Milik Tuan Kulkas

Milik Tuan Kulkas
Hal yang Menarik


__ADS_3

Setelah Annisa datang tepat di pukul enam lewat tiga puluh menit, Caca dan Riki langsung pergi ke tempat masing-masing dengan diantar oleh Riki.


"Kamu udah lebih baik, Nak?" tanya Annisa duduk di depan kasur Aldy.


"Udah, Umi. Oh, iya Umi. Gimana dengan hasil polisi? Mereka dapat nangkap orang yang mau celakain, Caca?" tanya Aldy menatap Annisa. Annisa menunduk sebentar dan langsung berwajah sendih.


"Kenapa, Umi?" sambung Aldy bertanya melihat Annisa tak kunjung memberikan jawaban atas pertanyaannya itu.


"Yang lakuin semuanya ... Fina," ungkap Annisa menatap Aldy.


"Sudah Aldy tebak, pasti dia pelakunya."


"Tau dari mana?"


"Aldy gak sengaja melihat mobilnya sebelum akhirnya Aldy berkelahi dengan preman suruhan dia," ungkap Aldy mengingat kejadian.


"Umi masih gak nyangka kalo dia pelakunya," tutur Annisa sambil melihat ke arah selimut Aldy.


Aldy hanya diam saja mengingat semua yang terjadi apalagi setelah mengetahui siapa pelakunya.


"Jadi, gimana? Mau dilanjut tangkap atau cara damai? Polisi menyerahkan ke kita soal ini karena Umi kenal dengan orangnya karena itu Umi suruh polisi buat jangan langsung nangka Fina," sambung Annisa menatap ke arah Aldy.


"Hmm ... Umi bisa telepon dia dan buat kami bertiga bertemu?"


"Bertiga?"


"Iya, Umi. Al, Fina dan Caca. Bagaimana pun Caca yang sebenarnya target, namun Al yang membantu Caca," ungkap Aldy menatap ke arah Annisa.


"Baik, kapan kamu mau?"


"Nanti malam atau nanti siang, Umi. Agar kasusnya segera di tutup aja."


"Yaudah, nanti Umi urus dan bertemu dengan Fina." Aldy mengangguk menanggapi jawaban Annisa, "kamu sudah makan?" tanya Annisa menatap nakas yang masih ada nampan.


"Sudah, Umi."


"Caca yang suapin?"


"Enggak, Al sendiri. Lagian yang sakit perut sama wajah Al, bukan tangan apalagi jari."


"Ya, mana tau gitu Caca perhatian sama kamu."

__ADS_1


"Bukan perhatian itu namanya Umi."


"Tapi?"


"Kasihan!"


"Hus! Kesian apaan?" tanya Annisa menepuk tangan Aldy yang berbicara semaunya. Aldy hanya tertawa mendapatkan pukulan kecil dari Annisa, ia membuka buku yang sengaja dibawa Annisa tanpa dipinta Aldy.


Mungkin, dirinya tahu bahwa anaknya itu akan sangat bosen di rumah sakit apalagi ketika Caca pergi ke sekolah.


"Gak ada berantem tadi malam, 'kan?" tanya Annisa mencoba mencari tahu keadaan tadi malam saat di rumah sakit.


"Buat apa berantem, Umi?" tanya Aldy mengalihkan pandangannya dari buku. Karena bagaimana pun Aldy diajari adab ketika berbicara dengan seseorang, jika ia bukan mahram maka boleh menundukkan pandangan namun jika itu dengan mahram maka lihat matanya dan fokus kepada lawan bicara.


"Ya, 'kan Riki itu suka sama Caca dan deket juga," goda Annisa dengan suara yang disengaja di lembut-lembutkan.


"Terus?" tanya Aldy yang sebenarnya sudah paham dengan arah pembicaraan namun ingin lebih jelas lagi dengan tersenyum.


"Ya, kamu 'kan juga suka sama dia. Bisa jadi Riki cemburu melihat Caca membantu kamu apa, kek?"


"Dari mana tau Al suka sama Caca? Dia masih SMP, Umi."


"Ha? SMP?"


"Kenapa bajunya SMA?"


"Hahaha, salah pakai seragam dia kayaknya Umi," canda Aldy seraya tertawa melihat wajah serius dari Annisa.


"His ... kamu ini! Dia udah SMA, Al. Udah kelas dua belas juga, bentar lagi tamat."


"Iya, Umi. Bentar lagi dia tamat, gak ada masalah apa-apa tadi malam dan gak ada terjadi apa-apa. Semua baik-baik aja."


"Ohh ... bagus deh, Umi mau telpon Fina dulu kalo gitu. Biar dia bisa datang ke sini nanti siang pas Caca juga pulang sekolah."


"Iya, Umi," kata Aldy tersenyum dengan bibir tipisnya.


Annisa bangkit dan duduk di sofa agak jauh dari Aldy, ia tak mau menganggu Aldy yang lagi fokus membaca.


Caca sudah pulang sekolah, ia menunggu Riki di gerbang sekolah karena katanya akan menjemput Caca dan mengantarkan ke rumah sakit.


Dering berbunyi, Caca yang memang dari tadi memegang handphone langsung mengangkat, "Halo, Om? Di mana, Caca udah kelar nih kelasnya," ucap Caca sambil melihat arloji yang sebentar lagi pukul 14:00 WIB.

__ADS_1


"Mm ... Ca, kamu bisa ke rumah sakit sendiri? Saya tiba-tiba ada meeting penting, nih," ujar Riki di sebrang.


"Oh ... okay, Om! Semangat, ya!" seru Caca tersenyum meskipun tak dapat dilihat oleh Riki.


"Iya, makasih Cil. Kamu hati-hati, ya!"


"Siap, Komandan!" Panggilan diakhiri oleh Riki, Caca langsung mencari gojek di aplikasinya agar segera bisa ke rumah sakit untuk berganti menjaga Aldy.


"Ca, mau bareng gak?" tanya temen sekelas Caca laki-laki.


Caca melihat ke arah temannya itu, "Aku duduk di mana?" tanya Caca melihat bangku yang sudah habis dengan tubuh temannya itu. Tubuh temannya memang bisa dibilang besar dan tegap, sedangkan sepeda motornya kecil selayaknya motor aktor yang berkata, "Jangan rindu, berat! Kamu gak akan kuat."


Caca menutup mulutnya saat ingin mengejek temannya, namun karena mengingat niat baik temannya sebisa mungkin ia menahan, "Gausah, kamu duluan aja. Lagian, gojek aku juga bentar lagi datang, kok," ungkap Caca tersenyum.


"Hehe, yaudah deh. Nanti, kalo kamu pengen pulang bareng aku kasih tau memang. Biar aku bisa bawa mobil dari rumah," ungkap teman sekelasnya.


"Iya-iya," jawab Caca cengir dan menggaruk kepalanya yang tak gatal.


Tak lama setelah temannya pergi, gojek yang dipesan Caca tadi pun datang. Ia segera naik dan segera menuju rumah sakit.


"Siapa yang sakit, Dek?" tanya supir gojek di atas motor di tengah padatnya jalanan.


"Temen, Om," jawab Caca sedikit teriak agar kedengaran.


"Kirain Ibunya."


"Hehe, enggak, kok."


Saat di tengah perjalanan menunju rumah sakit, lampu merah pun menjadi penghalang mereka agar segera sampai. Bukan Caca namanya kalau tak melihat-lihat pengendara di sebelah kanan, kiri serta belakang motornya.


Saat melihat pengendara sepeda motor di sebelah kiri, lumayan jauh dari tempat dirinya berhenti. Ada yang menarik hingga membuat senyumnya tercipta, Caca segera mengambil handphone yang berada di saku bajunya dan mem-foto tanpa izin apa yang menarik perhatiannya itu.


Beruntungnya, ia sempat mem-foto beberapa detik kemudian motor pun sudah jalan karena lampu telah berubah warna hijau.


"Nih, Om! Makasih, ya," ujar Caca memberikan ongkos gojeknya.


"Sama-sama, Dek," jawab supir gojek mengambil uang dari Caca.


"Eh, Dek!" panggil tukang ojek pada Caca yang sudah berjalan ingin masuk.


"Ada apa, Om?" tanya Caca menatap kembali supir gojek.

__ADS_1


"Itu helm saya," kata tukang ojek menatap helm yang masih berada di kepala Caca.


Caca memegang kepalanya memeriksa apakah benar ada helm di kepalanya atau tidak, "Eh, iya!" ujar Caca cengengesan antara malu dan ingin ketawa melihat dirinya sendiri.


__ADS_2