
"Eh, ini tadi kasih Om Riki, Bun," jawab Caca menatap wajah Milda dan Annisa secara bergantian.
"Kamu yang minta?"
"Enggak dong, Bun!"
"Oh, kirain. Oh, iya. Bunda sama Umi mau pulang, karena Bunda juga masih ada yang belum diberesin."
"Iya, Bunda."
"Kalau gitu kami pulang dulu, ya. Assalamualaikum," salam Milda dan Annisa.
"Waalaikumsalam," jawab Caca menyalim kedua wanita itu. Caca meletakkan handphone di atas meja dan duduk di dekat Aldy kembali, ia melihat ke arah jam sebentar.
"Om ... Caca shalat dulu, ya," bisik Caca takut mengganggu Aldy.
Caca memasukkan handphone dan keluar dari ruangan menuju mushala yang ada di rumah sakit ini, setelah selesai dengan kewajiban Caca masuk lagi ke kamar dan melihat Aldy yang sudah bangun.
Caca menatap apa yang tengah dilakukan Aldy, melihat mulutnya komat-kamit. Ia mengerutkan kening dan melihat jari Aldy yang seperti terangkat.
'Maa Syaa Allah, Om Aldy lagi shalat ternyata,' batin Caca tersenyum dan memilih duduk di sofa.
"Riki, kamu mau ke mana?" tanya Mama Riki saat melihat anaknya membawa dua helm dan juga tas yang biasanya berisi laptop dan kerjaannya.
"Caca lagi di rumah sakit, Ma," ucap Riki saat berada di depan pintu rumah.
"Ha? Kok kam--."Riki langsung memotong ucapan Mamanya itu.
"Tenang, Ma. Yang sakit bukan Caca, tapi temennya. Mangkanya itu Riki gak ngasih tau ke Mama, gak penting juga temennya itu," ucap Riki dengan wajah datar.
"Oh, yaudah. Titip salam buat dia, ya!"
"Iya, Ma. Riki jalan dulu, ya. Assalamualaikum," pamit Riki dengan menyalim tangan Mamanya.
"Waalaikumsalam, udah kayak mau pindah aja kamu ini!" ujar Mama Riki menggeleng melihat tingkah anaknya.
Di tengah perjalanan saat ingin ke rumah sakit, Riki sengaja mampir terlebih dahulu ke salah satu perbelanjaan untuk membeli cemilan. Ia parkirkan motornya dan masuk ke dalam tak lupa kunci diambil dari motor.
Setelah memilih-milih beberapa macam, Riki langsung membayar. Di tempat perbelanjaan ini tersedia dua meja di luarnya, Riki memilih untuk duduk terlebih dahulu dan meminum-minuman yang tadi ia beli agar tak panas nantinya melihat Caca dengan Aldy.
"Kak, bisa minta nomor WA?" tanya seseorang menghampiri Riki dengan tersenyum.
Riki tak menghiraukan dan fokus kepada minumannya, "Ini ada challenge dari temen aku, Kak. Tantangannya minta nomor WA, Kakak," sambungnya dan membuat Riki melihat satu lagi temennya yang berada tak jauh dari tempat duduknya sedang fokus ke handphone genggamannya.
Riki tetap diam dan tak mengubris ucapan wanita itu, mungkin karena kesal wanita tersebut pergi dari hadapan Riki.
__ADS_1
Ternyata, orang tersebut tak langsung menyerah. Ia menuliskan sesuatu di kertasnya dan menaruhnya di motor Riki, Riki hanya diam. Ia bangkit ketika minumannya telah habis dan memasukkannya ke keranjang sampah.
Riki naiki kuda besi dan memakai helm, ia melihat kertas yang berisi angka-angka itu. Kertas itu dirobek menjadi puluhan bagian bahkan tak dapat di satukan lagi tepat di depan wanita yang menggoda dirinya tadi.
Ia langsung menyalakan motor dan meninggalkan tempat perbelanjaan tadi, di sini tidak ada uang parkir jadi lumayan tidak ribet.
Riki telah sampai di rumah sakit, ia segera mencari tempat parkir. Setelah memilih tempat yang aman, ia melepaskan helm dan meninggalkan helm satu lagi yang besok Caca akan memakainya.
Ia masuk ke rumah sakit dengan dua tangan terisi kantong plastik warna putih berlogo tempat perbelanjaan tadi dan punggung yang membawa ransel.
"Assalamualaikum," salam Riki dan masuk ke dalam.
"Waalaikumsalam," jawab Caca yang duduk di sofa sambil mengotak-atik handphone sedangkan Aldy tengah mengangkat panggilan dari perawatnya.
"Gadak lemarinya?" tanya Riki mengedarkan pandangan.
"Enggak, Om. Ini mau pindah kamar, kok."
"Kapan?" tanya Riki dan duduk di samping Caca.
"Nanti, nunggu perawatannya datang," jawab Caca menatap Riki.
"Udah baikan?"
"Syukur deh."
"Eh, Bro! Gimana, aman?" tanya Riki saat melihat Aldy sudah selesai menelpon dan menatapnya.
"Ya, lumayan," jawab Aldy dan meletakkan handphone kembali ke nakas.
"Gue temenin, Bro. Tenang, biar lu makin sehat. Habis sehat lu, ntar. Kita adu di ring, ya. Gosah di jalanan," ungkap Riki dengan tersenyum. Caca langsung menyenggol lengan Riki dengan sikunya.
"Becanda-becanda," sambung Riki.
"Permisi," jawab seseorang yang datang dan langsung jadi pusat perhatian mereka bertiga.
"Pak Aldy sudah bisa dipindahkan ke kamarnya untuk lima hari ke depan," sambung perawat wanita.
"Baik, Mbak," jawab Caca.
Caca membawa dua tas yang awalnya memang dibawanya, ia juga tak lupa membawa baju yang tadinya di kamar mandi. Dirinya lupa menitipkan barang yang tak berguna kepada Milda tadi.
Rumah sakit ini memiliki tiga lantai, namun karena Aldy belum bisa pakai kursi roda untuk di kamar atas maka ia tetap berada di lantai satu.
Setelah sampai di kamar inap yang dipesan Annisa, beberapa perawat kembali memasangkan alat yang tadi di copot sebentar.
__ADS_1
"Makasih, ya, Mbak," ucap Caca sebelum perawat pergi keluar.
"Sama-sama," jawab mereka dan keluar.
Aldy langsung menuju lemari yang ada di pojok ruang, ia meletakkan tasnya di atas lemari tersebut dan memasukkan minuman di dalam kulkas kecil yang tersedia. Ruangan ini memiliki dua sofa dan ruangan yang cukup luas.
"Ca, ini jajan kamu makan, ya."
"Iya, Om."
"Ca, boleh ambilkan buah jeruk?" pinta Aldy kepada Caca.
Baru saja akan mengambil, Riki sudah lebih dulu menyerahkan buah tersebut kepada Aldy, "Mau gue bukain?" tanya Riki dengan alis dinaikkan kehadapan Aldy.
"Gak usah," jawab Aldy ketus.
"Bukakan aja, Om. Om Aldy kesusah bukanya, ntar," ucap Caca dan membuat Riki menatapnya sebentar.
"Oke, bentar, ya." Riki membuka kulit jeruk setelahnya ia memberikan kepada Aldy.
"Makasih," ucap Aldy menerima uluran jeruk dari Riki.
"Sama-sama."
Riki berjalan menuju sofa dengan membawa tas berisikan laptop dan juga kerjaannya, Caca bangkit dan mendekat ke arah Aldy yang sepertinya kesusahan mengambil minum.
"Biar Caca bantu, Om," ucap Caca membantu Aldy minum dari gelas.
Setelah selesai makan buah dan minumnya, Aldy meminta agar posisi kepalanya di tinggikan agar ia bisa melihat keadaan luar dari jendela kamar.
"Om mau sesuatu?" tanya Caca yang masih berada di samping dengan tangan memegang buku.
"Enggak usah, saya liatin kamu belajar aja," jawab Aldy tersenyum.
"Ehem-ehem!" tegur Riki dengan suara batuknya.
"Om kenapa? Mau minum?" tanya Caca yang menatap ke arah Riki.
"Enggak, ini keselek gombalan," jawab Riki tersenyum. Caca langsung tertawa mendengar jawaban aneh dari Riki tersebut.
"Kamu baca semuanya, nanti saya akan kasih soal buat kamu," perintah Aldy dan membuat Caca menatapnya.
"Oke, Om," kata Caca sambil menunjukkan jempol tangannya ke arah Aldy.
Caca mulai fokus ke buku pelajarannya, beberapa bulan lagi ia akan menghadapi berbagai ujian kelulusan. Tahun ini sudah tak ada virus, jadi ujian pun akan dilaksanakan secara tatap muka bukan daring lagi.
__ADS_1