evan dari pria jahat itu.
“Beraninya anda datang ke sini,” ucap Kylian.
“Pimpinan, maafkan aku.”
“Bukankah semalam anda bilang akan memastikan dia tidak akan muncul lagi? Beraninya dia membawa Evan?”
“Pimpinan, dia akan muncul di hadapanmu lagi. Dia akan meminta uang dari anda. Anda tidak boleh memberinya. Dia hanya akan kembali dan meminta lebih. Dia orang seperti itu. Jadi, tolong lindungi Evan dari dia. Dan tolong rahasiakan dari Evan ia punya ayah jahat dan ibu sepertiku."
“Ikut denganku. Kita bicara di luar,” Kylian menyuruh Selly bicara dengannya di luar. Dia tetap waspada kalau Selly bersekongkol dengan pria itu.
"Selly, kamu mengatakan kamu seorang ibu? Kamu meninggalkan bayi berumur beberapa minggu, di tempat dingin dan penuh batu. Apa kamu ini layak menjadi ibu?!"
"Aku minta maaf. Anda benar. Aku bukan ibunya."
Selly berjanji dia akan pergi dan tak akan menemui Evan lagi. Dia hanya berharap Evan sehat dan bahagia.
“Kirimkan nomor ayah kandung Evan,” Kylian kembali ke dalam.
Lucy ternyata sudah sadar. Dia sempat mendengar saat Selly mengatakan dia adalah ibu Evan. Dia seperti tidak percaya akan yang dia dengar.
Kylian ingin membereskan ayah kandung Evan itu. Kebetulan orang itu menelepon dirinya. Ray meminta kompensasi karena Kylian mengambil anaknya. Dia mengatakan yang menelantarkan bayi itu adalah Selly. Dia tidak tahu.
"Jadi kamu menjual anakmu padaku?"
"Kasar kalau Kylian mengatakan begitu. Aku sakit hati kehilangan anak."
"Berapa yang kamu inginkan?"
__ADS_1
"5 miliar."
Sambil menahan marah mengepalkan tangan, Kylian menyanggupi dan mengatakan akan menghubungi lagi.
Kylian begitu siap rupanya memberi pelajaran Ray dahulu. Kylian keluar dari sebuah gedung terbengkalai dengan lengan baju masih sedikit tergulung. Mengetahui nyawanya terancam, Ray mengikuti tertatih-tatih berlutut mengatakan bahwa dia bukan ayah Evan. Lalu seorang bawahan Kylian menyerahkan koper padanya.
Kylian bersikap lembut hanya pada anak dan perempuan saja tapi tidak segan menghajar cowo brengsek. Mantan calon suami Hana juga dihajarnya saat ketahuan memiliki kekasih yang sedang hamil.
Kylian menghubungi Selly, dia mengatakan pria itu tidak akan menganggu Selly dan Evan lagi. Dia pun memperingatkan Selly jangan mendekati Evan lagi, kalau tidak dia tak segan mengerahkan yang dia punya.
Lucy berpikir bisa jadi Selly memang ibu kandung Evan karena perlakuan Selly pada Evan sering berbeda.
“Lucy, apa kamu merasa lebih baik? Apa kamu membutuhkan sesuatu? Kylian malam-malam datang lagi ke RS menemui Lucy. Kamu terluka karena menyelamatkan Evan, aku akan memenuhi kebutuhanmu selama di rumah sakit.”
“Aku hanya ingin istirahat sekarang. Kamu sebaiknya pulang saja,”
“Lucy, aku minta maaf karena baru sempat menjengukmu. Ada banyak urusan yang harus aku tangani,”
“Kamu pasti lelah. Pulang saja dan beristirahat,”
Kylian duduk di samping Lucy. “Katakan padaku, ada apa?”
“Sebenarnya ada hubungan apa kamu dengan Selly? Aku tidak sengaja mendengar percakapan kalian kalau Selly adalah ibu kandung Evan.”
“Soal itu, aku juga terkejut mendengarnya. Sebenarnya, Evan bukan anakku dan mendiang istriku. Kita menemukan Evan di depan rumah kita saat dia masih berusia beberapa hari?”
“Benarkah? Jadi ternyata Evan adalah anak adopsi?”
Kylian mengangguk. “Itu sebabnya Selly bekerja di tempatku. Dia ingin dekat dengan anak yang telah dia telantarkan. Dan ayah Evan baru-baru ini muncul untuk memerasku. Jadi, bukannya aku memiliki hubungan khusus dengan Selly sehingga hadirlah Evan, bukan seperti itu.”
“Baiklah, aku mengerti.”
“Bagaimana? Kamu masih marah padaku?”
__ADS_1
“Sedikit.”
“Sedikit? Kenapa masih ada rasa kesal? Apa yang harus aku lakukan? Mau keluar dan melihat bintang?”
“Tentu saja!”
Kylian membawa Lucy keluar dengan kursi roda. Lucy melihat bintang. "Wah.. indahnya… Kylian, bisakah kamu mengambil bintang-bintang itu untuk dijadikan mahkota untukku."
"Mana mungkin aku bisa melakukan hal yang mustahil seperti itu. Dan juga Lucy, walaupun indah, sebenarnya bintang itu memiliki suhu yang tinggi, bayangkan bintang itu ada di atas kepalamu," tukas Kylian.
Suasana hati Lucy kian memburuk lagi.
“Kylian, tidak bisakah kamu mengatakan ‘ya’ saja untuk membuatku senang?”
Kylian pun teringat bahwa Lucy memang menginginkan hal-hal aneh seperti itu. “Oh, baiklah. Aku akan mengambil bintang-bintang itu dan menaruhnya di atas kepalamu. Kamu juga mau aku memimpikanmu? Aku akan melakukannya malam ini,”
“Sudahlah. Aku ingin kembali ke dalam,”
Lucy pun minta diantar kembali ke kamar. Sesampainya di kamar, Kylian membantu Lucy naik ke ranjangnya. Kemudian dia mengecup kening Lucy. “Semoga malam ini kamu datang di mimpiku,”
Lucy tersenyum. Perlahan dia telah melunakkan pria kaku seperti Kylian.
Harry mendatangi apartemen Katherine. Kini akhirnya dia telah menyerah untuk menyuruh Lucy ke Peranics. Dia berniat mengatakan itu pada Katherine. Namun pada saat dia sampai di apartemennya, Harry menemukan Katherine yang pingsan. Segera dia bawa ke rumah sakit. Harry menemani Katherine setelah menjalani pemeriksaan di rumah sakit. Lalu dokter yang memeriksanya datang, dan memberitahukan bahwa kanker di tubuh Katherine sudah menyebar. Katherine dan Harry syok.
Harry memaksa Katherine untuk menginap di rumah sakit, awalnya Katherine tidak mau. Tapi Harry berhasil membujuknya. Keesokan harinya, Harry pergi ke rumah sakit menjenguk untuk Sapphira alias Katherine. Tetapi Katherine tidak ada di kamarnya. Dia pun bertanya pada suster, dan suster mengatakan kalau dia sudah keluar dari rumah sakit.
“Dia sudah meninggalkan rumah sakit?” Harry pergi ke apartemennya dan menemukan mantannya itu malah sedang berkemas. Harry menegur Sapphira yang bukannya bersiap operasi malah mau kembali ke Perancis. Sapphira mengatakan ia menunggu kematian di rumahnya di Perancis saja. Menurutnya itu hukuman Tuhan atas dosanya. Operasi pun belum tentu berhasil.
“Sedang apa kamu di sini? kamu seharusnya di rumah sakit. Kamu harus menjalani tes lagi untuk menetapkan tanggal operasimu.”
“Aku tidak mau dioperasi.”
“Apa? Lalu? Kamu mau mati begitu saja?”
__ADS_1
“Aku akan pergi ke Perancis untuk menyelesaikan semuanya. Aku akan mengakhiri hidupku di sana.”
Bersambung...