
Caca yang masih terbaring di tempat tidur mengambil handphone dan membuka aplikasi hijaunya, ia mencari nama seseorang dan langsung memanggil.
"Ada apa?" tanya seseorang tersebut.
"Om, jalan-jalan yuk!"
"Lah, kamu 'kan lagi sakit."
"Om kayak gak tau aja 'kan kalo Caca sakit obatnya itu jalan-jalan," jelas Caca tersenyum.
"Gak-gak! Kamu masih sakit," tolak Riki yang khawatir nantinya malah terjadi apa-apa pada Caca.
"Ayolah, Om!" bujuk Caca dengan suara yang disengaja manja.
"Enggak, Caca."
"Ihh ... Om mah gak--" Belum sempat Caca melanjutkan kalimatnya, panggilan telah dimatikan Riki secara sepihak. Caca langsung menaruh handphone kembali ke nakas dan memajukan bibirnya pertanda kesal dengan Riki yang menolak ajakannya.
Tit ... tit!!
Suara klakson dari halaman rumah membuat Caca tersenyum sumbringah seketika, ia memakai hijab instan dan melihat siapa yang ada di depan. Milda pun keluar dari dapur untuk melihat siapa yang datang.
"Siapa?" tanya Milda yang tak sengaja bertemu dengan Milda yang juga ingin keluar. Caca hanya tersenyum sambil mempercepat langkahnya membuka pintu.
"Assalamualaikum, Tante," salam Riki yang sudah siap untuk pergi.
"Waalaikumsalam," jawab Milda yang kebingungan dan melihat penampilan Riki dari atas ke bawah.
"Tan, boleh ajak Caca pergi?" tanya Riki melirik Caca yang sudah tersenyum.
"Bunda, sebenarnya Caca yang ngajak Om. Bukan Om yang ngajak Caca," ujar Caca memberi tahu yang sebenarnya. Milda langsung menatap wajah Caca yang berada di sampingnya.
"Kamu 'kan masih sakit."
"Iya, Bun. Biar cepat sembuh obatnya 'kan jalan-jalan, lagian Bunda sendiri yang bilang kalo sakit gak boleh terlalu dibawa rebahan," papar Caca menjelaskan kepada Milda yang membuat wajah Milda menjadi datar.
Milda bersedekap melihat anaknya itu, Caca menangkup kedua tangannya di depan wajahnya dengan ekspresi yang dibuat seimut-imutnya sedangkan Riki sama sekali tak berniat membantu Caca membujuk Milda. Malah bagus jika Milda tak memberi izin, karena bagaimana pun Caca masih sakit.
"Yaudah, deh," kata Milda. Hanya dua kata mampu membuat Caca melompat-lompat kegirangan sampai lupa bahwa dirinya masih sakit, Caca memeluk Milda sebentar, "Bentar, ya, Om!" Ia langsung berlari masuk ke kamar untuk berganti pakaian sedangkan Milda hanya bisa bergeleng melihat tingkah laku anaknya itu.
"Tunggu, ya, Riki."
"Iya, Tante."
Setelah menunggu kurang lebih dua puluh menit, akhirnya Caca keluar dari kamar dan menemui Riki juga Milda. Milda menatap Caca dari atas ke bawah, "Lama banget, gak ada yang berubah juga!" ketus Milda dan bangkit dari tempat duduk.
__ADS_1
"Ih, Bunda!" ucap Caca memajukan bibirnya. Caca langsung menyalim tangan Milda sedangkan Riki hanya mengatupkan kedua tangannya.
"Kalau begitu, kami permisi, ya, Tante. Assalamualaikum," salam Riki dan duluan menuju sepeda motor kesayangannya itu.
"Daaaa, Bun," ucap Caca melambaikan tangan dan menyusul Riki. Milda pun membalas lambaian itu sambil memperhatikan Riki dan Caca terlebih dahulu baru ia akan melanjutkan kegiatannya di dapur tadi.
Mereka sudah tak terlihat lagi di halaman, Milda pun mengunci pintunya dan fokus dengan aktivitasnya tadi.
"Om bilang tadi gak mau," ucap Caca yang berada di atas motor.
"Nanti kalo gak dituruti, bisa-bisa kamu ngambek sampe sebulan."
"Ya, gak papa dong."
"Heleh, gak papa gak papa."
"Hahaha, kita mau ke mana Om?" tanya Caca.
"Lah, kok tanya saya? Kan, kamu yang ngajak tadi," kata Riki yang mulai kesal dengan wanita yang berada di belakangnya saat ini.
"Mmm ... ke mana, ya?" tanya Caca sambil melihat-lihat gedung yang tertata di kotanya itu. Riki hanya mengikuti ke ingin Caca saja, ia sebenarnya tak ingin ke mana-mana. Akan tetapi, karena Caca mengajak maka mau tak mau harus mau.
"Kita ke mall aja deh, Om." ujar Caca yang sepertinya sudah tak tahu mau ke mana lagi.
"Oke!"
"Kenapa?" tanya Riki yang melihat Caca tak kunjung selesai membuka helm.
"Ihh, gak bisa. Om ini helm baru, ya?" tanya Caca yang sudah lelah mencoba membuka pengait helm.
"Iya."
"Pantesan, kenapa diganti pulak? Masih bagus juga yang lama!"
"Karena ini lebih keren saya liat."
"Ihh, Caca susah bukanya. Tolong bukain," pinta Caca dan mendongak agar Riki mudah membukanya.
Ada yang sama dengan Caca? Kesulitan untuk membuka pengait helm padahal itu hal yang cukup mudah, biar gampang jika ingin membukanya lihat saja dari kaca spion. Namun, jangan pula sengaja seperti Riki yang membeli helm yang sulit dibuka untuk modus agar romantis.
"Dasar, Om modus 'kan!" ujar Caca setelah helm berhasil terlepas dari kepalanya.
"Modus apa?" tanya Riki yang menahan senyumnya.
"Itu, diganti segala. Biar terlihat romantis dengan bukakan helm pasangannya," kata Caca dengan tatapan sinis. Dirinya langsung masuk ke mall duluan meninggalkan Riki yang tertawa, ia langsung segera menyusul Caca ditakutkan wanita itu hilang karena tubuhnya yang kecil tak terlihat dengan pengunjung yang lain.
__ADS_1
"Kita mau ke mana?" tanya Riki yang sudah berada di samping Caca sedangkan wanita itu melihat-lihat toko yang ada di dalam mall.
"Makan dulu kali, ya, Om?" tanya Caca mendongak.
"Ya, udah. Mau makan apa?"
"Makan bakso deh."
"Oke."
Mereka berjalan ke lantai dua di gedung ini tempat berbagai makanan dan minuman, Caca sedikit bingung memilih tempat bakso mana yang enak di mall ini karena pertama kalinya ia datang ke mall ini.
"Bakso yang mana enak, Om?"
"Terserah."
"Dih, kayak cewek aja ditanya malah jawab terserah!"
"Yaudah, di situ aja," jawab Riki menunjuk tempat makan bakso di dekat mereka.
"Oke."
Setelah masuk dan memilih meja, pelayan pun datang dan mencatat pesanan Riki serta Caca. Caca pesan bakso dengan mie putih, sedangkan Riki mie ayam bakso. Caca tak menyukai mie ayam, berbeda dengan Riki yang bahkan sangat menyukai makanan itu.
"Om mau nanya," ucap Riki dan menatap Caca yang membuat Caca awalnya melihat-lihat sekitar langsung menatap ke atau Riki juga.
"Apa?" tanya Caca dengan tangan dilipat di meja.
"Siapa penemu telepon?"
"Alexander Grahan Bell," jawab Caca dengan tersenyum karena merasa bisa menjawab pertanyaan Riki.
"Kalau penemu Wi-Fi?"
"Hedy Lamarr."
"Emm ... terus ... penemu TV."
"John Login Baird."
Riki tersenyum sambil mengangguk mendengar jawaban Caca yang tak ada salah, Caca pun langsung bertingkah seolah paling pintar saat itu juga.
"Apa lagi? Ayo-ayo!" seru Caca menyuruh Riki memberikan pertanyaan padanya.
"Udah, deh. Nanti, kalo kamu gak bisa jawab Cil yang ada malah ngamok sambil bilang ihh kiyik ilingin di sikilih iji," kata Riki menirukan ucapan Caca disaat tak bisa menjawab pertanyaannya.
__ADS_1
Caca hanya tertawa mendengar perkataan Riki, memang Riki sangat suka bertanya dengan tiba-tiba tentang apa saja itu. Bahkan, terkadang laki-laki tersebut menyuruh Caca untuk membaca sesuatu dan akan ditanya beberapa pertanyaan mengenai apa yang dibaca wanita tadi.
Seseorang memiliki berbagai cara untuk menunjukkan rasa cintanya kepada pasangan dan mungkin itu salah satunya, mengajari dan memberi arahan yang benar kepada seseorang tersebut.