Milik Tuan Kulkas

Milik Tuan Kulkas
Matikan!


__ADS_3

Seorang laki-laki masuk ke bangunan yang begitu besar, berjalan dengan gagah dan membawa tas, "Dokter Aldy, pasien sudah menunggu," ucap perawat yang membawakan jas berwarna putihnya.


"Baik!" ujarnya sambil mengambil jas tersebut dan menggunakannya. Iya ... Aldy adalah seorang dokter anak, dirinya bekerja sebagai spesialis anak di salah satu rumah sakit yang cukup terkenal di daerah itu.


Dirinya sedikit berlari untuk menemui pasiennya yang berumur tiga tahun, Aldy membuka pintu dan sudah di dapati pasien cantik tersebut tersenyum ke arahnya dengan seorang wanita mendampingi dirinya.


"Hay, Cantik! Kamu kenapa?" tanya Aldy jongkok agar menyamakan tinggi anak perempuan yang duduk di kursi yang telah disediakan.


"Ini, Dokter Al. Dia demam beberapa hari ini, mungkin efek mandi hujan atau panas-panasan," jelas wanita yang diyakini adalah orang tua anak tersebut.


"Baik, kita periksa dulu, ya, Cantik." Aldy tersenyum dan mengusap pipi anak tersebut dengan lembut, dirinya menggendong anak tersebut ke tempat tidur pasien.


Sedangkan Fina—orang tua anak tersebut hanya tersenyum dan melihat anaknya diperiksa oleh Aldy dari bangku. Aldy begitu gagah dan terlihat berwibawa dengan alat dan pakaian yang kini tengah dipakainya, Fina hanya menatap dan memperhatikan Aldy yang dengan telaten dan hati-hati memperiksa anaknya.


Tanpa dirinya sadari, air mata lolos dari pelupuk matanya. Secepat mungkin dihapus agar tak ada yang melihat baik itu; Aldy, perawat atau pun anaknya.


"Baik anak, Cantik. Om mau bicara sama Mama kamu dulu, ya. Kamu ikut sama perawat sebentar di luar, ya," ujar Aldy yang telah mendudukkan anak tersebut dan mengusap kepalanya dengan lembut.


"Baik, Om!"


Perawat pun membawa Ayu—anak kecil tersebut keluar dari ruangan Aldy dan membiarkan Aldy memberi tahu Fina apa yang terjadi dengan anaknya, Aldy duduk di bangku miliknya dan berhadapan dengan Fina.


"Jadi ... Ayu demam karena main hujan-hujanan terlalu lama, itu akibatnya badannya jadi seperti itu," jelas Aldy.


"Al ...," panggil Fina dengan menyembunyikan rambutnya di balik telinga.


"Iya?" tanya Aldy dan menatap Fina.

__ADS_1


"Maaf, Al." Fina mencoba mendekati tangan Aldy yang berada di atas meja, namun dengan cepat Aldy langsung menjauhkan tangannya agar tak di pegang oleh Fina.


"Aku sudah memaafkan masa lalu," ujar Aldy. Aldy mengambil kertas resep dan menuliskan resep obat yang akan ditebus oleh Fina untuk Ayu nantinya, "ini, kamu bisa langsung tebus obatnya." Aldy menyerahkan kertas tersebut dan disambut lemah oleh Fina.


"Al ... kita gak bisa seperti dulu?" tanya Fina dengan penuh harap. Aldy melihat wajah Fina, dirinya tersenyum melihat orang yang meninggalkan dirinya hanya karena Aldy yang tak bisa memberikan Fina barang mewah ketika masih berpacaran.


Aldy memajukan badannya ke arah Fina, "Tidak akan pernah!" tegas Aldy dan menjauhkan kembali badannya, "jika sudah tak ada yang mau dibicarakan seputaran Ayu, maka pintu di sebelah situ." Aldy menunjukkan pintu menggunakan tangannya dan tersenyum ke arah Fina agar tetap terkesan ramah.


"Terima kasih, Al." Fina berdiri dengan menggenggam kertas resep yang diberikan Aldy padanya. Sebelum keluar, dirinya melihat Aldy terlebih dahulu namun Aldy sudah sibuk dengan handphone yang di genggamnya.


Setelah mendengar suara pintu tertutup, Aldy meletakkan handphone di meja dirinya berdiri dan mendekat ke arah kaca ruangan miliknya. Dirinya mengingat bagaimana kisahnya dengan Fina, di saat Aldy yang sudah bersiap-siap melamar Fina namun ternyata Fina sudah lebih dulu di lamar oleh laki-laki yang katanya lebih bisa membahagiakan dirinya.


Namun, ternyata pernikahan mereka tak bertahan lama. Fina menggugat suaminya karena kerap mendapatkan KDRT, sehingga membuat dirinya tak tahan dan sekarang Ayu adalah anak broken home. Itu sebabnya Aldy sangat menyayangi Ayu.


"Fin ... bukan karena aku masih membencimu hingga aku tak bisa menerimamu kembali. Namun, aku sekarang sudah sadar diri bahwa aku emang gak pantas buat kamu," ungkap Aldy.


Padahal, dirinyalah yang menghanguskan impian yang ada dan menghilangkan apa yang sudah dibangun oleh Aldy dulu untuk masa depan dirinya dan Fina. Namun, tak ada yang bisa disalahkan. Semua orang pasti ingin mendapatkan pasangan yang mapan dalam bidang ekonomi dan itu memang di dapatkan Fina dengan mantan suaminya dulu.


"Dokter, ada pasien selanjutnya," ujar perawat yang datang tiba-tiba dan mengangetkan Aldy.


Aldy langsung menatap perawat tersebut, "Suruh masuk." Perawat hanya mengangguk dan menutup pintu untuk menyuruh pasien selanjutnya masuk, sedangkan Aldy merapikan pakaiannya dan berjalan kembali ke arah meja miliknya sambil menunggu pasien tersebut.


Caca kini tengah menikmati bekal miliknya setelah bergelut dengan tugas dan materi yang diberikan guru, dengan tangan sebelah kiri memegang handphone dan tangan sebelah kanan memasukkan roti ke dalam mulut untuk mengganjal perut.


Caca tengah fokus melihat animasi di aplikasi berlogo merah dan ada putihnya tersebut, dirinya melihat animasi seorang anak cewek dan cowok yang begitu pintar dan cerdas.


"Kak Nusa ... liat Anta, nih!" teriak dari animasi membuat Caca tertawa. Tiba-tiba dia harus terdiam dan kaget saat panggilan masuk dengan nama, 'Om Kulkas.'

__ADS_1


"Haduh ... angkat atau enggak, ya?" ujar Caca bingung. Di kelas bukan hanya ada dirinya, melainkan ada dua orang yang sepertinya tengah mengerjakan tugas untuk pelajaran selanjutnya.


Belum sempat diangkat, panggilan telah berakhir mungkin efek terlalu lama. Caca tersenyum dengan jurus nanti dia bisa bilang bahwa tidak mendengar dering dari Riki yang hanya menelpon sekali, Caca tersenyum dan kembali menonton yang sebelumnya sempat terjeda.


Tak sampai sepuluh menit menonton, ternyata panggilan kembali masuk ke benda pipihnya tersebut. Dengan rasa malas akhirnya Caca mengangkat panggilan tersebut.


"Ada apa, Om?" tanya Caca ketus.


"Kenapa aktif?" tanya Riki di sebrang.


"Lagi istirahat dan nonton."


"Matikan sekarang juga!"


"Dih, ngatur! Ogah!" tolak Caca dengan wajah datarnya.


"Caca!" tegur Riki yang mencoba sabar.


"Apa?"


"Matikan dan fokus ke pelajaran!"


"Oke!" Caca mematikan sambungan telepon dan mematikan sambungan data pada aplikasi hijau tersebut, "Sudah, Om! Sudah aku matikan!" seru Caca tertawa dengan apa yang dilakukannya.


Dirinya kembali menonton animasi dengan wajah yang masih sesekali tertawa, "Siapa elu ngatur-ngatur gue!" ucap Caca sok gaul.


Di beberapa hal memang ada saatnya kita patuh dengan nasihat orang, namun bukan berarti orang tersebut harus mengatur seluruh hidup kita, bukan? Dan ingat! Jangan hanya mau mengatur tapi enggan untuk diatur.

__ADS_1


__ADS_2